Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Aku sudah tahu tentang Ayara


__ADS_3

Tessa berusaha menahan diri untuk tidak marah, begitu mendengar ucapan Julian yang cukup menyakitkan.


"Sabar, Tessa! Untuk sementara kamu harus bisa menahan diri demi tujuanmu untuk bisa hidup senang!" bisik Tessa pada dirinya sendiri.


"Kenapa kamu masih diam? cepat katakan, karena aku benar-benar tidak punya waktu!" nada bicara Julian terdengar semakin dingin. Tatapan pria itu juga hampir membuat nyali Tessa menciut.


"Aku datang ke sini hanya untuk memberitahukan kamu kalau Gilang, sahabat yang sangat kamu percaya itu, sudah membohongimu. Dia tidak datang ke kantormu, bukan karena dia ada pekerjaan penting di perusahaannya, tapi dia sedang sibuk menghabiskan waktu dengan Ayara,"


Julian yang tadinya fokus melihat ke arah layar notebooknya seketika menghentikan kegiatannya dan menatap Tessa dengan tatapan yang semakin tajam.


"Kalau kamu datang hanya ingin memprovokasi saya, kamu tahu kan pintu keluar ruangan ini? silakan pergi!" usir Julian.


"Aku tidak bermaksud memprovokasi kamu. Aku hanya tidak ingin kamu dibohongi oleh sahabat kamu sendiri. Aku berani bersumpah kalau Gilang, memang menemui Ayara. Kalau kamu tidak percaya, coba kamu lihat ini!" Tessa mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan langsung menunjukkan photo Gilang yang memang terkesan seperti ingin mencium Ayara.


Wajah Julian sontak memerah, rahangnya juga mengeras, melihat photo itu. Tangan pria itu juga terkepal, karena tiba-tiba ada kemarahan yang timbul di dalam hatinya.


"Kenapa aku jadi marah? kan terserah Gilang mau mendekati siapapun. Lagian Ayara kan bukan siapa-siapaku? kalau dia istriku tapi Gilang mendekatinya, barulah aku pantas untuk marah. Tapi ... kenapa perasaanku seperti tidak terima ya melihat photo itu?"


"Kamu sudah lihat kan? itulah kenyataannya. Gilang sudah membohongimu, Jul!" Tessa merasa kalau Julian sudah mulai terprovokasi, ketika melihat raut wajah pria itu.


"Apa sebenarnya maksud kamu menunjukkan photo itu padaku? apa kamu berharap kalau aku akan marah-marah pada Gilang? kalau itu yang kamu mau, kamu salah. Aku tidak akan marah karena itu hak Gilang mau mendekati siapapun itu selama itu bukan kekasihku ataupun istriku. Jadi, kamu lebih baik keluar sekarang!"


Tessa menggeram, karena belum lama berada di ruangan itu, tapi sudah berkali-kali mendapat pengusiran. "Sial, kenapa dia malah mengaitkannya ke masalah cemburu sih? padahal kan yang dibicarakan di sini masalah Gilang yang berbohong?" Tessa menggerutu dalam hati.

__ADS_1


"Jul, sebenarnya bukan itu maksudku. Aku hanya ingin memberitahukan kamu saja kalau Gilang sudah membohongimu bukan masalah kamu cemburu atau tidaknya. Gilang kan kemarin bilang kalau dia punya pekerjaan penting untuk dikerjakan, tapi kenyataannya dia menemui Ayara. Aku hanya tidak ingin kamu dibohongi terus oleh orang yang kamu percaya, Jul. Itu tidak adil buat kamu." Tessa diam sejenak untuk mengambil jeda.


Namun, begitu aku menyadari kalau kamu tidak mengerti tujuanku, dan malah mengaitkannya ke masalah cemburu, aku jadi curiga kalau sebenarnya kamu menyukai Ayara dan tadi ucapan kamu yang kamu tidak mempermasalahkan Gilang mau mendekati siapapun,itu hanya bentuk penyangkalan untuk menutupi perasaan kamu yang sebenarnya. Apa dugaanku benar Jul?" lanjut Tessa lagi.


Julian bergeming, tidak membantah maupun mengiyakan. Dia sendiri memang bingung kenapa dia malah berpikir sampai ke arah sana, dan tidak bisa mencerna maksud dan tujuan Tessa.


"Apa benar aku sudah jatuh cinta pada Ayara dan cemburu pada Gilang? harusnya kan aku marah karena Gilang membohongiku bukan karena dia mendekati Ayara? Tapi kenapa yang kurasakan, aku justru marah karena dia mendekati Ayara ya? sampai aku lupa kalau kemarin Gilang memang mengatakan kalau dia ada pekerjaan yang sangat penting," bisik Julian pada dirinya sendiri.


"Jul, kenapa sih kamu masih diam saja? aku hanya ingin kamu tidak dibohongi lagi, Jul! kamu harus __"


"Sudah, cukup! aku tahu apa yang harus aku lakukan! sekarang sebaiknya kamu pulang saja. Kalau memang tujuanmu baik, aku ucapkan terima kasih! puas kan? sekarang kamu bisa keluar kan? soalnya aku masih banyak pekerjaan!" sebelum Tessa menyelesaikan ucapannya, Julian sudah menyela lebih dulu.


"Sialan! kenapa reaksinya di luar ekspektasi sih? padahal aku mengira kalau dia akan marah-marah. Benar-benar menyebalkan!" Tessa menggerutu dalam hati.


"Kenapa kamu masih berdiri di situ? kamu tidak tahu jalan keluar ya? apa penting aku panggil sekretarisku untuk nunjukin jalan untukmu?" Julian meraih gagang telephone, bersikap untuk memanggil sekretarisnya.


Setelah Tessa keluar dari ruangannya, Julian seketika menggebrak meja dengan sangat keras dan menghamburkan dokumen yang ada di mejanya dengan tatapan yang berapi-api. Pria itu meluapkan amarah yang dari tadi berusaha dia tahan.


"Brengsek! beraninya Gilang membohongiku! kenapa dia harus berbohong hanya untuk bisa mendekati Ayara? Bangsat benar-benar bangsat! apa tidak ada lagi orang yang bisa dipercaya di dunia ini?" Julian menggusak rambutnya dengan kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tuan, Gilang anda sudah mengajak saya berjalan sampai sejauh ini, apa masih jauh lagi?" protes Shasa yang merasa kakinya sudah pegal mengikuti langkah panjang Gilang.

__ADS_1


Gilang sontak berhenti dan menoleh . Ia melihat Shasa yang sedikit membungkuk semakin memijat-mijat betisnya.


"Emm, aku rasa sudah cukup. Kita duduk di situ saja!" Gilang menunjuk ke arah sebuah kursi besi yang tidak jauh dari mereka.


Shasa mengembuskan napas lega dan mengayunkan kakinya kembali melangkah menuju kursi yang ditunjuk oleh Gilang.


"Sekarang tolong jelaskan, ada apa dengan Ayara? dia baik-baik saja kan?" tanpa Basa-basi Shasa langsung ke topik pembicaraan.


Sudut bibir Gilang, seketika melengkung sedikit membentuk senyuman sinis. "Aku mau tahu, apa sebenarnya motif Ayara menjadi pengasuh putranya Julian?" sama seperti Shasa, Gilang juga tampaknya tidak mau berbasa-basi


"Pertanyaan apa ini, Tuan? tentu saja karena dia memang butuh pekerjaan," sahut Shasa, berusaha bersikap senormal mungkin.


"Jangan mengira kalau aku orang yang mudah dibodohin, Nona Shasa! Aku sudah menyelidiki kalau dia itu orang yang berpendidikan dan berprestasi. Mudah baginya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya. Selain itu aku juga sudah menyelidiki kalau sebelum bekerja pada Julian, dia masih dalam posisi bekerja di sebuah toko bunga yang cukup besar. Jadi, intinya dia tidak pengangguran sama sekali sebelum bekerja jadi pengasuh. Karena kalau dipikir-pikir, lebih baik dia bekerja di toko bunga itu, dari pada jadi pengasuh yang hanya berkutat pada anak, dan sulit untuk kemana-mana, benar kan?"


Shasa bergeming diam seribu bahasa. Sulit baginya sekarang untuk memberikan alasan yang masuk akal.


"Kenapa kamu diam? Jangan bilang motif dia jadi pengasuh hanya ingin bisa mendekati Julian? dia berharap dia bisa menikah dengan Julian dan bisa hidup enak, apa begitu?"


"Diam! jangan asal bicara! Ayara bukan tipe wanita seperti itu!" bentak Shasa tanpa menyadari kalau yang dia bentak sekarang adalah salah satu orang yang berpengaruh, yang bisa saja membuat dia kehilangan pekerjaan.


Gilang tersenyum smirk dan menatap Sasha dengan tatapan yang cukup bisa membuat Shasa bergidik ngeri.


"Jadi, kalau bukan karena dia ingin mendekati Julian, apa lagi alasannya?" suara Gilang terdengar lembut namun terselip ketegasan dan penuh tuntutan di balik ucapannya itu. "Oh ya, asal kamu tahu, aku juga sudah tahu kalau Ayara adalah wanita yang pernah direnggut kesuciannya oleh Julian, jadi, aku semakin yakin kalau dia punya motif buruk makanya dia mau menjadi seorang pengasuh," sambung Gilang lagi, tanpa mengubah senyum sinisnya.

__ADS_1


Mata Shasa sontak membesar, terkesiap kaget mendengar ucapan Gilang. Wajah wanita itu juga sontak berubah pucat.


tbc


__ADS_2