Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Aku memang Ibu kandungnya


__ADS_3

"Loh, Tessa kamu kenapa datang lagi, Sayang? kamu tidak kerja ya?". Sarah mengrenyitkan keningnya ketika melihat kedatangan Tessa lagi.


Ya, sehabis dari kantor Julian, Tessa memutuskan untuk datang kembali ke rumah Julian. Apa tujuannya? ya tentu saja ingin cari muka pada Sarah sekaligus ingin mengintimidasi Ayara.


"Emm, tadi aku sudah kembali ke kantor, Tante, tapi aku tidak bisa konsentrasi bekerja, karena aku merasa ada sesuatu yang kurang. Ternyata setelah aku pikir-pikir, itu karena aku kangen pada baby Elvano. Mungkin karena tadi aku tidak bertemu dengannya," Tessa memasang wajah sedih.


Sarah sontak menyunggingkan senyum manisnya ke arah Tessa.


"Astaga, sampai segitunya rasa sayangmu pada baby Vano, Tessa. Tante benar-benar bersyukur kalau kamu nantinya jadi menantu, Tante. Kamu naik saja, Baby Vano seperti biasa ada di atas bersama dengan Ayara," ucapnya.


"Yes, ini kesempatanku untuk mengintimidasi wanita sialan itu!" sorak Tessa dalam hati.


"Kalau begitu, aku naik ke atas ya, Tante!" Sarah menganggukan kepalanya dan Tessa pun mengayunkan kakinya melangkah menaiki tangga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, di dalam kamar baby Elvano, tampak Ayara sedang bersenandung sembari menggoyang-goyangkan ayunan Elvano untuk menidurkan bayi itu.


Sudah cukup lama Ayara berusaha menidurkan bayi itu, tapi baby Vano sama sekali tidak mau tidur dan bahkan terlihat gelisah dan sangat rewel. "Kamu kenapa sih, Sayang? kenapa dari tadi selalu merengek-rengek? badan kamu ada yang sakit ya?" Ayara mengajak baby Vano bicara dengan tangan yang masih bergerak aktif menggoyang-goyang ayunan.


"Eeh, ma-ma, ma-ma!" baby Vano bergumam dengan bahasa bayi dan menendang-nendangkan kakinya ke udara.


"Iya, Sayang! kamu sudah bisa memanggilku Mama? ayo panggil mama lagi!" Mata Ayara seketika berembun mendengar kata mama keluar dari mulut bayi yang sudah berusia 7 bulan itu.

__ADS_1


Baby Elvano terus saja menggumam dengan bahasa bayinya dan Ayara semakin bahagia melihat perkembangan putranya itu.


"Ihh, anak mama ternyata makin pintar ya!" Ayara mencubit pelan pipi gembul Elvano saking gemasnya.


Bukannya merasa sakit, baby Elvano justru tertawa-tawa, hingga membuat bayi itu terlihat semakin menggemaskan.


"Biar makin cepat pintar, sudah saatnya anak mama tidur ya! Kali ini Vano mau ya diajak kerja sama sama mama ya. Mulut mama sudah cape bernyanyi, loh Nak. Nih mata ditutup dan tidur, boleh?" suara Ayara terdengar sangat lembut. Wanita itu kembali menggerakkan tangannya untuk menggoyang-goyangkan box bayi Elvano.


Bukannya tidur, baby Elvano tiba-tiba merengek-rengek kembali, membuat Ayara kembali bingung.


"Sayang, kenapa dari tadi kamu gelisah sih? badan kamu ada yang sakit ya, Nak? tunggu mama akan ambil baby oilnya dulu ya! mama akan urut pelan-pelan badan kamu!" baru saja Ayara hendak melangkah, baby Elvano tiba-tiba menangkap histeris dan duduk seakan tidak mau ditinggalkan oleh wanita itu.


"Cup, cup, cup, diam ya, Sayang. Mama di sini kok! Mama tidak akan pergi kemana-mana!" Ayara mengulurkan ke dua tangannya, berniat untuk menggendong baby Vano, namun niatnya langsung terhenti ketika mendengar suara tepuk tangan dari arah pintu.


"Wah, wah, wah, ternyata dugaanku benar. Kamu memang berniat untuk mendapatkan Julian. Kamu bahkan sudah menyebut dirimu mama pada baby Vano," Tessa menyeringai sinis menatap ke arah Ayara.


"Kenapa kamu diam? sudah tidak bisa berkutik lagi ya? dasar wanita licik. Aku tidak menyangka kalau ada wanita yang lebih licik dariku. Kamu ingin mendekati Gilang tapi kamu juga berniat untuk menjerat Julian, dengan berpura-pura bersikap baik pada baby Elvano, pura-pura lembut dan sok polos. Ternyata oh ternyata, kamu itu busuk!"tukas Tessa masih dengan seringaian sinis di sudut bibirnya.


"Kamu jangan asal bicara! aku tidak seperti kamu! Aku memang murni menyayangi Elvano bukan seperti kamu yang hanya berpura-pura. Dan masalah Tuan Gilang maupun Tuan Julian, sumpah demi apapun aku tidak ada niat untuk mendekati mereka berdua!" sangkal Ayara dengan sangat tegas.


"Ayara, Ayara, sudah jelas-jelas aku mendengar sendiri kamu memanggil dirimu sendiri dengan sebutan mama pada baby Vano. Apalagi coba itu kalau bukan kamu berharap menjadi istri Julian? tapi karena kamu merasa kalau untuk mendapatkan Julian cukup mustahil, karena Tante Sarah lebih memilihku, akhirnya kamu berniat untuk menjerat Gilang, dengan wajah polosmu itu. Cih ... benar-benar munafik,dan bermuka dua!" umpat Tessa, menatap Ayara dengan tatapan jijik dan penuh kebencian.


"Jaga mulutmu! aku pantas dipanggil mama oleh baby Vano karena aku memang ...." hampir saja Ayara keceplosan mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya.

__ADS_1


"Karena kamu memang ibu kandungnya, begitu?" tukas Tessa, membuat Ayara terdiam tidak mengiyakan ataupun membantah.


"Hahaha, kamu benar-benar lucu, Ayara! kamu kira aku akan percaya? dan sekalipun itu benar adanya, aku bisa pastikan kalau tidak akan ada yang percaya padamu. Niat busukmu sudah ketahuan,Ayara. Jadi, bersiap saja kalau hari ini adalah hari terakhir kamu ada di rumah ini, karena aku bisa pastikan kalau sebentar lagi kamu akan diusir," tutur Tessa seraya tersenyum penuh kemenangan.


"Apa yang terjadi di sini Nak Tessa?" tiba-tiba Sarah muncul dengan kening berkerut, menatap Tessa dan Ayara bergantian.


"Tante, seperti dugaanku tadi pagi, pengasuh ini ternyata benar-benar memiliki niat busuk untuk mendapatkan Julian dan Gilang sekaligus,"


"Itu tidak benar, Bu! dia mau memfitnahku!" pekik Ayara mencoba melakukan pembelaan diri.


"Aku tidak bohong, Tante! aku punya buktinya. Tante lihat saja ini!" Tessa memutar rekaman video sewaktu Ayara mengajak baby Elvano bicara tadi.


"Dia sudah menyebut dirinya mama, Tante. Bukannya itu berarti kalau dia memang sudah berniat untuk membuat Julian jatuh cinta, menggunakan kedekatannya dengan baby Vano? dia mau membuat baby Vano tergantung kepadanya, sehingga membuat Julian akhirnya memilih untuk menikahinya. Bukannya itu adalah cara yang licik?"Tessa terlihat mengebu-gebu memprovokasi wanita paruh baya yang memang sudah berada di pihaknya itu.


Sarah sontak menatap Ayara dengan tatapan penuh amarah. Wanita paruh baya itu mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Ayara dan tanpa basa-basi langsung menarik rambut wanita itu dengan kencang, membuat Ayara memekik kesakitan.


"Benar-benar wanita tidak tahu diri! kamu sudah dikasih pekerjaan tapi masih berharap lebih!" umpat Sarah dengan penuh amarah.


"Sa-sakit, Bu! tolong lepaskan rambutku!" mohon Ayara dengan air mata yang sudah menggenang membasahi pipinya.


"Kamu memang pantas mendapatkannya. Kamu benar-benar licik. Kamu berharap menjadi mamanya baby Elvano? hei dengar, itu hanya akan ada dalam mimpimu!" Sarah mengencangkan tarikan tangannya di rambut Ayara, membuat wanita itu semakin meringis kesakitan.


"Tapi, aku memang mama kandungnya baby Elvano, Bu. Dia itu anak kandungku yang terpaksa aku taruh di depan rumah ini, karena aku tidak sanggup membiayai biaya operasinya yang sangat besar. Tapi, sumpah demi apapun, aku tidak pernah berharap untuk dinikahi Tuan Julian. Aku hanya ingin bisa dekat dengan anakku sendiri,Bu!" Sudah tidak bisa menyimpan rahasianya lagi, Ayara akhirnya mengungkapkan jati dirinya dengan menangis sesunggukan.

__ADS_1


Mata Sarah sontak membesar, terkesiap kaget hingga tanpa sadar tarikan tangannya di rambut Ayara berangsur-angsur melonggar dan akhirnya terlepas.


Tbc


__ADS_2