
"Wah, akhirnya kamu datang juga, Jeng. Aku kira kamu benaran gak bakalan datang, karena tadi jeng kan bilang tidak bisa datang," ucap seorang wanita sosialita paruh baya pada Sarah yang baru saja tiba di sebuah rumah tempat mereka mengadakan arisan.
"Oh, aku tadi tiba-tiba berubah pikiran. Kebetulan juga karena aku tidak melakukan pekerjaan apa-apa," sahut Sarah santai sembari mendaratkan Tubuhnya duduk di sofa.
"Jeng, aku dengar Tessa calon menatu yang kamu pilih dulu, ada di penjara, karena __"
"Iya, dia di penjara. Tapi bisakah kita tidak usah membahasnya di sini?" sela Sarah dengan cepat. Karena dia tahu kalau dia meladeni wanita yang biasa dipanggil jeng Hana itu, pasti akan tidak berhenti dan justru akan melebar kemana-mana.
"Maaf Jeng, hanya saja aku penasaran tentang kebenarannya. Karena aku tidak menyangka kalau wanita yang terlihat baik itu ternyata licik juga. Padahal dulu,Jeng Sarah kan selalu memuji-muji dia. Dari sini kita bisa belajar kalau kita tidak boleh menilai seseorang dari luarnya saja," Wanita yang bernama Hana itu tetap saja berceloteh.
Sebenarnya, inilah yang dihindari oleh Sarah makanya tadi dia sempat enggan untuk menghadiri arisan mereka yang biasa mereka lakukan sekali seminggu.
"Jeng Hana, kita bicarakan yang lain saja ya. Sepertinya Jeng Sarah tidak suka membicarakan hal itu," wanita pemilik rumah akhirnya buka suara karena melihat wajah Sarah yang sudah mulai tidak bersahabat lagi.
"Iya deh iya. Maaf Jeng Sarah!,"pungkas Hana akhirnya.
Acara arisan wanita-wanita sosialita itu kini kembali berlangsung sama seperti biasanya dan dipenuhi dengan canda tawa, dan satu lagi yang tidak pernah ketinggalan adalah pamer barang berharga mereka seperti tas branded, kalung, sepatu, yang setiap minggu selalu berganti. Satu-satunya yang tidak pernah pamer adalah Sarah, padahal bisa dikatakan kalau setiap hari dia bisa saja membeli barang-barang branded itu. Tapi, baginya itu sama sekali tidak ada gunanya.
"Jeng Sarah, Tessa kan sudah di penjara, bagaimana kalau kita saja yang besanan? putriku juga tidak kalah cantik, berpendidikan, lulusan luar negri. Pastinya dia tidak akan memalukan, kalau harus dibawa kemana-mana karena dia bisa tampil di mana saja," Hana kembali buka suara.
__ADS_1
Sarah menerbitkan seulas senyuman yang terkesan terpaksa, karena memang kenyataannya wanita itu memang terpaksa tersenyum. Dia tersenyum hanya ingin menghargai wanita julid itu.
"Aduh, maaf ya Jeng Hana! aku sudah punya menantu. Dia juga cantik dan memang bukan lulusan dari luar negri. Akan tetapi, dia lulusan dari universitas terbaik di negara kita ini, yang bisa diadu dengan universitas di luar negri. Apalagi kehebatan universitasnya sangat jauh dibandingkan dengan universitas abal-abal di luar negri. Karena, percuma sih, namanya lulusan luar negri tapi, universitasnya tidak terkenal," sahut Sarah masih tetap tersenyum di sela-sela ucapan sarkasnya.
Hana terlihat mencebik, merasa tersindir. Namun, itu hanya beberapa saat karena detik berikutnya wanita paruh baya itu sudah kembali tersenyum. "Iya sih, Jeng. Aku setuju dengan yang kamu katakan. Tapi, yang aku dengar kalau calon menantumu itu sudah punya anak di luar Nikah. Ya ... walaupun katanya anak itu anaknya Julian sih, tapi menurutku, tetap saja dia seperti wanita yang tidak berpendidikan, karena berani hamil di luar Nikah. Kan jadi kasihan anaknya itu, disebut anak Haram," Hana kembali menyindir.
Sarah, mengepalkan tangannya dengan kencang. Ingin sekali dia merobek mulut Hana, tapi dia masih berusaha untuk menahan amarahnya dengan tetap mengulas sebuah senyuman.
"Tapi, menurutku, Ayara calon menantuku adalah wanita mulia dan bermental baja. Dia rela mempertahankan anaknya karena dia tahu kalau bayi itu tidak punya salah sama sekali. Dia juga hamil bukan karena keinginannya tapi murni karena hal yang terduga. Menurutku dia itu lebih baik dari wanita yang tega melakukan aborsi hanya karena tidak ingin mendapatkan malu. Bukannya menurut Jeng Hana, itu termasuk pembunuhan? apalagi dia melakukan aborsi sampai berkali-kali dan parahnya didukung oleh orang tuanya. Itu berarti dia melakukan Zinah dengan sengaja dan memang benar-benar niat, makanya bisa sampai berkali-kali. Sikap seperti itu bukannya lebih biadab Jeng Hana? benar tidak Jeng semua?" Sarah menyindir di balik senyumannya.
"Iya itu benar, Jeng Sarah!" sahut
wanita-wanita sosialita yang berada di ruangan itu menyetujui ucapan Sarah.
"Yang kamu katakan tadi benar, Jeng Sarah. Tapi, yang aku dengar dari mamanya Tessa sewaktu aku menemaninya ke kantor polisi kemarin, calon menantu yang kamu katakan baik itu justru kabur membawa cucumu itu. Apa menurutmu dengan membawa pergi cucumu diam-diam, termasuk wanita baik? itu termasuk penculikan, Jeng Sarah," Hana kembali mencoba memprovokasi Sarah.
"Menurutku, tidak! justru itu semakin menandakan kalau dia benar-benar seorang wanita yang baik. Karena dia melakukannya demi bisa tetap bersama dengan anak yang sudah susah payah dia lahirkan. Benar-benar tidak Ibu-ibu semua?" tanya Sarah kembali, meminta dukungan dari semua wanita yang berada di ruangan itu.
"Iya, aku setuju dengan kamu Jeng Sarah. Karena sejatinya seorang ibu itu pasti tidak akan tega meninggalkan anaknya sendiri," sahut wanita pemilik rumah.
__ADS_1
Hana kembali mati kutu. Dia benar-benar kehilangan kata-kata.
"Tapi, Jeng dia sudah kabur, mau sampai berapa lama lagi kalian menunggunya? bagaimana kalau dia tidak ditemukan? apa Julian akan tetap menunggunya sampai tua? menurutku lebih baik, Julian menikahi wanita lain saja, daripada kelamaan menunggu wanita yang tidak jelas di mana keberadaannya. Kalau pun nanti akhirnya dia ketemu setelah Julian menikah, Julian bisa tetap menanggung jawabi anak itu, tapi hanya sebatas membiayai hidup dan pendidikannya. Aku rasa itu sudah cukup adil," tutur Hana, mencoba mengganggu pikiran Sarah.
Lagi-lagi Sarah tersenyum mendengar penuturan Hana yang panjang lebar. "Jeng Hana, aku tetap yakin kalau Ayara kami temukan, karena menantu yang sangat aku inginkan adalah dia. Kalaupun nanti seandainya dia tidak ditemukan dan Julian menikah dengan wanita lain ... maaf, mungkin akan membuat Jeng Hana sakit hati ... aku tidak akan setuju kalau Julian menikah dengan putri Jeng Hana," ucap Sarah dengan nada lembut tapi menyakitkan.
"Apa maksud kamu,Jeng? apa kamu mau mengatakan kalau putriku sangat buruk?" Hana langsung berdiri, murka mendengar ucapan Sarah.
"Aduh, Jeng Hana, Jeng Sarah, jangan berantem!" wanita pemilik rumah juga berdiri dari tempat duduknya, berusaha menengahi.
"Tenang, Jeng, aku juga sebenarnya tidak mau ribut. Tapi, Jeng Hana yang dari tadi selalu mencoba mempengaruhiku agar aku bisa berubah pikiran." ucap Sarah dengan bibit yang tetap tersenyum.
Kemudian, dia kembali mengalihkan tatapannya ke arah Hana yang masih menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Jeng Hana, Aku tahu kalau kamu sangat ingin menjodohkan putrimu dengan Julian, karena aku tahu kalau perusahaan suamimu sekarang sedang tidak stabil, aku benar kan?" Wajah Hana sontak berubah pucat mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Sarah.
" Asal kamu tahu sebelum Aku dulu berniat menjodohkan Julian dengan Tessa, sebenarnya aku dulu sempat berniat menjodohkan Julian dengan putrimu, tapi ternyata putrimu bukan wanita baik-baik seperti yang kamu katakan selama ini. Aku rasa kamu pasti merasa tersindir dengan ucapanku yang mengatakan tentang wanita yang melakukan aborsi berkali-kali, karena kata-kataku itu aku tujukan memang untuk putrimu. Dan lebih sadisnya, kamu mendukung apa yang dilakukan putrimu itu. Benar kan?" sambung Sarah kembali membuat wajah Hana semakin pucat.
"Ka-kamu jangan memfitnah! aku bisa tuntut kamu, atas pencemaran nama baik," pekik Hana.
__ADS_1
" Silakan, kalau kamu tidak malu. Karena aku punya bukti-buktinya, yang putrimu itu suka ke diskotik, suka check in di hotel, dan bahkan kamu suka meminta putrimu itu sendiri untuk melayani klien agar kalian bisa bisa bekerja sama dengan perusahaan itu! silakan lapor kalau kamu ingin malu sendiri. Permisi!" Sarah meraih tasnya dan berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Tbv