
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Langit malam kini sudah mulai berubah sedikit cerah karena sang mentari sudah mulai memunculkan dirinya walaupun masih malu-malu.
Tampak sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti di tepi jalan. Dan kalau ditilik ke dalam akan terlihat dua insan yang sedang tertidur dengan bahu wanita yang menyender di punggung si laki-laki dan kepala si laki-laki ada di kepala si perempuan. Siapa lagi kedua orang itu kalau bukan Tom and Jerry di dunia nyata alias Gilang dan Shasa.
Tidak perlu menunggu beberapa lama, kelopak mata Shasa terlihat mulai bergerak, pertanda wanita itu akan bangunan.
Benar saja, wanita itu kemudian membuka matanya secara perlahan-lahan. Tiba-tiba dia merasa bingung melihat pemandangan jalan di depannya. Wanita itu, kemudian memejamkan matanya sekilas, berusaha mengingat apa yang terjadi.
"Astaga, sudah jam berapa ini?" pekik Shasa sembari mengangkat kepalanya dari bahu Gilang. Alhasil kepalannya dan Kepala Gilang saling berbenturan dan membuat pria itu kaget sekaligus meringis kesakitan.
"Aww, sakit!" pekik keduanya bersamaan.
"Hei, kenapa kamu berteriak seperti itu dan mengangkat kepala tiba-tiba?! kamu kira kepalaku ini batu?" protes Gilang sembari memijat-mijat kepalanya.
"Salah sendiri! kenapa kepalamu ada di atas kepalaku?" Shasa juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Gilang.
"Kamu mau playing victim? jelas kamu yang meletakkan kepalamu di bahuku. Mana kepalamu berat lagi. Pundakku jadi kamu begini. Harusnya kamu itu berkewajiban memijat pundakku," oceh Gilang panjang lebar. Entah kenapa, pria itu bisa mengoceh panjang lebar di depan Shasa. Biasanya dia hanya berbicara singkat-singkat saja pada wanita-wanita yang dia temui, tapi di depan Shasa, dia merasa bebas untuk mengepresikan diri.
"Sudah, sudah, ngocehnya nanti dulu! sekarang apa yang akan kita lakukan?" ini sudah jam 6 pagi," raut wajah Shasa kini berubah panik.
"Eh, iya. Kita bagaimana ya?" Gilang kini ikut frustasi.
Ya, saking terburu-burunya, Gilang tadi malam kehabisan bensin Dan di saat bersamaan, daya ponselnya juga ikut habis. Sebenarnya bisa saja dia mengisi kembali daya ponselnya di mobil, mengingat mobilnya itu disematkan fitur pengisian baterai handphone. Tapi, karena bensinnya mobilnya habis, jadi tentu saja dia tidak bisa mengisi kembali batrainya.
"Jangan minta aku mendorong mobilnya lagi! aku benar-benar tidak kuat. Punggungku sudah sangat sakit, semalaman kamu suruh dorong!" sebelum Gilang buka mulut, Shasa langsung buka suara. Dia benar-benar tidak mau kejadian tadi malam terulang, di mana dia diminta untuk mendorong, untuk mencari tempat pengisian BBM terdekat.
"Salah sendiri tidak bisa bawa mobil. Aku sudah menawarkan, aku yang dorong kamu yang mengemudi, tapi kamu tidak mau. Kenapa sih kalau aku suruh untuk belajar menyetir kamu tidak pernah mau? kamu keenakan ya aku antar jemput?" Gilang tidak mau kalah.
"Enak saja! Aku tidak pernah memintamu untuk__"
"Sudah, jangan banyak bicara lagi! sekarang bagaimana kelanjutannya?" potong Gilang dengan cepat sebelum Shasa menyelesaikan ucapannya.
"Terserah kamu!" Shasa mengerucutkan bibirnya dan menatap ke luar melalui kaca jendela mobil yang memang sengaja mereka buka.
"Sebaiknya kita turun dari mobil sekarang!" kita akan mencari tumpangan," pungkas Gilang akhirnya memutuskan.
__ADS_1
"Kamu mau meninggalkan mobil ini?" tanya Shasa dengan mata membesar.
"Tidak apa-apa! lagian mobil ini dilengkapi dengan GPS. Kalaupun nanti ada yang mengambilnya dari sini, aku akan tahu kemana mobil itu dibawa. Ayo turun!"
Gilang dan Shasa akhirnya turun dari dalam mobil. Mungkin semesta lagi mendukung, tiba-tiba ada sebuah taksi yang lewat. Gilangpun langsung mencegatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di sebuah desa tepatnya tempat di mana Ayara tinggal, tampak halaman rumah wanita itu sudah mulai ramai. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, dan Ayara sudah dirias dengan sangat sederhana.
Tidak tampak senyum di bibir wanita itu karena pernikahan ini bukanlah pernikahan yang dia inginkan.
"Aura di mana ya? apa dia masih marah padaku makanya dia tidak mau melihatku lagi?" batin Ayara sembari melihat ke arah pintu, berharap Aura muncul.
"Dia sepertinya memang sangat marah. Dan aku cukup paham kenapa dia bisa semarah itu," lirih Ayara, dengan wajah sendunya.
"Nak Ayara, apa kamu benar-benar sudah sangat yakin dengan keputusanmu ini?" tiba-tiba Sopiah datang menghampiri Ayara dengan membawa baby Elvano di gendongannya.
Ayara sama sekali tidak menyahut. Karena sebenarnya kalau mengikuti kata hati, dia sangat tidak ingin menikah dengan dokter Farell. Tapi, bila mengingat kalau pernikahannya demi kebaikan warga kampung, dia mau tidak mau harus menerima pernikahan ini.
Dari depan rumah, mulai terdengar suara para warga yang menyapa nama yang sangat tidak ingin dia dengar sekarang. Nama siapa lagi kalau bukan nama Farell, pria yang sebentar lagi akan jadi suaminya. Sepertinya pria itu sudah datang.
"Ayara, kamu di mana Sayang? kamu tidak menyambut calon suamimu ini?" panggil pria itu dengan suara yang sangat lembut.
"Dia sudah datang, Nak! kalau kamu masih mau berubah pikiran, Bude akan bantu kamu keluar dari jendela itu?" Sopiah menunjuk ke arah jendela.
"Sudahlah, Bude. Aku sudah pasrah. Kita lebih baik keluar sekarang!" pungkas Ayara sembari berdiri dari atas kasurnya.
Kemudian, di melangkah keluar dari kamar, dan matanya langsung bersirobok dengan mata milik Farell.
Sangat jelas di wajah pria itu, ada kekaguman saat menatap Ayara. Beda dengan Ayara yang menatap Farell dengan tatapan datar. Bahkan wanita itu sulit untuk tersenyum.
"Ayara, kenalkan ini mamaku dan ini papaku!" Farell sama sekali tidak peduli dengan pemyambutan Ayara yang datar-datar saja. Yang penting sekarang wanita di depannya itu sebentar lagi akan jadi istrinya.
"Sepertinya acaranya sudah bisa kita mulai! maki cepat makin baik," celetuk papanya Farell yang langsung disetujui oleh Farell.
__ADS_1
Farell kemudian meraih tangan Ayara, dan menuntun wanita itu untuk duduk di sampingnya. Akan tetapi, belum juga wanita itu duduk, baby Elvano tiba-tiba menangis histeris, dan terlihat memberontak ingin lepas dari gendongan Sopiah. Pandangan bayi berusia satu tahun itu, mengarah ke arah Ayara, seakan ingin digendong oleh mamanya itu.
Ayara ingin kembali berdiri untuk menenangkan putranya, tapi tangannya ditarik kembali oleh Farell. Nanti saja, kamu urusi anak kamu. Kita selesaikan dulu pernikahan kita!" bisik Farell, penuh intimidasi.
"Maaf, tidak bisa! kalau kamu mau aku tetap menikah denganmu, izinkan aku menenangkan anakku dulu! kalau tidak, aku akan pergi dan tidak peduli ancamanmu!" Ayara balik berbisik. Dan ucapannya kali ini sangat tegas, membuat Farell terdiam, tidak berkutik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di dalam sebuah mobil, yaitu mobil yang di dalamnya ada Julian, Reynaldi dan sang supir, tampak terparkir di depan lahan tempat akan dibangunnya rumah sakit.
Sebenarnya mereka sudah tiba pukul 5 pagi tadi, tapi karena Masih subuh dan Julian juga belum bangung, Reynaldi memutuskan untuk mengantarkan Aura ke rumah wanita itu lebih dulu, dan dia memutuskan untuk menunggu sampai matahari muncul. Tapi, karena mengantuk, pria itu tidak sadar, tertidur demikian juga dengan sang supir.
Kelopak mata Julian tampak mulai bergerak, pertanda pria itu akan bangun.
Benar saja, mata pria itu perlahan-lahan mulai terbuka. Dia merasa tubuhnya merasa pegal. Ia sepenuhnya belum menyadari di mana dia sekarang.
Mata Pria itu tiba-tiba membesar ketika menemukan dirinya berada di dalam mobil Dan yang lebih mengagetkan, posisi mereka ada di depan lahan miliknya.
"Reynaldi, bangun! Pak bangun!" Julian menepuk-nepuk keras pundak Reynaldi dan supir mereka.
Tepukan Julian, membuat Reynaldi terjengkit kaget demikian juga dengan sang supir.
"Kenapa kita ada di sini?" tanya Julian langsung tanpa basa-basi, tidak menunggu sampai nyawa Reynaldi dan Supir itu menyatu ke tubuh keduanya.
"Ngapain ya?" gumam Reynaldi yang masih belum sepenuhnya sadar.
"Astaga, kita ke sini untuk mencegah pernikahan Ayara dengan dokter brengsek itu! sudah jam berapa ini? kenapa kita bisa ketiduran?" pekik Reynaldi, panik.
"Apa? pernikahan Ayara dengan dokter brengsek? maksud kamu apa?" pekik Julian, dengan mata membesar.
Reynaldi kemudian menceritakan apa yang terjadi dengan singkat padat dan jelas. Dia tidak mau berpanjang-panjang, karena takut waktu tidak keburu.
"Brengsek! kita ke sana sekarang!" beruntungnya Julian langsung mengerti dan tidak mau bertanya panjang lebar lagi.
tbc
__ADS_1