
Semua warga yang ada di tempat itu seketika terdiam seribu bahasa dan tidak ada satupun yang berani menatap ke arah Julian.
Aura pria itu benar-benar terasa lebih horror dari pada melihat setan. Satu persatu mereka mulai menyingkir dari tempat itu karena takut dengan ancaman Julian.
"Reynaldi, tolong bawa Ayara dan anakku keluar! aku tidak mau anakku melihat kekerasan!" titah Julian tanpa melihat ke arah sahabat sekaligus asistennya itu.
"Ayo Ayara!" ajak Reynaldi.
"Ta-tapi ... Julian?"Ayara ragu untuk mengikuti mengikuti langkah pria yang dipanggil Reynaldi itu, karena dia khawatir akan terjadi sesuatu nanti pada Julian, karena dia sendirian.
"Kamu tenang saja, Tidak akan terjadi apapun nanti pada Julian. Jangankan dua atau tiga orang, Julian bahkan bisa mengalahkan lebih dari itu. Dia jago dalam bela diri!" bisik Reynaldi.
"Reynaldi, jangan macam-macam! jauhkan dirimu dari Ayara!" bentak Julian, yang ternyata tetap melirik dari ekor matanya dan dia melihat mulut Reynaldi sangat dekat ke telinga Ayara, Dan itu tentu saja berhasil membuat darahnya mendidih.
"Cih, kamu benar-benar berlebihan! ayo Ayara! nanti si kutub itu bisa berubah seketika menjadi gunung berapi yang kapan saja bisa erupsi!" ucap Reynaldi yang terasa ambigu di telinga Ayara
Setelah memastikan Reynaldi sudah membawa Ayara dan baby Elvano keluar, Julian kembali mendekati Farell dengan sorot mata yang berkilat-kilat penuh amarah. tanpa basa-basi, pria itu tiba-tiba memberikan tendangan telak ke tulang rusuk Farell tanpa bisa dihindari.
Julian sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Farell untuk berdiri, ia kembali mencengkram kerah kemeja Farell dan menarik pria itu untuk berdiri, lalu memberikan tinju keras di pipi Farell. Sementara itu mamanya Farell dari tadi sudah histeris melihat wajah putranya yang sudah membiru.
"Ayo, bangun! lawan aku! apa kamu tidak bisa melawanku sebagai seorang pria? apa kamu hanya ahli memprovokasi orang, berbohong dan menebarkan fitnah? dasar banci kamu!" maki Julian, dengan napas yang memburu. Pria itu benar-benar marah, karena tidak bisa membayangkan seandainya dia tidak datang tepat waktu. Pastilah Ayara sekarang sudah jadi istri pria brengsek di depannya itu.
Sementara itu, Farell berusaha untuk berdiri dan menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Mata pria itu kini menatap Julian dengan tatapan ingin membunuh.
"Kamu kira aku takut padamu, bajingan! aku sama sekali tidak takut!" Farell tiba-tiba menghambur ke arah Julian dan melayangkan kakinya. Namun, Julian sudah siaga dari tadi, sehingga mudah saja bagi dia untuk menghindari tendangan Farell.
__ADS_1
Merasa tendangannya hanya menendang angin, Farell kembali mencoba melayangkan tendangannya ke arah Julian. Namun kali ini Julian tidak menghindar lagi. Justru pria itu dengan sigap dan tangkas langsung menangkap kaki Farell dan menghempaskannya keras, hingga membuat Farell terhuyung ke belakang dan membentur tembok.
"Cukup, cukup! tolong hentikan!" mamanya Farell langsung menghambur memeluk putranya, hingga mengurungkan niat Julian yang masih ingin memberikan pukulan pada Farell.
"Baiklah, cukup! karena aku tidak mau mengotori tanganku yang bisa saja kalap dan membunuhmu!" ucap Julian tegas
"Tu-tuan Julian, jadi Ayara itu benar-benar istri anda?" papanya Farell yang dari tadi diam saja dan bahkan terkesan apatis dengan apanyang terjadi pada putranya, kini memberanikan diri untuk buka suara bertanya dengan gugup dan wajah pucat.
"Apa anda mengira kalau aku sedang berbohong?"
Pria paruh baya yang merupakan papa dari Farell itu menatap intens wajah Julian untuk mencari kebenaran. Dan dia benar-benar melihat kemarahan yang amat sangat terpancar di mata pria itu.
Kini papanya Farell, mengalihkan tatapannya ke arah Farell yang sedang berada dipelukan mamanya. Wanita paruh baya itu terlihat menyeka darah yang keluar dari sudut bibir putranya itu.
Plak
"Papa! kenapa kamu menampar anakmu sendiri?" pekik mamanya Farell sembari mengelus-elus pipi sang anak.
"Dia pantas mendapatkan itu! dan kamu jangan bela dia lagi! asal kamu tahu dia menjadi anak yang tidak tahu diri seperti ini, itu gara-gara kamu!" suara papanya Farell menggelegar penuh amarah.
"Jangan asal bicara! apa kamu merasa kalau kamu sudah menjadi papa yang baik buat Farell? tidak sama sekali! apa kamu pernah memberikan perhatian sedikit saja ke dia, hah! yang kamu perhatikan hanya Brian!" suara mamanya Farell tidak kalah tinggi.
"Diam!" suara papanya Farell lebih menggelegar dibandingkan sebelumnya, membuat istrinya sontak terjengkit kaget.
"Kalau kalian mau ribut, silakan keluar dari sini! dan kamu Farell, urusan kita belum selesai. Aku akan pastikan kamu tidak akan bisa berkarir di manapun. Aku akan melaporkan perbuatanmu ini pada ikatan Dokter Indonesia, agar namamu diblacklist dari dunia kedokteran!" raut wajah Julian memang terlihat datar saat mengucapkan kata-katanya, tapi justru tatapan pria itu membuat siapapun yang melihatnya akan bergidik, takut.
__ADS_1
"Apa hak kamu, melakukan semua ini hah? apa kamu kira akan bisa begitu mudah melakukan itu semua? apa kamu kira kalau kamu orang paling berkuasa di negara ini?" seperti biasa wanita paruh baya yang merupakan mamanya Farell akan selalu pasang badan membela putranya itu.
Julian sontak saja menyunggingkan seulas senyum sinis di sudut bibirnya. "Hmm, apa anda kira kalau aku orang bodoh, Nyonya ... entah siapa pun namamu, aku tidak Ingin tahu. Yang jelas dengan bukti yang sudah direkam oleh asistenku itu, aku bisa pastikan kalau karir anakmu di dunia kedokteran akan tamat!" tutur Julian, dengan penuh penekanan dan dibarengi dengan senyum sinis.
"Dan kamu kira kalau dia tidak jadi dokter, dia akan hidup sengsara? tidak sama sekali!" wanita paruh baya itu membalas senyum Julian tidak kalah sinisnya.
"Diam aku bilang diam!" papanya Farell kembali buka suara.
"Kamu kira dengan apa yang sudah dilakukan putramu itu, aku bisa mentolerirnya? sama sekali tidak! tadi malam aku bahkan sudah mengingatkannya agar jangan membuat masalah dengan Tuan Julian, tapi apa yang dia lakukan, hah?!" napas pria paruh baya itu terlihat memburu.
"Apa kamu bilang? putraku? dia bukan hanya putraku saja, tapi dia juga putramu!"wanita paruh baya itu sama sekali tidak bisa terima dengan ucapan suaminya yang seakan-akan mengatakan kalau Farell bukanlah anaknya.
"Dia memang bukan putraku, tapi hanya putramu saja. Kamu pikir aku tidak tahu selama ini kalau kamu itu selingkuh dan hamil anaknya! apa kamu mau aku menyebut nama selingkuhanmu itu?" wajah wanita paruh baya itu sontak berubah pucat seperti tidak dialiri oleh darah sama sekali.
"Kamu mau tahu kan kenapa aku kurang memberikan perhatian padanya? itu karena kalau aku melihatnya, aku membayangkan perselingkuhanmu! awalnya aku sama sekali tidak ingin terlalu mempermasalahkan hal itu, karena ingin menjaga reputasi keluarga kita dan karena aku tahu kalau perbuatanmu itu karena aku jarang ada waktu buatmu. Tapi sekarang aku sudah berpikir, kalau kurangnya perhatian bukanlah sebuah alasan untuk membenarkan sebuah perselingkuhan. Sekarang aku sudah muak! Sikap yang ditunjukkan Farell sekarang semakin membuktikan kalau dia bukan darah dagingku!" tutur papa ya Farell panjang lebar tanpa jeda dan sangat tegas.
"Tidak, tidak mungkin! apa yang dikatakan papa sama sekali tidak benar kan, Ma?!" pekik Farell, menuntut penjelasan dari sang mama.
Wanita paruh baya itu tidak menjawab sama sekali. Ia hanya bisa menangis sesunggukan, membuat Farell langsung tersungkur sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Walaupun mamanya tidak memberikan jawaban tapi, pria itu sudah bisa menyimpulkan kalau yang dikatakan oleh papanya itu, benar.
"Sekarang, aku sudah tidak bisa bertahan lagi! setelah dari sini, kita akan bercerai, dan bawa putramu ini! Kalau tentang Brian, aku tidak akan memintanya untuk membencimu. Karena bagaimanapun kamu adalah wanita yang sudah membesarkannya,"
"Pa, aku tidak mau bercerai! tolong maafkan aku!" mohon wanita paruh baya itu sembari berlutut di kaki suaminya.
"Maaf, aku rasa selama ini sudah cukup aku mentolerir kamu. Sekarang tidak lagi!" pria itu menepis tangan istrinya yang menyentuh kakinya. Lalu dia megalihkan tatapan ke arah Julian.
__ADS_1
"Tuan Julian, sekali lagi maaf atas kekacauan ini! aku pamit Tuan!" pria paruh baya itu, kemudian beranjak pergi meninggalkan istrinya yang langsung mengejarnya sembari hiiteris memanggil pria paruh baya itu.
tbc