
"Iya, aku juga mendengar kamu menyebut nama itu. Bagaimana kamu tahu kalau asistenku dulu namanya Reynaldi?" Julian ikut buka suara.
"Ten-tentu saja aku tahu. Siapa sih yang tidak kenal Reynaldi? Aku kan selalu melihat Julian dan dia di TV dulu. Hanya saja, sekarang tiba-tiba dia hilang begitu saja. Sangat disayangkan memang," tutur Tessa, mencari alasan yang masuk akal.
Kecurigaan Julian langsung sirna begitu mendengar penjelasan Tessa, karena memang dari dulu kemana-mana dia selalu ditemani oleh Reynaldi. Dan memang tidak banyak yang tahu kalau Reynaldi di penjara, karena semarah-marahnya Julian saat itu, dia tidak mempublikasikan perbuatan Reynaldi, karena entah kenapa, Julian masih memikirkan nama baik mantan asistennya itu, ketika keluar dari penjara nanti,dan juga mengingat jasa Reynaldi yang cukup besar. Bahkan para karyawan perusahaannya tidak ada yang tahu, karena Julian beralasan kalau Reynaldi, mendapatkan pekerjaan besar di luar negri.
Kalau Julian percaya dengan alasan yang dikatakan oleh Tessa, tapi berbanding terbalik dengan Gilang. Pria itu masih menatap Tessa dengan tatapan curiga. Namun dia berusaha menahan diri untuk tidak mengungkapkan kecurigaannya.
"Oh ya, Jul, sepertinya aku sudah sedikit menemukan titik terang tentang wanita yang kamu cari itu. Kamu sabar saja, aku pasti akan menemukannya,"
Begitu Gilang selesai dengan ucapannya, ada tiga ekspresi berbeda dari timbul dari tiga orang yang berada di tempat itu. Julian dengan ekspresi bahagia, Tessa dengan ekspresi kaget sekaligus panik, dan Ayara yang berekspresi takut.
"Kamu serius?" tanya Julian memastikan dan Gilang mengangguk mengiyakan.
"Mati aku! apa wanita yang dimaksud Tuan Gilang adalah wanita yang Julian kira sudah menjebaknya? apa Julian masih terus mencari wanita itu karena merasa belum tenang sebelum wanita itu masuk penjara? kalau iya, apa yang harus aku lakukan? bagaimana kalau Tuan Gilang benar-benar mengatahui indentitasku?" Ayara mulai cemas. Bahkan wajah wanita itu sudah terlihat pucat dan berkali-kali *******-***** tangannya.
Sementara itu Tessa juga terlihat tidak tenang, dan sikapnya itu tidak lepas dari perhatian Gilang.
"Ada apa Nona Tessa? kenapa kamu terlihat gelisah?" alis Gilang bertaut tajam.
"Oh, ti-tidak ada apa-apa! siapa yang gelisah? kamu salah lihat, aku tidak gelisah sama sekali," sangkal Tessa.
"Oh, iya yah? mungkin aku memang salah lihat!" Gilang tersenyum, misterius. Entah apa maksud senyum pria itu, tapi yang pasti senyum Gilang sanggup membuat Tessa bergidik ngeri.
__ADS_1
"Sialan,pria ini! sepertinya dia juga ancaman bagiku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? apa aku harus meminta orang untuk menyelidiki gerak-geriknya. Sehingga ketika dia bisa menemukan wanita itu, aku bisa langsung memerintahkan orang itu untuk melenyapkan wanita yang dicari Julian itu," batin Tessa, menyusun kembali muslihat.
"Oh ya, Lang, aku mau tanya, dari mana kamu menemukan petunjuk tentang wanita itu?" Julian kembali buka suara.
"Aku tidak bisa memberitahukannya padamu sekarang, karena aku takut nanti akan ada orang licik yang memanfaatkan informasi yang aku dapat ini," tutur Gilang dengan ekor mata yang melirik ke arah Tessa.
"Siapa orang licik yang kamu maksud? apa kamu mau menuduhku?" celetuk Tessa tiba-tiba, karena dia merasa lirikan mata Gilang seakan sedang menuduhnya.
Gilang lagi-lagi tersenyum. Tapi Kali ini senyum pria itu bukan senyum manis, tapi lebih ke arah sinis.
"Nona Tessa, kenapa kamu bisa menarik ke diri kamu sendiri? apa aku ada menyebut mamamu?"
Tessa seketika terdiam, benar-benar merasa terjebak. Dia merasa kalau pria bernama Gilang itu cukup pintar untuk memancing gejolak perasaan seseorang yang memiliki kesalahan sampai orang itu mengaku sendiri.
"Cih, jangan kira kamu bisa masuk ke dalam parangkapmu. Lagian, aku bingung kenapa ia terlihat seperti mencurigaiku ya? apa dia sudah tahu sesuatu tentangku? tapi dari siapa? tidak mungkin dari Reynaldi kan? karena tidak mungkin dia menemui si brengsek itu ke penjara, sementara mereka berdua sangat membenci Rey," pikiran Tessa benar-benar kacau sekarang. Berbagai pikiran negatif berseliweran di kepalanya.
"Pertanyaan yang mana?" Tessa pura-pura lupa.
"Wah, kamu masih muda tapi sudah pelupa. Padahal masih lima menit yang lalu," ejek Gilang, dengan sudut bibir tersenyum smirk.
"Ah, aku memang suka lupa pada pertanyaan yang menurutku tidak penting. Sekarang sebaiknya kamu pergi deh. Bukankah urusanmu sudah selesai? jangan buat waktu kami sia-sia!"
Tawa Gilang sontak pecah, mendengar ucapan Tessa. "Apa ini yang kata Tante Sarah wanita yang lembut? ternyata wanita lembut, baik dan sopan, bisa juga ya mengusir seseorang yang tidak memiliki salah sama sekali ya? Kalau itu karena aku tidak sopan, aku rasa aku dari tadi sudah sopan deh. Aku tidak pernah mengatakan sesuatu yang kasar kan?"
__ADS_1
Tessa kembali mati kutu. Seandainya tidak ada Julian di tempat itu, sudah bisa dipastikan kalau dia akan memaki habis-habisan, asisten pribadi Julian itu.
"Jul, sepertinya aku pergi dulu ya! ada sesuatu yang akan aku kerjakan. Besok akan aku usahakan datang ke kantormu," Julian menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Sementara itu, Tessa mengembuskan napas lega. Rasa sesak yang dari tadi menghimpit jantungnya, seakan hilang entah kemana, begitu mendengar ucapan pamit Gilang.
Belum jauh Gilang melangkah, pria itu kembali berbalik dan menghampiri Julian. Pria itu menarik Julian sedikit menjauh dan mendekatkan bibirnya ke telinga sahabatnya itu.
"Jul, sepertinya untuk beberapa hari ini aku ada urusan yang tidak bisa aku tinggalkan. Jadi kemungkinan aku tidak akan datang ke kantormu," bisik Gilang, seakan ada yang ditakutkan pria itu. Sementara itu terlihat Tessa yang memasang telinganya baik-baik, karena penasaran dengan apa yang di bisikkan dua pria itu.
"Hem, kenapa kamu harus berbisik mengatakan itu saja? benar-benar geli, tahu!" protes Julian sembari mengusap-usap telinganya.
"Udah kamu jangan protes! yang penting aku sudah izin ke kamu. Aku pergi dulu!" Gilang kemudian menoleh ke arah Ayara yang dari tadi sama sekali tidak berani buka mulut.
"Bye Ayara!" Gilang melambaikan tangannya ke arah Ayara yang tentu saja disambut baik dari wanita itu.
"Sudah, sudah! kamu pergi sana!" Julian tiba-tiba merasa kesal, lalu mendorong tubuh Gilang dengan cukup kencang.
"Julian, kalau boleh tahu, apa tadi yang dibisikkan Gilang ke kamu?" Tessa sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
Julian tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru memicingkan matanya, menatap Tessa dengan curiga. "Kenapa kamu ingin sekali tahu apa yang dibisikkan Gilang? yang jelas sama sekali tidak ada kaitannya dengan kamu," cetus Julian, membuat Tessa terdiam.
Sementara itu, Julian langsung mengalihkan tatapannya ke arah Ayara yang tiba-tiba diam saja, seperti sedang memiliki beban yang sangat berat. Dan tentu saja, sikap Ayara tersebut menimbulkan tanda tanya besar di hati Julian.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya akan dikerjakan oleh Gilang?
tbc