
Di lain tempat, tepatnya di salah satu desa di kawasan bandung, tampak seorang wanita dengan seorang bayi di gendongannya yang tidak lain adalah Ayara berdiri di depan sebuah rumah kecil dan asri.
Dia kembali melihat kertas di tangannya untuk memastikan apakah dia berada di alamat yang tepat atau tidak.
"Punten, apa kamu ini yang bernama Ayara?" tiba-tiba seorang wanita yang terlihat lebih tua dari Mbok Sumi, sudah berdiri di sampingnya.
"Eh, i-iya, bude, aku Ayara!" Ayara dengan sigap mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan wanita tua itu.
"Oh, ternyata kamu masih muda dan cantik. adikku Sumi pasti sudah memberitahukan kamu siapa aku kan?" wanita tua itu menyelipkan sebuah senyuman manis.
"Iya, Bude. Bude ini pasti Bude Sopiah,"
Wanita tua yang ternyata memang Sopiah itu lagi-lagi tersenyum sembari mengangguk-anggukan kepalanya, mengiyakan.
"Ya udah, ayo masuk! Bude tadi sudah minta orang untuk membersihkan rumahnya," Sopiah mengayunkan kakinya melangkah untuk membukakan pintu dan Ayara pun menyusul dari belakang.
"Ayo masuk!" ajak Sopiah lagi setelah pintu sudah terbuka.
"Terima kasih, Bude!" sahut Ayara dengan sopan.
"Sama-sama, Nak. Kamu lebih baik duduk dulu. Kamu mungkin capek di perjalanan. Sini anak kamu Bude gendong dulu!"Sopiah mengulurkan tangannya hendak menggendong baby Elvano.
"Emm, Bude tidak keberatan?" tanya Ayara merasa tidak enak hati.
" Kenapa Bude harus keberatan? Sumi sudah menceritakan semua tentang kamu, dan Bude sangat simpati. Dan ketika pertama kali melihatmu tadi, Bude juga langsung yakin kalau kamu itu wanita baik seperti yang diceritakan adikku. Jadi kamu tidak perlu sungkan ya!" Sopiah melemparkan senyum tulusnya.
Ayara merasa lega dan dengan senang hati memberikan baby Elvano ke gendongan wanita tua itu.
"Wah, anak kamu sangat tampan! siapa namanya, Nak?" raut wajah Sopiah berbinar saat melihat wajah baby Elvano.
"Namanya Elvano, Bude. Tapi Bude bisa panggil dia Vano!"
"Hai, baby Vano! baik-baik ya di sini! Mudah-mudahan kamu nyaman di sini. Tenang saja, kamu mungkin tidur pakai AC di sana, tapi di sini kamu tidak memerlukan AC, karena di sini cukup dingin," Sopiah mulai mengajak putra Ayara untuk bermain.
__ADS_1
Setelah cukup lama Sopiah mengajak baby Elvano bermain dan sesekali dibarengi dengan obrolan santai dengan Ayara, wanita yang merupakan kakak dari Mbok Sumi itu akhirnya berdiri dari tempat duduknya. Sepertinya wanita itu akan pulang ke rumahnya yang kebetulan letaknya hanya berjarak dua rumah dari tempat dia tinggal sekarang.
"Nak Ayara, Bude pulang dulu ya! nanti kalau kamu perlu sesuatu, kamu jangan sungkan meminta ke Bude!" sebelum benar-benar pergi, Sopiah masih menyempatkan diri untuk meninggalkan pesan.
"Iya, Bude! sekali lagi Terima kasih, ya Bude!"
Sopiah menganggukkan kepalanya, lalu beranjak pergi. Setelah sampai di pintu, wanita tua itu tiba-tiba berhenti dan memutar tubuhnya kembali, menoleh ke arah Ayara.
"Oh ya, Ayara, di dapur Bude tadi sudah membeli beberapa bahan yang bisa kamu masak untuk kamu makan dan anak kamu nanti!"
Mata Ayara sontak kembali berembun, hampir menangis karena merasa terharu mendapatkan kebaikan yang tidak pernah dia sangka-sangka sama sekali.
"Terima kasih sekali lagi, Bude! aku tidak tahu lagi, bagaimana aku nantinya membalas budi Bude dan Mbok Sumi!" ucap Ayara dengan tulus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mbok Sumi, apa Mbok benar-benar tidak tahu Ayara pergi kemana?" tanya Julian dengan tatapan penuh harap.
"Maaf, Tuan! saya benar-benar tidak tahu!" sahut Sumi sembari menundukkan kepalanya,. karena dia tidak mau Tuannya itu bisa membaca kebohongannya.
"Aku benar-benar tidak tahu, Tuan. Aku tadi ada di ruangan menyetrika, jadi aku tidak melihat ketika Ayara keluar dari dapur ini!" Sumi masih kekeuh untuk menyangkal.
"Apa yang Mbok katakan itu bisa dipercaya? Karena dari tadi Mbok selalu menundukkan kepala. Apa. Mbok takut ketahuan bohong?" kini giliran Gilang yang buka suara, dengan nada penuh intimidasi.
"Hei, jangan gertak mamaku!" pekik Shasa yang merasa tidak terima mamanya diperlakukan layaknya seperti seorang terdakwa.
"Aku hanya bertanya biasa saja Dan sopan. Kamu lihat dari mananya aku menggertak mama kamu?" Gilang menatap Shasa dengan sangat tajam.
"Hei, siapapun bisa tahu, kalau cara bertanya kamu itu tidak baik dan seakan sedang menuduh. Kalau mamaku bilang tidak melihat ya berarti ia tidak melihat. Kenapa kamu meragukannya? benar-benar tidak sopan. Jadi, tidak salah ucapanku yang mengatakan otak kamu dangkal,"Shasa tidak mau kalah.
Gilang mengembuskan napasnya dengan keras saking kesalnya. Dia ingin sekali menyumpal mulut wanita itu, tapi dia berusaha untuk menahan diri untuk tidak melakukan hal itu. Jalan satu-satunya yang dia lakukan hanya menatap wanita itu dengan tatapan sangat tajam bak sebilah belati yang siap menghujam jantung. Namun, apa yang dilakukannya tidak membuat Shasa merasa takut. Justru wanita itu menjulurkan lidahnya, meledek ke arahnya.
"Sial! benar-benar ya wanita ini! dia benar-benar tidak takut aku meminta Julian memecatnya," Gilang menggerutu dalam hati.
__ADS_1
"Tuan Julian, Tuan Gilang, Bu Sarah, aku memang tidak melihat Ayara keluar dari dapur ini. Kalau kalian tidak percaya, sebaiknya aku mengundurkan diri saja," akhirnya Sumi memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya.
"Akhirnya ... Ma aku dukung keputusan Mama. Bukan karena Tuan Julian dan Ibu Sarah tidak percaya, tapi memang sudah waktunya mama berhenti. Mama sebaiknya sudah bisa istirahat di masa tua Mama," celetuk Shasa, begitu bahagia mendengar ucapan mamanya. Karena memang dia sudah berkali-kali meminta mamanya itu untuk berhenti dan dia yang akan membiayai hidup mamanya. Namun, setiap dia meminta hal itu, mamanya selalu menolak, dengan alasan dia tidak betah kalau hanya berdiam diri di rumah.
"Mbok, maaf kalau kamu terkesan tidak mempercayaimu. Tapi, aku mohon jangan berhenti bekerja di rumah ini ya, karena sekarang sangat mendapatkan orang yang loyal seperti Mbok," ucap Sarah dengan wajah memelas.
"Tapi, Bu ...."
"Sudah, Mbok! kami percaya kamu!" pungkas Julian akhirnya.
"Terima kasih, Tuan, Bu. Kalau kalian masih percaya padaku, aku akan tetap bekerja di sini. Terima kasih untuk kepercayaannya!"
"Mama!" seru Shasa yang merasa kesal dengan keputusan mamanya.
"Sudahlah, Shasa! mama senang kok bekerja di sini. Mama tahu kalau kamu ingin mama istirahat di rumah, tapi mama merasa tidak sehat kalau kurang bergerak. Kamu juga jangan lupa kalau kamu itu bekerja di perusahaan Tuan Julian," Sumi, tersenyum ke arah Shasa yang sudah mengerucutkan bibirnya.
"Mulai sekarang, dia tidak akan bekerja di perusahaan Julian lagi, iya kan Jul?" celetuk Gilang tiba-tiba dengan seringaian licik di sudut bibirnya.
"Ma-maksudmu apa?" Shasa terlihat mulai panik. "A-apa aku dipecat? tapi apa hakmu memecatku? Tuan Julian saja tidak bilang apa-apa," sambungnya kembali.
"Kamu tidak dipecat, tapi kamu dialihkan ke perusahaanku
Karena Reynaldi sudah kembali itu berarti aku akan fokus mengurus perusahaanku sendiri. Aku butuh sekretaris dan kamu aku jadikan sekretarisku!" ucap Gilang dengan santai dan senyum penuh muslihat, membuat Shasa bergidik ngeri.
"Kamu tidak punya hak untuk itu, karena Tuan Julian tidak mengatakan apa-apa. Dan aku juga tidak bersedia jadi sekretarismu!" Shasa memberanikan diri untuk menolak.
"Kalau kamu menolak, ya berarti kamu bersiap-siap untuk tidak mendapatkan pekerjaan di manapun. Kamu pilih mana? mau jadi sekretarisku atau nama kamu diblacklist dari daftar pencari kerja. Ingat, perusahaanku dan perusahaan Julian sama besarnya dan juga dengan pengaruhnya di dunia bisnis," tantang Gilang.
"Aku tidak mau! Tu-tuan Julian, tolong jangan memindahkanku di perusahaan Gilang! " mohon Shasa sembari menangkupkan tangannya.
"Aku terserah Gilang saja. Aku lagi pusing!" terdengar helaan napas yang cukup keras dan berat dari mulut Julian. Raut wajah pria itu benar-benar terlihat kusut sekarang. Pria itu kemudian dengan lemas berdiri dari tempat dia duduk dan mulai melangkahkan kakinya. Sementara itu, Shasa terlihat Lemas dan Gilang tersenyum penuh kemenangan.
"Julian, kamu mau kemana?" Gilang mencoba memanggil.
__ADS_1
"Mau mencari Ayara dan putra kami! aku berharap dia masih ada di kota ini dan aku berharap bisa menemukan mereka," ucap Julian lirih dan kemudian melanjutkan langkahnya dengan gontai.
Sementara itu, Sumi dan Shasa sontak saling silang pandang dengan tatapan penuh makna dan hanya merekalah yang tahu makna tatapan mereka itu.