Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Kamu ikut aku!


__ADS_3

Malam kini sudah berlalu dan berganti pagi. Pagi ini raut wajah Shasa terlihat kusut, mengingat kalau hari ini adalah hari pertama dia akan menjadi sekretaris Gilang, pria yang menurutnya sangat menyebalkan.


Gadis itu kini sudah rapi dan bersiap untuk berangkat. Ia lebih dulu mengeluarkan motor matic-nya, kemudian mengunci rumah yang memang diberikan oleh keluarga Julian untuk dia dan mamanya tempati.


Rumah itu sudah lama dia tempati bersama mamanya, semenjak di usianya yang ke 8 tahun, ia diboyong mamanya ikut ke Jakarta, ketika papanya meninggal. Awalnya memang Sumi tinggal di kediaman Julian, tapi karena merasa tidak enak hati karena dia ada anak, Sumi akhirnya mengutarakan niatnya untuk mengontrak rumah kecil yang dekat dengan kediaman keluarga Julian. Dia berjanji akan datang pagi sekali dan pulang malam.


Permintaan Sumi, dipenuhi oleh Sarah. Bukan hanya dipenuhi, mamanya Julian itu bahkan membeli rumah yang hendak dikontrak itu, yang memang kebetulan saat itu juga dijual dengan harga murah. Padahal saat itu perusahaan keluarga Julian belum sebesar sekarang.


"Emm, kalau bukan karena aku butuh pekerjaan, aku tidak sudi bekerja di perusahaan pria menyebalkan itu!" Shasa menggerutu, sembari menghidupkan mesin motornya, lalu melajukan motornya itu dengan kecepatan sedang.


Setelah lebih kurang 20 menit, wanita itu mengendarai motornya, wanita itu kini sudah tiba di tempat tujuannya. Namun Entah apa yang dipikiran oleh Shasa, bukannya ke kantor Gilang, dia justru tanpa sadar tetap membawa motornya menuju perusahaan Julian. Seperti biasa, dia menepikan motornya dan melangkah masuk.


"Lho, kenapa aku malah ke sini?" raut wajah Shasa berubah panik.


"Si brengsek itu pasti akan marah kalau aku tidak ke kantornya. Bisa-bisa dia menganggap kalau aku sudah membangkang," batin Shasa, sembari berbalik hendak pergi lagi. Namun, tiba-tiba dia berhenti kembali. "Ah, bodo amatlah! kenapa aku harus takut pada ancamannya!" batin Shasa lagi sembari kembali memutar tubuhnya, mengurungkan niatnya untuk meninggalkan kantor Julian.


"Sha, kamu kenapa sih? kenapa dari tadi kamu terlihat seperti orang yang kebingungan?" tegur Nabila rekan kerjanya dengan alis yang bertaut.


"Oh, tidak kenapa-napa, Bil. Aku tadinya hanya ingin mengambil bekal makan siangku, eh ternyata, baru aku ingat kalau aku sama sekali tidak bawa bekal," tutur Shasa, yang terpaksa memberikan alibi yang menurutnya masuk akal.


"Oh, seperti itu? kamu belum tua saja sudah pikun," Nabila berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Shasa dan Nabila kini sudah berada di meja mereka, bersiap untuk melakukan pekerjaan masing-masing.


"Bil, kamu mau tidak jadi sekretaris Tuan Gilang?" celetuk Shasa tiba-tiba.


"Ya jelas mau dong! siapa yang mau menolak rejeki nomplok seperti itu? kalau sudah jadi sekretarisnya, itu berarti gajiku akan lumayan besar. Emangnya Tuang Gilang mencari sekretaris? kalau iya, kenapa bukan kamu saja?" sudut alis sebelah kanan Nabila sedikit naik ke atas, merasa aneh dengan pertanyaan Shasa barusan.


"Emm, aku hanya merasa kalau aku sudah betah bekerja di sini, lebih nyaman dan lebih santai. Kalau jadi sekretaris kan, pekerjaannya banyak ... belum lagi kalau mendapatkan tekanan dari atasan kita,"


Nabila mengangguk-anggukan kepalanya, membenarkan ucapan Shasa.


"Iya juga ya? kalau begitu, aku pun tidak maulah jadi sekretaris. Lebih nyaman jadi resepsionis saja. Apalagi, Tuan Gilang pasti galak kalau kita melakukan kesalahan," ucap Nabila sembari bergidik ngeri.

__ADS_1


"Heh, kok bisa jadinya begini? padahal kan tadinya, aku ingin membujuk dia jadi sekretaris Gilang, menggantikanku. Kenapa aku malah membuatnya jadi overthinking. Haish, sepertinya aku salah bicara!" Shasa menggerutu, merutuki kebodohannya sendiri.


"Eh, tapi sepertinya Tuan Gilang tidak galak deh. Kamu tidak perlu overthinking. Kesempatan seperti ini, tidak boleh kamu lewatkan, Bil. Aku tidak mau, karena sebenarnya aku masih baru di dunia kerja. Sedangkan kamu ... kamu kan lebih dulu lebih lama daripada aku," Shasa mulai mempengaruhi Nabila, agar berubah pikiran.


Nabila diam untuk beberapa saat, memikirkan ucapan Shasa. Namun, tiba-tiba mata wanita itu membesar dan mulutnya terbuka begitu melihat sosok pria yang sudah lama dia kagumi diam-diam, berjalan masuk. Sudah lebih dari setahun dia tidak pernah melihat pria itu lagi, jadi begitu melihat pria itu lagi, tentu saja membuatnya kaget bukan main, dan juga menimbulkan detak jantung yang berdebar tidak karuan. Apalagi sekarang pria itu melangkah ke arahnya dan Shasa. Siapa lagi sosok pria itu kalau bukan Reynaldi.


"Bil, kamu kenapa sih? kenapa mata kamu berbinar seperti melihat seorang super star?" tanya Shasa sembari melihat ke arah Nabila melihat.


"Haish, ternyata dia melihat Reynaldi! sepertinya kalau sudah begini, akan semakin sulit membujuknya menggantikanku, jadi sekretaris pria menyebalkan itu!" bisik Shasa pada dirinya sendiri sembari mengembuskan napasnya.


"Pa-pagi, Tuan!" sapa Nabila dengan suara bergetar saking gugupnya.


"Oh, pagi juga!" sahut Reynaldi, tersenyum tipis. Kemudian Reynaldi menoleh ke arah Shasa.


"Shasa, bukannya hari ini kamu seharusnya berada di kantor Gilang? tapi kenapa kamu masih berada di sini?"


Shasa berdecak dan mencebik. "Aku malas ke sana, Rey. Bisa tidak aku tetap bekerja di sini saja?" sahut Shasa yang hanya menyebut nama Rey saja, tanpa adanya embel-embel, Tuan atau Pak seakan keduanya sudah akrab. Hal itu tentu saja membuat alis Nabila bertaut, merasa curiga.


"Shasa memanggil nama Tuan Reynaldi sesantai itu. Bukannya ketika Shasa masuk kerja, Tuan Reynaldi sudah ke luar Negri? tapi kenapa mereka berdua terkesan saling mengenal?" Nabila bertanya-tanya dalam hatinya.


Shasa menghela napas dengan sekali hentakan dan memukul-mukul mejanya dengan geram.


"Ihh, benar-benar menyebalkan. Kenapa sih ada pria seperti dia? buat darahku naik saja!" umpat Shasa. "Bagaimana kalau Nabila saja yang menggantikanku? dia juga kuliahnya jurusan sekretaris kok ... iya kan, Bil?" lanjutnya kembali sembari menatap Nabila, penuh harap.


"Aku tidak mau. Aku mau di sini saja!" seperti dugaan Shasa, kalau rekan kerjanya itu pasti tidak akan bersedia setelah ia tahu, Reynaldi yang akan kembali bekerja di kantor Julian. Shasa tahu benar kalau Nabila sangat mengagumi Reynaldi, karena selama ini, mata wanita itu akan selalu berbinar setiap berbicara tentang Reynaldi.


"Shasa, Maaf sekali! sekeras apapun kamu menolak dan berusaha mencari ganti, Gilang tetap mau kamu yang jadi sekretarisnya! Jadi kamu terima saja, ya. Lagian, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh. Gilang tidak seburuk yang kamu pikirkan. Dia itu sangat menghargai seorang wanita. Asal kamu tahu, dia bahkan sekalipun tidak pernah punya kekasih karena terikat janji dengan seseorang di masa kecilnya. Coba kamu bayangkan bagaimana setianya dia. Padahal kalau dia mau, akan banyak wanita yang antri menjadi pasangannya," tutur Reynaldi panjang lebar.


"Masa sih dia seperti itu?" gumam Shasa dengan suara yang sangat pelan, tapi masih bisa didengar oleh Reynaldi.


"Shasa! kenapa kamu tidak datang ke kantorku? hah!" tiba-tiba terdengar teriakan seorang laki-laki dari arah pintu masuk. Siapa lagi pria itu kalau bukan Gilang, orang yang mereka bicarakan barusan.


"Apa kamu mengira kalau ancamanku tidak benar? kamu mau melihat apa yang akan aku lakukan kalau aku marah?" ucap Gilang lagi setelah pria itu sudah berdiri di dekat Shasa.

__ADS_1


"Iya, iya maaf! aku akan ke sana sekarang!" Shasa meraih tasnya dan dengan bibir yang mengerucut langsung beranjak pergi. Saking kesalnya, dia sampai lupa untuk pamit pada Nabila.


"Kamu tidak perlu melihat mereka sampai segitunya! anggap saja mereka berdua orang yang kurang waras," celetuk Reynaldi, begitu melihat tatapan bingung Nabila ke arah Shasa dan Gilang. Setelah mengatakan hal itu, Reynaldi pun berlalu meninggalkan Nabila yang mematung.


"Kamu ikut mobilku!" titah Gilang, sembari mensejajarkan langkahnya dengan Shasa.


"Tidak perlu! aku bawa motor sendiri!" tolak Shasa dengan bibir yang masih mengerucut.


"Apa? kamu naik motor dengan menggunakan rok pendek seperti ini!" pekik Gilang murka, sembari menunjuk rok Shasa yang selutut.


"Emangnya kenapa? aku sudah terbiasa seperti ini!"


"Oh, jadi kamu sengaja naik motor menggunakan rok seperti itu untuk menunjukkan kalau kamu memiliki paha yang mulus, begitu?" tukas Gilang, yang entah kenapa merasa kesal membayangkan gadis di depan itu menaiki motor dengan keadaan pakai rok.


"Haish, tidak salah aku mengatakan kalau kamu punya pikiran yang dangkal. Bagaimanapun aku jelaskan, kamu juga tidak akan mengerti," Shasa menggeleng-gelengkan kepalanya dan memutuskan untuk tetap melangkah menuju tempat di mana motornya terparkir.


"Aku bilang kamu jangan naik motor! kamu ikut mobilku sekarang!" Gilang mencengkram tangan Shasa dan menarik tangan wanita itu menuju mobilnya.


"Eh, aku tidak mau! kalau aku ikut kamu, motorku bagaimana?" Shasa berusaha melepaskan diri.


"Nanti aku akan meminta orang mengambil motormu dan mengantarkannya ke rumahmu! sekarang kamu ikut mobilku! ingat, kamu tidak bisa menolak, karena ini adalah perintah!" ucap Gilang dengan tegas, penuh tekanan dan tak terbantahkan.


"Dasar pria gila!" umpat Shasa.


"Terserah!" timpal Gilang.


"Mulai besok kamu pakai mobil kantor saja untuk berangkat kerja!" lanjut Gilang lagi sembari membuka pintu mobilnya dan sedikit mendorong tubuh Shasa masuk ke dalam.


"Aku tidak bisa bawa mobil!" sahut Shasa setelah Gilang masuk juga.


"Kalau begitu, aku kasih kesempatan padamu untuk kursus mengemudi. Dan sebelum kamu bisa, aku yang akan menjemputmu! ingat tidak ada penolakan!" sambar Gilang dengan cepat, ketika melihat Shasa yang hendak buka mulut lagi.


"Benar-benar pria psikopat!" umpat Shasa, dan Gilang memilih untuk diam sembari menjalankan mobilnya.

__ADS_1


tbc


__ADS_2