Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Mulai mengerti.


__ADS_3

"Ayara, kamu tidak apa-apa?" pekik Shasa begitu masuk ke dalam rumah.


Semua mata yang berada di ruangan itu sontak menoleh ke arah pintu dan melihat Shasa tengah ngos-ngosan.


"Shasa? kamu kenapa bisa datang ke sini?" tanya Ayara, dengan alis bertaut.


Shasa tidak menjawab sekali. Wanita itu justru menatap ke arah Julian dengan tatapan bingung kenapa Julian bisa ada di tempat itu.


"Tuan Julian? kamu juga sudah ada di sini? ta-tapi bagaimana Tuan bisa. di sini? padahal aku sudah berusaha menghubungi nomormu dan Reynaldi, tapi gak aktif sama sekali," ujarnya.


Julian tidak menjawab sama sekali. Pria maskulin itu justru memberikan tatapan yang sangat tajam bak sebilah belati yang siap menghujam jantung.


Merasa tatapan Julian sangat tajam, Shasa sontak bergidik, dan tanpa bertanya,gadis itu sudah bisa menyimpulkan kalau majikan dari mamanya itu, tengah marah padanya dan dia tahu apa alasannya.


"Kenapa kamu merahasiakan keberadaan Ayara? kamu tahu, tapi kamu tidak bersikap seakan tidak tahu," suara Julian terdengar sangat dingin sehingga aura di dalam ruangan yang tidak terlalu luas, terasa sedikit menakutkan.


"Maaf! mama dan aku hanya ingin memberikan pelajaran bagi kamu yang sudah menghina Ayara saat itu. Memang sangat keterlaluan, tapi aku merasa apa yang sudah kamu lalui cukup pantas kamu dapatkan," sahut Shasa santai.


"Apanya yang pantas? kamu dan mamamu menyembunyikan Ayara sampai 4 bulan lebih, bukan dua minggu. Asal kamu tahu, satu hari saja aku kehilangan mereka, aku sudah merasa bertahun-tahun. Coba kamu bayangkan, seberapa sakit yang aku rasakan selama 4 bulan ini?" tutur Julian, dengan ekspresi wajah yang masih marah dan tidak terima.


"Sudah, sudah! jangan asik menyalahkan lagi! karena tidak akan ada selesainya. Yang ada akan semakin berdebat," Ayara akhirnya buka suara menengahi perdebatan antara sahabatnya itu dengan Julian.


"Tapi, Ayara ... aku merasa kalau selama ini sudah dibodohi mereka. Aku merasa seperti orang bodoh selama ini!" Julian terlihat masih saja belum bisa terima.


"Sudahlah! sekarang yang penting baik-baik saja. Jangan marah-marah lagi! kamu juga harus maklum kenapa mbok Sumi dan Shasa bisa seperti itu! "


Julian akhirnya menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya kembali ke udara, berusaha untuk meredam kekesalannya dan berusaha bisa maklum seperti yang diminta oleh Ayara.


"Baiklah!" pungkas Julian singkat.

__ADS_1


Ayara sontak mengukir senyuman manis membuat perasaan Julian menghangat. seketika dia melupakan kekesalannya pada Shasa begitu melihat senyum Ayara yang terasa tulus padanya.


Ayara kemudian mengalihkan tatapannya lagi ke arah Shasa sahabatnya.


"Sha, kamu ke sini sendiri ya?"


Mata Ayara sontak membesar, tiba-tiba menyadari kalau Gilang tidak ada di sampingnya.


"Astaga! Gilang di mana? tadi aku datang bersamanya!" pekik Shasa sembari berlari keluar.


"Tuan Gilang, kamu kenapa ngapain duduk di sana?" tegur Shasa, bingung melihat Gilang yang alih-alih menyusulnya ke dalam, kini malah terlihat duduk di sebuah kursi kayu, di bawah pohon di depan rumah masa kecilnya itu.


"Oh, jadi sekarang kamu baru menyadari kalau kamu datang bersamaku ke sini? aku kirain kamu sudah melupakanku," sindir Gilang dengan raut wajah kesal, karena merasa diabaikan.


"Ihh, kamu kenapa sih? lagian kenapa juga kamu tidak langsung menyusul masuk ke dalam? kenapa harus diajak. Kamu kan punya kaki?" sahut Shasa, tidak kalah kesal.


Gilang berdecih dan mengalihkan tatapannya ke arah tempat lain.


Shasa kemudian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara. Dia melakukannya beberapa kali, berusaha untuk bersabar menghadapi sikap Gilang yang berubah-ubah.


"Tuan Gilang yang terhormat, ayo masuk!" Shasa akhirnya berhasil berbicara dengan lembut, walaupun masih tetap mengumpat dalam hati.


Mendengar suara lembut Shasa, Gilang akhirnya menoleh ke arahnya dan tersenyum. "Ya udah, Ayo!" sahut Gilang sembari berdiri lalu berjalan melewati tubuh Shasa. Melihat hal itu, Shasa menggeram dan menggertakan giginya.


Gilang masuk ke dalam rumah dan langsung menyapa Julian dan Reynaldi serta tidak lupa untuk menyapa Ayara juga. Jangan lupakan Aura yang menatap Gilang dengan mata yang membesar.


"Kenapa semuanya tampan-tampan sih?" batin gadis itu.


"Hei, hapus air liurmu itu!" tegur Reynaldi, membuat gadis itu tersentak kaget dan tanpa sadar melakukan apa yang dikatakan oleh pria itu.

__ADS_1


"Hei, kamu membohongiku! air liurmu sama sekali tidak ada!" ucap Aura, ketus membuat Reynaldi terkekeh.


Sementara itu, Gilang mulai mengedarkan tatapannya ke segala sudut ruangan dan matanya seketika berhenti ke sebuah photo gadis kecil yang tergantung di dinding. Photo gadis yang tidak lain adalah photo gadis kecil yang dia cari selama ini.


"Bukannya ini rumah Mbok Sumi? jadi itu siapa?" tanya Gilang menunjuk ke arah photo itu.


"Itu, photoku waktu kecil. Emangnya kenapa? kamu mau mengatakan kalau aku jelek waktu kecil?" sambar Shasa menatap sinis ke arah Gilang.


Bukannya balik menjawab gadis itu, seperti yang biasa dia lakukan, pria itu justru tercenung dan menatap Shasa dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca.


"Ja-jadi dia Chaca, gadis kecilku!" batin Gilang. " Tapi kenapa namanya Shasa bukan Chaca? kenapa waktu aku bertanya apa dia mengenal Chaca, dia malah jawab tidak?" lagi-lagi Gilang bertanya dalam hati.


"Hei, kenapa kamu menatapku seperti itu? jangan bilang kamu tidak percaya kalau itu aku! tapi kamu mau percaya atau tidak pun aku tidak peduli!" ucap Shasa ketus.


Gilang lagi-lagi tidak memberikan tanggapan. Pria itu masih benar-benar masih membangun puing-puing ingatan tentang masa kecilnya dengan Shasa.


"Shasa, apa kamu tidak mau menyapaku? kamu sudah melupakanku ya?" celetuk Aura, membuat perhatian Shasa langsung teralih ke arah gadis yang baru saja buka mulut itu.


"Emm, kamu pasti Aura, iya kan?" tebak Shasa dan Aura menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Wah, kamu masih mengingatku! aku kirain kamu sudah lupa," sorak Aura sembari menghambur memeluk Shasa.


"Kalau nama kamu pasti aku ingat. Tapi mungkin kalau kita bertemu di tempat lain, mungkin saja aku tidak kenal karena kamu sangat jauh berubah. Kamu semakin cantik! aku rasa kamu juga pasti tidak mengenalku, iya kan?" ucap Shasa setelah pelukan mereka terlerai.


"Iya juga sih! kamu juga berubah jadi sangat cantik!" Aura terkekeh ringan. "Oh ya, apa kamu sudah bertemu Elang, pangeran kecilmu itu?" sambung Aura lagi dan Shasa menggeleng kepalanya dengan wajah sendu.


"Elang? sejak kapan namaku berubah jadi Elang?" batin Gilang dengan alis bertaut.


Setelah berpikir beberapa saat, kedua sudut bibirnya kemudian melengkung, karena dia mulai paham kenapa bisa Shasa jadi Chaca, Gilang jadi Elang.

__ADS_1


tbc


Maaf ya, adik iparku akan menikah, tanggal 21 nanti, jadi sudah sibuk dan rumah mertua sudah sangat ramai. Jadi, harap maklum ya kalau upnya lambat. Ini pun menulisnya mencuri-curi waktu. 😁🙏🏻


__ADS_2