Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Menggoda Aura.


__ADS_3

"Maksudku, kenapa kamu ke sini? bukannya masih banyak kursi kosong?" tanya Aura sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan memang masih ada beberapa kursi kosong, terlebih di meja yang bisa disimpulkan para kaum elit. Hal itu terlihat dari pakaian-pakaian yang menempel di tubuh orang-orang itu.


"Ya, itu karena aku maunya di sini. Emangnya ada larangan?" tanya Reynaldi dengan acuh.


"Tidak ada sih! cuma aneh saja! harusnya kamu kan duduk di barisan mereka, bukan duduk dengan gadis sepertiku, yang __"


"Yang apa? emangnya kamu gadis seperti apa? menurutku kamu tidak ada bedanya dengan gadis-gadis lain. Perbedaannya mereka hanya tampil glamour Dan kamu tidak. Itu saja!" tutur Reynaldi, tanpa ekspresi.


"Nah, that's the point!" sorak Aura, membuat Reynaldi terjengkit kaget dan sontak saja beberapa orang yang dekat dengan meja mereka menatap, ke arah Aura dengan alis bertaut.


Aura sontak saja menggigit bibirnya, dan mengangguk-anggukan kepalanya ke arah orang-orang itu, sebagai tanda permintaan maaf.


"Point apa yang kamu maksud?" Reynaldi, mengrenyitkan keningnya. Pria itu tampak tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.


"Itu tadi yang baru kamu katakan. Mereka tampil glamour dan aku tidak. Jadi tetap ada bedanya kan? Lihatlah, tampilan kamu, sangat sesuai dengan tampilan mereka!" Kali ini Aura berbicara dengan sangat pelan bahkan nyaris seperti berbisik, karena tidak ingin menjadi perhatian lagi dari orang di sekitarnya.


Reynaldi berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Walaupun secara kasat mata, aku terlihat seperti mereka, tapi aku juga berbeda dengan mereka. Aku mungkin hanya memiliki nasib lebih beruntung saja bisa bersahabat dengan Julian dan jadi asisten pribadinya, mengingat kalau aku itu dulu hanya anak pungut," ucap Reynaldi, lirih, membuat Aura seketika bergeming.


"Sudahlah, jangan bahas masalah penampilan. Yang jelas, aku mau duduk di sini dan tidak ada yang berhak melarang, begitu juga kamu!" pungkas Reynaldi, tegas.


Aura yang tadinya sempat terdiam kini berdecih dan mengerucutkan bibirnya, kesal. Namun, dia tidak mau membantah lagi dan memilih untuk diam.


"Kamu ke sini dengan siapa?" Reynaldi buka suara lagi.

__ADS_1


"Emm, dengan Bude Sopiah," sahut Aura singkat.


Reynaldi terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, paham.


"Di mana beliau? kenapa tidak terlihat?" Reynaldi mengedarkan pandangannya untuk mencari orang yang mereka bicarakan.


"Bude Sopiah, kangen pada baby Elvano, jadi, mungkin sekarang dia lagi bersama baby Elvano!"


"Oh, begitu! jadi kamu__"


"Kamu mau bertanya apa lagi? mau tanya, aku bawa kado apa? kapan pulang ke kampung lagi? atau kapan aku akan menikah seperti Ayara? dari tadi kamu asik bertanya saja, seperti seorang wartawan. Cape tahu jawabnya!" sambar Aura dengan cepat sebelum Reynaldi menyelesaikan pertanyaan berikutnya.


Reynaldi sontak terkekeh kecil, merasa lucu dengan raut wajah kesal wanita yang duduk di sampingnya itu.


"Kamu masih juga cerewet ya? aku kira dengan tampilan kamu yang anggun seperti ini, kamu juga akan bicara dengan anggun. Ternyata tidak ada bedanya," ledek Reynaldi di sela-sela tawanya.


"Kenapa sih kamu ketus bicara denganku? setahuku kita tidak pernah ada masalah dan aku juga tidak pernah melakukan kesalahan padamu, tapi kenapa sikapmu seperti menganggapku sebagai musuh?"


Aura sontak terdiam, dan sulit untuk menjawab pertanyaan pria itu. Dia juga bingung kenapa dia bisa sekesal itu melihat Reynaldi. Yang dia tahu, awal mula dia kesal dengan pria itu, ketika dia kembali ke rumahnya saat itu, pria itu kembali ke Jakarta tanpa pamit dan tidak pernah menghubunginya lagi, padahal jelas, pria itu punya nomor ponselnya.Dan dia juga gengsi untuk menghubungi pria itu.


"Masa sih, aku kesal gara-gara itu? lagian, siapa aku yang berharap dia hubungi lagi? aku kan bukan siapa-siapanya?" bisik Aura pada dirinya sendiri.


"Hei, kenapa kamu diam?" Reynaldi berbisik di telinga Aura hingga wanita itu terjengkit kaget.


"Itu karena kamu nggak pamit pulang ke Jakarta dan nggak pernah menghubungiku lagi!" saking kagetnya Aura tanpa sadar mengungkapkan alasan kekesalannya dan itu dia ucapkan dengan suara yang sedikit kencang. Hingga lagi-lagi membuat perhatian orang mengarah ke arahnya.

__ADS_1


Tawa Reynaldi sontak pecah, dan wajah Aura seketika berubah merah. Gadis itu sontak menggigit bibirnya, dan menundukkan kepalanya, saking malunya. Seandainya memungkinkan, ingin sekali dia membenamkan wajahnya ke tanah sampai kedalaman yang paling dasar, agar tidak ada yang bisa melihat bagaimana malunya dia sekarang.


"Jadi, kamu berharap aku hubungi lagi?" goda Reynaldi, berbisik sembari mengerlingkan matanya.


Bisikan Reynaldi, membuat Aura meringis menahan rasa malu. wanita itu benar-benar enggan untuk mengangkat wajahnya lagi, saking malunya.


"Kenapa kamu terus-terusan melihat ke bawah? apa sepatu kamu itu lebih menarik dari wajahku?" ledek Reynaldi, lagi. Sungguh, menggoda wanita itu, sekarang adalah hal yang paling menyenangkan baginya sekarang


"Kamu bisa diam nggak? kalau kamu masih bersuara, aku colok mulut kamu pakai sendok ini dan dorong sampai masuk ke tenggorokan kamu, biar kamu nggak bisa bicara lagi!" kali ini Aura memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan mencoba memasang wajah bengisnya, menatap Reynaldi dengan tatapan penuh ancaman.


Bukannya takut melihat tatapan Aura, tawa Reynaldi justru semakin pecah.


"Kenapa kamu jadi tertawa? kamu tidak takut ancamanku! kamu kira ancamanku hanya bohongan?" bibir Aura semakin mengerucut bahkan sampai membuat ujung hidung wanita itu sedikit terangkat ke atas.


"Bagaimana bisa aku nggak tertawa? kamu itu lucu! mau aku ambil photonya biar kamu lihat selucu apa kamu?" Reynaldi merogoh sakunya untuk mengeluarkan ponselnya.


"Tidak perlu!" Aura sontak memalingkan wajahnya yang lagi-lagi sudah memerah.


"Emm, jangan cemberut dong! sekarang kamu mau aku menghubungimu berapa kali dalam sehari? apa seperti makan obat tiga kali dalam sehari, atau setiap jam, dan bahkan mau tidur saja aku diharuskan menghubungimu? terserah kamu maunya apa!" goda Reynaldi lagi sembari mengetuk-ngetuk pundak Aura yang duduk membelakanginya.


"Ihh, bisa diam nggak sih! aku bilang nggak perlu ya nggak perlu!" sungut Aura di sela-sela rasa malunya.


"Perlu dong! aku tidak mau ada orang yang kesal, karena tidak aku hubungi lagi! nanti yang ada aku akan selalu sial diumpatin mulu di dalam hati! Sekarang kamu kasih tahu aja, mau kamu berapa kali aku harus menghubungimu? atau biar nggak terlalu ribet, bagaimana kalau kita membangun rumah bersama saja. Membangun rumah tangga maksudnya," bisik Reynaldi, membuat mata Aura membesar dengan sempurna.


Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata, dua bibir yang tersenyum, menatap interaksi keduanya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Siapa lagi mereka kalau bukan Gilang dan Shasa yang dalam waktu dekat ini juga akan merealisasikan impian mereka sedari kecil dulu, yaitu untuk membentuk sebuah rumah tangga dalam ikatan pernikahan.

__ADS_1


tbc


__ADS_2