
"Pokoknya mama dan papa harus datang malam ini juga! Karena aku akan tetap menikahinya!" terdengar suara Farell menggelegar di dalam ruang prakteknya. Sepertinya pria itu sedikit mendapat penolakan dari kedua orang tuanya.
"Farell, bagaimana kamu bisa menikahi wanita yang sudah punya anak, Nak? masih banyak perempuan di luar sana yang sangat mau menjadi istrimu. Mungkin di desa itu juga banyak, Nak. Mama tidak peduli kalaupun dia itu perempuan desa, tapi tolong jangan seorang janda! Kamu itu seorang dokter dan putra seorang pengusaha, jadi pasti bakal banyak gadis cantik yang berbondong-bondong jadi istrimu. Pokoknya mama tidak setuju!"
"Tapi yang aku inginkan hanya dia, Ma. Kalau mama dan papa tidak setuju, sampai kapanpun aku tidak akan menikah!" tegas Farell dengan napas yang memburu.
"Udahlah, Ma, jangan ditentang lagi! kamu tahu sendiri karakter anakmu itu.Dan ini semua salah kamu yang selalu memenuhi apapun yang dia inginkan dari kecil," terdengar suara bariton seorang pria yang bisa dipastikan kalau itu adalah papanya Farell yang merupakan seorang pengusaha property.
"Kenapa jadi nyalahin mama sih?" protes mamanya Farell dari ujung sana.
"Jadi papa harus nyalahin siapa? pembantu kita? sudahlah, aku capek dan pusing dengan sikapnya yang selalu mau dituruti. Jadi, biar cepat, iyakan saja!"
"Tapi, Pa ... anak perempuan itu bukan cucu kita. Nanti kalau sudah besar, takutnya dia merasa sok berkuasa dan jadinya menguasai harta kita. Apa Papa tidak bisa berpikir sampai ke arah sana?" wanita paruh baya di seberang sana, akhirnya mengungkapkan kekhawatirannya.
"Mama jangan khawatir, aku sudah mempertimbangkan itu semua. Aku juga tidak mungkin lebih mengutamakan anak itu dibandingkan dengan anak kandungku sendiri kelak. Sekarang yang penting mama setuju dulu," suara Farell sudah terdengar melembut.
"Baiklah kalau begitu! terserah kamu saja. Mama dan Papa akan langsung berangkat malam ini," pungkas mamanya Farell akhirnya setuju.
"Bagaimana dengan rumah sakit yang akan kamu bangun itu? apa kamu sudah punya cukup uang? apa kamu masih mau menolak bantuan dari papa?" kini giliran papanya Farell yang bicara.
"Aku sudah keduluan, Pa. Papa pasti tidak mungkin mengenal Julian Melviano Pradipta kan? ternyata dia sudah membeli tanah itu dan kebetulan juga dia akan membangun rumah sakit di tanah itu," suara Farell kini terdengar lemah. Pria itu sengaja tidak memberitahukan kalau wanita yang akan dinikahinya itu adalah mantan istri Julian, seperti yang dia ketahui dari Julian sendiri. Ia yakin kalau papanya tahu, papanya itu akan melarang keras dia menikahi Ayara, karena tidak mau membuat masalah dengan pengusaha muda itu.
"Ya sudah, kalau sudah begitu, kamu jangan berbuat macam-macam lagi. Mungkin belum rejeki kamu untuk membangun rumah sakit di sana. Papa ingatkan kamu, jangan pernah berurusan dengan Julian, kalau kamu tidak mau karir kamu hancur dan bisa juga berimbas ke perusahaan papa,"
Farell sontak terdiam.Ada sedikit gentar yang menyelinap ke hatinya, mendengar peringatan papanya. Namun, itu hanya sebentar saja, karena dia langsung menepisnya.
__ADS_1
"Ahh, tenang saja Farell, kekhawatiran kamu tidak akan terjadi," Farell menghibur dirinya sendiri.
"Sudah ya, Nak. Papa tutup teleponnya!" panggil pun diputuskan dari arah sana.
Brakkk
Baru saja Farell meletakkan ponselnya, pintu tiba-tiba dibanting dengan kencang. Tampak Aura masuk dengan wajah yang memerah, dan dengan napas yang memburu serta mata yang berkilau penuh amarah.
"Hei, kamu punya sopan santun nggak? masuk tanpa mengetuk pintu, benar-benar tidak punya attitude," bentak Farell dengan tatapan yang sangat tajam.
"Untuk orang yang tidak punya attitude seperti kamu, harus dibalas dengan tanpa attitude juga. Kamu sama sekali tidak layak mendapat sikap sopan santun dari siapapun itu!" Aura berucap dengan sangat sengit. Sumpah demi apapun, kekagumannya pada pria itu benar-benar hilang begitu saja, begitu tahu kelicikan pria di depannya itu.
"Kurang ajar kamu! keluar dari sini, atau aku akan menyeretmu!"
"Lakukan kalau kamu berani! biara semua orang di sini tahu, bagaimana sikap kamu yang sebenarnya. Sikap yang bisa kasar pada perempuan!"tantang Aura dengan menunjukkan wajah bengisnya.
"Apa maksudmu memprovokasi warga untuk membuat Ayara setuju menikah denganmu? asal kamu tahu, apa yang kamu lakukan itu benar-benar picik dan memalukan sebagai seorang yang berpendidikan ditambah kamu seorang dokter. Kamu menghalalkan berbagai cara agar keinginanmu bisa kamu raih. Asal kamu tahu, kamu itu sama sekali tidak mencintai Ayara, kamu hanya terobsesi dengannya karena dia sulit kamu dapatkan. Tolong batalkan keinginan kamu itu!" tutur Aura panjang lebar, tanpa jeda.
Farell tersenyum smirk menatap Aura dengan tatapan merendahkan.
"Nona Aura yang sok paling berpendidikan. Kamu jangan sok tahu apa yang aku rasakan. Aku yang merasakan sendiri kalau perasaan yang ada di hatiku ini adalah perasaan cinta, buka obsesi seperti yang kamu katakan itu. Bilang saja kamu kecewa karena aku tidak memilihmu makanya kamu mengatakan hal seperti itu! Jangan kira aku tidak tahu kalau kamu menyukaiku," Farell tersenyum meledek.
Kedua sudut bibir Aura sontak melengkung membentuk senyuman sinis.
"Oke, aku akui kalau aku memang pernah menyukaimu. Dan asal kamu tahu, hal itu adalah hal yang paling aku sesali dan merasa kalau aku adalah orang yang paling bodoh, bisa jatuh cinta dengan pria licik seperti kamu."Farell terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan kencang merasa ucapan wanita di depannya sedang mengisyaratkan kalau mencintai dirinya adalah sebuah kebodohan dan kesialan.
__ADS_1
"Kamu bilang apa tadi? kamu bilang aku kecewa karena kamu tidak memilihku? cih ... kamu terlalu percaya diri, Dokter Farell yang terhormat. Justru sekarang, aku merasa sangat bersyukur, bisa tahu bagaimana kamu sebenarnya! pria licik, egois dan memalukan!" lanjut Aura lagi dengan sangat sarkas.
"Diam! keluar kamu! ingat, kamu akan membayar mahal ucapan kamu ini! tak akan kubiarkan kamu bisa hidup tenang!" Farell meraih tangan Aura dan mendorong wanita itu dengan kencang, keluar dari ruangannya, lalu dia pun mengunci ruangannya itu.
"Woi brengsek! pengecut kamu! kamu kira aku takut! aku tidak akan takut!" teriak Aura aura dari luar sembari mengedor-gedor pintu ruangan Farell.
Merasa Farell sudah tidak mau membuka pintu lagi, Aura pun berjalan keluar dari klinik. Ia naik ke atas motornya dan melajukan ingin kembali ke tempat tinggal Ayara.
Belum sampai di tempat tinggal sahabatnya itu, tepatnya di sebuah teras, tempat biasa ibu-ibu berkumpul sembari bergosip, tanpa sengaja Aura mendengar kalau ibu-ibu itu ada menyebut nama Ayara dengan sebutan kata beruntung.
Aura pun menghentikan motornya dan mencoba untuk menguping.
"Benar juga sih, Ayara memang benar-benar sangat beruntung. Tadi siang saja, ada pria yang sangat tampan dan sepertinya juga sangat kaya datang mencarinya. Katanya sih, dia suami Ayara," salah seorang dari ibu-ibu itu buka suara.
"Suaminya? tapi bukannya kata Ayara, dia sudah berpisah dengan suaminya? Kenapa pria itu masih mengaku suaminya?" timpal yang lainnya.
"Kalau kata dokter Farell tadi siang, sih mantan suaminya itu selingkuh dengan wanita lain. Dan menurut dokter Farell, mantan suamimu itu mau mengambil baby Elvano anak mereka. Makanya dokter Farell berniat melindungi Ayara dan baby Elvano, agar anaknya itu tidak dibawa pergi,"
"Wih, baik sekali dokter Farell. Ayaranya saja tidak tahu bersyukur. Dia tidak tahu kalau dia sudah dilindungi dokter Farell diam-diam. Kalian dengar sendiri kan tadi ... dokter Farell bahkan melarang kita untuk tidak mengatakan pada Ayara, kalau mantan suaminya datang mencarinya. Dokter Farell mengatakan kalau dia tidak ingin Ayara tahu, apa yang dilakukannya demi melindungi wanita itu," sambung ibu-ibu yang lainnya.
"Oh ya, kabarnya mantan suaminya itu, sebenarnya datang ke sini untuk membangun rumah sakit di tanah kosong yang luas di sana itu lho! dan mungkin pembangunannya akan dimulai besok," celetuk salah satu seorang ibu-ibu itu sembari menunjuk ke arah lahan yang akan dibangun rumah sakit itu.
"Masa sih? berarti itu kenapa ada tadi banyak pria di sana dan mendirikan rumah papan untuk tempat tinggal mereka sementara. Mudah-mudahan rumah sakitnya cepat selesai deh,"pungkas ibu lainnya.
"Apa? jadi mantan suami Ayara tadi ke sini? katanya di lahan itu sudah banyak berkumpul para pekerjanya. Lebih baik aku ke sana sekarang. Mudah-mudahan ada petunjuk yang bisa membuat aku bisa menghubungi mantan suaminya itu. Entah kenapa aku tidak yakin kalau mantan suaminya itu, selingkuh," batin Aura sembari memutar balik motornya. Wanita itu benar-benar tidak memikirkan bahaya lagi. Padahal para pekerja itu bisa dipastikan adalah pria.
__ADS_1
tbc