Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Apa motif dia?


__ADS_3

Seperti yang sudah dibicarakan di awal, Gilang dan Reynaldi mendatangi sebuah toko bunga yang diketahui tempat pekerjaan wanita yang selalu dicari oleh Julian.


"Benar ini tempatnya , Rey?" tanya Gilang memastikan


"Iya, aku tidak salah sama sekali. Ini memang tempatnya," Reynaldi menganggukkan kepalanya.


"Oke, baiklah kalau begitu. Mari kita masuk dan tanya. Mudah-mudahan wanita itu masih bekerja di sini," tersirat harapan yang sangat besar di balik ucapan Gilang, dan Reynaldi juga demikian.


"Permisi, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang penjaga toko bunga, yang menyambut Gilang dan Reynaldi.


"Emma, kami mau mencari seorang wanita yang bekerja di sini sebagai kurir,"


Penjaga toko itu mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Kalau boleh tahu namanya siapa ya?" tanyanya.


"Aku tidak tahu namanya," sahut Gilang singkat.


"Kalau tidak tahu bagaimana kami bisa bantu, Tuan. Toko bunga ini besar dan punya beberapa kurir," penjaga toko itu mulai terlihat kesal.


"Apa mereka semua sudah hadir di sini? kalau sudah, apa kamu bisa panggil semua ke sini? karena walaupun kami tidak tahu namanya, tapi sahabat saya ini sangat mengenal wajahnya," titah Gilang, seakan sedang memerintahkan karyawannya.


Penjaga toko itu mengrenyitkan keningnya, merasa tidak suka diperintahkan oleh orang yang sama sekali bukan atasannya dan satu lagi tanpa ada kata tolong. Namun, ketika dia hendak membantah dia seketika memicingkan matanya, menatap Gilang dan Reynaldi bergantian.


"Tunggu dulu, aku sepertinya pernah melihat mereka berdua, tapi di mana ya?" batin penjaga toko itu berusaha untuk mengingat.


"Oh, aku ingat!" seru wanita itu tiba-tiba. "Bukannya Tuan ini, Tuan Reynaldi asisten Tuan Julian Melviano Pradipta? dan Bukannya Anda ini juga Tuan Gilang Anggara?" mata penjaga toko itu berbinar, tidak menyangka akan bisa melihat secara langsung pria-pria idaman banyak kaum Hawa.


Gilang dan Reynaldi saling silang pandang kemudian secara bersamaan melihat ke arah wanita itu lagi sembari menganggukkan kepala.


"Wah, mimpi apa aku tadi malam, sampai bisa bertemu dengan__"

__ADS_1


"Nona, bisa tidak panggilkan para kurir di sini? kami benar-benar tidak punya waktu banyak," Gilang dengan cepat memotong ucapan wanita itu.


"Baik, Baiklah! akan aku panggilkan!" dengan senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibirnya, wanita itu melangkah menuju tempat para karyawan yang memang kebetulan sedang mengadakan breefing.


Tidak perlu menunggu lama, para kurir yang dimaksud sudah datang dan berdiri berbaris. Sementara itu seorang wanita yang merupakan manager toko bunga itu juga sudah ikut hadir di tempat itu begitu mengetahui siapa yang datang.


"Silakan dilihat, Tuan Gilang. Apa yang anda cari ada di antara mereka?" ucap sang manager dengan sopan.


Gilang tersenyum tipis dan mengangukkan kepalanya, "Terima kasih, Nona!" kemudian Gilang menoleh ke arah Reynaldi. "Rey, coba lihat mereka semua. Apa wanita yang kita cari ada di antara mereka?"


Reynaldi mengangukkan kepalanya dan melihat ke arah beberapa kurir dengan mata yang memicing dan kening berkerut. "Nona Sinta, apa semua kurirmu sudah di sini atau masih ada lagi yang belum di sini?" Reynaldi buka suara.


Wanita yang bernama Sinta yang tidak lain adalah sang manager menggelengkan kepalanya. "Semuanya sudah ada di sini, Tuan,"


"Apa kamu sudah yakin?" tanya Reynaldi lagi, memastikan.


"Iya, sudah sangat yakin. Emangnya yang anda cari tidak ada di antara mereka ya?"


"Rey, bagaimana? apa kamu tidak melihat wanita itu ada di antara mereka?" Gilang juga ikut buka suara, memastikan.


Gilang mengembuskan napas kecewa. Padahal di awal dia sudah benar-benar berharap kalau dia pencariannya akan langsung berhasil hari ini.


Setelah mendengar kalau yang dicari oleh dua pria itu tidak ada, Sinta langsung memerintahkan semuanya untuk bubar.


"Rey, apa kamu yakin kalau tempat wanita itu bekerja adalah toko bunga ini?" tanya Gilang kembali memastikan.


"Aku sangat yakin, Lang. Aku tidak mungkin salah. Aku lihat jelas box yang berada di motor wanita itu sama seperti box-box yang terparkir di depan," tidak tampak keraguan sedikitpun di raut wajah Reynaldi saat mengucapkan ucapannya.


"Kalau memang iya, tapi kenapa tidak ada?"


"Mana aku tahu?" Reynaldi mengangkat bahunya. "Emm tunggu dulu! Nona, apa anda punya data siapa kurir yang mengantarkan pesanan bunga ke apartmen permata sekitar satu setengah tahun yang lalu?" Reynaldi kemudian menyebutkan tanggal bulan dan tahun kejadian.

__ADS_1


"Waduh, itu sudah lama sekali,Tuan. Aku tidak tahu apakah datanya masih ada atau tidak. Karena biasanya kita hanya menyimpan data yang memang sudah menjadi pelannggan tetap toko ini. Tapi kalau pelanggannya penghuni apartment yang baru saja anda sebutkan, kemungkinan masih ada. Sebentar ya, aku cek dulu! " Sinta berbalik dan hendak mengayunkan kakinya hendak melangkah menuju ruangannya. Namun, tiba-tiba dia berhenti melangkah dan berbalik lagi.


"Apa Tuan Gilang dan Tuan Reynaldi mau ikut masuk ke ruanganku? kalau menurutku alangkah baiknya kalian berdua ikut, karena kemungkinan kami akan kedatangan para pembeli. Tidak enak kalau nanti kita membicarakan hal itu di tempat terbuka seperti ini, "


Gilang dan Reynaldi saling silang pandang, bertanya satu sama lain menggunakan tatapan mereka. Kemudian keduanya menatap kembali ke arah Sinta menganggukkan kepala." Baiklah, kami akan ikut kamu, karena yang kamu katakan tadi, itu benar," pungkas Gilang.


" Baiklah. Kalau begitu Tuan Gilang dan Tuan Rey, Mari ikut aku!" Sinta kembali melangkahkan kakinya dan Kali ini diikuti oleh Gilang dan Reynaldi.


Sesampainya di ruangan Sinta, tanpa menunggu lama, wanita itu langsung menuju mejanya dan serius mengotak atik komputernya. Namun, belum lama wanita itu memeriksa di komputernya, tiba-tiba saja menghentikan pencariannya dan menatap ke arah Gilang serta Reynaldi yang kebetulan juga tengah menatapnya.


"Aku ingat, sekitar 5 bulan yang lalu kalau tidak salah ada salah satu kurir wanita toko ini yang tiba-tiba berhenti. Dia hilang begitu saja, tanpa izin ataupun mengajukan surat resign. Mudah-mudahan itu yang kalian cari. Namanya Ayara!"


Mata Gilang sontak membesar ketika mendengar nama yang disebutkan oleh wanita bernama Sarah itu. "Ayara? apa kamu punya photonya?" tanya Gilang lagi, yang tidak mau langsung menyimpulkan mengingat banyak wanita yang bernama Ayara.


"Em, sepertinya ada! tunggu sebentar aku cari dulu! soalnya dia kurir paling rajin dan baik. Aku sering mengambil photonya," Sinta meraih ponselnya dan langsung melakukan pencarian di galeri ponselnya.


"Nah, ini dia!" Sinta menunjukkan sebuah photo yang menampilkan photo seorang wanita yang sama dengan yang ada di pikiran Gilang sekarang. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Ayara, wanita yang dia tahu pengasuh anak angkat Julian.


"Rey, apa dia orangnya?" tanya Gilang, memastikan.


Reynaldi memicingkan matanya, melihat dengan sangat hati-hati. "Iya, benar! dia orangnya!" seru Reynaldi dengan sangat yakin dan mata berbinar.


"Sial! ternyata dia ada di sekeliling Julian selama ini!" umpat Gilang, dengan raut wajah berubah kesal.


"Maksud kamu?" tanya Reynaldi dengan alis bertaut.


"Nanti aku akan jelaskan di mobil!" sahut Gilang dengan raut wajah datar dan berubah sangat dingin.


"Oh, jadi Ayara yang kalian maksud? dia itu wanita yang baik dan pekerja keras. Dia dulu bekerja di sini sambil kuliah. Tapi, waktu itu di saat-saat akhir mau wisuda, tiba-tiba dia hamil. Kami tidak tahu sama sekali kalau dia sudah menikah atau belum. Yang aku tahu, dia itu seorang mahasiswi. Namun, karena dia mengaku sudah menikah, aku tidak berpikir macam-macam dan dia tetap bisa bekerja di toko ini sampai dia akan melahirkan. Ketika anaknya lahir dia juga sempat bekerja lagi tapi sering tidak masuk karena anaknya sakit-sakitan. Tapi karena aku merasa kasihan, aku tetap mempekerjakan dia, walaupun dia sering absen. Itu karena aku tahu dia sangat butuh uang. Jadi, ketika dia tiba-tiba menghilang, aku rasa karena dia sudah mendapatkan pekerjaan baru yang lebih menghasilkan banyak uang dan aku tidak marah akan hal itu. Cuma yang aku sesalkan, kenapa dia tidak izin lebih dulu," tutur Sinta panjang lebar dan tanpa jeda.


"Apa? dia hamil dan melahirkan?" pekik Gilang dengan mata membesar dan Sinta menganggukan kepala, mengiyakan.

__ADS_1


"Sial! Dia ternyata sudah mempermainkan Julian. Dia tahu kalau Julian mencarinya tapi dia diam saja. Apa sebenarnya motif wanita itu? dan ...." mata Gilang kembali membesar sempurna begitu mengingat baby Elvano.


tbc


__ADS_2