
Sementara itu di lain tempat tepatnya di sebuah restoran tampak dua insan baru saja selesai dengan makan siang mereka. Siapa lagi dua orang itu kalau bukan Gilang dan Shasa.
Shasa terlihat menikmati pudding yang merupakan makanan pencuci mulut, sedangkan Gilang sibuk dengan ponselnya.
Seperti biasa di waktu santai seperti ini, Gilang selalu menyempatkan waktu untuk membuka media sosialnya dan hal yang tidak pernah ketinggalan untuk dia lihat adalah postingan-postingan yang berlokasi di desa tempat gadis kecil yang dia cari.
"Kamu lihat apa sih dari tadi?" celetuk Shasa melirik ke arah ponsel Gilang.
"Bukan urusanmu! kamu lanjut aja makan puddingmu itu. Kalau kurang, nih habiskan juga punyaku!" Gilang mendorong piring kecil berisi pudding miliknya ke arah Shasa.
"Aku sudah kenyang. Kamu makan saja sendiri milikmu!" Shasa mendorong kembali piring pudding itu ke arah Gilang.
Gilang mengangkat bahunya dan kembali fokus menatap layar ponselnya.
"Apa kamu masih mau di sini? kalau iya, aku akan pergi duluan! oh iya, apa makanan ini kamu yang bayar atau kita bayar masing-masing!"
Gilang sontak mengalihkan tatapannya dari layar ponsel ke arah Shasa. Tatapan pria itu sangat tajam bak sebilah belati yang siap menghujam jantung.
"Iya, iya, kamu yang bayar! karena kamu tidak mau harga dirimu sebagai laki-laki dipertanyakan," cetus Shasa yang seketika mengerti makna tatapan pria yang duduk di depannya itu.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya Tuan!" Shasa kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Duduk!" titah Gilang, dengan dingin.
"Kenapa aku harus duduk? kan sudah selesai makan, dan sudah waktunya kembali ke kantor, untuk bekerja. Kalau kamu ... ya terserah,mau tetap di sini, mau kembali ke kantor ataupun mau pergi kemanapun kamu mau ya terserah kamu! seperti kata kamu selama ini, 'Aku ini bosnya, jadi terserah aku!" Tiara berceloteh dan diakhiri dengan dirinya yang meniru kata yang selalu diucapkan oleh Gilang.
"Sudah selesai bicaranya? kalau sudah seperti yang kamu katakan tadi kalau semuanya terserah aku, karena aku bosnya, jadi, aku perintahkan kamu duduk lagi!"
Bibir Shasa sontak mengerucut kembali. Ingin dia membantah tapi dia tidak punya kemampuan untuk itu. Akhirnya mau tidak mau wanita itu akhirnya mendapatkan tubuhnya duduk kembali.
"Aku duduk di sini ngapain?" tanya Shasa di sela-sela rasa kesalnya.
__ADS_1
"Kamu lihatin aku main handpone. Kan lumayan dapat tontonan gratis. Aku kasih kesempatan buat kamu untuk menikmati pemandangan indah di depanmu," sahut Gilang, santai.
"Pemandangan indah? di mana pemandangan indahnya?" Shasa celingukan untuk mencari pemandangan indah yang dimaksud oleh Gilang.
"Aku? bukannya aku sangat indah untuk dipandang? jangan bilang tidak!" sambar Gilang dengan cepat begitu melihat Shasa yang hendak buka mulut untuk membantah.
Sasha sontak terdiam dan hanya bisa mendengkus mendengar ucapan Gilang yang terlalu percaya diri.
"Tapi, dia memang tampan sih?" puji Shasa dalam hati.
"Ihh, ngapain kamu puji dia, Sha? ingat, dia itu sangat menyebalkan!". Shasa sontak menepis pujiannya tadi, yang tentu saja juga hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Hai, Gilang! kamu Gilang kan?" tiba-tiba seorang wanita cantik dan berpakaian seksi, datang menyapa Gilang dan tanpa permisi langsung duduk di samping pria itu. Wanita itu kemudian melirik sinis ke arah Shasa.
Melihat lirikan sinis wanita itu, bukannya membuat Shasa takut, wanita itu justru balas membalas lirikan wanita itu dengan tatapan yang tidak kalah sinisnya.
Gilang mengalihkan tatapannya untuk sementara dari ponselnya ke arah wanita yang baru saja datang. Namun, cukup hanya seperti itu. Pria itu sama sekali tidak membalaskan sapaan wanita itu. Dia justru kembali fokus ke layar ponselnya, karena dia ingat jelas wanita yang baru saja menyampanya itu adalah teman SMAnya yang dulu selalu mengejar-ngejarnya.
"Oh ya, kamu belum menikah pasti karena kamu belum menemukan gadis kecilmu dulu kan?" sudahlah, Lang,buat apa sih kamu masih mencari yang tidak jelas? mending sama yang sudah jelas saja, seperti aku! aku kan juga cantik!" wanita itu masih saja melanjutkan ocehannya.
Sementara itu Shasa sontak menatap Gilang dengan tatapan penuh tanya, begitu mendengar ucapan wanita yang duduk di samping Gilang, yang mengatakan kalau Gilang mencari gadis di masa kecilnya.
Tiba-tiba entah kenapa, tiba-tiba di merasa nyeri di dalam hatinya seakan ada yang sedang mencubit hating itu. "Ternyata dia sudah memiliki wanita idaman yang selalu dia tunggu," batin Shasa. "Hei, aku ini kenapa sih? kenapa aku harus sedih? bukannya aku juga sedang menunggu janji dari laki-laki masa kecilku untuk menemuiku kembali dan menikahiku? Jadi kenapa aku aku merasa tidak suka?" batin Shasa kembali.
"Aduh, aku sangat haus, Lang. Ini punya kamu kan?" wanita itu tanpa malu langsung meraih gelas Gilang yang sudah separuh dan langsung minum dari sedotan yang dipakai Gilang tadi.
"Astaga, aku refleks Gilang, saking hausnya. Tapi kamu tidak keberatan kan?" wanita berbicara dengan nada yang sangat lembut, dan menggoda. Tapi siapapun akan tahu kalau kelembutan wanita itu hanyalah pura-pura. "Nih, aku kembalikan lagi minum kamu!" Wanita itu mendorong kembali gelas minum Gilang dengan gaya sensual, hingga membuat Shasa merasa jengah.
"Nona,apa memang harus seperti itu ya, cara mendorong gelas? sumpah cara kamu tadi itu norak dan terkesan murahan," celetuk Shasa yang sudah tidak kuat menahan rasa gelinya melihat tingkah wanita itu.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu, hah?!" bentak wanita itu tidak terima dengan ucapan Shasa barusan. "Kamu pasti kesal ya, aku minum dari gelas Gilang, karena aku yakin kalau kamu itu juga impianmu. Asal kamu tahu, kamu itu yang murahan, dari tadi kamu aku lihat Gilang tidak memperdulikanmu. Tapi kamu masih tetap duduk di sini. Aku tahu,kalau kamu itu ingin menggoda Gilang, tapi ingat selera Gilang itu tinggi bukan seperti kamu!" sambung wanita itu lagi, menatap sengit ke arah Shasa.
__ADS_1
"Jadi, menurut kamu, selera Gilang itu seperti siapa? seperti kamu? cih, kamu saja yang dari awal kamu datang, Gilang tidak menyapa kamu sedikitpun. Sedangkan aku ... dia sendiri yang minta aku tetap di sini, paham!" Shasa mulai terpancing.
Sementara itu, Gilang yang melihat Shasa sudah terpancing, diam-diam tersenyum melihat raut wajah kesal wanita itu yang menurutnya lucu.
"Gilang! lihat dia!" wanita itu mulai merajuk manja.
"Kamu sudah selesai bicaranya?" untuk pertama kalinya Gilang buka suara dan nada suara pria itu terdengar sangat dingin.
"Kalau kamu sudah selesai bicara, kamu tinggalkan tempat ini. Jangan sampai aku menyuruh sekurity itu menyeretmu keluar!" sambung Gilang lagi, sembari menatap wanita itu dengan tatapan yang semakin tajam.
"Gilang, kamu!" wanita itu mengerucutkan bibirnya.
"Pelayan!" Gilang mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan .
"Iya, Tuan?" sahut Pelayan yang kini sudah berdiri di samping Gilang.
"Tolong singkirkan gelas ini, kalau perlu kalian musnahkan karena ini sudah penuh dengan virus. Aku tidak mau nanti kalau aku ke sini lagi, aku mendapatkan gelas ini," Gilang menunjuk ke arah gelas yang tadi sudah disentuh oleh wanita itu.
"Virus? maksudnya?" gumam pelayan itu dengan sangat pelan,. karena dia benar-benar bingung.
"Musnahkan saja! nih aku ganti rugi!" Gilang meletakkan bebarapa lembar uang berwarna merah di meja.
"Oh, ba-baik, Tuan! apa aku perlu membawa minum lagi, Tuan?" tanya pelayan itu sembari meraih gelas dan uang yang ada di meja.
"Tidak perlu! aku bisa minum yang ini!" tanpa beban Gilang meraih gelas bekas Shasa dan menyeruput minuman itu dengan sedotan yang digunakan oleh Shasa tadi.
"Eh, itu bekasku?" seru Shasa dengan mata membesar.
"Kenapa? apa kamu keberatan?" Gilang mencondongkan tubuhnya ke arah Shasa, hingga membuat Shasa sedikit memundurkan kepalanya ke belakang.
Sementara wanita tadi tanpa diminta akhirnya berlalu pergi sembari menghentak-hentakkan kakinya.
__ADS_1
tbc