Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri

Menjadi Pengasuh Putraku Sendiri
Munculnya Julian


__ADS_3

"Ayara, bisa tidak kita mulai sekarang?" Farell sudah terlihat tidak sabar lagi.


"Sabar, sebentar lagi, dokter Farell. Bagaimana mungkin aku menikah kalau anakku nangis terus?" Ayara masih terus berusaha membujuk putranya itu untuk diam, tapi tetap saja hasilnya nihil.


Farell menggeram dan berdiri.


"Kamu sebaiknya kasih dulu ke Bude Sopiah! biar Bude itu membujuknya di luar. Nanti setelah kita sah, kamu bisa memintanya kembali dari Bude,"


"Tunggu, tolong bersabar sebentar lagi!" mohon Ayara, masih menggoyang-goyangkan tubuh putranya berharap putranya itu segera berhenti menangis.


"Sial! anak ini sepertinya akan jadi penghalang untuk rumah tanggaku dan Ayara nanti. Masih mau menikah saja, dia sudah menjadi penghalang. Tidak bisa jadi ini ... bagaimanapun aku harus mempercepat sahnya kami sebagai suami istri," Farrell menggerutu dalam hati


"Ayara! ini sudah jam berapa? kamu jangan menunda-nunda lagi! pokoknya sekarang kamu kasih anak kamu ke Bude Sopiah dan kamu kembali duduk di sini!"


Ayara sontak berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu bagaimana sih? kenapa kamu begitu egois? kamu hanya menginginkanku, tapi tidak dengan anakku. Sepertinya keputusanku mau menikah denganmu adalah keputusan yang salah. Aku tidak mau setelah menikah nanti, kamu mengabaikan putraku. Jadi, sekarang aku berubah pikiran, tidak akan mau menikah denganmu! terserah kamu mau melakukan apapun di desa ini, aku sudah tidak peduli!"


Wajah Farell seketika, berubah pucat, mendengar ucapan Ayara.


"Iya, iya, maafkan aku! aku tidak bermaksud mengatakan seperti itu. Aku tentu saja nanti akan. menyayangi anakmu sendiri seperti anak kandungku. Hanya saja ... maksud aku kita sahkan dulu pernikahan kita, baru nanti kamu bisa kembali membujuk baby Elvano," Farell kini mulai melembut. Sepertinya ancaman Ayara membuatnya mati kutu juga.


Ayara menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya keputusannya sudah bulat untuk tidak menikah dengan Farell.


"Aku tetap tidak mau! keputusanku sudah bulat!" pungkas Ayara di sela-sela anaknya yang mulai berhenti menangis.


"Ayara, jangan bersikap tidak tahu terima kasih! kami semua sudah menerima kamu dengan baik untuk tinggal di kampung ini, jadi sudah sepantasnya kamu berterima kasih. Dan satu-satunya cara, kamu harus mau menikah dengan Dokter Farell!" yang buka suara bukan lagi Farell, ataupun salah satu dari orang tuanya, tapi seorang pria yang merupakan ketua RT.


Ucapan ketua RT itu sontak saja mendapat dukungan dari para warga yang ada di tempat itu dan juga senyuman smirk dari Farell.

__ADS_1


"Maaf Pak RT, kalau menurut Bapak seperti itu, aku rela pergi dari kampung ini. Aku tidak mau mengorbankan kebahagian anakku kelak, kalau aku menikah dengannya!" Ayara kali ini terlihat sangat tegas bahkan tatapan wanita itu juga sangat tajam


"Baiklah kalau itu maumu! tapi dengan begitu kamu harus rela kalau Sopiah kami usir juga dari kampung ini!"


Ayara sontak membesarkan matanya, kaget mendengar ucapan ketua RT yang tidak pernah dia sangka-sangka itu.


"Pak, bagaimana Bapak bisa berkata seperti itu? Bapak benar-benar tidak mencerminkan, pemimpin yang bijaksana,"


"Justru aku melakukan ini semua demi kepentingan warga. Jadi bagaimana sekarang?" tantang ketua RT itu dengan sudut mata yang melirik ke arah Farell.


Farell yang tadinya sudah sedikit pesimis melihat penolakan Ayara, kini pria itu terlihat kembali optimis.


"Tidak sia-sia aku mengeluarkan uang yang cukup banyak buat ketua RT ini," bisik Farell pada dirinya sendiri.


"Nak Ayara, kamu tidak usah pedulikan aku! kamu berhak bahagia. Sekarang kamu pergi saja Nak!" Sopiah yang dijadikan tameng untuk membuat pertahanan Ayara lemah, akhirnya buka suara, memberikan dukungan.


Ayara dia seribu bahasa. Wanita itu kini merasa dilema. Di lain sisi dia memang benar-benar ingin membatalkan pernikahan terpaksa ini, tapi di lain sisi dia tidak tega memikirkan kalau Sopiah, wanita paruh baya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri harus terusir dari rumahnya sendiri. Walaupun memang wanita itu meminta agar dia pergi, tapi dia benar-benar tidak mau pergi membawa beban rasa bersalah pada Sopiah


"Nak Ayara! kamu jangan seperti itu!" pekik Sopiah tidak terima.


"Sudahlah, Bude! aku tidak mau, hanya gara-gara aku Bude terusir dari kampung ini. Aku ikhlas melakukan ini semua. Doakan saja yang terbaik ya, Bude!" dari sudut mata Ayara kini sudah keluar cairan bening yang langsung dia seka.


" Baguslah! dari tadi aku capek melihat drama ini. Sudah syukur anak saya mau menikahi janda sepertimu, tapi dari tadi kamu sok jual mahal!" celetuk mamanya Farell yang dari tadi memang sudah terlihat jengah.


"Mama!" tegur papanya Farell mendelik tajam ke arah istrinya itu. Kemudian pria paruh baya itu mengalihkan tatapannya pada Farell putranya.


"Farell, papa kira pernikahan kalian ini murni karena keinginan kalian berdua. Ternyata kamu memaksa Nak Ayara. Menurut Papa lebih baik kamu batalkan saja pernikahan ini! karena hasilnya tidak akan baik ke depannya,"


Mata Farell sontak membesar mendengar ucapan papanya yang sepertinya tidak menginginkan pernikahannya.

__ADS_1


"Papa kenapa sih dari dulu selalu jadi penentang setiap apa yang aku inginkan? Papa sepertinya benar-benar tidak menyayangiku! apa pun yang papa katakan sekarang, aku akan tetap menikahi Ayara, papa setuju ataupun tidak!" tegas Farell dengan nada yang berapi-api dan napas yang memburu.


"Sudahlah, Pah! turuti saja kemauan anakmu. Susah amat sih!" bisik mamanya Farell yang membuat pria paruh baya itu hanya bisa mengembuskan napasnya, pasrah.


Ayara dan Farell kini sudah duduk berdampingan dan sudah siap untuk meremikan hubungan mereka menjadi suami istri yang sah.


"Berani kamu melanjutkan pernikahan ini, jangan salahkan aku, kalau aku akan membuat hidupmu hancur, Dokter Farell!" Sebuah suara yang terdengar sangat dingin tiba-tiba terdengar dari arah pintu, membuat tatapan Farell dan yang lainnya langsung mengarah ke arah pintu.


"Tuan, Julian?" papanya Farell mengrenyitkan keningnya, bingung.


Sementara itu wajah Farell terlihat pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali.


Hal yang sama juga terjadi pada. Ayara. Entah apa yang dirasakan wanita itu sekarang. Yang jelas ada rasa senang karena pria itu datang tepat waktu, tapi ada rasa takut mengingat kalau persembunyiannya sudah diketahui. Dia takut kalau Julian akan mengambil baby Elvano darinya.


Julian mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Farell. Dengan tatapan yang menyala-nyala penuh amarah, pria itu mencengkram kuat kerah kemeja Farell dan menarik pria itu untuk berdiri.


"Beraninya kamu menipuku dan bahkan menyebarkan fitnah!" nada suara Julian tidak terdengar tinggi,tapi tatapannya sanggup membuat nyali lawanmya ciut.


Bugh


tanpa bisa dicegah, tinju Julian kini sudah mendarat di pipi Farell, membuat pria itu meringis kesakitan dan mamanya berteriak histeris.


"Hei, beraninya kamu di kampung ini! siapa kamu!" bentak Pak RT, memberanikan diri untuk mendekati Julian.


"Diam! asal kamu tahu, wanita yang ingin kalian nikahkan paksa ini adalah istriku!" tegas Julian membuat Ayara yang mendengar ucapan itu, langsung terhenyak kaget.


"Sejak kapan aku jadi istrinya?" batin Ayara dengan alis bertaut.


"Kamu suaminya? bukannya dia itu sudah janda?" tanya ketua RT itu dengan kening berkerut.

__ADS_1


" Tidak ada yang menjadi janda!" tegas Julian. " Dan kalian semua yang ada di sini, coba saja memaksa Ayara menikahi pria brengsek ini. Tapi aku akan pastikan kalau kalian Semua akan aku laporkan ke polisi, karena kalian Semua sudah mengintimidasi seorang wanita dengan memaksanya untuk menikahi pria yang tidak dia cintai"


tbc


__ADS_2