
"Kamu tidak apa-apa?" Ayara tanpa sadar menghambur ke arah Julian , ketika Farell dan mamanya keluar dari dalam rumah yang sebelumnya didahului oleh papanya Farell.
"Apa kamu mengkhawatirkanku?" bukannya menjawab, Julian justru balik bertanya dengan nada meledek. Ia terlihat bersikap biasa saja, padahal sejujurnya, sekarang dia sedang berusaha mati-matian untuk tidak memeluk wanita yang sangat dirindukannya itu.
Wajah Ayara sontak memerah, mendengar pertanyaan Julian. "Haish, kenapa aku harus bertanya seperti itu sih? terkesan aku sangat mengkhawatirkan dia. Benar-benar memalukan," bisik Ayara pada dirinya sendiri.
"Kenapa kamu diam? apa kamu mengkhawatirkanku?" ulang Julian, masih dengan senyum meledek.
"Emm, tentu saja. Bagaimanapun kamu di dalam sana tadi sedang memberikan Dokter Farell pelajaran, karena menyelamatkanku." tutur Ayara yang akhirnya berhasil menemukan alasan yang tepat.
"Oh, hanya karena alasan itu saja?" Julian mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyum yang langsung menyurut dari bibirnya.
"Aduh, Tuan Julian, terima kasih banyak ya sudah datang tepat waktu!" celetuk seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Sopiah. Wanita paruh baya itu datang sembari membawa baby Elvano di gendongannya.
Julian tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru menatap ke arah putranya dengan mata yang sudah berkilat-kilat karena sudah dipenuhi oleh cairan bening yang siap untuk ditumpahkan.
Pria itu mengayunkan kakinya melangkah perlahan menghampiri putranya. Tanpa meminta izin pada Sopiah, Julian langsung meraih tubuh putra kecilnya itu ke dalam gendongannya.
Baby Elvano sama sekali tidak menangis. Ia justru tertawa-tawa kecil menggemaskan saat berada di gendongannya terlebih Julian yang berkali-kali menciumi pipinya dengan air mata yang sudah berhasil keluar dari matanya. Walaupun sudah lebih 4 bulan terpisah, tapi sepertinya baby Vano belum melupakan pria yang merupakan papanya itu.
"Anak Papa ternyata sudah besar. Vano merindukan papa nggak?" tanya Julian yang tentu saja dijawab dengan tawa dan ocehan kecil dari mulut sang putra.
"Pa-pa, Pa-pa!" oceh baby Elvano mengeluarkan panggilan pertamanya pada pria itu.
"Iya, Nak, ini papa kamu!" air mata Julian semakin merembes mendengar panggilan putranya itu. Memang ini bukan yang pertama kali putranya itu bisa menyebut kata Papa, karena dulu semasa Elvano masih ada bersamanya, putranya itu sudah mulai mengoceh kata 'Papa". Namun entah kenapa kali ini rasanya sangat berbeda dari yang dulu. Mungkin karena sudah empat bulan lebih dia tidak mendengar panggilan itu, dan juga mungkin karena dia t sudah tahu kalau ternyata anak yang ada di gendongannya itu adalah darah dagingnya.
Sementara Julian fokus memeluk dan mencium putranya, Ayara justru sekarang dalam perasaan gundah, takut bercampur menjadi satu.
Dia takut kalau dia akan dimasukkan ke penjara dan kali ini bukan takut karena kejadian dulu, tapi takut dilaporkan karena membawa kabur baby Elvano. Walaupun terpampang jelas Julian menyelamatkan dia tadi dari pernikahan terpaksa dengan Dokter Farell, tapi entah kenapa Ayara masih merasa kalau Julian pasti marah padanya karena membawa pergi baby Elvano diam-diam. Selain itu, Ayara juga takut baby Elvano akan dipisahkan darinya.
__ADS_1
"Tu-tuan, Julian, kamu tidak akan memisahkanku dengan anakku kan? kamu juga tidak akan melaporkanku pada polisi kan?" Ayara memberanikan diri untuk bertanya.
Julian sontak berhenti menciumi putranya dan menatap ke arah Ayara.
Kemudian dia menghampiri Ayara dan tanpa bisa menahan diri lagi, pria itu langsung meraih tubuh Ayara ke dalam pelukannya, menggunakan satu tangan. Hal itu tentu saja membuat mata Ayara membesar dengan sempurna, kaget dengan apa yang tiba-tiba dilakukan oleh Julian.
"Bagaimana bisa kamu punya pikiran naif seperti itu? buat apa aku memenjarakan kamu, yang susah payah aku cari selama ini? aku juga tidak pernah berpikir untuk memisahkanmu dari baby Elvano,"
"Jadi, apa itu berarti aku akan kembali ke rumah Tuan dan jadi pengasuh baby Elvano lagi? kalau seperti itu, aku tidak masalah sama sekali, Tuan. Yang penting aku bisa melihat tumbuh kembangnya sampai dia mandiri nanti. Aku juga berjanji tidak akan memanggil diriku mama lagi pada baby Vano!" Ayara berceloteh panjang lebar dan dengan cepat, saking bahagianya.
"Tapi, apa ibu Sarah masih mau menerimaku di rumah itu? dan bagaimana dengan Tessa? dan kenapa kamu tiba-tiba baik? apa ini hanya jebakan kamu saja?" tanya Ayara lagi dengan beruntun, sembari melepaskan diri dari pelukan Julian.
Julian mengembuskan napasnya dengan cukup keras lalu menoleh ke arah Reynaldi. "Apa kamu belum menjelaskan semua padanya?" tanyanya dan Reynaldi menggelengkan kepalanya.
"Aku merasa kalau kamu yang berhak menjelaskan padanya. Aku tidak ingin mendahuluimu," sahut Reynaldi, lugas dan tegas.
Julian kembali mengembuskan napas, lalu mengalihkan tatapannya lagi pada Ayara.
"Maksudnya?" Ayara mengrenyitkan keningnya.
"Baiklah, aku akan jelaskan padamu. Tapi lebih dulu aku ingin meminta maaf atas ucapanku yang memang sangat menyakitkan kamu saat itu. Aku menuduh kamu yang tidak-tidak dan bahkan mengatakan kalau kamu murahan. Apa kamu mau memaafkanku?" suara Julian terdengar sangat lembut.
Bayangan kejadian di hari dia memutuskan untuk pergi dari rumah itu, kembali berkelebat dan lagi-lagi menimbulkan sakit di hatinya. Namun begitu melihat raut wajah Julian yang terlihat ikhlas minta maaf, membuat Ayara menerbitkan senyuman dan mengangukkan kepalanya, mengiyakan.
"Aku memaafkanmu, karena kamu juga tidak sepenuhnya salah. Kamu saat itu ada dibawah provokasi Tessa," Senyum Julian kembali merekah mendengar ucapan Ayara. "Terima kasih, Ayara!" ucap Julian.
Kemudian, dia menghampiri Sopiah dan meminta tolong agar wanita itu mau menggendong Elvano. Setelah itu, ia meraih tangan Ayara dan mengajak wanita itu untuk duduk.
"Ayara, aku sudah tahu kalau Elvano adalah darah dagingku dan dia ada di rahimmu karena perbuatanku, tiga tahun lalu," Julian mulai menjelaskan membuat wajah Ayara seketika berubah pucat.
__ADS_1
"Ka-kamu sudah tahu? da-dari mana?" suara Ayara terdengar bergetar. Rasa takut kembali melingkupinya.
"Kamu kenapa setakut itu? kamu tidak perlu takut. Inilah maksud dari yang aku katakan tadi ... kalau yang membuat semuanya jadi sulit adalah ketakutan yang kamu buat sendiri. Bagaimana bisa kamu berpikir kalau aku mencarimu karena ingin memenjarakanmu? Kamu takut aku tuduh yang sudah menjebakku. Kamu tahu? aku mencarimu justru karena rasa bersalah yang besar dan ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan padamu. Sekarang aku justru semakin merasa bersalah setelah aku tahu kalau ternyata dari kejadian itu, kamu hamil anakku dan kamu malah mempertahankannya. Kenapa kamu bisa sampai berpikir sejauh itu Ayara? kenapa?" Ayara sama sekali tidak menjawab. Ia justru tercenung, diam seribu bahasa dan dengan air matanya kini sudah menetes.
"Kamu mau tahu dari mana aku bisa tahu? Rey tolong kamu jelaskan semuanya!"titah Julian.
Reynaldi menganggukkan kepalanya dan mulai menceritakan semuanya secara detail, tidak dikurangi maupun ditambahi.Mulai dari Tessa yang memintanya, untuk menjebak Julian, dia yang dipenjara sampai akhirnya dia dibebaskan oleh Gilang, lalu bersama-sama mencari tahu semua tentang wanita itu. Reynaldi juga tidak lupa menceritakan mengenai Shasa yang juga membenarkan kalau Ayara adalah wanita yang dicari Julian selama ini.
"Ja-jadi Tessa adalah dalang yang menjebakmu?" ulang Ayara memastikan dan Julian menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Dia sangat licik, dan sekarang dia sudah mendekam dalam penjara. Selama ini kami semua mencarimu, Ayara dan aku ingin menebus semua kesalahanku, dengan menikahimu. Kamu mau kan?" tanya Julian dengan penuh harap.
"Ayaraa!" belum sempat Ayara menjawab, tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita yang tidak lain adalah Aura.
"Kamu tidak jadi menikah kan? kamu baik-baik saja kan? di mana dokter brengsek itu?" cecar Aura secara beruntun dengan raut wajah panik dan tidak menyapa Julian sama sekali.
Ayara mengerjab-erjabkan matanya, bingung mau menjawab yang mana lebih dulu. Sementara Julian mengrenyitkan keningnya, menatap wanita ajaib yang baru saja muncul.
"Aura, kamu tenang dulu! aku baik-baik saja. Aku tidak jadi menikah kok, karena Julian datang tepat waktu."
Aura sontak menghela napas lega. Betapa paniknya dia tadi ketika dia membuka mata, dia melihat cuaca sudah cerah. Dia takut kalau Reynaldi dan Julian juga ketiduran seperti dirinya.
"Hei, Aura, kamu baru berantem dengan siapa, sampai rambut kamu acak-acakkan seperti itu?" celetuk Reynaldi sembari menahan tawanya.
Mata Aura sontak membesar dan mulut terbuka, begitu menyadari penampilannya yang berantakan. Bahkan saat ini dia hanya memakai baju kaos longgar yang lusuh, dan celana pendek sedikit di atas lutut. Bagaimana tidak, begitu tadi dia mambuka mata, ia langsung melompat dari tempat tidur dan berlari keluar. Ia benar-benar tidak memperdulikan penampilannya lagi. Yang ada di pikirannya saat itu hanya nasib Ayara.
"Aaaaa, benar-benar memalukan!" pekik wanita itu membuat tawa yang ada di tempat itu pecah.
Di saat bersamaan, tiba-tiba ada sebuah taksi yang datang. Tampak Shasa dan Gilang keluar dari dalam taksi. Shasa langsung berlari masuk, sedangkan Gilang terpaku menatap ke arah rumah itu.
__ADS_1
tbc
Maaf, tadi malam tidak up karena kedua anakku demam tinggi. 🙏🏻