
Aura duduk di trotoar di samping motornya yang mogok.
"Aduh, dia lama lagi gak datangnya?" batin Aura sembari melihat ke samping kanan dan kiri.
Dari arah jauh dia melihat cahaya lampu sebuah motor yang menyorot padanya. Jantung Aura sontak berdetak dengan cepat karena rasa takut yang amant sangat langsung menyelimutinya.
"Ya Tuhan, siapa itu? itu bukan begal kan? Kalaupun iya, aku pasrah," Aura menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Tiba-tiba motor itu berhenti tidak jauh darinya dan hal itu membuat Aura semakin ketakutan. Apalagi terdengar langkah pengemudi itu ke arahnya.
"Apa ini akhir hidupku? Ya Tuhan, aku bahkan belum menikah," seru Aura dengan suara bergetar saking takutnya.
"Nona Aura?" terdengar suara seorang pria yang memanggil namanya dengan nada tanya dan lembut.
Aura sontak mendongkak dan terpaku melihat seorang pria berwajah tampan yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
"Hei, Nona ... apa kamu baik-baik saja?" pria itu mengibaskan-ngibaskan tangannya di depan wajah Aura.
"Eh, i-iya, Tuan," sahut Aura dengan dengan suara gagap.
"Apa kamu Aura?" ulang pria itu memastikan.
"Iya, itu aku. Ka-kamu siapa?"
"Aku Reynaldi!" pria yang ternyata Reynaldi itu mengulurkan tangannya ke arah Aura.
Dengan tangan yang gemetar, Aura menyambut tangan Reynaldi lalu menyebutkan namanya sekali lagi.
Tadi sewaktu berbicara dengan pria itu di telepone, Aura sudah bisa menebak kalau pria yang sedang berbicara dengannya pasti tampan, tapi dia tidak menyangka kalau pria itu lebih tampan dari yang dia pikir.
Sementara itu Reynaldi memindai tubuh Aura dari atas sampai ke bawah. Dia melihat rambut wanita itu yang berantakan, wajah yang kusut dan bahkan masih memakai seragam guru.
Ya, wanita itu memang tidak menyempatkan diri pulang ke rumahnya, untuk mengganti pakaiannya, tapi dia langsung main pergi saja ke kota.
"Kamu kenapa, pucat? apa kamu kira aku penjahat?" tebak Reynaldi, berusaha menahan tawanya.
"I-iya, Tuan. Aku kira anda begal Dan aku tadi sudah pasrah,"
"Sampai kamu mengeluh pada Tuhan, kalau kamu belum menikah?" Reynaldi masih berusaha menahan tawanya.
Mata Aura membesar dan wajahnya sontak memerah, malu.
__ADS_1
"Anda mendengarnya?" tanyanya dengan suara pelan.
"Tidak sama sekali. Hanya saja tadi angin menyampaikannya padaku. Lagian kenapa kamu bisa sampai setakut itu? bukannya tadi kamu cukup berani sampai nekad ke sini sendiri? Bahkan kamu sampai lupa untuk mengganti seragammu. Kenapa sekarang kamu jadi ketakutan? apa keberanianmu itu pergi begitu saja tanpa pamit? cecar Reynaldi, sedikit meledek, membuat Aura semakin malu.
"Sekarang kamu ikut aku!" imbuh Reynaldi lagi sembari melangkah ke arah motor yang dia gunakan tadi. Yaitu motor security hotel yang terpaksa dia pinjam.
Aura sama sekali tidak beranjak dari tempat dia berdiri karena, karena dia masih bingung.
"Ikut ke mana? apa dia memintaku ikut naik ke motornya? apa dia tidak membawakan bensin untukku?" bisik Aura dengan alis bertaut.
Sementara itu, Reynaldi memutar tubuhnya kembali menoleh karena merasa gadis bernama Aura itu tidak mengikutinya.
"Kamu kenapa masih diam di sana? apa kamu masih mau di sini?" Reynaldi memicingkan matanya.
"Aku ikut anda ke mana, Tuan? apa anda tidak membawa bensin untukku?"
Reynaldi mengrenyitkan keningnya, bingung. "Bensin? kenapa aku harus bawa bensin untukmu?"
"Benar-benar pertanyaan aneh! bukannya tadi aku mengatakan kalau bensinku habis, Tuan? bagaimana aku bisa mengikuti Tuan? berarti aku masih harus mendorong motor dong?" protes Aura dengan bibir mengerucut.
"Aku tidak sempat membawakan bensin padamu. Kamu lebih baik naik saja ke motor ini dan motormu tinggalkan saja!" titah Reynaldi.
"Kamu tenang saja, kalau motor kamu hilang, aku akan menggantinya dengan motor baru, bahkan keluaran terbaru. Jangankan motor, mobil pun mungkin akan Julian kasih ke kamu, sebagai apresiasi atas keberanianmu,"
"Mobil? kamu serius?" sorak Aura yang nada bicaranya tiba-tiba berubah tidak formal.
"Iya, ayo naik sekarang! kita harus kembali ke hotel dulu!" Aura sontak berlari ke arah Reynaldi, tapi terlebih dulu mencium motornya.
"Tuan, kita ke hotel ngapain? kamu tidak akan macam-macam kan?" sebelum naik ke atas motor Aura masih sempat meningkatkan kewaspadaannya.
"Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh! kamu ikut dulu! nanti jam 5 subuh kita berangkat ke kampungmu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aura kini sudah berada di dalam kamar Reynaldi, karena ketika hendak buka kamar satu lagi untuk gadis itu, ternyata tidak ada lagi kamar kosong.
"Kamu tidurlah dulu! kamu tenang saja aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku nanti akan tidur di sofa!" ucap Reynaldi sembari melangkah menunju sofa.
Entah kenapa Aura merasa tidak takut sama sekali. Wanita itu kini sudah merangkak ke atas ranjang yang lembutnya jauh jika dibanding-bandingkan dengan ranjangnya.
Aura merasa kalau dia akan langsung tertidur karena nyamannya ranjang itu, tapi ternyata rasa kantuknya tidak sinkron dengan rasa takut yang tiba-tiba kembali menghantuinya.
__ADS_1
"Kamu kenapa belum tidur? apa kamu tidak percaya aku?" celetuk Reynaldy sembari menyipitkan matanya.
Aura langsung duduk dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak takut kalau kamu akan berbuat macam-macam. Yang aku takutkan saking nyamannya aku tidur, aku tidak bisa bangun subuh nanti. Aku juga takut nanti kamu akan ketiduran. Kita bisa telat, Tuan, apalagi ini sudah menunjukkan hampir pukul satu. Apa tidak lebih baik kita sekarang saja berangkat ke kampungku?"
Reynaldi terdiam, berpikir kalau yang dikatakan oleh wanita itu adalah benar.
"Tapi Julian masih tidur. Dia sulit dibangunkan karena mengkonsumsi obat tidur," ucap Reynaldi yang juga duduk kembali.
"Kenapa dia mengkonsumsi obat tidur?" Aura mengrenyitkan keningnya.
"Itu sudah dia lakukan semenjak Ayara pergi, dan membawa baby Elvano serta. Dia begitu frustasi mencari mereka berdua," jelas Reynaldi membuat Aura jadi bingung .
"Kenapa dia frustasi? bukannya karena dia selingkuh makanya Ayara pergi? dia menyesal ya karena sudah selingkuh?"
Kedua alis Reynaldi saling bertaut, mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Aura.
"Siapa yang selingkuh! Julian sama sekali tidak pernah selingkuh. Apa Ayara tidak menceritakan sama sekali apa yang sebenarnya terjadi?"
Aura menggeleng-gelengkan kepalanya. " Emangnya apa yang terjadi?" Aura memasang wajah penasaran.
"Emm, aku tidak bisa menjelaskan padamu. Kamu lebih baik bertanya sendiri pada Ayara karena dia yang lebih berhak memberitahukanmu. Sekarang, sebaiknya kita memikirkan bagaimana caranya kita berangkat ke kampungmu, saat ini juga. Karena aku juga yakin, kalau jam 5 subuh nanti pun, Julian pasti juga tidak akan bisa bangun,". Reynaldi terlihat mulai berpikir keras.
"Oke, kalau kamu tidak mau tidur lagi, kita sebaiknya berangkat sekarang. Kamu bisa tidur di mobil nanti. Aku akan hubungi supir kami dulu!" Reynaldi akhirnya mencoba menghubungi nomor supir kantor yang memang selalu mereka bawa kalau keluar kota yang masih berada di pulau jawa.
"Ya, Tuan!" terdengar suara malas dari ujung sana.
"Pak, maaf mengganggu istirahatmu. Tapi ini benar-benar sangat penting. Kamu ingatkan tadi siang kita yang mencari wanita bernama Ayara?" Reynaldi langsung ke pokok permasalahan.
" Iya, aku ingat, Tuan!
Setelah mendengar jawaban dari sang supir, Reynaldi akhirnya menceritakan kalau tadi memang benar ada Ayara di sana.
"Sekarang, tolong bapak keluarkan motor dari parkiran sampai ke depan pintu hotel. Setelah itu, kamu naik lagi ke atas dan bantu aku membopong Julian ke mobil. Nanti di tengah jalan kita akan beli kopi, agar kita tidak mengantuk,"
"Baik, Tuan!"
tbc
Maaf ya, karena bisanya satu-satu bab saja. Maklum mak-mak yang punya anak kecil super duper aktif dan belakangan ini juga, ngurusin abangnya yang ujian mid semester.🙏🏻😭
__ADS_1