
Shasa dan Gilang baru saja tiba di kantor. Gilang mengurungkan niatnya untuk menghubungi Julian karena permintaan Shasa yang memohon agar jangan dulu memberitahukan pada Julian.
Gilang memenuhi permintaan Shasa karena wanita itu menjelaskan alasannya, yang hanya memberikan pelajaran pada Julian dan Sarah mamanya dan juga karena Shasa berjanji akan memberitahukan sendiri setelah Julian kembali dari Bandung.
Keheningan tercipta di antara Gilang dan Shasa, sewaktu mereka berdua berada di dalam lift untuk menuju ruangan Gilang.
keheningan itu, terpecah karena tiba-tiba ponsel Shasa berbunyi. Shasa langsung merogoh sakunya, dan melihat kalau yang sedang menghubunginya adalah Sumi mamanya.
"Halo, Ma!" sapa Shasa dengan sopan.
"...."
Mata Shasa sontak membesar dan wajahnya berubah pucat mendengar kabar yang baru saja disampaikan oleh mamanya itu.
"Mama jangan bercanda! Ayara belum memberitahukan apapun padaku!" pekik Shasa yang membuat perhatian Gilang tertuju padanya. Pria itu benar-benar penasaran apa yang sedang dibicarakan oleh Shasa dan mamanya.
"Ada apa? kenapa wajahmu pucat?" Baru saja Shasa menyelesaikan panggilannya, Gilang langsung mencecar Shasa dengan pertanyaan. Di saat yang bersamaan juga pintu lift terbuka dan mereka berdua keluar dari dalam lift.
"Ayara dalam bahaya. Dia dipaksa menikah oleh seorang dokter bernama Farell. Dia menggunakan popularitasnya di kampung sebagai satu-satunya dokter untuk mempengaruhi para warga kampung agar meminta Ayara mau menikah dengan pria itu," terang Shasa dengan wajah panik.
"Apa? Mbok Sumi tahu dari mana?"
"Dari Bude, Sopiah kakaknya mama. Sekarang di rumah mama yang ditempati Ayara sudah penuh dengan warga kampung. Mereka menuntut Ayara, untuk menerima menikah dengan Farell, kalau tidak mereka mengancam akan mengusir Ayara dari kampung itu," jelas Shasa lagi dengan wajah yang hampir menangis.
"Brengsek! lagian biar saja, Ayara pergi dari kampung itu, daripada dia harus menikah dengan pria licik itu!"
"Tidak semudah yang Tuan pikirkan. Dokter itu mengancam akan menaikkan biaya pengobataan tiga kali lipat kalau Ayara tidak mau menerima permintaannya. Aku sudah lama mengenal Ayara dan aku tahu sifat dia yang selalu rela berkorban demi orang lain. Aku yakin kalau dalam hal ini, dia juga akan rela berkorban,"
"Arghh, sialan! jadi tunggu apalagi? kamu hubungi Ayara sekarang Dan aku akan hubungi Julian, mumpung dia masih di sana!" titah Gilang sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya.
__ADS_1
Dua insan itu, kini sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Aduhh, angkat Ayara, Angkat!" raut wajah Shasa terlihat semakin panik bercampur frustasi karena sahabat yang dia hubungi itu tidak menjawab panggilannya.
Sementara itu, beda lagi dengan Gilang, panggilan pria itu sama sekali tidak terhubung.
"Sialan, kenapa nomor Julian tidak aktif?!"
"Panggilanku terhubung tapi, Ayara tidak menjawab sama sekali!" sambung Shasa.
"Aku akan coba menghubungi Reynaldi!" Gilang mengalihkan panggilannya ke nomor Reynaldi, namun hasilnya tetap sama. Entah apa yang sedang dilakukan keduanya makanya ponsel keduanya sama-sama tidak bisa dihubungi.
"Sekarang kita ke sana sekarang juga! Ayo!" Gilang menekan tombol lift. Beruntungnya langsung terbuka dan Gilang tanpa sadar meraih tangan Shasa, mengajak wanita itu untuk kembali masuk ke dalam lift.
"Kita ke sana naik apa, Tuan? ini sudah sore! ke kota Bandungnya kita butuh waktu, 2,5 jam sampai 3 jam. Dari kota bandung kita butuh waktu kira-kira satu jam an lagi untuk sampai ke kampung halamanku. Itu berarti kalau kita naik mobil kita akan tiba di sana malam hari."
"Masih keburu kok. Bukannya katanya pernikahannya besok pagi? jadi Kita naik mobil saja, biar lebih gampang. Nanti di perjalanan kita akan coba menghubungi Julian dan Reynaldi. Mudah-mudahan mereka tidak berubah pikiran dan kembali ke Jakarta," Shasa menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi, Mbok dan Shasa selama ini menyembunyikan Ayara?" bentak Sarah dengan raut wajah memerah penuh amarah. Ya, wanita paruh baya itu tadi tanpa sengaja mendengar pembicaraan Sumi yang sedang menghubungi Shasa.
"Maaf, Bu! aku benar-benar minta maaf! saat itu, aku merasa sikap ibu dan Tuan Julian keterlaluan, makannya aku memutuskan untuk memberikan sedikit pelajaran. Dan aku juga berpikir kalau Ibu dan Tuan Julian hanya membutuhkan baby Vano saja. Aku merasa tidak tega kalau ibu dan Tuan Julian mengambil paksa baby Vano lagi, dan memisahkan ibu dan anak itu," jelas Sumi sembari menundukkan kepalanya.
"Bagaimana bisa, Mbok Sumi berpikir sampai sejauh itu? bagaimana bisa juga Mbok, menyembunyikan mereka selama 4 bulan ini? padahal Mbok lihat jelas bagaimana susah payahnya Julian mencari Ayara dan putranya. Jadi kalau sudah begini jadinya bagaimana? kalau Ayara benar-benar menikah dengan pria itu bagaimana, Mbok? dan kenapa kamu tidak memberitahukan pada Julian kemarin ketika dia akan berangkat ke Bandung?" Sarah kini sudah terlihat frustasi ditambah dengan nomor ponsel putranya yang sama sekali tidak bisa dihubungi.
"Apa?" Tuan Julian ada di Bandung? sumpah, Bu, aku tidak tahu. Akh hanya tahu, Tuan Julian akan keluar kota saja, tapi aku tidak tahu, luar kotanya di mana. Kemarin aku ingin memberitahukan pada Tuan Julian, tentang keberadaan Ayara dan baby Vano, tapi aku mengurungkannya karena aku lihat Tuan Julian sangat sibuk dan aku memutuskan untuk memberitahukannya saat Tuan Julian kembali, karena aku tidak ingin pekerjaan Tuan Julian terganggu, Bu! " tutur Mbok Sumi lagi, dengan penuh rasa bersalah.
"Astaga, Mbok! apa Mbok tidak bisa mengerti kalau menemukan Ayara dan baby Vano lebih penting dari pekerjaan? mereka berdua itu lebih berharga, Mbok! Sekarang tolong hubungi Ayara dan minta dia untuk tidak menikah dengan pria licik itu!"
__ADS_1
"Aku rasa Shasa sudah menghubunginya, Bu!"
"Ya udah, kalau begitu kita dengar kabar selanjutnya saja!" pungkas Sarah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di kampung halaman Mbok Sumi, tepatnya di depan rumah yang ditinggali oleh Ayara, terlihat warga kampung berdiri seakan seperti sedang demo.
Baru saja Ayara turun dari motor Aura, wanita itu sudah diserbu oleh para warga.
"Ayara, kami minta kamu bersedia menikah dengan dokter Farell, Nak. tolong kasihani kami! kamu tahu sendiri kalau di kampung ini, hanya ada dokter Farell yang bisa menangani kalau warga di sini sakit. Jarang dokter yang mau, datang ke desa kita ini, Nak! jadi, tolong kamu bersedia ya!" salah satu warga yang merupakan ketua RT, buka suara mewakili warga-warga lainnyam
"Benar itu, Nak Ayara! lagian harusnya kamu bersyukur. Banyak gadis-gadis di sini yang menginginkan bisa menikah dengan dokter Farell tapi dia memilihmu yang sudah jadi janda. Jadi, jangan sok menolak dan jangan munafik, seakan kamu janda terhormat. Udah syukur dokter itu mau ke kamu!" celetuk seorang wanita paruh baya yang langsung mendapat sorak dukungan dari warga-warga lainnya.
"Kamu itu hanya pendatang, jadi kamu harus bisa menempatkan dirimu sebagai pendatang. Kalau kamu tidak bersedia, kamu lebih baik pergi dari kampung ini!" teriak yang lainnya, membuat Ayara sama sekali tidak berkutik.
"Hei, ibu-ibu, Bapak-bapak! apa hak kalian memaksa Ayara, hah? kalian sama sekali tidak punya hak, karena buka kalian yang memberikan dia makan? kalian itu semua egois yang hanya memikirkan kepentingan kalian semua, sampai tega mengorbankan kebahagian Ayara. Apa kalian semua tidak bisa melihat dan menyimpulkan, kalau dokter yang kalian sanjung dan bela itu, adalah orang yang licik yang bisa berbuat licik seperti ini, hanya untuk bisa menikahi Ayara. Buka mata kalian semua!" Aura yang sudah sangat kesal memberanikan diri maju ke depan dan buka suara.
"Hei, ini bukan urusanmu! kami melakukan hal ini demi kepentingan warga. Jadi jangan banyak bicara!"
"Ibu-ibu, Bapak-bapak! kalau memang kalian memaksaku untuk tetap menikah dengan dokter Farell, baiklah! aku akan menikah dengannya, demi kalian semua!" pungkas Ayara akhirnya, memutuskan.
"Ayara!" Aura menatap Ayara dengan tatapan tidak suka.
"Sudahlah, Ra! kalau dengan aku menikah dengan Farell bisa meringankan beban orang-orang untuk mendapatkan pengobatan, aku mau berkorban untuk itu,"
"Terima kasih Nak Ayara!" ucap Pak RT.
"Arghhh, kamu benar-benar menyebalkan!" pungkas Aura sembari beranjak pergi.
__ADS_1
tbc