Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Mencari tahu


__ADS_3

"Sejahat itu keluargaku?" Cicitan lirih Aditya, tak juga mampu menghentikan aliran sungai air mata Maya, sepanjang cerita sebenarnya dari Maya.


Maya memejamkan mata, membiarkan air matanya terus berderai menganak sungai dari sela-sela sudut matanya. Aditya adalah sumber luka untuknya. Namun dihadapkan dengan cara Ditya yang berlutut, Maya seolah luluh.


"Bangunlah, Ditya. Ini adalah saat terakhir kau dan aku bertemu. Biarkan aku bebas setelah ini. Aku tak bisa diam saja selepas kau menyakiti, lantas mendapatkan aku dengan mudah. Tidak, aku tak bisa membiarkan itu terjadi. Aku sudah memenuhi keinginan mu untuk bicara empat mata, menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu yang tak kau ketahui. Jadi, penuhi keinginanku yang tak ingin bertemu denganmu lagi. Kita impas setelahnya, Aditya. Di masa depan, bertingkah lah seolah kau tak mengenalku, dimana pun kita ditakdirkan bertemu kembali oleh Tuhan," Maya membuang muka, tak ingin menatap Aditya barang sebentar saja.


Mayasari telah lelah, lelah akibat terlalu kuat melawan Ditya tadi. Sikapnya yang seolah melunak, jangan dikira Maya telah memaafkan Ditya sepenuhnya. Tidak, itu tak mungkin terjadi.


Sejujurnya, Ditya tak hanya diurus oleh Nevan tadi, melainkan Jovita sendiri yang bicara dengannya. Lelaki kaya seperti Ditya, tentunya bisa menyuap Jovita agar tutup mulut dan menggunakan banyak cara untuk mempertemukan Maya dengan dirinya.


"Aku tak bisa berjanji untuk itu, Maya. Diantara kita, tak akan pernah ada istilah kisah yang usai. Dimana, dimana anak kita?" tanya Ditya lirih. Netra basahnya masih menatap Maya dengan kilat sendu.


"Dia telah mati, Ditya. Aku telah membunuhnya," jawab Maya tenang. Akan Maya pastikan, Ditya tak akan mampu meski hanya sekedar untuk melihat, apalagi menyentuhnya.


"Kau ... kau membunuhnya?" tanya Aditya dengan syok. Lelaki itu bangkit, masih menggenggam tangan Maya dan duduk tepat disamping Maya.


"Tentu saja. Aku telah membunuhnya karena hidup pun, itu akan percuma. Lihat saja, dia terlahir tanpa ayah dan hanya akan menghabiskan waktunya, dipenuhi dengan ejekan teman sebayanya tersebab tak punya ayah. Bukankah itu alasanku yanh masuk akal?" Maya mengedarkan pandangan, meraih tasnya yang tergeletak di atas sofa.


"Aku akan pulang, Aditya. Aku sudah penuhi keinginanmu, jadi, hentikan dan jangan pernah mencariku lagi," ujar Maya dengan mengusap air matanya dengan tissue.


Sayang, cekalan tangan Aditya, berhasil menunda niat Maya untuk pergi.

__ADS_1


"Maya, jangan membohongi aku. Aku yakin kau tak mungkin setega itu menghabisi darah dagingmu sendiri. Aku mengenalmu. Kau memiliki hati yang lembut dan mustahil kau membunuh bayi tak berdosa," Aditya menatap nanar Maya, masih dengan mata sembabnya.


Baris demi baris luka di hati Maya, semakin bertambah. Wanita itu menatap Ditya, menepuk dadanya sendiri seraya berkata, "disini, kau sudah menorehkan banyak luka, Ditya. Tidakkah kau sadar, aku membencimu setengah mampus, dan memilih menghabisi putramu sebagai pelampiasan? Hatiku yang dulu lembut, telah mati, tergantikan dengan marah yang tak pernah musnah."


Ditya diam tak menyahut. Tatapan matanya beralih pada tangan kanan Maya yang menyingkap pelan rok hitamnya, "Luka ini, luka seperti ini kerap kali aku rasakan demi bisa bertahan hidup. Siapa yang akan meratukan wanita ****** seperti aku, Ditya? Sejak dulu, semua orang merendahkan aku, meremehkan dan memandangku sebelah mata. Tak akan ada yang bersedia mempekerjakan aku. Itulah sebabnya aku melacur, seperti yang ibumu katakan padaku saat itu. Sebutan yang ibumu sematkan untukku, nyatanya aku mampu mewujudkannya," Maya berkata, sambil tersenyum getir.


"Maya ...."


"Hentikan, Aditya. Jangan diteruskan. Aku tak bisa bila terus menerus kau rayu lagi. Cukup sampai disini. Antara kau dan aku, sudah usai. Jangan lagi mengungkit sesuatu yang telah berhenti dan selesai lama," sahut Maya, tak memberi kesempatan untuk Aditya bicara.


Ditya diam sejenak, sebelum kembali bersuara, "Jika demikian, lantas dimana jasad anak kita dikuburkan, Maya?" tanya Aditya, dengan suara pelan.


Aditya terpekur ditempatnya, membiarkan Maya pergi dan menatapnya nanar. Tak kalah akal, Aditya juga bangkit, mengekori Maya tanpa sepengetahuan Maya yang segera melangkah menuju bilik sederhananya, di belakang tempat hiburan malam ini.


Tak ingin menganggu Maya, Ditya lantas melangkah dan menemui Jovita, Mami para pelakon wanita penghibur dalam tempat ini.


"Bagaimana? Maya memberontak?" tanya Mami Jovita pada Ditya, saat Ditya sudah masuk ke dalam ruangannya.


"Ya, sesuai dengan tebakan anda, Nyonya. Tetapi ada satu hal yang ingin saya tahu fakta dari Mayasari," ucap Aditya tanpa basa-basi.


Meski bibir Maya mengucap bahwa tak ada anak diantara dirinya dan Maya, namun Ditya seperti tak yakin. Hati pria itu merasa tak percaya begitu saja. Dugaan kasar, Ditya menduga bahwa Maya sengaja menyembunyikan anak mereka, semata karena tak ingin Ditya melihat anaknya.

__ADS_1


"Segalanya berharga, tuanya Ditya. Segala yang menyangkut dengan hal penting dan sangat dibutuhkan, pasti ada harganya. Terlebih, informasi sangat penting dan berharga yang anda ingin dari saya," Jovita menjawab dan tersenyum penuh makna.


Jovita menghisap rokoknya, meniupkan asap samarnya hingga membentuk pola abstrak di udara, sebelum kemudian menghilang begitu saja.


Ditya tentu bukanlah lelaki polos yang tak tahu maksud Jovita. Wanita seperti Jovita, tentu saja tak akan melewatkan kesempatan untuk meraup keuntungan.


"Berapa nominal yang anda minta? Sebutkan saja," jawab Ditya tak tanggung-tanggung. Aditya bahkan siap merogoh saldo tabungan di rekeningnya, demi Maya dan anaknya. Aditya hanya sekedar ingin tahu, dimana putra yang selama ini Maya sembunyikan.


"Beri aku seratus juta untuk menebus info akurat ini, tuan Ditya. Aku tak hanya sekedar akan memberi tahukan putramu hidup atau mati, melainkan juga akan menunjukkan dimana putra Maya dan ibu Maya tinggal saat ini," tambah Jovita lagi.


Wanita itu demikian bergaya santai, meraih dan memainkan gelasnya yang bersih red wine. Ada sensasi menggila yang Jovita suka, saat meneguk anggun minuman berwarna merah itu.


"Tak masalah. Aku akan membawakannya cash untukmu sesegera mungkin," jawab Ditya, "dan aku, aku ingin besok pagi anda mengantar saya untuk bertemu dengan putraku dengan Maya."


Aditya tak masalah bila ia harus kehilangan uang dengan jumlah besar. Yang terpenting, ia segera tahu, dimana putranya tinggal selama ini.


"Senang bekerja sama dengan anda, tuan Aditya yang tampan dan kaya. Besok, Nevan akan menghubungi anda dan kita bertemu di tempat yang aku tentukan. Sekarang pulanglah, istrimu pasti menunggumu di rumah," ujar Jovita kemudian.


Aditya mengangguk samar, bangkit dan berlalu tanpa kata dari sana. Meski tatapan matanya tampak datar, namun Jovita tahu, Ditya sungguh menyesali semuanya. Tak mungkin Aditya tak menyesal, jika keberadaan putranya, Ditya memaksa mencarinya meski harus menukarkan banyak uang sebagai barternya.


**

__ADS_1


__ADS_2