Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Lelaki itu?


__ADS_3

Sore menyapa bumi ibukota yang terasa tandus akibat panas terik matahari seharian. Sepanas hati Maya yang dilanda marah belakangan ini. Maya sadar, Tuhan tidak menyukai amarah pada manusia, namun Maya sudah terlanjur tersakiti dan murkanya tak sudah-sudah.


Entah berapa lama Maya duduk di bangku penumpang taksi yang dikendarainya, hingga petang tiba-tiba datang dan wanita itu baru menyadarinya. Tak terasa, air matanya menetes layaknya sungai.


Pengkhianatan demi pengkhianatan, kebohongan demi kebohongan, hinaan, cacian, hujatan yang keluarga Ditya lakukan, tak dapatlah ditukar dengan air mata sebagai barternya. Air mata saja tak cukup untuk mengoles luka agar sembuh. Hingga kini, sakit lagi perihnya terasa hingga ke sumsum tulang dan ubun-ubun kepala.


Nama Sari Donna benar-benar telah Maya tanggalkan demi sebuah kebaikan. Mulai hari ini, Maya benar-benar membuka lembaran baru, dan juga menghapus nama Sari Donna, menguburnya dalam-dalam hingga hanya menjadi sejarah kelam masa lalu.


Lembaran demi lembaran kosong di masa depan, akan Maya isi hanya dengan kebaikan sebisa mungkin. Menjadi seorang anak sekaligus ibu, itulah tujuan fokus Maya selepas ia keluar dari dunia kelam penuh kehinaan.


Setibanya di sebuah rumah bercat putih yang Maya beli seminggu lalu, Maya turun, dengan menurunkan tiga koper yang berisi barang pribadi wanita itu. Hingga Fatma datang, menyambut Maya dengan disertai senyum.


"Baru datang, kau pasti lelah. Biar ibu yang membawanya, masuklah. Ada teh hangat yang sengaja ibu buatkan untukmu," sapa Fatma pertama kali, saat menatap Maya.


Seorang sopir yang mengantar Maya, menurunkan koper-koper Maya, dan membantu Maya menyeretnya. Lelaki paruh baya yang baik, dan pengertian.


"Terima kasih, Bu. Ibu tahu jika Maya sangat lelah hari ini. Terima kasih sudah menyambut Maya," jawab Maya kemudian.


Setelah keduanya tiba di dalam, Maya menyapa putranya yang asik belajar di ruang tamu. Meski rumah yang Maya beli tak sebegitu besar, namun rumah ini dilengkapi dengan fasilitas yang cukup nyaman.


"Hai, jagoan Ibu. Apakah jagoan ibu ini sudah makan malam?" tanya Maya dengan melangkah mendekat ke arah Gavin.


Senyum cerah Gavin, dengan tahi lalat di bawah sudut kanan bibir yang begitu kentara, membuat Gavin semakin manis. Anak itu juga berkulit cerah, seperti Ditya.


Sial!


Bahkan disaat begini saja, bayangan Ditya terngiang-ngiang dalam kepala Maya. Ingin rasanya di hati Maya agar Tuhan memberikan anugerah Maya, untuk menghapus kenangan buruk dan nama Ditya dari dalam otaknya.

__ADS_1


"Belum, Bu. Gavin menunggu Ibu untuk makan malam bersama. Kita jaraaaaang sekali melakukannya, bukankah begitu, Bu?" tanya Gavin dengan semangat.


Bocah berusia delapan tahunan itu menutup bukunya, dengan senyum merekah pada bibirnya.


"Ya, kau benar. Maaf jika Ibu jarang memberikan waktu Ibu untuk putra Ibu ini. Ibu janji, setelah ini, waktu Ibu untuk putra ibu, akan selalu banyak," ujar Maya dengan tersenyum.


Hingga kemudian Maya melihat Fatma mendekat, seraya membawa segelas teh hangat. Maya tersenyum, sebelum beralih menatap putranya yang mengerutkan keningnya.


"Memangnya, ibu tidak bekerja?" tanya Gavin dengan polosnya. Bocah lelaki itu lantas mendapat hadiah pelukan dari Maya, dan usapan lembut pada punggungnya.


"Ibu memutuskan untuk berhenti bekerja, dan akan fokus mengurus Gavin di rumah. Saat sekolah, mungkin nanti Ibu akan membuka usaha kecil-kecilan untuk menopang hidup kita. Ibu janji, Gavin akan punya Ibu terbaik setelah ini," ujar Maya.


"Ya, meski aku tak memiliki Ayah," sahut Gavin lirih.


Mendengar kalimat putranya, sontak saja senyum Maya memudar. Mengapa harus seterluka ini? Sejak dulu, baru kali Gavin bicara tentang ayah. Anak seusianya, ditambah lagi Gavin adalah anak yang cerdas, pantas saja anak itu mengatakan sesuatu tentang Ayah.


Begitu juga dengan Fatma, yang tak kalah syok dari Maya.


"Gavin, mengapa Gavin tiba-tiba bicara tentang ayah?" tanya Maya biasa saja, berusaha tak terpengaruh meski hatinya hancur lebur tak terbentuk lagi.


Sebelum menjawab, Gavin menghirup udara dalam-dalam, "sejak kecil, semua teman-teman Gavin memiliki ayah, hanya Gavin yang tak memiliki ayah. Kemana ayah Gavin, Bu?" tanya Gavin dengan mengerjap pelan. Mata polosnya, sungguh Maya tak tega.


Kabut tipis tercipta pada mata Maya yang indah dan dalam, dengan sorot luka yang begitu jelas. Sebuah kehancuran yang sejak tadi Maya tahan, kini seolah nyaris meledak dan Maya ingin sekali menghentikan tangis. Maya hanya ingin, dirinya tak terlihat lemah lagi rapuh di depan putranya.


"Gavin tak usah bertanya-tanya tentang ayah. Suatu saat nanti, jika Gavin telah dewasa, Gavin pasti akan mengerti, dimana dan siapa Ayah Gavin. Setiap orang dewasa, selalu memiliki sebuah permasalahan yang tak boleh diketahui anak seusia Gavin. Sekarang, fokuslah belajar dan senangkan hati Ibu, agar Gavin bisa menjadi anak yang pandai dan kelak menjadi panutan," jawab Maya panjang lebar.


Dengan sabar, Maya menjelaskan, berharap Gavin mau mengerti dirinya.

__ADS_1


Fatma yang tak sanggup mendengarkan, kini berbalik dan menuju ke ruang belakang, masuk ke dalam dapur dan menangis sepuasnya disana. Biarlah, Maya adalah wanita kuat dan cerdas. Tak mungkin Maya tak bisa menjawab tanya putranya.


"Belakangan, Gavin sering bermimpi bertemu dengan seseorang, katanya dia ayah Gavin, dan kami saling dekat. Entahlah, Bu. Gavin tak ingin tanya tentang ayah, tetapi karena mimpi itu, membuat Gavin jadi penasaran," ungkap anak itu seraya menghembuskan napasnya pelan.


"Maaf jika pertanyaan Gavin telah membuat ibu sedih. Jika ibu menangis, menangislah, ibu jangan menahannya. Kata Nenek, menahan tangis hanya menyakiti diri sendiri," tambah Gavin dengan polosnya.


Ibu mana yang tak sedih?


Ibu mana yang tak tersanjung?


Ibu mana yang tak merana lagi derita saat mendengar kepedulian keluar dari mulut mungil seorang Gavin?


Sempurna. Sakitnya demikian sempurna dengan kehancuran yang hanya dirasakan oleh hati dan batin, bukan tubuh saja.


"Maafkan Ibu, Gavin. Ibu janji, ibu hanya akan fokus membahagiakan dirimu. Maaf jika Ibu belakangan selalu sibuk bekerja dan acap kali mengabaikan dirimu. Ibu salah, maafkan Ibu," ungkap Maya kemudian.


"Terima kasih banyak, Ibu," ungkap Gavin. Anak itu lantas berhambur ke dalam pelukan ibunya.


Lihat dan dengar ini, Aditya. Tidakkah kau memiliki hati secuil saja?


Batin Maya.


Hingga sebuah suara ketukan pintu, berahsio membuat Maya dan Gavin berhenti berpelukan. Ibu satu anak itu lantas bangkit, menuju ke arah pintu dan melihat siapa tamu yang datang.


"Hai, Maya. Jika kau pikir bisa lolos begitu saja dariku, dan pergi dengan mudah, maka kau salah. Lihat, aku telah menemukanmu," sebuah suara lelaki, membuat Maya membuka matanya lebar-lebar.


"Ka ... kau .... " tenggorokan Maya terasa tercekat, dengan ubun-ubun kepala yang terasa disiram oleh air panas.

__ADS_1


Lelaki itu ....


**


__ADS_2