
"Pulanglah, atau kau akan menerima murkaku atas jahanamnya suamimu di masa lalu, terhadapku!" Maya kembali murka.
Maya tegak berdiri, dengan wajah memerah dan juga raut penuh murka. Sebesar dunia, mungkin sakit yang Citra rasakan, sakit hati Citra tak akan mampu menandingi luka Maya selama ini. Lihat saja rahang Maya di depannya ini, demikian mengeras dan tak memiliki kelembutan sama sekali.
Citra kembali mengamati wajah ayu nan terawat layaknya pelacur kelas kakap, serta sepasang netra yang lembut menghanyutkan. Pantas saja selama ini suaminya tak pernah sanggup melupakan Maya. Wanita di hadapannya ini memiliki pesona bak Dewi dari langit, memiliki kelembutan dan keindahan yang menjadi misteri.
Bibir Maya yang tipis nan sensual, mustahil bagi lelaki yang pernah merasainya akan melupakan begitu saja. Rata-rata mereka semua yang pernah menjadi klien Maya, merasa candu. Dan pembawaan kalem namun menghanyutkan, Citra mengakui, ia tak mungkin sanggup menandingi Maya.
"Aku datang baik-baik untuk bicara, Maya. Sudah aku katakan, apapun yang pernah terjadi antara kau dengan suamiku, itu hanyalah sebatas masa lalu," Citra kembali berbicara dengan nada lembut, tak seperti Maya yang kini telah mengetatkan gerahamnya.
"Mari bicara tentang hal yang baik-baik, Nyonya Darmadji. Tetapi jika pembicaraan itu hanyalah sebatas Aditya, aku tak akan sudi," ujar Maya yang lantas ingin berlalu dari sana. Sayangnya, kalimat berikutnya dari Citra cukup membuatnya menghentikan langkah.
"Jangan pernah mencoba untuk menyangkalnya, Maya. Kau seolah-oleh tak mau membahas tentang suamiku, padahal semalam dia datang kemari, sebagai klienmu!" seru Citra yang sudah tak tahan menerima berbagai penolakan.
Bukankah kesabaran juga memiliki batas?
Hati Maya mencelos.
Hati Maya seolah dihujam oleh ribuan tombak runcing tak kasat mata. Sakit dan perihnya luar biasanya.
Seruan dari Citra baru saja, cukup membuat Maya merasa dirinya terlihat munafik. Bahkan wanita yang cantik jelita penuh pesona itu mematung di tempatnya, mengeluarkan reaksi bahwa seolah-olah dirinya adalah simpanan pria kaya yang dibuang begitu saja usai dipakai.
Dengan gerakan pelan, Maya membalikkan badan memandang Citra dengan sendunya kilatan Mata, seraya berkata, "ya, aku akui semalam Aditya kemari menyewaku. Tetapi kau juga perlu tau, aku tak melayaninya sama sekali. Jangankan melakukan kontak fisik, bahkan untuk menatapnya lagi saja, aku tak sudi. Tanyakan pada suamimu, apakah semalam aku menemaninya bernyanyi, atau bergulat diatas ranjang. Kau pikir disini hanya dirimu yang tersakiti? Aku bahkan seolah merasakan jiwa dan rasaku terhadap lelaki, telah mati. Ketahuilah nyonya Aditya Darmadji, aku membenci suamimu, hingga ke urat nadi, dari lubuk hati, dan mungkin akan berlangsung sampai aku mati!"
__ADS_1
Tak ada lagi tatapan sendu. Tak ada lagi suara lirih menggoda, karena mengingat nama Ditya, Maya kembali benci.
"Tolong, Maya. Aku hanya ingin berbincang denganmu. Jika kau membenci suamiku, aku mengerti dan akan hentikan ini. Tetapi kau perlu tahu, aku ingin bicara dari hati ke hati denganmu, sebagai teman mungkin," tawar Citra sekali lagi.
"Tidak. Jangan usik hidupku lagi. Biarkan aku bahagia dengan caraku. Lebih baik kau pulang, dan anggap pagi ini tak pernah ada untuk bisa kau ulas. Satu lagi, katakan pada suamimu, jangan pernah datang lagi untuk mengorek informasi mengenai hidupku, maupun masa laluku," tandas Maya yang lantas berlalu begitu saja, tanpa hirau akan panggilan Citra yang lantang.
Pagi ini, pagi yang kacau penuh tekanan untuk Maya. Wanita malang itu harus meratap dan menikmati sakit hati seorang diri.
**
Ratap penuh derita, seperti pagi ini di tempat lain yang dilalui seorang Dokter Aditya di akhir pekan.
Bila keluarga lain akan melampaui akhir pekan dengan bahagia dan menghabiskan hari dengan orang terkasih, tidak bagi sang Dokter Aditya yang sibuk kesana kemari mencari buah hati.
Cukup lama lelaki itu meratapi semua salahnya seorang diri di dalam kereta besi yang menjadi tunggangannya, hingga lantas Jovita dan seorang lelaki yang mengawalnya, datang.
"Mari, aku antar kau bertemu dengan seseorang yang menjadi kelemahan Maya," ajak Jovita, "pakai mobilmu saja agar tak ada yang curiga."
"Baiklah, mari masuk," ajak Aditya kemudian.
Sebuah alamat yang cukup jauh dari lokasi dimana Aditya sekarang. Sebuah pedesaan asri dengan jalan beraspal yang berkelok-kelok, disertai dengan areal persawahan di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan.
Tumbuhan hijau dengan banyak air yang menggenangi, membuat mata cukup segar, dan aditya rindu dengan perkampungan yang baru beberapa hari lalu Ditya kunjungi. Sepanjang jalan, Jovita memberitahu Ditya, tentang bagaimana Maya yang dulu hingga Maya yang sekarang.
__ADS_1
"Apakah Maya masih melayani tamu?" tanya Ditya tiba-tiba, dengan pandangan fokus ke jalanan sepi.
Sesekali, beberapa orang lelaki dan perorangan menggayuh sepeda dengan mengenakan topi kerucut khas petani, melewati jalanan dan minggir ketika mobil Aditya lewat.
"Kau mengapa bertanya begitu, pak Dokter? Bukankah semalam kau tahu sendiri dia sedang melayani tamu? Kau sendiri yang menjadi tamunya," kata Jovita sambil tertawa renyah.
"Maksudku, apakah dia melayani tamu diatas ranjang? Bukan hanya sekedar menemani tamu untuk minum dan bernyanyi," tanya Ditya datar.
Jovita diam seketika. "Terakhir kali ia menemani klien diatas ranjang, sebelum ia berkelahi dengan anak buahku yang lain. Ya, tepatnya satu malam sebelum ia masuk rumah sakit saat kau tangani," jawab Wanita itu.
"Dia, anakku, seperti apa dia sekarang?" tanya Ditya yang tiba-tiba menepikan mobilnya, ke sisi kiri jalan.
Tatapan matanya sendu seolah penuh luka, serta tubuhnya yang terasa tak siap bila harus bertemu dengan darah dagingnya. Rasanya, Aditya gemetar lebih dulu meskipun belum sempat melihat wajah anaknya. Perlahan, di dalam ruangan mobil ber-AC miliknya, Ditya mengeluarkan keringat dingin.
"Bila diperhatikan lebih detail, dia mirip denganmu, dengan rambut coklat seperti Maya, dan pembawaan anaknya yang tegas. Tak jauh sepertimu, dia pendiam dan pemalu. Saat aku ingat bagaimana kondisinya ketika sedang sakit kala itu, aku pikir anakmu akan meninggal karena penyakitnya. Beruntung Tuhan masih mengabulkan doa Maya untuk menyembuhkan sakitnya," jawab Jovita melirih.
Sebagai wanita malam yang kini menjadi bos besar, tetapi percayalah, Jovita masih memiliki sisi hati yang lembut layaknya naluri keibuan.
"Aku berdosa padanya. Aku tak sanggup bila bertemu dengannya. Apa yang akan aku katakan pada anakku nanti. Ya Tuhan, anakku," erang Ditya lirih.
"Dia buah hatimu, yang pernah terkapar akibat sakit typus parah hingga membuat Maya tak memiliki pilihan lain, selain menjual diri, menjadi seorang pelacur yang menjajakan diri demi rupiah," tambah Jovita kemudian, membuat Ditya kian merasakan berdosa berkali-kali lipat.
**
__ADS_1
Maaf baru update, insya Allah kalau nggak ada halangan, bakal up lagi.