
Suara musik yang begitu kencang memekakkan telinga, cukup membuat suasana hati seorang Maya kembali membaik. Malam ini dan untuk dua Minggu ke depan, Maya memutuskan tidak akan menerima tamu untuk melayani, melainkan hanya sekedar menyanyi dan menghibur para lelaki haus belaian.
Perban yang membalut paha Maya, tertutup oleh rok hitam yang Maya kenakan. Tank top brukat berwarna merah menyala, membungkus rapi tubuh atas Maya, dengan belahan dada rendah hingga belahan dada Maya, tampak menonjol sempurna.
Berhari-hari lalu, sejak Maya terakhir bertemu dengan Ditya di rumah sakit kala Jovita menjenguknya, Maya bisa bernapas lega. Lelaki itu nyatanya menurut dan tidak lagi menemui Maya lagi.
Sayangnya, selepas pertemuan mereka, ada sejumput rindu yang tumbuh dengan sangat mengerikan di hati Maya. Tak tahu sebesar apa, namun Maya tetap menepisnya dan lebih mengedepankan egonya itu. Tidak, Maya tak boleh merindukan seorang Aditya Darmadji.
Sejak luka sembilan tahun silam, Maya mengharamkan berbagai kenangan dari Aditya untuk dirinya. Maya tak boleh lengah. Maya juga tak boleh membiarkan cinta sembilan tahun silam, tumbuh dan muncul lagi dipermukaan.
Cukuplah Maya menangisi nasibnya yang menyedihkan. Andai ada pekerjaan lain selain menjadi wanita penghibur di sebuah night club', Maya tak akan sudi terjun di tempat terkutuk ini.
Jedak-jeduk musik yang cukup keras itu, Maya merindukannya. Aroma alkohol, aroma rokok dan juga aroma parfum bercampur keringat, membuat Maya mual. Tetapi apalah daya, ini adalah satu-satunya hal yang mampu mengalihkan keruwetan pikiran Maya tentang masa lalunya.
"Sari Donna, kau dipanggil mami di ruangannya. Ayo segera, kurasa ada tamu yang ingin ditemani dirimu bernyanyi," ujar salah satu teman Maya, Leny namanya.
"Baiklah. Aku akan segera kesana. Terima kasih, Len," jawab Maya tersenyum senang. Yah, inilah pelanggan pertama Maya selepas Maya libur selama beberapa hari.
"Ya, sama-sama," sahut Leny dengan suara lembut nan mendayu-dayu.
Maya pamit pada Shela di sampingnya, dan segera melangkah menuju ruangan Jovita. Tentunya hal ini cukup membuat Maya riang kembali. Terlebih, ia perlu pulang ke sebuah kampung dimana anak dan ibunya berada.
Rindunya Maya pada sepasang mata bening yang demikian mirip dengan Aditya Darmadji itu, serasa tak terbendung. Beberapa bulan sekali Maya akan pulang, memberi jatah uang dan membelikan beberapa kebutuhan untuk putranya. Begitu juga sang Ibu yang mengasuh putra Maya, pastilah menggantungkan hidupnya pada Maya.
"Hai, Don ... kau tampak menawan malam ini. Kakimu, tak sakit lagi?" Tanya seorang pria yang kini tengah menatap Donna. Lelaki itu bekerja sebagai cleaning service di night club' ini.
__ADS_1
"Sedikit, Tom. Kurasa tak masalah jika hanya melayani tamu untuk bernyanyi," jawab Maya dengan semangat.
"Baiklah. Sukses, ya. Aku mau lanjut bekerja dahulu," timpal Tommy yang kemudian melihat Maya berlalu dari sana.
Setibanya di dalam ruangan Jovita, Maya mengetuk pintu, dan membukanya pelan. Tampak sekali jika saat ini Jovita tengah sendiri. Kening Maya berkerut dengan tanya yang mulai mengedar di dalam otaknya.
"Mam, Leny mengabariku bahwa saat ini ada tamu untukku, benarkah?" tanya Maya sambil duduk di bangku sebelah showcase mini dalam ruangan Jovita.
"Ya. Anakku, Nevan yang mengurusnya," jawab Jovita, "aku tak tahu siapa namanya, tetapi semua sudah di handel oleh Nevan," tambah Jovita lagi.
Nevan, lelaki itu adalah anak angkat, sekaligus orang kepercayaan Jovita. Lelaki yang dipungut Jovita dari jalanan, ketika polisi pamong praja nyaris menangkapnya enam belas tahun lalu.
"Baiklah," sahut Maya kemudian, "tetapi aku sudah mengatakan bahwa aku tak bisa melayani tamu diatas ranjang, Mam. Apa Nevan sudah mengetahuinya?"
Dengan sorot mata riang, disertai dengan senyum yang seolah mampu memekarkan bunga sakura, Maya menuju ke ruang nomor delapan belas.
Begitu Maya membuka pintu tanpa mengetuknya, seorang laki-laki bertubuh tegap yang tengah membelakangi pintu tempat dimana Maya masuk, memiringkan wajahnya sekilas, sebelum kembali menekuri tembok. Lelaki dengan celana bahan kain abu-abu tua dan berkemeja biru telur asin itu, bersikap layaknya tembok yang lebih menarik.
Di tempatnya, Maya mengerutkan kening, seolah merasa tak nyaman saat ini. Ada apa ini?
"Malam, Tuan?" sapa Maya pertama kali, ketika menyapa pria itu. Suara Maya demikian lembut dan mendayu-dayu menyapa telinga pria itu.
Suara musik yang tadi terdengar lantang, kini tak lagi terdengar, karena ruangan VVIP ini sudah dilengkapi dengan fasilitas kedap suara.
Tanpa menjawab, lelaki itu membalikkan badan, dengan kedua telapak tangan yang disembunyikan di dalam saku celananya. Maya mematung, kala tubuh yang dulu pernah membuatnya mabuk kepayang itu, berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Darah Maya terasa mendidih seketika. Ada raut tak suka sekaligus pendar amarah yang jelas begitu kentara.
"Sari Donna?" bibir Aditya Darmadji mencicit lirih, menatap datar pada Maya yang kini masih mematung.
"Bedebah, kau! Sudah aku peringatkan agar kau tak memunculkan muka menjijikkan mu itu di depanku, dan kau melanggarnya!" sarkas Maya pada Ditya.
Maya dengan cepat membalikkan badan, berniat untuk segera pergi dari sana. Tetapi sayang seribu sayang. Ditya dengan cepat menghalangi dan memeluk Maya dengan erat, seolah ia tengah merindukan aroma tubuh wanita itu.
Pandangan Ditya mengabur, seiring dengan jejak air mata yang mulai merembes pada matanya sambil berkata, "jangan pergi dulu, Maya. Jika aku tak datang sebagai klienmu, aku pastikan kau tetap tak akan menemui aku. Kumohon, mari kita bicara dari hati-hati, dan menyelesaikan masalah kita yang belum usai," pinta Ditya.
"Jangan bertingkah layaknya bayi, Aditya!" seru Maya dengan tatapan nyalang. Jangankan untuk bersentuhan denganmu, bahkan bila aku harus melihat wajahmu saja, aku merasa jijik! Pergilah, Ditya. Jangan membuatku menepati janjiku untuk membunuhmu. Dua kali aku memintamu untuk menjauh, tetapi kau ... nyatanya kau mangkir. Cukupkan tiga kali aku menyuruhmu pergi, maka aku tak akan pikir panjang untuk menebas lehermu itu!" Seru Maya dengan napas memburu.
Mata wanita itu memerah, berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis yang coba menerobos matanya.
"Lepaskan aku, lepaskan aku!" teriak Maya dengan suara keras, ketika Ditya menahannya. Wanita itu memberontak, ketika Aditya merangkulnya dengan erat.
"Tidak. Aku sudah menyewamu hingga pagi menjelang, Donna. Jangan berpikir untuk kau bisa kabur dariku," tukas Ditya kemudian.
"Bedebah, lepaskan aku. Aku tak sudi kau sentuh sedikit pun!" teriak Maya. Wanita itu membentak Ditya dan memberontak hingga membabi buta. Namun meski begitu, tak sedikit pun Ditya berniat melepaskannya.
"Lepaskan aku atau kau akan melihat mayatku setelah ini, Ditya," tambah Maya dengan suara lirih, tanpa berontak dari pelukan Ditya yang begitu kuat.
**
Part berikutnya mengandung bawang, ya. Siapkan tissue untuk menjadi teman membaca anda.
__ADS_1