
"Ibu sangat mencintainya hingga kini, Maya," jawab Fatma dengan hati yang begitu mantap. Maya mematung, dengan bola mata yang bergerak menatap Fatma dan Adi bergantian. Sungguh, ibu muda itu demikian syok seketika. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Menjalin hubungan dengan keluarga Darmadji yang keji, jelas hanya akan menambah Rana nestapa tanpa batas.
"Dan Ibu akan mengulang sejarah yang pernah aku alami? Jangan menjadi pelacur hanya untuk membalas dendam pada putra Darmadji dan istrinya yang arogan itu. Tangan Tuhan tak pernah salah memberikan Hukuman bagi mereka yang durjana!" ujar Maya dengan nada suara yang sangat dingin.
Adi terkejut dibuatnya. Apa kata Maya tadi? Membalas dendam? Pada putra dan istrinya. Sebelumnya, Adi memang tahu perihal tentang bagaimana perilaku istrinya. Namun Aditya? Adi merasa penasaran dibuatnya.
"Mari duduk di dalam. Ibu akan jelaskan semuanya padamu," ajak Fatma.
"Tidak perlu. Aku rasa cukup aku saja yang mengukir sejarah kelam menjadi wanita yang penuh dengan kehinaan. Ibu tak perlu menjerumuskan diri hanya demi manusia-manusia laknat macam Darmadji sekeluarga!" seru Maya yang sudah di gulung emosi.
Mungkin Fatma sudah gila, atau bisa jadi Ibu Maya itu lupa, bagaimana perlakuan keluarga Adi Darmadji di masa lalu.
"Maya, dengar Ibu dulu," Fatma ingin menjelaskan, namun Maya memilih mundur, dan tak akan membuka pintu hatinya untuk para keluarga Darmadji. Maya masih ingat betul, diamnya Adi kala dirinya di usir dari sana, tanpa pembelaan sedikit pun, padahal Maya tengah mengandung cucu Adi Darmadji kala itu.
Sekelumit kisah pilu itu kembali membuat Maya teringat. Trauma berat yang Maya derita, berhasil membuat Maya merasa sesak meski hanya sekadar mengingatnya. Dada Maya kembang kempis, naik turun dengan ritme cepat. Napas wanita itu terlihat putus-putus. Emosi telah menggulung jiwanya.
"Jangan mendekat, Bu. Jika Ibu memaksa untuk membersamai lelaki yang ibu cintai itu, Maya yang akan memilih mundur saja," ujar Maya seraya berbalik pergi, menuju kamar yang sudah Maya bersihkan.
Dari balik tembok kamar dengan pintu yang hanya diberi gorden kain bekas, Gavin mengintip. Anak itu merasa bahwa persoalan orang dewasa tak pernah ada ujungnya. Hingga kemudian Maya berjalan dengan langkah cepat menuju ke arahnya, maka saat itulah Gavin pura-pura tertidur, agar Ibunya mengira bahwa Gavin tidak mendengar apapun yang mereka katakan sejak tadi.
Sementara di luar, Adi belum juga beranjak dari tempatnya berdiri. Lelaki itu merasa, memiliki satu penghalang lagi untuknya bisa bersatu dengan cinta pertamanya. Mengapa sulit sekali untuk memperjuangkan cinta yang sudah terjalin sekian lama.
"Tenanglah dulu, Fatma. Kita bisa bicara pelan-pelan dengan Maya. Jangan khawatir, ini hanya perkara waktu saja, sebelum nanti akhirnya Maya bisa menerima kita," ujar Adi dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Masuklah, aku tahu kau lelah. Hari sudah pagi. Aku rasa sebentar lagi akan banyak orang tahu perihal kedatanganmu. Semua, Bonang sudah mengurusnya," ujar Adi kemudian.
"Baiklah, Mas. Aku akan istirahat," jawab Fatma dengan suara lirih.
Rencana untuk membalas Inayah dan Aditya, seolah mendapati jalan buntu. Sejujurnya, apa yang Maya katakan baru saja, adalah sebuah kebenaran. Namun rasanya, Fatma tidak memiliki jalan lagi. Wanita itu juga tak sadar, bahwa saat ini dirinya tengah digulung rasa emosi, memutuskan sesuatu saat marah menguasai dirinya.
Cinta ....
Kadang cinta bisa setolol itu. Jangankan anak muda, bahkan orang tua pun sanggup kehilangan harga diri dan kewarasan jika cinta sudah bertengger menguasai hati dan membunuh logika.
Adi melangkah pergi setelah Fatma masuk. Lelaki itu memikirkan cara, bagaimana bisa mendapat izin dari putri cinta pertamanya itu, agar bisa memperistri Fatma, dan kembali merengkuh cinta pertamanya dalam suka cita di masa senja.
Dasar Adi, si lelaki tak tahu malu!
**
Aditya menyimpan kecewanya seorang diri, kecewa terhadap mulut tajamnya yang sudah menghina Maya. Jangankan untuk menjelaskan, bahkan meminta maaf pun, terasa sulit sebab Maya menghilang lagi.
Apakah Maya memang diciptakan sebagai wanita yang suka lari dari masalah? Maya selalu kabur entah kemana, dan menghindari Ditya setiap kali ia terluka.
"Kemana kau sebenarnya pergi selama ini, Maya? Aku mencarimu. Kembali dan kau harus beribaku hukuman, agar aku merasakan luka yang serupa denganmu. Kembali, ayo hukum aku," gumam Aditya, seraya mengusap pelan layar ponselnya. Foto Maya terpanjang disana, sengaja Ditya memotret Maya ketika Maya tengah di rawat di rumah sakit.
Citra muncul, membawa tas tangan dari brand ternama. Penampilan wanita itu selalu sempurna, sebab barang-barang mewah dan mahal yang ia miliki, melekat pada tubuhnya. Perhiasan mahal berhiaskan berlian, menjadi sebuah nilai tinggi bagi Citra tentu saja.
__ADS_1
"Mas," sapa Citra yang baru keluar dari rumah sakit. Ditya seketika memasukkan ponselnya, ke dalam saku celana. Ia tak ingin, Citra tahu bahwa ada potret Maya di dalam ponselnya.
"Sudah dari tadi menunggu?" tanya Citra.
"Belum lama. Ayo pulang, aku lelah," ujar Ditya, agar Citra tak lagi banyak bertanya padanya.
Baru saja Ditya hendak masuk ke dalam mobilnya, sebuah notifikasi pesan terdengar dari ponsel canggih Ditya. Dan Ditya mengerutkan kening, ketika tiba-tiba Sherla mengirim sebuah pesan padanya. Padahal sebelum ini, Sherla tak pernah menghubunginya jika ada sesuatu yang penting. hanya Inayah sang Ibu, juga Sherly yang sering mengiriminya pesan.
Lihatlah, Kak. Cepat kembali ke kampung segera. Siang tadi, aku melihat Maya telah kembali ke kampung halaman kita, bersama bocah lelaki yang parasnya serupa denganmu.
Pesan dari Sherla yang dibarengi sebuah potret Gavin, berhasil membuat Ditya mengarahkan fokus sepenuhnya, hanya pada layar ponselnya. Citra yang menunggunya, merasa curiga dengan perubahan Ditya yang tiba-tiba.
"Mas, ayo pulang. Katanya lelah?" tanya Citra kemudian.
"Masuklah ke dalam mobil lebih dulu, Citra. Sherla sedang menyampaikan sesuatu yang sangat penting bagiku," jawab Ditya, tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponselnya, seolah tak ada hal menarik bila dibandingkan dengan layar ponselnya.
"Baiklah. Aku tunggu di mobil. Jangan lupa kabari aku jika di kampung terjadi sesuatu pada Ibu," jawab Citra kemudian, meninggalkan Ditya yang masih duduk di sebuah bangku, yang tak jauh dari mobilnya.
Jantung Ditya seolah menghentak liar, terasa keras dan ingin keluar dari rongga dadanya.
"Jadi kau sudah kembali, Maya. Tunggu aku. Aku akan memperbaiki semuanya, tak peduli apapun yang kau minta," gumam Ditya, yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri dan Tuhan.
**
__ADS_1