
Perjalanan kali ini terasa lambat bagi Aditya. Lelaki itu merasa waktu begitu lama berlalu, dan ia tak kunjung sampai pada kampung halaman, sekalipun ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Resah gelisah yang membumbui hatinya saat ini, benar-benar membuatnya nyaris gila.
Gavin Elano Darma.
Putranya itu, sungguh Ditya begitu sangat merindukan Gavin. Tidak peduli bila Ditya harus menantang dunia, rasanya Ditya ingin membawa Gavin sekali pun Maya tak mengizinkan.
"Mas, paksa Maya, nikahi dia dan tebus semua kesalahan masa lalu kamu padanya. Aku tidak mau kau berkubang dalam penyesalan seumur hidupmu. Kita bercerai saja secepatnya, agar Maya bisa memilikimu seutuhnya," ujar Citra, yang duduk di sebelah kemudi.
Harusnya Ditya merasa bersalah pada istrinya itu. Tetapi bagaimana lagi? Ketika Maya kembali dalam hidupnya, Ditya merasa bahwa jiwanya seolah kembali hidup. Dengan Citra, Ditya tak merasakan emosi apapun. Semua tampak terasa datar.
"Aku akan mencoba. Tetapi jika Maya menolak, aku tak tahu lagi harus bagaimana membujuk wanita itu, Ci. Dia wanita yang keras kepala, lagi teguh pada pendirian dan prinsipnya," jawab Ditya lirih, fokus pada jalanan di depan tanpa menatap Citra.
Di tempatnya, Citra tetap merasa tersayat hatinya. Meski ia telah berusaha untuk meredam cintanya pada Ditya, tetapi tetap saja itu tak membuat cinta Citra pada suaminya, bisa hilang perlahan.
Melepas Ditya bukanlah pilihan yang baik, sekalipun ia sebenarnya bisa menggenggam Ditya seumur hidupnya. Tetapi demi kebahagian sang suami, sesakit apapun seonggok gumpalan merah dalam dadanya, Citra akan rela.
Sulit memang. Tetapi inilah pengorbanan. Inilah pengabdian. Citra hanya ingin Ditya bahagia. Itu saja. Tidak lebih.
Dan tepat ketika keduanya telah sampai di perbatasan desa, Ditya mengerem mobilnya secara mendadak. Lelaki itu tiba-tiba merasakan jantungnya menghentak liar, kala netranya terpaku pada sebuah bilik bambu beratapkan daun Rumbia.
Kenangan lebih dari sembilan tahun silam, Ditya mengingatnya, serupa kisi-kisi puzzle yang tersusun rapi dalam otaknya. Entahlah, Ditya seolah merasakan luka Maya saat itu.
Menyerahkan kehormatan, diabaikan, ditinggalkan saat mengandung, dan di usir dari kampung.
Oh jangan lupa, bahkan hinaan demi hinaan, makian demi makian, Maya telah kenyang menerima itu semua. Dan semua itu, berasal dari kesalahan Aditya.
"Aku pantas di sebut sebagai bajingan," ucap Ditya.
__ADS_1
Citra mengerutkan kening, kala pandangnya tertuju pada bilik bambu yang sepertinya sudah di perbaiki. Sebelumnya, Citra tak merasa aneh dengan tempat itu.
"Ada apa dengan bilik itu, Mas?" tanya Citra kemudian.
"Di situlah berawal, aku menghancurkan hidup Mayasari Arsyad, Citra. Karena akulah, hidupnya harus hancur tanpa sisa. Aku tidak tahu, mengapa jadi begini. Tetapi jika Maya meminta nyawaku sebagai tebusannya, aku akan berikan. Tidak mudah menjalani hidup terkatung-katung di jalanan, kala ia mengandung darah dagingku," jawab Ditya.
Dan tetas bening serupa kristal cair, luruh juga dari ekor mata Citra. Sekuat apapun Citra menahan, luka wanita itu tetap tidak akan bisa sembuh.
Mungkin karena cinta yang terlalu besar pada Ditya, hingga membuat Citra demikian sakit.
"Kau sangat mencintainya, Mas. Aku harap setelah ini, kau bersungguh-sungguh untuk menebus dosamu padanya. Nikahi Maya secepatnya. Jika dia menolak, katakan jika kau melakukan itu semua, semata hanya karena ingin membahagiakan Gavin," ujar Citra.
Ditya hanya mengangguk, dan melanjutkan perjalan kembali.
Tepat ketika sampai di rumah besar milik orang tuanya, Ditya segera menghentikan laju kemudi. Citra turun, di susul Ditya yang sudah mendapati adiknya demikian cemas menunggunya di teras depan.
"Mas, seisi desa gempar sebab mbak Maya telah kembali, dan membawa serta seorang putranya yang berusia delapan tahun. Dia mirip denganmu. Orang-orang mengaitkan semuanya, dengan kejadian sembilan tahun silam, sebab melihat putra mbak Maya yang sangat mirip denganmu. Ibu syok dan sering pingsan di dalam. Bagaimana ini?" tanya Sherla.
Sherla juga merasa, bahwa anak yang Maya bawa, juga anak Aditya. Bisa di katakan, jika anak itu juga adalah keponakannya.
"Jangan panik dulu. Ayo kita masuk dan bicara lebih dulu pada Ibu. Kita selesaikan segera masalah ini," kata Ditya tersenyum hangat. Sejujurnya, selama ini ia tak pernah banyak bicara dengan adiknya yang pendiam itu.
"Tapi, apa benar dia anakmu, Mas? Aku, aku khawatir jika kabar itu benar adanya," Sherla tak kuasa menahan sedih, "mengingat sembilan tahun silam, tak mudah untuk menjadi mbak Maya," ujar sherla kemudian.
"Dia memang putraku, Sherla. Jangan khawatir. Aku dan Maya sudah bertemu di kota beberapa waktu lalu," Ditya mengusap bahu adiknya beberapa kali, "ayo masuk. Tolong bantu kak Citra untuk membawa masuk oleh-oleh," titah Ditya, yang diangguki oleh adiknya itu.
Putra Darmadji yang melangkah masuk itu, menatap sekeliling dan mendapati Ibunya yang pingsan, merebah di sofa. Beberapa orang tampak berkumpul, dengan Adi -ayah Ditya- yang duduk memangku sang istri.
__ADS_1
"Ayah," sapa Ditya kemudian.
Adi menoleh, mendapati putra dan menantunya yang datang berkunjung.
"Mari kita bicara, Ditya. Ayah ingin bicara empat mata denganmu," ajak Adi kada putranya.
Ditya hanya mengangguk, dan menatap datar Ibunya. Sejujurnya, Aditya masih sedikit marah pada Ibunya, yang sudah bersikap semena-mena pada Maya.
Sedang Citra, anaknya itu duduk tepat di sebelah kepala Inayah, sebelum ia memangku kepala sang Ibu mertua.
"Sebenarnya, apa yang terjadi, Sherla? Aku memang mendengar kabar tentang kejadian sembilan tahun silam. Hanya saja, itu meliputi garis besarnya saja," ujar Citra apa adanya.
Sherla menatap kakak iparnya penuh dengan nelangsa, "Jika Sherla ceritakan, tentunya Sherla yakin jika kak Citra tak akan kuat mendengarnya. Ibu sudah demikian parah memperlakukan mbak Maya, dan juga Ibunya. Mereka orang yang baik sebenarnya. Yang tidak baik di sini, Ibu dan beberapa orang yang memiliki pemikiran yang sama dengan Ibu," jawab Sherla, menatap Ibunya yang masih setia memejamkan matanya.
"Aku turut prihatin atas semua kejadian masa lalu yang menimpa Maya dan kakakmu, Sherla. Itulah sebabnya, kakak memilih untuk mundur saja, dan menuntut cerai dari mas Ditya. Mas Ditya, harus menikahi Maya secepat mungkin, demi kebahagiaan dan masa depan Gavin, putranya," sahut Citra.
"Kak Citra tahu nama anak itu?" jawab Sherla, merasakan jantungnya menghentak tak karuan.
"Ya. Gavin Elano Darma. Beruntung Maya masih sedia menyematkan nama depan keluarga ini, di belakang nama anaknya. Bukan hal mudah, pasti Maya masih berharap jika Gavin mendapat tempat dan hak yang seharusnya," jawab Citra.
Baru saja Sherla hendak membuka mulutnya, sang Ibu tengah mengerang kecil, pertanda jika ia telah sadar dari pingsannya.
"Enggghhhh .... " erang Inayah.
Wanita yang tengah terbaring tak berdaya itu, akan segera ditimpa karma dari masa lalu.
Mari kita lihat, seberapa angkuhnya Inayah setelah ini. Pada Maya, bahkan Inayah lah yang akan bersujud mengemis maaf pada wanita itu.
__ADS_1
**