
Tatapan seorang Mayasari, kini kosong menatap jalanan turunan dari rumahnya yang terletak di perbukitan ujung kampung. Beberapa hari terakhir, waktu Maya dihabiskan hanya untuk melamun, memikirkan banyak hal tawaran Darmadji padanya.
Berhari-hari telah di lalui, Maya habiskan dengan menepis segala isi hatinya yang mencoba untuk berkhianat padanya. Mulutnya berkata tidak, menolak segala tawaran menggiurkan dari Adi. Tetapi nyatanya, hati Maya seolah bersorak gembira atas tawaran itu.
"Maya, sudah seminggu kau habiskan dengan menyendiri tanpa melakukan banyak hal yang berarti. Cobalah untuk melakukan aktivitas yang menyibukkan agar kau tak banyak melamun," Entah yang ke berapa kali, suara Fatma membujuk Maya.
"Aku harus melakukan apa, Bu? Aku sedang tidak ingin melakukan apapun," ungkap Maya apa adanya.
"Kalau kau memang benar keberatan, tolak saja karena Ibu tidak memaksamu. Tetapi jika kau benar-benar ingin memberi Ditya kesempatan, ya terima. Jangan membuang waktumu dengan hal tak berfaedah begini," ungkap Fatma kemudian, seraya duduk di samping putri semata wayangnya.
"Aku bingung, Bu," ungkap Maya lirih.
"Apa yang kau bingungkan? Sekarang jawab Ibu, masihkah cintamu itu utuh untuk Aditya?" tanya Fatma lekat.
Fatma bergeser, mendekati Maya untuk mendengar jelas jawaban dari putrinya itu.
"Mungkin. Tapi aku masih sakit hati, tak terima saja saat itu Ditya mengatai aku pelacur," inilah yang membuat Maya tak terima sampai kini.
Memaafkan, nyatanya tak semudah kala Maya mengatakannya.
"Ditya melakukannya karena cemburu. Harusnya kau sadar itu. Dengar ibu," Fatma mengangkat dagu Maya, agar menatap lekat netranya yang penuh keseriusan, "dia keceplosan mengatakannya, sebab tak rela kau dekat dengan pria lain. Kau boleh membencinya, tapi kau harus memikirkan sisi baiknya juga. Jangan melihat sesuatu hanya dari satu arah, tapi lihatlah dari arah lain agar kau tidak memeluk penyesalan lagi."
Sebagai seorang Ibu, tentunya Fatma ingin yang terbaik untuk Maya.
"Berapa usiamu sekarang, Maya? Usiamu sudah nyaris kepala tiga, tapi kau masih asik sendiri, bergelut dengan dunia malam demi menghidupi Ibu dan Gavin. Sudah saatnya, kau memikirkan bahagiamu, dan mulai membuka lembaran baru. Tak ada salahnya kau memberinya kesempatan. Keluarga Darmadji, Ibu rasa mereka serius dengan tawaran mereka," ungkap Fatma kemudian.
"Tak akan semudah itu Ditya bisa mendapatkan Maya, Bu. Luka Maya terlalu dalam," timpal Maya dengan tenang.
Mata wanita itu tetap kosong menatap lembah perkampungan. Ada beberapa orang tengah lewat, meski pagi masih benar-benar dingin.
"Ibu tidak tahu lagi mau bagaimana, Maya. Ibu tak menyalahkan dirimu andai nanti kau menolak Aditya. Ibu tahu sebesar apa penderitaanmu. Hanya saja Ibu titip, jangan sampai karena lamaran Adi Darmadji, kau melupakan kewajiban dirimu sebagai seorang Ibu," ungkap Fatma, sebelum berlalu pergi meninggalkan Maya menuju dapur.
__ADS_1
Maya berpikir bahwa memang benar apa yang ibunya katakan. Bukankah ia memang harus mengambil langkah yang tegas? Lantas bila ia masih sakit hati pada Aditya, mengapa dadanya terasa sesak saat ia berkata tidak dengan Ditya, seperti sekarang ini?
"Ibu, aku ... ada Tante Sherla datang membawa buah apel dan mangga. Aku, aku boleh ikut Tante Sherla?" tanya Gavin tiba-tiba, mengejutkan Maya yang tengah larut dalam lamunannya.
"Heh? Tante Sherla? Di mana?" tanya Maya kemudian, salah tingkah sendiri.
"Di depan. Katanya ... em, katanya mau jemput Gavin. Boleh?" tanya anak itu takut-takut.
Kaos oblong warna merah dan celana pendek berwarna hitam, entah kapan Maya pernah membelikan untuk Gavin. Yang jelas yang Gavin kenakan saat ini, Maya tak pernah tahu Gavin memakainya sebelumnya.
"Gavin, ini baju siapa?" tanya Maya menunjuk putranya, mengabaikan tanya Gavin sebelumnya.
"Ini Tante Sherla yang membelikan. Gavin mohon, jangan disuruh melepas, ya? Gavin suka kaosnya," ujar anak itu menunduk
Jangan tanya bagaimana jantung anak itu, serasa mau loncat sebab debar yang begitu kencang.
"Baiklah, tidak masalah. Tapi lain kali, jangan menerima sesuatu apapun itu, dari siapapun, tanpa seizin Ibu. Kali ini Ibu maafkan, dan izinkan," ujar Maya, "ayo kita ke depan menemui Tante Sherla."
"Maya, duduklah dulu disini. Ibu mau masak, temui dokter Aditya dan adiknya untuk berbincang," ucap Fatma seraya bangkit berdiri, tanpa menunggu jawaban dari Maya.
Maya menghela napas panjang, sepanjang kisah kelam dirinya yang hingga kini menjadi alasan ketakutan tersendiri, untuk menerima tawaran Adi Darmadji.
"Kapan datang, dokter?" tanya Maya pada Ditya, dan Sherla bergantian.
Kali ini, Maya sudah lebih santai dan tenang menghadapi Aditya, atau siapa pun itu anggota keluarga Darmadji.
"Baru saja, segera kemari karena Ibuku yang menyuruh. Bagaimana kabarmu sekeluarga?" tanya Ditya.
Sejatinya pertanyaan itu, bukanlah sekadar basa-basi belaka, melainkan murni rasa ingin tahu. Melihat Maya bugar seperti ini, Aditya banyak mengucap syukur dalam hatinya. Hanya saja, hati Maya masih sebeku kutub Utara.
"Baik," jawab Maya singkat, "bagaimana kabar nyonya Nayah?"
__ADS_1
"Semua sehat," jawab Ditya, tak kalah singkat pula.
"Mbak Maya, boleh aku mengajak Gavin untuk bermain ke rumah kami? Aku, aku ingin membawa Gavin ke rumah kami dan bertemu dengan Ayah dan Ibu," Sherla kali ini, memecah kebisuan singkat yang terjadi.
"Aku tidak mau Gavin sering bertemu dan berkunjung kesana, Maaf," jawab Maya, masih membekukan hatinya dan teguh pada keputusan awal.
Baik Ditya dan Sherla saling pandang. Keduanya sungguh heran, terbuat dari apa hati Maya yang keras itu.
"Mengapa, Maya? Aku rasa tak masalah Gavin ikut dan sering datang ke rumah. Gavin putraku, dia darah dagingku. Secara biologis, dia anakku," ungkap Ditya pelan.
Fatma muncul, membawa dua gelas teh hangat untuk Ditya dan Sherla.
"Kau bukan siapa-siapa bagiku, dokter. Tolong mengerti," jawab Maya, tegas tak ingin dibantah. Sayang, Aditya juga sama keras kepalanya dengan Maya.
"Dan kau menolak lamaran Ayah untukku. Apa-apaan ini, Maya?" Aditya mengangkat sebelah alisnya.
"Aku sudah berniat baik dengan hendak memperistri dirimu, kau menolak dan tak memberi izin Gavin ikut denganku dengan dalih aku bukan siapa-siapa untukku. Katakan padaku, harus bagaimana aku bertanggung jawab atas lukamu dan Gavin? Apa aku salah, bila aku ingin membuatmu bahagia di masa depan? Katakan padaku, salahku dimana?"
Sekujur tubuh Maya terasa Tremor. Ia bingung, jawaban apa kiranya yang pas untuk menimpali kalimat Aditya.
"Maaf, Bu Fatma, maaf jika saya membuat tak nyaman. Tapi sungguh, saya memang berniat baik ketika pamit hendak membawa Gavin ke rumah. Sungguh, tak ada niat buruk yang saya rancang untuk sebuah tujuan," Aditya menatap Fatma penuh segan.
"Maafkan Maya, dokter Ditya," Fatma sama tak enaknya dengan Ditya.
"Kami pamit, terima kasih," pamit Ditya kemudian, meninggalkan Gavin dan menatapnya nanar, sembari dua cangkir teh hangat buatan Fatma yang tak diteguk sama sekali.
Kali ini, rasa bersalah justru ganti bersarang di hati Maya. Maka dengan keputusan dan tekad yang datang secara spontan, Maya berkata, "tunggu. Baiklah, aku izinkan Gavin ikut denganmu, dokter Aditya. Tetapi tidak sampai petang tiba, atau melewati senja hari ini," ujar Maya.
Sejatinya, Maya mulai kalah pendiriannya.
**
__ADS_1