
Terkadang, seseorang pendiam dan sabar, akan berubah beringas ketika dirinya sudah diinjak dengan kejam. Seseorang akan mengambil langkah nekat, ketika harga diri dan egonya sudah nyaris di bunuh mati oleh orang lain.
Fatmawati, Wanita paruh baya yang selama ini selalu menjadi bulan-bulanan keluarga Darmadji, kini sudah mulai krisis kesabaran. Wanita itu demikian murka tatkala sang putri, harus terhina di depan banyak orang, sebab panggilan pelacur dari Aditya Darmadji. Tidak. Fatma tak akan membiarkan Aditya bisa bernapas bebas setelah ia menghancurkan hidup Maya.
Wanita itu nekat, kembali ke kampung halaman yang membuatnya dihina sedemikian rupa, putrinya menderita, dan banyak kenangan pahit yang Fatma terima kala itu.
Kini, Fatma sudah bulat tekadnya. Menemui Bonang, ada banyak hal yang Ibunya Maya itu rencanakan. Hanya melalui Bonang, dirinya bisa melancarkan aksinya. Satu-satunya jalan adalah, memanfaatkan segala media yang ada untuk melancarkan aksi.
"Maya, pertama bersihkan rumah ini, untuk kita tempati. Ibu akan melapor ke kerabat desa untuk meminta izin tinggal di daerah sini," pamit Fatma, ketika ia baru tiba dan malam telah larut. Dilihatnya, Maya tampak bingung.
"Tapi, Bu .... " Maya tak melanjutkan kalimatnya, karena ia bingung bagaimana caranya mencegah sang Ibu. Sejak Fatma mendiamkan dirinya berhari-hari lalu, Maya cenderung takut salah bicara.
"Tidak ada tapi, Maya. Lakukan saja," Fatma masih kokoh pada pendiriannya. Tak hanya itu. Wanita itu juga menurunkan Gavin pada kasur lipat yang Maya buka.
"Jangan khawatir, Ibu akan segera kembali dan ini tak akan lama," ungkap Fatma sebelum berlalu pergi.
Maya terdiam seorang diri, merasakan letih tubuh sekaligus lelah batin. Belum lagi usai sakit hatinya sebab hinaan Ditya padanya, kini sang Ibu mulai bertingkah aneh. Ada apa sebenarnya? Maya begitu penasaran dengan apa yang hendak Ibunya lakukan.
Di tengah hening malam, Fatma tak takut apapun, menantang gelap pekat malam seorang diri berjalan melewati pematang sawah demi menghemat tenaga dan waktu. Hanya pematang sawah yang bisa membawanya lekas sampai ke rumah Bonang.
Tekadnya sudah bulat. Mengalahkan Aditya dan ibunya yang angkuh lagi arogan itu, atau Fatma dan Maya yang akan terbujur kaku dalam kematian.
Hati ibu mana yang akan tetap tegar dan bisa sabar, jika terus di hantam dengan kata-kata menyakitkan? Sekiranya Fatma tak kuat, Fatma tak akan tetap tabah berdiam diri ditengah badai ribut yang siap meluluhlantakkan segala kebahagiaan.
Jika dulu, Fatma lebih mementingkan dirinya dan Maya, lain halnya dengan saat ini dimana ada Gavin yang perlu Fatma perjuangkan kedudukan anak itu. Persetan dengan status Gavin yang terlahir tanpa Ayahnya, Ditya, yang Fatma ingin, mereka yang menginjak kemiskinan dirinya dan anak turunannya, maka juga harus merasakan kemiskinan serupa dengan dirinya.
__ADS_1
"Bonang, Nang .... Bonang," panggil Fatma, seraya mengetuk pintu depan sebuah rumah yang sebagian besar terbuat dari kayu itu.
"Siapa? Sebentar," panggil seorang wanita yang menjadi istri Bonang di kampung itu.
Pintu terbuka dari dalam, menampilkan Nining yang diikuti oleh Bonang di belakangnya. Sarung khas yang disampirkan ke pundak kiri Bonang, tak pernah lupa bonang kenakan.
"Bu Fatma? Ibu kenapa ada disini? Bukannya .... " Bonang tak melanjutkan kalimatnya, ketika Fatma mengangguk.
"Biar aku jelaskan nanti. Sekarang, bisakah aku meminta tolong padamu dan istrimu, Nining?" tanya Fatma kemudian, yang diangguki oleh Bonang.
"Ayo duduk dulu, Bu Fatma. Kita bicara di dalam saja. Tidak enak jika ada tetangga yang mendengar apa yang kita bicarakan," ajak Nining, menutup pintu.
"Ada apa, Bu Fatma?" tanya Bonang kemudian, ketika Nining masuk ke ruang masak. Mungkin, wanita itu tengah menyiapkan teh hangat untuk Fatma Dau malam yang dingin ini.
"Aku ingin bertemu dengan Adi Darmadji secara pribadi, Bonang. Dan itu aku ingin sekarang, disini. Apa kau tidak keberatan?" tanya Fatma, membuat Bonang mengerjapkan matanya beberapa kali.
Cinta masa lalu yang belum usai, membuat Fatma dan Adi selalu saja berdebat sebab selisih paham. Di tambah lagi, belakangan Aditya memang memiliki anak dengan putri tunggal Fatma. Yang Bonang harap, semoga saja tak ada pertengkaran majikannya dengan Fatma di rumahnya, hingga berakhir menjadi tontonan gratis bagi para warga.
"Tidak, tidak keberatan sama sekali, Bu Fatma. hanya saja, malam begini, jangan bertengkar di rumah saya, Ya? Saya baru menikahi Nining beberapa hari, takut tetangga mengira saya memikul Nining," pinta Bonang dengan sangat.
"Jangan khawatir, cepat panggilkan Adi Darmadji, katakan padanya jika aku ingin menemuinya sekarang juga," pinta Fatma lirih, setengah memaksa.
"Baik, Bu. Tunggulah sebentar," ujar Bonang kemudian.
Salam sepi, Fatma ditemani Nining menikmati malam. Ada banyak cerita tentang masa lalu Maya, juga kehancuran cinta Fatma sendiri bersama Adi. Andai saja boleh diminta, ingin sekali rasanya Fatma kembali ke masa lalu, dan milih menghancurkan perjodohan Adi dengan Inayah, si wanita congkak lagi sombong itu.
__ADS_1
Hingga tak lama, Bonang datang bersama dengan Adi. Lelaki itu tampak sayu. Mungkin Adi mengantuk. Ketika Bonang menyusulnya tadi, Adi begitu bersemangat hingga mengabaikan kantuk yang sudah menghampirinya.
"Fatma?" sapa Adi Darmadji kemudian. Diperhatikannya wajah Fatma yang terlihat kusut. Tak hanya itu, Adi juga melihat ada sorot luka yang begitu besar, yang nampak pada netra wanita yang dicintainya hingga kini itu.
"Mas Adi, maaf jika aku menyuruh Bonang untuk mengganggu waktu istirahatmu," ungkap Fatma kemudian, seraya berdiri dan menyambut Adi dengan tatapan datar.
Belum sempat Adi membalas ucapan Fatma, hujan turun dengan lebatnya.
"Oh tak masalah. Sejak kapan kau datang?" Tanya Adi yang terheran melihat Fatma ada di rumah Bonang selarut ini.
Adi lantas duduk, tepat di seberang Fatma.
"Baru tiba. Aku sengaja datang kemari, untuk membicarakan sesuatu denganmu, Mas Adi?" tanya fatma.
"Bicara sesuatu? Mau bicara apa? Katakan saja," ujar Adi. menimpali.
"Bisa kita bicara empat mata, Mas Adi?" tanya Fatma, mengisyaratkan bahwa Bonang dan Nining harus menyingkir dulu.
"Bisa. Tetapi tentang apa?" tanya Adi lagi,
"Ini tentang kita, Mas Adi. Tentang aku dan dirimu, juga cinta pertama yang kandas," jawab Fatma, menatap sendu pada Adi yang kini merasakan jantungnya menghentak liar tak terkendali.
Batin Adi, apa sekiranya yang membuat Fatma bersedia membahas tentang cinta mereka di masa lalu. Bukankah baru beberapa hari lalu, Fatma menolak keras kehadiran?
"Mari kita bicara jika begitu," ungkap Adi sebelum mengusir Bonang dan Nining, istrinya, dari rumah Bonang sendiri.
__ADS_1
**