
"Kau tak bisa mengelak lagi. Cintamu hanya untukku!" ungkap Aditya, dengan tersenyum-senyum dan wajah menyebalkan bagi Maya.
Sungguh, rasa cinta itu sudah lama tidur dalam hati Maya. Maya pikir, cinta untuk Ditya telah mati. Nyatanya, cinta itu masih tumbuh subur meski Aditya telah membuatnya menangis darah kala itu.
Maya mencoba untuk menelisik hatinya. Kebencian akibat perbuatan Ditya di masa lalu, masih terngiang jelas memutari otaknya. Bukan otaknya, melainkan juga hatinya sudah terjangkit virus penyakit hati.
Apa salah jika Maya masih marah pada Ditya? Mata rasa tidak. Perlakuannya pada Ditya saat ini, toh itu juga akibat ulah Ditya sendiri. Mayabtak mau disalahkan begitu saja.
Wanita itu bangkit, berusaha mendorong Ditya sekuat tenaga, tanpa peduli ada siapa yang bisa saja yang bisa melihat kelakuan mereka.
"Apa yang kau lakukan, Ditya? Jangan bertingkah kurang ajar. Aku bukan pelacur lagi yang mau saja disentuh lelaki secara sembarangan," kata Maya dengan berang. Tentunya Maya tak terima dengan ulah Aditya kali ini.
"Yang aku lakukan? Tidak ada, aku hanya diam," jawab Aditya tanpa dosa. Ia tahu, Maya akan tetap marah. Namun Ditya tak akan mengambil hati kemarahan wanita pujaan hatinya itu.
"Aku tak sudi kau cium begini. Pulanglah, sebelum kesabaranku habis. Kau tidak pantas ada di gubukku yang sudah reot ini!" usir Maya dengan tegas.
Alih-alih tersinggung, Aditya justru tersenyum simpul.
"Kau tak tahu, Maya. Setiap malam, aku selalu merindukanmu. Kau juga tidak tahu, jika aku selalu mencarimu selama ini. Aku sudah minta maaf, mengapa kau masih saja marah padaku?" tanya Aditya kemudian.
"Karena aku tak bisa bersikap manis lagi pada bajingan sepertimu. Pulanglah, jangan membuatku mengusirmu untuk yang ke tiga kalinya!" ujar Maya, makin berang dengan Ditya yang keras kepala.
Maya hanya tak menyadari, bahwa ia dan Aditya, sama keras kepalanya.
"Aku hanya rindu padamu, apa salahnya jika bibir ini hanya menempel sedikit dengan bibirmu? Lagi pula, kita sudah pernah melakukannya di masa lalu," layaknya orang bodoh, Aditya berkelakar seenaknya sendiri.
__ADS_1
Antara marah hingga darahnya mendidih, dengan getaran rasa cinta yang menggelegak dalam dada, Maya mencoba untuk kembali membentengi hatinya. Ia tak bisa semudah itu luluh begitu saja pada rayuan buaya semacam Ditya.
"Cuih... Kau melecehkan aku, Ditya! Dasar lelaki gatal!!" umpat Maya seraya berbalik badan untuk masuk ke dalam.
Usai tersadar dari reaksi alami sebagai pihak yang mencinta, Maya tak ingin serta merta menjadi bodoh hanya karena ciuman. Baginya, Aditya tak berhak apapun untuk bisa menyentuh dirinya seenaknya.
"Aku memang gatal. Kan, aku sudah duda," jawab Ditya tanpa tahu malu.
Maya tidak habis pikir dengan semua tingkah Aditya kali ini. Bisa-bisanya Aditya merendahkan dirinya hingga tak berharga.
"DUDA GATAL!!" umpat Maya seraya membanting pintu dengan keras. Maya hanya tak sadar, jika Gavin terbangun dari tidur siangnya, akibat suara debum keras pintu yang Maya banting.
Aditya terkekeh, tak lagi tersinggung akan penolakan maupun umpatan Maya. Lelaki itu justru kini merasa gemas sendiri, akan tingkahnya sendiri, juga pada respon Maya menghadapi dirinya.
Aditya terdiam, tanpa beranjak dari tempatnya. Lelaki itu justru dengan liar membayangkan, sehari-hari dirinya dan Maya akan bertengkar kecil begini. Mengarungi rumah tangga diwarnai dengan debat kecil, serupa dengan guyonan khas suami istri. Rasanya itu sangat menyenangkan.
Lain Aditya, lain lupa dengan Maya. Wanita itu tengah merasakan hatinya ergetar dahsyat. Andai Maya bisa seluluh yang ia bayangkan, mungkin Maya akan kembali terjerat dalam rayuan Aditya.
Tidak!
Bagi Maya, Aditya tidak pantas untuk wanita seperti dirinya. Bersama Aditya, Maya akan merasa sakit. Toh Maya juga sudah membunuh harapannya untuk bisa hidup bersama Aditya? Telat Maya sudah bulat untuk hal itu.
"Ibu, kenapa membanting pintu?" tanya Gavin kemudian.
"Oh, ada Ayahmu di luar," jawab Maya gugup. Wanita itu terlihat salah tingkah, sekalipun hanya menjawab pertanyaan Gavin.
__ADS_1
"Boleh Gavin keluar dan bicara pada Ayah?" tanya Gavin kemudian.
"Boleh. Lakukan saja. Ibu akan tidur siang di kamar. Ingat, jangan lama-lama dan segera kembali tidur siang lagi," jawab Maya.
Wanita itu berlalu dengan langkah cepat, mengabaikan Gavin yang tersenyum sendiri di tempatnya.
"Ayah, ayah bertengkar lagi dengan Ibu?" tanya Gavin kemudian, setelah anak itu berhasil membuka pintu.
Aditya tersenyum. Gavin yang irit bicara, kini sudah mulai banyak bicara padanya. Itu artinya, Aditya sudah mulai diterima oleh Gavin. Semua butuh proses.
"Bukan bertengkar, kami hanya bercanda," Gavin bangkit lantas menghampiri putranya di ambang pintu. Lelaki itu lantas berjongkok untuk mendekati putranya.
"Ayah pamit kembali ke ibukota, Sayang. Jangan nakal, ya. Jaga Ibu dengan baik. Akhir pekan, Ayah kembali kemari menjengukmu, Nenek dan Ibu. Bagaimana jika akhir pekan kita jalan-jalan? Kemana pun yang Gavin mau," tanya Ditya.
Gavin diam sejenak, tak segera menjawab sebab bimbang menguasai hatinya.
"Gavin bersedia, tapi Gavin takut jika Ibu tak mengijinkan. Gavin tanya Ibu lebih dulu, ya?" Gavin balik bertanya.
"Baiklah, tak masalah. Ini, Ayah punya sedikit untuk jajan Gavin. Di terima. Jangan di tolak. Jika Ibu marah, katakan saja Ayah ikhlas memberikan. Tak ada niat terselubung dibalik uang ini. Semua murni," ungkap Aditya, seraya mengeluarkan uang lima lembar berwarna merah dari dompetnya.
Tentu saja mata Gavin yang mata duitan itu berbinar kehijauan. Putra Maya penggemar bakso itu, menerima dengan senang hati pemberian Ayahnya.
"Baiklah. Terima kasih, Ayah," Gavin senang bukan main. Entah mengapa, anak itu merasa seperti anak yang tengah dinafkahi oleh ayah kandungnya.
"Ayah pamit. Sampaikan pada Ibu, ayah berangkat ke kota," ungkap Ditya, yang diangguki oleh Gavin.
__ADS_1
Melepas kepergian sang Ayah, membuat Gavin seolah berat. Ia pasti akan merindukan Aditya. Lama-lama Gavin membayangkan dirinya menghabiskan waktu berdua dengan ayahnya. Pasti rasanya sangat menyenangkan.
**