Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Mengundurkan diri


__ADS_3

Apa artinya kebersamaan, hingga pada akhirnya hanya akan berakhir luka? Segelintir orang memilih untuk tetap terluka, karena sebuah alasan. Seperti anak, contohnya. Tetapi Citra? Citra memilih bertahan karena rasa cinta dan obsesi semata.


Dengan meratap usai menatap kepergian suaminya, Citra menyimpulkan bahwa cinta suaminya sejak awal begitu besar untuk wanita yang ia sebut pelacur.


sejenak Citra terpana, akan kejadian yang terjadi secara spontan baru saja. Hidupnya seolah kini berada di pucuk derita. Tatapan matanya penuh luka, dan juga penuh dengan ketidakberdayaan. Bolehkah Citra meminta keadilan pada semesta?


Sungguh, cinta yang dimilikinya tak bisa Ditya berikan pada wanita lain, termasuk Citra sendiri.


**


Minggu berlalu, hari pun terus berganti dengan banyaknya hal dan rasa. Maya telah kembali seperti biasanya, bekerja dan menabung sebanyak-banyaknya sejak ia menapaki dunia hiburan malam.


Ibu dan Gavin telah dipindahkan Maya di suatu tempat yang tak diketahui oleh siapapun, termasuk Jovita apalagi Ditya. Tidak akan.


Hingar bingar musik memekakkan telinga Maya, ketika Maya keluar dengan mengenakan sebuah dress berwarna merah marun, dengan potongan tinggi. Tak sedikitpun busana sopan itu membalut tubuhnya dengan memperlihatkan belahan dada Maya.


Nevan mengernyitkan keningnya tajam, ketika ia melihat maya keluar dari biliknya, dengan penampilan sopan. Tak seperti wanita penghibur lainnya yang ada disana, Nevan curiga dengan penampilan baru Maya saat ini.


"Kau mau kemana, Sari? Kau pikir pelanggan akan tertarik dengan wanita tertutup begini? Mayoritas yang datang kemari adalah om-om hidung belang yang haus tubuh wanita, jika kau lupa itu!" ketus Evan. Suaranya berubah dingin, dan juga tak seperti orang sekitar Maya ditempat ini. Hanya Nevan yang demikian.


"Terima kasih. Tetapi maaf, aku sudah tahu dan tak butuh kau peringatkan. Sebaiknya kerjakan tugasmu itu, daripada nanti Jovita membuangmu kembali ke tempat asalmu, sampah," cibir Maya berani, dengan menatap Nevan.


Sorot mata wanita itu, jelas mengolok Nevan.


"jaga bicaramu, kau lupa jika aku bisa membuat Mami menendangmu dari tempat ini," ungkap Nevan.


"Oh benarkah? Bagus sekali. Lakukan saja kalau begitu. Aku menunggu saat itu," tantang Maya, dengan tangan bersedekap.


"Kau sudah bosan bekerja disini?" tanya Nevan penasaran, "atau kau akan membuka rumah bordil sendiri?"

__ADS_1


"Bukan urusanmu. Lebih baik lakukan pekerjaanmu dengan baik, dan jangan jadikan dirimu sebagai lelaki yang suka mengurusi orang lain," Maya berlalu pergi, dengan hati yang sedikit buruk, meninggalkan Nevan yang menyimpan emosi rumit dalam kilat matanya yang menggelap.


Semoga saja ini keputusan yang tepat untuk Maya. Ia tak tahan lagi, bila harus setiap malam melihat Ditya di tempat ini. Meski setiap malam lelaki yang telah merenggut kemurniannya itu tak memboking dirinya, namun Maya merasa tak nyaman.


Bayangan malam itu, bayangan Aditya berada di atasnya saat menghajar dirinya, dan bayangan kesakitan Maya selama lebih dari satu dasawarsa, membuat Maya beku. Hatinya semakin keras dan tak tersentuh. Seperti ada sebuah kabut yang membuat Maya terlihat lebih berjarak.


Kesalahan Ditya, mungkin terlihat ringan di mata orang-orang yang tak menempati posisi Maya. Namun bagi Maya, itu sudah tak bisa di tolerir lagi. Maya hanya berharap, ia tak terlibat apapun lagi dengan Aditya, terlebih Aditya telah berumah tangga dan memiliki wanita yang ia cintai.


Angin berhembus pelan menyapa kulit leher Maya, saat Maya memergoki dengan mata kepalanya sendiri, ada Ditya di dalam ruangan Mami Jovita. Tak butuh anak sekolah dasar untuk menyimpulkan apa yang terjadi.


"Malam, Mam," sapa Maya tenang, seolah tak mengenal Ditya sama sekali.


Di tempatnya, Ditya menatap Maya datar, namun jelas hatinya nelangsa.


"Hai, Sari. Masuklah. Ada tamu malam ini yang ingin mengulang kisah malam bersama dirimu," ungkap Jovita ceria. Binar matanya menunjukkan dukungan untuk Maya.


"Sorry, Mam. Aku harus bicara sesuatu padamu, sekaligus memberi jawaban atas tawaran, Mami. Bisa kita bicara hanya berdua?" tanya Maya kemudian.


"Tapi .... " Maya tak melanjutkan kalimatnya, saat Jovita mengangkat telapak tangannya.


"Sudah, katakan saja. Ada apa? Kau butuh sesuatu?" tanya Jovita dengan tenang. Entah mengapa, firasatnya tak nyaman. Ada sesuatu yang mencurigakan dari Maya


"Mami yakin ingin mendengarnya disini?" tanya Maya tak nyaman. Ekor matanya masih melirik pada Ditya yang setia berdiam diri.


"Ya, tentu saja," jawab Jovita sadar.


"Maaf, aku ingin berhenti dari pekerjaan ini. Berapa nominal yang harus aku bayar untuk menebus diri?" tanya Maya tanpa basa-basi.


Aditya yang sejak tadi tak bergeming, kini menatap Maya. Secercah harapan ditanding dengan impian, kini justru keduanya datang bersamaan. Apakah ini sebuah kebetulan?

__ADS_1


Jika kau memilih jalan baik untuk melepaskan diri dari neraka ini, aku siap menebusmu, Maya. Barangkali dosaku lagi hina dirimu, bisa aku tebus dengan penebusan dirimu dari sini.Ya Tuhan, aku harap ini benar-benar jalan awal yang terbaik.


Ditya membatin pelan.


"Hei, sayang. Kau yakin? Kau sedang membercandai Mami?" tanya Jovita kemudian.


Maya adalah aset besar bagi Jovita. Wanita itu tak bisa kehilangan Maya begitu saja. Selama ini, tak sedikit para tamu yang menginginkan Maya dan berniat menebusnya, tetapi Jovita menolak, tentunya.


"Aku yakin, Mam. Maaf," hanya itu yang bisa Maya katakan.


Tatapan matanya terkunci pada manik Jovita yang penuh keterkejutannya. Tetapi sayangnya, Jovita tak akan melepasnya begitu saja.


"Tidak bisa. Kau sudah terikat disini, selamanya," ungkap Jovita kemudian.


"Kenapa bisa begitu? Semua hutangku pada Mami sudah lunas lama, bukan?" tanya Maya.


Ibu muda satu anak itu sudah menduga, Jovita akan menentang keras keinginannya. Ingin lepas dari wisma pelacuran ini, sama halnya dengan hendak menggapai bulan. Sulit dan tak mungkin. Hanya saja, Maya tak patah semangat dan mewajibkan dirinya untuk mencoba.


"Ya, kau memang benar. Tetapi semenjak kau memutuskan untuk hidup di tempat ini, sejak itu juga kau akan tetap bekerja di tempat ini," ungkap Jovita tenang.


Dengan gerakan anggun, Jovita meraih gelas yang ada di meja depannya, menyesap minumannya, dan menatap Maya angkuh.


Namun bukan Maya namanya jika mudah menyerah. Wanita keras kepala nan pendirian kuat itu, tak akan bersedia kalah meski dalam situasi susah.


"Aku tetap tak akan bertahan di rumahmu ini, Mam. Terserah kau mau mengatakan apa. Aku akan membayar nominal yang memang kau tetapkan untuk menebus diriku," ungkap Maya tak mau kalah.


"Tetapi nominalnya sangat besar, Sari," ungkap Jovita.


"Aku yang akan menebusnya, sebesar apapun nominalnya," ungkap Aditya tiba-tiba, yang berhasil mengundang sorot terluka dari tatapan Maya.

__ADS_1


"Aku tak Sudi!" seru Maya dengan lantang.


**


__ADS_2