
Semilir angin terasa sejuk menyapa kulit. Sisa-sisa gerimis masih memberikan aroma tanah basah yang khas. Seperti aroma cinta dan luka lama, masih membekas hingga kini.
Ada sejumput luka membara yang masih tak padam hingga kini. Baranya, kian menyala seolah hendak membakar segala maaf, tak tersisa lagi tandas.
"Jangan pernah bertanya seberapa kuat seorang Maya bertahan seorang diri hingga kini, Dokter Aditya. Tidak gila saja, menjadi sebuah keberuntungan bagi jiwa dan jasmaninya," ucap Maya pertama kali, ketika dirinya berada di sebuah tepi laut.
Sejak perdebatan beberapa menit lalu, Ditya tak memiliki pilihan lain selain membawa Maya pergi dan sedikit memberi ketenangan padanya. Pesisir pantai menjadi pilihan Ditya. Matahari juga tak terlalu terik pagi ini.
"Aku juga nyaris gila saat itu, Maya. Kau tak tahu, bagaimana saat aku mendengar kabar tentangmu, setahun setelah kau diusir dari kampung. Kau juga tak tahu, Maya, aku mencarimu membabi buta, menyusuri setiap sudut dari desa ke desa. Sherla yang bercerita padaku, kau hamil anakku. Saat itu, kau pasti telah melahirkan Gavin tentunya," cerita Ditya, seraya senyum getir terbit di bibirnya yang seseksi dulu.
"Penderitaan dirimu, tak ada apa-apanya dibanding dengan deritaku, Ditya. Kau masih bisa hidup enak, masa depan terjamin, kebutuhan terpenuhi, dan makan gizi yang cukup. Sedang aku, aku harus terlunta-lunta, mencari makanan sisa dan mengoreknya di tempat sampah. Dalam kondisi melahirkan hingga menyusui, aku kerap kali tak makan. Itulah sebabnya, Gavin terlahir prematur kala itu,"ungkap Maya tak kalah getir.
"Jika pada akhirnya kita berpisah hanya akan saling menyakiti, mengapa tidak bersatu saja? Demi Gibran, Maya. Kau dan aku, kita sama mencintai, sama menyayangi, sama mendamba dan menggilai. Apa susahnya jika kita turunkan ego dan ambisi .... " Kalimat Ditya terhenti, ketika dengan cepat Maya menyelanya.
"Dan kau akan mengkhianati pernikahan dengan Citra? Citra sudah kau nikahi dan disaksikan oleh Tuhan, sampai hati kau meninggalkan dia demi sampah sepertiku?" Maya menimpali dengan suara tajam.
"Tetapi aku mencintaimu," ungkap Ditya, menatap Maya dari samping.
"Hahahaha ... hahahaha .... " Maya tertawa kencang, cukup lama hingga menyebabkan matanya berair, "kau mencintai aku? Kau bahkan mengatakannya sembilan tahun silam, dimana kau menanam benihmu di rahimku. Setelahnya, kau pergi entah kemana. Jangan lagi membodohi aku, Ditya. Aku tak selugu sembilan tahun silam. Pahit getir kehidupan, telah mengajariku banyak warna gelap."
Hening. Penolakan Maya, Ditya sudah memperkirakan.
Dulu Ditya berpikir, ia mungkin bisa meluluhkan, dan menghancurkan dinding pertahanan Maya. Namun seiring berjalannya waktu yang diiringi luka dan air mata, dinding itu justru kian kokoh, tak memberi kesempatan Ditya untuk dapat menaklukkannya.
"Tidak adakah maaf untukku?" Ditya masih menatap Maya lekat, seolah tak ingin kehilangan wanita itu.
"Aku tak bisa memaafkan. Jadi jangankan kembali, memaafkan pun tidak. Sembilan tahun bukan waktu sebentar aku menjalani hariku disertai dengan luka dan air mata," jawab Maya tegas.
__ADS_1
Ditya bungkam, menelisik kondisi hatinya yang seolah lebur.
"Aku ingin pulang. Pulanglah sendiri, aku akan mencari transportasi umum untuk mengantarku pulang," ujar Maya. Wanita itu terlalu lelah, bila harus berdebat lagi dengan Ditya.
Dan lagi, Gavin sebentar lagi pulang dari sekolah. Maya sudah berjanji untuk menjemput anak itu, dan juga berjanji untuk tak terlambat.
"Biar aku antar," ungkap Ditya yang sudah mulai bangkit.
"Tak usah. Aku bisa sendiri," jawab Maya tenang.
"Aku memaksa," Ditya tetap memasang mode pemaksaan.
Pada akhirnya, mau tak mau Maya tetap diantar oleh Aditya. Bila membantah, wanita itu bisa dipastikan akan kembali debat dengan Dokter itu.
**
Menerima fakta, bahwa sang putri adalah seorang pelacur, percayalah itu tak mudah. Bagi sebagian orang, mungkin itu biasa saja, tetapi tidak bagi Fatma, yang mana kehormatan, Marwah dan martabat wanita di atas segala-galanya.
Mengapa hidupnya tak pernah merasakan sukacita?
Mengapa selalu ada banyak luka sejak ia muda dulu?
Mengapa hidup miskin lagi kekurangan, membuatnya harus memakan hasil dari putrinya jual diri?
Berkali-kali, wanita paruh baya itu mengucap ampun pada sang pencipta, agar hatinya tetap seluas samudra, dan setegar karang.
Lamunan wanita itu buyar, ketika sebuah ketukan pada pintu rumahnya, berbunyi. Mungkin Maya dan Gavin telah pulang. Anehnya, bila Maya yang datang, tak mungkin putrinya itu akan mengetuk pintu.
__ADS_1
Dengan langkah gontai, wanita itu keluar kamar, menuju pintu rumah dan berusaha tampil baik-baik saja.
Mungkin yang datang tetangga baru, atau memang tetangga yang sudah lama menetap di daerah itu.
Batin Fatma.
Dan saat pintu terbuka, spontan mata wanita itu terbuka lebar.
Adi Yoga Darmadji berdiri dengan angkuh di depannya, menampakkan tatapan sendu pada raut wajahnya itu. Tatapan yang sejak dahulu Fatma rindukan, dan berbalik ia benci saat ini.
"Fatma .... " suara Adi berusaha untuk datar, meski sebenarnya lelaki itu tak mampu. Rindu, cinta, dan juga kasih seolah menyatu, namun Adi harus menahan emosinya itu.
"Untuk apa datang dan mencariku? Pulanglah. Jangan sampai Istrimu yang tirani itu menudingku sebagai wanita perebut suami orang!" ujar Fatma seraya hendak menutup pintu.
Sayangnya, dengan kuat lagi gagah, Adi menahan pintu agar tak tertutup untuknya.
"Sembilan tahun lebih aku mencarimu kesana kemari, setelah aku menemukan, kau akan mengusirku? Jangan harap, sebelum aku bisa bicara denganmu. Lagi pula, tak pantas kau memperlakukan tamu jauh seperti ini. Sikapmu baru saja, tak mencerminkan seperti Fatma yang aku cinta sejak dulu," sahut Adi dengan tak tahu malunya.
"Cinta? Cuih!" Fatma meludah, tepat di samping Adi sambil berkata, "Cinta macam apa? Sementara ketika istrimu menginjakku, menuding putriku yang tidak-tidak, lantas mengusir kami dari kampung tanpa perasaan, kau diam saja. Cintaku padamu telah mati, Adi. Dan juga putriku, bahkan lebih dari sekedar merana, sengsara lagi derita karena ulah putramu. Bahkan langit, dan bumi sekalipun tak akan mampu menebus dosa putramu pada putriku dan anak yang dilahirkannya. Bahkan samudera dan air dari dua puluh tujuh sumber suci tetap tak akan sanggup mencuci luka hati putriku dan aku!" Fatma berteriak lantang, secara spontan tanpa peduli bilamana nanti ada orang yang mendengar.
Sebuah rahasia besar, tak sanggup lagi Fatma tahan seorang diri.
"Ap ... apa?" Adi mencicit lirih akibat syok.
"Apa? Kau masih bertanya apa? Lucu sekali. Kau pikir putriku datang ke rumahmu untuk meminta tanggung jawab Ditya, itu sekedar lelucon. Bahkan aku selalu meminta pada tuhan, agar memberi aku dan putriku kesempatan, untuk memberi hukuman pada istrimu yang congkak, sombong lagi arogan itu!" Fatma menatap penuh luka, pada lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu.
**
__ADS_1