
Sebuah rumah yang paling besar nan megah di kampung Maya, adalah rumah yang paling mewah nan menonjol diantara rumah-rumah yang lain. Gavin berjalan senang, sebab dirinya datang untuk yang kedua kalinya ke tempat ini.
Seolah bertolak belakang dengan kehidupan di masa lalu yang kekurangan kasih sayang Ayah, ditinggal ibunya bekerja dan hanya berdua dengan sang nenek, kini Gavin justru kebanjiran kasih sayang dari keluarga Darmadji.
Baru saja masuk ke dalam ruang tamu, Adi dan Nayah menyambut penuh sayang kedatangan Gavin.
Tawa renyah dan bahagia yang tak terukur, terdengar mengalun merdu di ruang tamu. Hal itu tentu membuat Sherly merasa kesepian sendiri di dalam kamarnya. Wanita itu enggan keluar dari kamar, dan lebih memilih untuk mengurung diri. Sesal tak dapat terelak, maka, Sherly seolah terlihat seperti mayat hidup sebab menurunkan siksa pada diri sendiri.
Penyesalan tak terobati, Sherly seperti wanita yang depresi sebab kehilangan arah. Entah apa yang dilakukan wanita itu sendiri dalam kamar, namun, semoga saja tak ada petaka lagi yang terjadi dalam hidupnya.
"Gavin suka ini?" tanya Nayah di ruang tamu, saat Gavin baru saja duduk di pangkuan Aditya. Bocah lelaki itu, tak sedikitpun jauh-jauh dari sang Ayah.
Kesempatan langka, tentu saja dimanfaatkan Gavin untuk semakin dekat dengan Ayah. Anak itu juga tak lagi irit bicara, namun, justru lebih banyak bercengkrama dengan Sherla dan Aditya.
"Suka. Tapi, kalau Ibu biasanya di masak saja, bukan dibuat minuman. Itu wortel, kan?" tanya Gavin saat melihat Nayah memberikannya segelas jus wortel. Meski tidak tahu pembuatannya, namun Gavin bisa menebak dari aromanya.
"Ya, pintar sekali. Kalau begitu, biar ini untuk Ayah saja. Gavin sudah sarapan?" tanya Nayah kemudian.
"Sudah tadi," jawab putra Maya itu seraya tersenyum.
"Makan sama lauk apa tadi?" kali ini sherla yang bertanya dengan cepatnya. Gadis itu seolah lupa, dengan penderitaan sang kakak perempuan.
"Ataym goreng dan sayur bayam kuah bening. Itu loh, ada jagung-jagungnya yang diiris," jawab Gavin.
"Bagus. Hindari makanan pedas karena lambungmu masih terlalu muda. Kakek akan buatkan kau layangan jika kau mau, dan kita akan berlibur di lapangan kampung diujung jalan sana, untuk bermain bersama di akhir pekan. Jangan lupa untuk minta izin dulu pada Ibu," kali ini Adi Darmadji yang bicara.
Antara Adi, Sherla dan Nayah, mereka saling berebut kesempatan untuk bicara dengan Gavin. Gavin layaknya pangeran yang menjadi rebutan semua wanita.
__ADS_1
"Benarkah, Kek? Gavin mau. Tapi, apa Ayah akhir pekan depan bisa pulang?" tanya Gavin menatap Ditya.
"Ayah akan usahakan. Semoga saja tidak ada pekerjaan mendadak," jawab Ditya.
Berbagai macam yang tersaji di atas meja, membuat mata Gavin merasa dimanjakan. Ada coklat, beberapa macam permen, juga ada buah-buahan segar disana.
"Ayah, kenapa dulu Ayah dan Ibu bertengkar? Bukannya membesarkan Gavin, harusnya Ayah dan Ibu harus tinggal bersama?" tanya bocah sepuluh tahun itu.
Tangan mungilnya membuka permen yang terbalut plastik. Hati anak itu merasa sedikit lega, ketika bertanya akan banyak hal yang dulu tak mampu ia tanyakan pada sang Ibu.
"Terkadang, ada beberapa masalah orang dewasa, yang tidak boleh diketahui oleh anak-anak. Tolong mengerti. Jika nanti Gavin dewasa, Gavin akan tahu dengan sendirinya. Intinya, Ayah yang bersalah," jawab Ditya tanpa pikir panjang.
Sebagai lelaki sejati yang memiliki kisah kelam di masa lalu, Ditya tak akan segan mengakui bahwa dia yang bersalah. Andai kelak Gavin dewasa dan menghakimi dirinya, Ditya tak akan marah. Ia sadar, memang ia berhak mendapatkannya.
"Baiklah, baiklah. Jangan bahas itu dulu. Tante Sherla memiliki hadiah untuk Gavin. Hadiah ini memang khusus untuk Gavin, jika Gavin boleh main ke sini. Seringlah main kesini jika Gavin ingin hadiah dari Tante Sherla," ujar Sherla tersenyum lebar. Ia tak suka menikmati suasana sendu pagi ini.
Sherla berlalu menuju kamarnya. Sekilas, ia menatap kamar Sherly yang tertutup rapat. Entah apa yang Sherly lakukan di dalam kamar. Yang jelas, Sherla paham jika Sherly butuh waktu untuk memulihkan hatinya yang terluka.
Dunia terkadang tegas memberikan hukuman. Tak harus menunggu masa di neraka untuk menghukum seseorang. Bahkan kala dunia masih tegak menopang para makhluk, alam semesta pun siap untuk menghakimi.
Teringat akan bagaimana dulunya Sherly menghakimi Maya, hingga tega mengusir Maya kala itu yang saat mengandung. Kini, karma balik menyerangnya dengan sangat kejam. Begitulah hukum alam bekerja. Tak akan ada yang bisa luput dari siksa akibat dosa.
"Bawa ini, untuk sekolah nanti. Jangan lupa, katakan pada Ibu, akhir pekan depan Kakek mengajakmu untuk bermain bersama," ujar Sherla, seraya memberikan sebuah paper bag berisi tas sekolah, dengan sebuah logo dari brand ternama.
"Wah, ini tas mahal. Terima kasih, Tante," ungkap Gavin dengan senangnya.
"Oh ya, sayang, Ayahmu tadi membelikanmu pakaian dan beberapa pasang sepatu, semoga cocok. Kemarilah, Nenek ingin memelukmu," pinta Nayah dengan pelan. Tanga wanita itu merentang, memeluk Gavin penuh sayang.
__ADS_1
"Terima kasih, Nek," ujar anak itu dengan senangnya.
"Oh ya, bagaimana jika Ayah pulang saja ke rumah Ibu? Pasti Ibu tidak akan bisa kemana pun lagi," sambung Gavin, membuat semua orang bungkam.
Adi dan Nayah saling pandang, merasa bahwa permintaan anak itu sungguh sanggup membuat Maya bisa mengikat leher Ditya.
"Ibu tidak mau menikah dengan Ayah. Kalau Ibumu mau, Ayah akan bersedia pulang kemanapun asalkan dengan Ibu," jawab Ditya.
Pikiran Ditya mulai licik. Terbersit niat, memanfaatkan Gavin untuk mengikat Mata dengan pernikahan.
"Baiklah. Gavin akan bujuk Ibu pelan-pelan," jawab Gavin kemudian.
Tawa canda terdengar begitu hangat di dalam ruang tamu. Nayah yang sudah mulai membaik, kini juga disertai dengan penerimaan keadaan dengan hati lapang. Bolehkah bila seandainya, Nayah egois dan menginginkan jika Gavin dan Maya pulang ke rumahnya?
Dalam senyum, Nayah tengah memikirkan cara untuk membujuk Maya dengan gencar.
"Ya sudah, Sherla, tolong panggilkan Sherly agar segera ke meja makan. Dia tidak boleh terus menerus merepotkan asisten rumah tangga, untuk mengantar makanan ke kamarnya. Katakan sekarang sudah melewati waktu sarapan," perintah Nayah lembut, pada putri bungsunya itu.
"Baiklah, Bu," jawab Sherla tanpa membantah sama sekali. Wanita itu segera berlalu, meninggalkan ruang tamu dengan langkah pelan menuju kamar Sherly.
Sayang seribu sayang, pintu tak juga terbuka meski berkali-kali Sherla mengetuk pintu. Tak sabar, Sherla segera berlari memanggil Ditya, meminta Ditya untuk mendobrak pintu kamar Sherly.
"Sherly .... " Teriak semua orang, ketika di dapati mereka, Sherly tengah tergeletak di lantai, dengan bersimbah darah yang berasal dari perutnya.
Bunuh diri dengan menusuk perut sendiri, adalah jalan pintas Sherly membuang rasa sakit hati.
**
__ADS_1