Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Murkanya sang Ibu


__ADS_3

Tahukah kau definisi sakit hingga merasa nyaris mati?


Maya kini benar-benar merasakannya, secara nyata. Menjadi wanita yang berkecimpung di dunia malam, menjadi wanita penghibur dengan tarif mahal, menjadi pelacur dengan banyak penghakiman untuknya, bukanlah sesuatu yang Maya cita-citakan sejak dulu.


Maya tak akan menepis jika dirinya dicap sebagai wanita pelacur. Hanya saja, mendengar langsung dari mulut Aditya, membuat Maya merasakan luka yang lebih membunuhnya.


Andai tak ada Gavin di dunia ini, mungkin Maya tak akan berpikir panjang untuk memilih jalan pintas, yakni kematian. Persetan dengan dosa, Maya tak akan peduli lagi dengan yang namanya dosa. Dosanya sudah menumpuk selama bertahun-tahun, berkembang dan membuatnya menyandang gelar hina dina.


"Ibu, Ibu kapan berhenti menangis?" tanya Gavin takut-takut. Anak itu tahu, betapa terlukanya sang Ibu.


Andai Gavin dewasa, anak itu bersumpah akan menghajar mulut Ayah hingga lebur tak berbentuk. Dia yang telah membuat sang Ibu menangis, Gavin tak akan memaafkan.


"Maaf, Nak. Ibu berjanji tidak akan menangis lagi," jawab Maya kemudian.


Wanita itu mengambil tissue yang terletak di atas nakas untuk membersihkan air matanya.


"Jangan pedulikan Ayah. Ayah bicara begitu karena Ayah memang tidak sayang pada kita. Jangan khawatir, Gavin yang akan melindungi Ibu dari sekarang. Ayah atau siapapun, mereka tidak akan bisa menyakiti Ibu lagi," ujar Gavin.


Hati Ibu mana yang tak teriris hatinya? Bahkan dalam situasi begini, Gavin memikirkan kebahagiaannya. Rasa-rasanya tidak pantas bila Gavin menjadi anak Aditya yang sombong itu.


"Terima kasih, sayang. Ibu akan selalu bahagia setelah ini. Ingat, apapun yang terjadi di masa depan, Gavin jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Ibu," pinta Maya, dengan menguatkan dirinya.


"Gavin janji pada Ibu," ungkap Gavin kemudian.


Sebongkah gumpalan merah dalam dada Maya, mendadak mendapat kekuatan tiba-tiba. Maya tersadar, ada Gavin yang harus diperjuangkan di masa depan.


Aku tak boleh egois. Gavin harus bahagia di masa depan. Anak ini akan lebih sukses jika aku mendukungnya penuh. Hanya karena binatang yang bernama Ditya, aku tak boleh menyerah karena sakit hati. Aku harus bangkit dan melupakan Aditya sebisaku.

__ADS_1


Batin Maya seraya meratap pilunya sebuah hinaan dari Aditya.


**


"Jangan pernah lagi mengganggu Maya, Tuan. Siapapun dirimu, apapun gelar yang melekat pada ragamu, kuharap kau tak lagi menyakiti wanita, terlebih, dia adalah wanita yang telah melahirkan anakmu," ujar Reno datar, ketika Maya telah berlalu begitu saja dari sana. Tak hanya itu, keduanya juga seolah saling mengintimidasi, dan tak ada yang bersedia mengalah.


"Kau tak berhak mengaturku," Jawab Ditya dengan berani, dan menatap Reno penuh tantangan.


"Jujur saja aku baru mengenal Maya. Kurasa dia orang baik meski ia memiliki sejarah buruk di masa lalu seperti yang kau katakan. Tetapi jika menurutku, kau tak pantas mengatainya pelacur, sekalipun itulah kenyataannya. Wanita yang kau katakan pelacur, dia telah melahirkan darah dagingmu. Aku tak tahu apa yang membuatmu sebegitu kejam pada Maya, tetapi Kurasa, kau akan menyesalinya suatu hari nanti," ungkap Reno, yang sudah memasang ancang-ancang untuk menghajar Ditya.


"Kau hanya tak tahu bagaimana tentang Ma .... " Ditya tak lanjut berbicara, ketika sebuah suara lantang, berhasil menghentikannya. Sungguh, kecemburuan rupanya telah berhasil membuat Aditya lupa diri dan tak mampu mengontrol ucapannya. Cintanya pada Maya begitu besar, hingga menumbuhkan kecemburuan yang besar pula.


"Tutup mulut kotormu itu, Aditya Darmadji! Sekali lagi kau lanjutkan dan mengatai putriku pelacur, akan aku luluh lantakkan keluarga Darmadji hingga ke tulang tanpa sisa! Kau pikir, mulut kotormu itu bisa membeli hati putriku? Mari buktikan dan katakan bahwa Maya adalah pelacur, di depan mataku!" Seru Fatma tiba-tiba, dengan suara lantang.


Baik Reno maupun Aditya bungkam, tak ada yang berani menyahuti, apalagi bersuara.


Ibu mana yang hanya akan diam saja, ketika putrinya harus menjadi bulan-bulanan lelaki yang telah menghancurkan hidupnya?


Fatma juga kini masih marah akan fakta mengenai Maya, namun ia tak akan sampai hati bila harus menggores hati putrinya dengan demikian kejam.


"Ayo Aditya Darmadji. Aku telah berdiri di hadapanmu, datang dengan niat menantang keberanian dirimu sekali lagi. Katakan, ulangi sekali lagi, apa yang tadi kau katakan terhadap putriku!" seru Fatma untuk yang ke sekian kalinya.


Beberapa orang datang, memandang dan menatap Fatma dengan perasaan ingin tahu, dan kini mereka pasti akan membicarakan Fatma dan Maya hingga habis tak tersisa.


"Dia pelacur, yang sudah menghancurkan kehormatannya, dengan mendekati lelaki untuk mendapatkan uang. Begitu kan, Kenya .... " Dan Ditya tak lanjut bicara, ketika sebuah bogem mentah menghantam wajahnya.


Bugh

__ADS_1


Bugh


Bugh


Berkali-kali Reno menghajar Ditya tanpa ampun. Bahkan lelaki itu mungkin akan menusuk Ditya, jika saja saat ini ada sebuah benda tajam di hadapannya.


Ada secuil rasa tak terima, ketika Maya yang baru Reno kenal itu, harus terhina sedemikian rupa oleh mulut Aditya.


Meski tak tahu awal mula ceritanya, namun Reno memiliki sebuah keyakinan, bahwa Maya adalah wanita baik-baik. Rasa itu tiba-tiba muncul begitu saja, dan bahkan Reno lupa bahwa ia bisa menerima hukuman akibat menghajar Aditya.


"Cukup, nak Reno. Maaf telah membuatmu terlibat. Mulai sekarang, jauhi putriku. Maya bukan wanita baik-baik. Carilah wanita sempurna dengan gelar terhormat. Ibu harap, kau tak usah berteman dengan Maya," ujar Fatma dengan suara bergetar lagi lantang. Lihatlah, bahkan daster yang wanita itu kenakan menyincing sedikit ke atas.


Tidak perduli banyak pasang mata yang menonton dirinya yang digulung emosi, Fatma telanjur terluka hingga lupa diri. Menurutnya, untuk apa menyembunyikan fakta, jika Ditya sudah mengumbar sendiri dan berteriak lantang di muka umum, bahwa Maya adalah seorang pelacur?


Terlanjur basah, sekalian saja berenang.


Tatapan Fatma lantas menuju Aditya yang terpaku. Tubuh lelaki itu menegang, dengan syaraf otot yang mengeras. Sedih tentu saja, sebab penyesalan besar menghampirinya secara perlahan.


"Kau sudah puas sekarang, Aditya? Selamat," Fatma bertepuk tangan dengan tempo lambat, menelisik reaksi Aditya yang tak lagi membantahnya, "Aku ucapkan selamat padamu agar kau puas. Tetapi lihat apa yang akan terjadi setelah ini pada keluargamu. Jangan salahkan aku, jika keluargamu aku buat porak poranda. Kau pikir aku tak punya senjata? Akan ku pastikan, Ibumu yang angkuh lagi arogan itu, akan kehilangan tanduk dan taringnya setelah ini. Aku harap kau tak mengemis padaku dan Maya, juga Gavin!"


Fatma berbalik dan berlalu pergi, meninggalkan banyak mata yang dibuat bertanya-tanya, tentang apa yang terjadi dan bagaimana awal mulanya.


Wanita itu melangkah, layaknya binatang yang terluka, meninggalkan Aditya dengan hati hancur berkeping, dan menyimpan sumpah serapah dalam hatinya.


Inilah takdir. Aditya harus menanggung dan meratap kehancuran keluarganya sebentar lagi, sebab murka seorang Ibu yang terluka, tak ada ucapnya yang tak menjadi nyata.


**

__ADS_1


__ADS_2