Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Perusuh di pagi Hari.


__ADS_3

Sebuah kebahagiaan tersendiri, kala akhir pekan begini tentunya membuat Aditya memiliki banyak waktu untuk mengunjungi sang buah hati, dan juga pujaan hatinya. Ada rindu yang demikian membuncah dada, dan sanggup membuat Aditya lebih berseri pagi ini.


Sebegitu cerianya, bahkan seumur pernikahannya bersama Citra, Citra tak pernah menemui Ditya sebahagia ini. Meliput kenyataan ini, Citra kembali tertampar.


Tak ada cinta untuknya. Tak ada ketulusan se-berharga ini untuknya. Sungguh, sebuah keberuntungan bagi Maya sebab telah berhasil menggenggam hati Ditya seutuhnya.


Andai boleh sedikit saja egois, Citra ingin sekali bertukar posisi dengan Maya. Hanya saja, Citra sendiri bergidik, belum tentu ia bisa menjalani hidup dengan jalan berkelok penuh liku.


"Kau mau bawa apa lagi, Mas? Apa perlu aku belikan camilan kesukaan anak untuk putramu, Gavin?" tanya Citra. Wanita itu membantu Ditya memasukkan barang bawaan -termasuk mainan dan pakaian untuk Gavin- ke dalam mobil.


"Semua sudah, di kantung kresek berwarna putih di depan, semua makanan. Entah, aku tak tahu Gavin akan suka atau tidak. Aku akan mencari tahu nanti, makanan kesukaan dan juga yang tak di sukainya," jawab Ditya dengan full semangat.


"Adakah lagi yang ketinggalan?" tanya Citra lagi untuk memastikan.


"Kurasa tidak. Semua sudah masuk. Terima kasih atas bantuannya pagi ini, Citra. Kau sungguh akan berada di rumah saja? Jika kau merasa kesepian, aku akan mengantarmu ke rumah temanmu, atau ke rumah Bibimu," ungkap Ditya.


Selama berada di ibukota, satu-satunya sanak saudara yang paling dekat dengan Citra adalah Bibi Santi.


"Tidak. Aku akan menghabiskan waktu di rumah saja untuk bereksperimen kue. Hati-hati di jalan, Mas. Bawa pulang kabar baik. Semoga Maya bersedia menerima lamaranmu. Aku tak sabar menunggunya," jawab Citra seraya merapikan tas dan juga barang belanjaan Ditya di dalam bagasi mobil.


Seraya menahan tangis, Citra membatin, mana mungkin ia akan menikmati pemandangan kebahagiaan dan kemesraan Maya dan Ditya nanti? Hatinya tentu sudah akan hancur tak bersisa. Itulah sebabnya, sebisa mungkin Citra mengubur banyak impian dan harapan sedini mungkin.


Sakit?


Jangan tanya bagaimana rasanya. Sakitnya luar biasa menyiksa, dan mampu membuat Citra ingin menangis saja. Hanya saja, Citra tak mau terlihat kacau dan hancur lebih dalam di mata Ditya.


Semua keputusannya untuk melepas Ditya, sudah bulat. Citra ingin melihat Ditya bahagia, dan berakhir menemukan belahan jiwanya, meski Citra sendiri harus menumbalkan perasaan yang begitu dalam pada suaminya itu.


Janji sehidup semati, nyatanya harus kandas. Talinya mulai rapuh dari saat Citra mengetahui tentang masa lalu Maya dan suaminya.

__ADS_1


"Baiklah. Doakan saja yang tebaik untukku dan Maya ke depan," ungkap Ditya tulus.


Selepas Citra berdiri, Ditya menatap netra sendu Citra. Ditya tahu, Citra sangat rapuh saat ini. Tetapi tak dipungkiri, Ditya tak mampu menjanjikan banyak hal untuk istrinya itu.


"Maaf, Citra. Aku harap kau mengerti dan bisa mengetahui bagaimana cintaku pada Maya. Terima kasih sudah tulus dan memberiku kesempatan untuk mengejar cintaku. Aku janji padamu, aku akan dukung apapun yang jadi keputusanmu di masa depan. Tetapi ingat, kau juga berhak bahagia," ujar Ditya.


Tak ada yang mampu Citra ucapkan. Citra hanya mampu mengangguk, dengan mata yang terus berkaca-kaca.


Sebuah kecupan lembut Ditya hadiahkan pada Citra di keningnya. Wanita itu benar-benar akan merindukan perlakuan lembut lagi hangat nan tulus dari Ditya nanti, bila masa perpisahan itu tiba.


Dengan hati yang berdenyut linu penuh merana, Citra melepas kepergian suaminya. Andai tak ada Gavin diantara Ditya dan Maya, Citra tak akan mengizinkan suaminya mengejar cintanya.


**


Pagi ini menjadi agenda rutin bagi Gavin dan Maya, untuk bersiap menuju ke pantai lagi. Keduanya telah tiba diambang pintu, ketika suara seseorang terdengar menyapa Maya dengan lembut.


"Selamat pagi, Maya, selamat pagi, jagoan," sapa Reno.


Lelaki itu lantas menatap Maya dan Gavin bergantian.


"Pagi, Reno. Kau tak ada agenda pagi ini?" tanya Maya kemudian.


"Tak ada. Kupikir aku butuh teman selepas sarapan. Kau dan Gavin, mau kemana?" tanya Reno pada Maya yang mengenakan setelan santai, begitu pula dengan Gavin.


"Gavin ingin kembali bermain ke pantai. Ibu juga sedang menjaga rumah. Jika kau mau ditemani Ibu, masuk saja, aku akan panggilkan Ibu. Tetapi jika kau mau berlibur sederhana ala-ala kami, aku tak keberatan kau ikut," jawab Maya panjang lebar.


"Baiklah, kurasa aku akan ikut kalian saja. Lagi pula Bu Fatma, sepertinya istirahat," ungkap Reno, seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling yang tampak sepi.


"Baiklah, aku akan membawamu. Tetapi ingat, kita sebagai tetangga, sekaligus teman saja, oke?" tanya Maya kemudian, untuk memastikan.

__ADS_1


Senyum merekah di bibir merona miliki Reno. Lelaki anti rokok itu terlihat manis di mata Maya. Namun, biar bagaimana pun, tak ada yang sanggup menggeser posisi Ditya di hati Maya, termasuk Reno sekalipun tanpa Maya sadari.


"Wah, terima kasih banyak," ungkap Reno lagi.


Keduanya lantas berjalan kaki, dengan Gavin yang berada di depan, dengan membawa sekantung media permainan pasir pantai.


"Maya, kenapa kau lebih banyak diam semenjak kita berjalan bersama?" tanya Reno, ketika perjalanan sudah mencapai separuh jarak.


"Tak ada, Reno. Aku memang begini orangnya," jawab Maya kemudian, "aku memang begini. Jika kau ingin bercanda, bolehlah, tapi jangan sampai terbawa perasaan."


Reno tergelak seraya berkata, "aku ingin berbagi banyak hal denganmu, kau mau menjadi temanku?" teman hidup dan teman segala hal untukku, Sambung Reno dalam hati.


"Tentu saja. Ngomong-ngomong, apakah kau sudah memiliki kekasih?" tanya Maya kemudian.


"Ya, aku memilikinya. Tetapi sekarang Tuhan telah merangkulnya kembali. Dia sudah pergi beberapa waktu lalu," jawab Reno santai.


"Oh, maaf," kegugupan melanda Maya kali ini, "maaf sudah membuatmu mengingat kembali kekasihmu yang tiada."


"Tak masalah, Maya. Semua sudah menjadi garis Tuhan. Kapan-kapan, aku ingin mengundangmu, Ibu dan Gavin untuk makan malam. Kuharap kau tak menolak," ungkap Reno lagi. Ada banyak harapan yang coba tumbuh dalam hatinya, seiring dengan impian yang indah tanpa Reno sadari.


Belum sempat Maya menjawab, sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di samping Maya.


Mata ibu anak satu itu lantas terbuka dengan sempurna, saat sosok Ditya keluar mobil, dengan seraut wajah marah.


"Maya, kau mau kemana?" Ditya bertanya pelan, namun menatap Maya begitu tajam dan mengintimidasi, membuat Maya menciut seketika.


Sial. Di pagi yang cerah ini, mengapa harus ada perusuh yang datang dalam hidup Maya?


**

__ADS_1


__ADS_2