
"Lucu. Kedengarannya ini sangat lucu. Bahkan Ibumu yang tirani itu dulu pernah menendang bahuku hanya sebab ingin aku pergi dari rumahmu. Sekarang, wanita biadab itu ingin bertemu dengan Gavin-ku? Katakan padanya, aku tak akan sudi jika ia menyentuh anakku!" tandas Maya dengan kilat mata kembali murka.
Situasi kembali memanas, ketika Gavin yang baru saja tiba bersama Fatma dari jalan-jalan sore, masuk tanpa Maya duga.
"Masuk ke dalam kamar, Gavin. Ibu sedang kedatangan tamu tirani yang harusnya tidak ada di dekatmu," titah Maya pada Gavin, "Bu, bawa Gavin masuk," sambung Maya pada Fatma.
Gavin berlalu dengan langkah setengah berlari. Debar dada bocah lelaki berparas serupa dengan Aditya itu, begitu kencang bertalu. Segumpal darah mendidih sebab amarah yang menguasai, coba untuk Gavin tahan. Hati anak itu tak sekuat karang, yang tetap tegar di hantam ombak gejolak rindu terhadap makhluk yang harusnya ia panggil Ayah.
Adilkah dunia pada Gavin?
Hanya saja, Gavin tak bisa berbuat banyak, untuk bisa mendeklarasikan rindu, sebab ada seorang Ibu yang amat ia sayang tengah terluka.
"Kau harusnya lihat tatapan terluka putra yang aku lahirkan, Aditya. Dia sangat ingin sosok Ayah untuk bisa memeluknya, membawanya dalam surga keindahan keluarga kecil penuh bahagia. Karena Ibumu dan keangkuhannya, putraku harus tak merasakan apa itu kasih sayang Ayah. Sekarang, Nyonya Inayah yang dulu mengusirku dan sekali menendang perutku, ingin memeluk Gavin? Tak tahu malu!" seru Maya dengan berani.
Citra seolah kehabisan napas, kala membayangkan bagaimana bunga yang telah layu, harus di cabut paksa dari bumi yang menjadi dunianya. Diusir kala Hamil, di tendang perutnya dengan sangat mengerikan, lantas dipisahkan dengan sangat kejam dari pria yang sangat di cintai.
Bahkan andai Citra yang menempati posisi itu, Citra tak akan pernah sanggup menjalaninya. Bisa hidup hingga sekian lama saja, itu adalah sebuah kesuksesan hidup. Seperti Maya contohnya.
__ADS_1
"Itulah sebabnya kami datang, mbak Maya. Aku selaku putri Ibu, ingin meminta maaf, dengan segala kerendahan diri," Sherla tiba-tiba bangkit dan berlutut di kaki Maya, hingga membuat Maya terkejut seraya Sherla berkata, "Dosa Ibu memang tidak pantas untuk mendapatkan pengampunan. Tetapi tolonglah dengan segala kemurahan hati mbak Maya, tolong beri kesempatan pada kami untuk melintasi penebusan dosa, dan beri kami kesempatan untuk memperbaiki semua. Aku berjanji dan aku yang akan menjamin, Ibu akan berubah, mbak. Tolong, tolonglah kami, mbak Maya."
Tak ingin luluh begitu saja, Maya dengan segenap keras hatinya, menghindar dari Sherla yang bersimpuh di kakinya.
"Bangunlah. Aku tak ingin sama seperti Ibumu yang tirani. Pulang dan jangan lagi injakkan kaki di rumahku. Antara aku dan Aditya sudah berakhir sembilan tahun lalu, oh tidak, tepatnya nyaris sepuluh tahun. Jadi, jangan lagi usik hidupku dan anakku yang harusnya tenang dan bahagia. Aku tanpa suami dan Gavin tanpa ayah, sudah bahagia dengan versi kami," ucap Maya, seraya bergeser.
Hati yang semula memiliki cabang impian dan harapan, kini telah patah. Bahkan suara patahan dalam dada gadis itu, terdengar sendiri oleh telinganya.
Rasanya lara, namun coba untuk Sherla tetap pada pendirian untuk meminta maaf, demi sang bunda yang telah menghadirkannya ke dunia.
"Aku tahu, mbak Maya. Kami datang bukan untuk mengusik mbak Maya dan Gavin, tetapi kami datang .... "
"Pendam saja. Nyonya Inayah yang terhormat akan mendapatkan cucu segera dari rahim menantunya, wanita terhormat dengan segala kecerdasan dan derajat yang sepadan dengannya. Sedang aku? Aku tak lebih dari wanita lacur yang telah banyak di jamah pria di luaran sana. Jadi, urungkan niat Ibumu untuk berdamai denganku. Mungkin dari awal, Tuhan tidak menakdirkan aku dan keluargamu memiliki keterkaitan. Aku masih ingat betul, bagaimana kalimat hinaan menyakitkan tuan Aditya Darmadji yang terhormat beberapa hari lalu. Aku hanyalah pelacur yang menjerat lelaki dengan dalih cinta. Pelacur yang berjuang seorang diri, demi kelangsungan hidup si buah hati."
Aditya yang sejak tadi hanya diam, kini menatap Maya dengan sendu. Rasa bersalah, tak mampu membuat bibirnya berucap, meski hanya satu kalimat.
Baru kali ini, lelaki gagah itu merasa kalah dengan sendirinya. Kalah hanya dengan seorang wanita.
__ADS_1
"Andai nyawaku bisa dijadikan penebusan dosaku sembilan tahun lalu, dan dosaku beberapa hari lalu terhadapmu, Maya, aku akan terima. Tapi aku mohon, beri aku kesempatan untuk menebus semua dosaku, padamu dan Gavin. Aku mohon," iba Aditya, seraya mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"Tidak, Aditya. Sekali aku bilang tidak, itu tetap tidak akan merubah segalanya, termasuk keputusanku. Pergilah, aku tak mau bertele-tele dengan banyak basa-basi yang tak perlu," usir Maya kembali, tak peduli dengan banyak hal yang membuat dada Aditya kembali bergemuruh.
"Tunggu dulu, Maya. Mas Ditya dan aku, kami sama-sama akan berpisah sebentar lagi. Jadi, jangan menolak niat baik. Aku selaku wanita yang tidak tahu apapun tentang masa lalu kalian, hanya ingin perdamaian di antara kalian. Lebih dari dua tahun lamanya berumah tangga, aku tahu betul jika mas Ditya sangat mencintaimu," Citra bersuara kali ini, sebab sudah tidak tahan lagi.
"Tetapi selera Aditya Darmadji, bukan wanita lacur sepertiku. Pulanglah, sebelum kesabaranku benar-benar habis!" seru Maya penuh penekanan.
Bahu Ditya merosot, seraya melempar tatapan penuh luka berdarah pada sang pemilik cintanya.
"Kau dulu begitu santun, Maya. Kau dulu begitu bersahaja dan memiliki kelembutan yang tak dimiliki semua wanita yang aku temui sepanjang hidupku. Kenapa kau sekarang begitu membenciku hingga ke urat nadi? Separah apa lukamu? Izinkan aku menyembuhkan lukamu, meski aku sadar, bekas lukanya tak akan pernah hilang seumur hidupmu. Izinkan aku, berikan aku kesempatan itu, Maya. Sekali ini saja," pinta Ditya, mengiba dengan segala kerendahan hati, kerendahan diri, dan kerendahan egonya.
"Kau mau tahu separah apa lukaku? Kau yakin kau mau tahu sedalam apa lukaku, Ditya? Bahkan sedalam palung Mariana pun, tak akan sanggup menandingi dalamnya lukaku. Dulu aku pikir, menjadi pelacur adalah pekerjaan paling hina dina. Tapi nyatanya, menjadi pelacur cukup menyenangkan sebab aku bisa mencukupi hidup keluargaku tanpa merepotkan pria terhormat sepertimu. Pulanglah, Ditya. Jangan membuatku mengulangi permintaan yang sama satu kali lagi!" tandas Maya.
"Baiklah. Aku akan pulang. Tapi ingat satu hal, Maya. Aku akan kembali lagi, tak akan pupus harapan ini, tak akan sirna usaha ini, tak akan mati rasa cinta ini untuk bisa mendekapmu dalam serupa keheningan malam yang penuh dingin. Aku mencintaimu," sahut Ditya seraya bangkit, dan menatap adik dan istrinya.
"Sherla, Citra, mari kita pulang. Pintu hati Maya belum terbuka sekarang, tetapi akan aku pastikan, aku akan kembali untuk sebuah harapan dan kesempatan," sambung Ditya, yang membuat bulu kuduk Maya berdiri tak karuan.
__ADS_1
Senja kali ini, bahkan sinarnya sanggup membuat Maya memucat seiring dengan rasa coba ia bunuh mati.
**