Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Sebuah penawaran


__ADS_3

Dendam kesumat adalah penyakit yang sanggup menghancurkan dunia pemiliknya. Bukan hanya pemiliknya, bahkan objek sasaran pun tak kalah luluh lantak oleh dendam.


Seseorang memang kerap kali melakukan kesalahan tanpa disadari. Namun hal itu terkadang justru menumbuhkan sebuah dendam akibat sakit hati.


Berliku jalan panjang yang Fatma lalui semenjak masih muda dulu, cukup membuat Fatma sakit hati pada Adi. Tak peduli dulu cintanya begitu murni pada Adi, namun nyatanya sakit hatinya sanggup membunuh mati cintanya.


Andai dahulu Adi tegas dan memperjuangkan Fatma dulu menghadap kedua orang tuanya, mungkin Fatma tak akan membunuh mati cintanya sekalipun perjuangan mereka berakhir gagal.


"Mari duduk dan bicara, Fatma. Aku ingin tahu ceritanya," ujar Adi dengan suara pelan.


"Pergilah, aku tak berminat untuk duduk ataupun bicara denganmu!" hardik Fatma.


Suasana terasa hening. Fatma yang dulu sangat lembut keibuan, serta memiliki tatakrama dan menomorsatukan kesantunan, kini berubah menjadi wanita pemberontak dengan menolak bicara baik-baik.


"Sekali lagi kau menolakku, aku pastikan aku akan membuatmu .... " belum sempat Adi melanjutkan ucapannya, Fatma sudah lebih dulu menyela.


"Bertekuk lutut di kakimu? Begitu? Aku bahkan telah bersumpah, Adi, aku membunuh mati cintaku sejak kau bulatkan tekadmu menikahi Inayah. Pergilah, sebelum aku beritahu Inayah, bagaimana kau mengejarku selama .... " Ucapan Fatma terhenti, ketika sebuah suara mencicit diantara lantangnya suara Fatma.


"Ayah?" suara Ditya terdengar, dan berhasil membuat atensi dua orang yang saling terhubung di masa lalu itu, teralihkan.


Rasa yang sarat akan luka, diaduk dengan rasa terkejut, membuat Aditya tak percaya. Tetapi tak mungkin pula Ditya salah dengar, bahwa ayahnya telah mengejar-ngejar ibu Maya selama ini.


"Apa yang Ayah lakukan disini?" tanya Ditya kemudian, ketika Fatma dan Adi sama-sama bungkam.


Entah mengapa, melihat Aditya, kebencian Fatma pada keluarga Darmadji kian besar. Ada banyak amarah yang ingin Fatma salurkan, namun Fatma masih menahan diri. Tubuh wanita itu terasa terkunci. Sembilan tahun, Fatma memang selalu berdoa pada Tuhan, agar ia bertemu kembali dengan Aditya, dan menghajar putra Adi Yoga Darmadji itu.

__ADS_1


"Kau dan ayahmu, terlihat serasi sekali, Aditya. Jadi, kalian berdua datang sekadar untuk mengacau? Kebetulan sekali, aku ingin menyelesaikan masa lalu yang kalian tinggalkan begitu saja. Masuklah!" seru Fatma. Wanita itu membuka pintu rumahnya lebar-lebar.


Baik Adi maupun Ditya saling pandang, melempar tanya tanpa kata, dan saling menuduh yang tidak-tidak.


"Kita ada urusan yang belum selesai, Ayah. Ayah berhutang penjelasan pada Ditya," ucap Ditya dengan suara datar. Lelaki itu lantas masuk, mendahuluinya Adi yang hanya diam membisu.


Aditya sudah dewasa, tak ada yang perlu Adi sembunyikan dari putranya itu, meski semua masa lalunya mungkin hanya akan menyakiti Ditya dan Inayah. Baiklah, mungkin memang saatnya Aditya harus tahu semuanya.


Fatma menatap dua lelaki di depannya itu, tatapan yang penuh kebencian dan sulit di redam. Sulit dipercaya bagi seorang Adi Yoga. Dulu bahkan Fatma selalu menebar tatapan lembut dan tak pernah bertingkah. Selugu gadis khas kembang desa.


"Jadi, apa tujuan kalian berdua datang mencari Maya dan aku?" tanya Fatma dengan raut wajah tak bersahabat. Matanya masih syarat akan kemarahan. Tak sedikitpun tunduk pada kekuasaan dan harta yang dimiliki keluarganya Darmadji.


"Saya ingin meminta maaf pada Maya, dan ingin memperbaiki kesalahan yang dulu menyebabkan Maya menderita," jawab Aditya secara jantan.


"Kau juga harusnya tahu, Aditya. Kesalahan bukan sepenuhnya kau yang memiliki, meski awalnya memang kau yang mendalangi. Putriku sudah menderita selama ini, dan kurasa selepas kau meninggalkannya begitu saja, semua sudah selesai. Dengar, tak sepatutnya kau kembali mengusik hidupnya. Lukanya terlalu parah lagi dalam, dan lebih baik kau tak menampakan batang hidungmu lagi disini!" ujar Fatma kemudian.


"Tak bisa hanya ditebus dengan kata Maaf. Ingat satu hal, Ditya. Bahkan dua puluh tujuh lautan sekalipun, tak akan sanggup mencuci bersih hati Maya yang telah berlumuran darah. Pulanglah, kau dan ayahmu sama, tak ada beda yang membuatku mual dan ingin muntah saja," ujar Fatma.


Ditya kembali menatap ayahnya, mulai mengerti dan menebak kasar tentang masa lalu ayahnya, yang menyebabkan Fatma membenci keluarganya setengah mati.


"Tapi saya sudah menemui Maya dan meminta maaf, meski Maya menolaknya," ujar Ditya.


"Maafmu tak akan sanggup menebus dosanya pada Tuhan, Ditya. Karenamu, putriku harus menderita, menjalani hari seorang diri dengan kehamilan, bukanlah hal yang mudah untuk gadis belia seusianya dulu. Menjalani proses hidup penuh hinaan, fitnahan, cacian hingga makian, kau tak tahu bagaimana diamnya ayahmu saat putriku difitnah ibumu. Lagi, Maya harus bertahan hidup di tengah kejamnya semesta pada kamu, dengan melakoni pekerjaan sebagai pelacur. Pergilah, aku minta dengan hormat padamu, pintu keluar ada disana," tunjuk Fatma pada pintu keluar.


Namun ketiga pasang mata yang berada dalam ruang tamu rumah minimalis milik Maya, harus terpaku saat Maya berdiri disana, dengan seorang anak lelaki yang memeluk pinggang Maya erat

__ADS_1


"Maya?" gumam Fatma kemudian.


Maya hanya mengangguk. Setelah beberapa waktu, akhirnya Ibunya bersedia bicara dengannya, meskipun saat ada Aditya dan Ayahnya disana.


Tatapan mata Ditya beralih pada sosok nyata yang jelas matanya lihat. Putranya sudah sebesar ini, dengan ribuan rasa sakit yang menghujam dadanya secara tiba-tiba.


Gavin Elano Darma, si bocah yang selama ini ingin Ditya peluk, sedikitpun Maya tak memberi izin. Terlebih, kini Maya telah menarik putranya dan menyembunyikan wajah Gavin di belakang tubuhnya.


Jangan harap kau bisa mendapatinya bicara padamu, Aditya. Kau tak menginginkannya dulu, wajar saja jika aku tak mengizinkanmu memanggilnya sebagai putramu.


Batin Maya.


Adi syok di tempatnya. Meski awalnya Adi tahu jika Maya telah melahirkan darah daging Ditya, namun tahu dengan mata kepalanya sendiri cukup membuat batin Adi merasa terguncang.


"Bu, aku akan pergi dulu sementara dengan cucu Ibu. Lanjutkan bicaranya. Maaf, aku tak bersedia bicara apalagi bertemu dengan siapapun yang menjadi masa lalu Maya," ungkap Maya kemudian. Wanita itu lantas berbalik dan pergi, meninggalkan Ditya yang harus kembali menahan kecewa, tersebab Maya tak menginginkan dirinya.


"Kau dengan sendir, juragan adi? Ditya? Putriku tak Sudi menemui kalian. Pergilah, Maya dan aku akan selalu berusaha memaafkan kalian, asal kalian ... pergi dari ranah hidup kami. Percayalah, meski aku dan Maya tergolong orang tak berpunya, namun bukan berarti kalian bisa seenaknya melewati batasan kalian!" Seru Fatma, membuat Adi menelun salivanya yang terasa membulat.


"Tetapi cucu kita, maksudku ... cucumu dan cucu kita, butuh sosok orang tua lengkap, Fatma. Jadi jangan egois," ujar Adi datar, mulai tak suka dengan keras kepala Fatma yang kelewatan.


"Menjadi pelacur cukup membuat Maya menjadi kaya raya, juragan Adi. Bahkan ayah untuk cucuku saja, Maya bisa membelinya dengan uang haram hasil jual diri!" Fatma kembali membuat Aditya tersulut.


"Jika demikian, maka aku akan menawarkan diri pada Maya," timpal Aditya. Penawaran diri yang Ditya lakukan, Ditya sudah tahu akan risiko dan konsekuensinya.


"Sayangnya, aku berani bertaruh jika Maya tak lagi memiliki minat pada lelaki sepertimu," sahut Fatma tegas.

__ADS_1


Dua orang keras kepala, tengah berdebat dan tak peduli pada Maya yang pergi dengan meremas dadanya akibat perih.


**


__ADS_2