
Lantunan doa dari dalam sebuah kamar yang Maya tempati, terus berkumandang dari mulutnya yang mungil dan dengan suara lirih. Banyak mengeluh pada tuhan, Maya pikir raga dan batinnya sanggup menerima takdirnya. Nyatanya, Maya tak lebih dari wanita nista yang sulit mencerna apa yang Tuhan berikan.
Jovita, wanita ular itu datang dengan sesuka hatinya, melanggar perjanjian terdahulu, dengan mengatakan pada Fatma perihal pekerjaan Maya yang sesungguhnya di Ibukota.
Diam adalah pilihan terbaik. Marahnya seorang Ibu, tentu memiliki alasan kuat di dalamnya. Jangan tanya mengapa Maya memilih pergi dan menghindari amukan Fatma, karena Maya sadar, dirinya yang bersalah.
Ada baris luka yang selama ini coba Maya sembunyikan. Tetapi semua itu tentu memiliki efek tersendiri bagi Maya. Menyembunyikan sesuatu yang menyakitkan, tentunya menjadi sebuah tekanan besar.
Malam telah larut. Gavin kini bahkan terlelap dengan dengkuran halus khas Aditya. Ya. Maya bahkan masih hapal betul, bagaimana suara dengkuran halus Ditya sembilan tahun silam. Masa malam panas penuh gairah itu, Ditya terlelap disamping Maya, dengan memeluk Maya erat. Sayangnya, Ditya pergi selepas Maya bangun kala pagi buta menyapa desa.
Lagi, tatapan Maya pada gavin, diwarnai dengan kabut yang mulai mencair. Sakitnya luar biasa menyiksa, dengan banyak sayatan tak kasat mata dalam dada. Bisakah bila seandainya Maya memutar masa lalu saja? Maya hanya tak mau ditinggalkan Ditya.
Andai kau tak beristri, aku tak akan lebih sakit dari ini, Ditya. Tetapi ada hati lain yang tak mungkin aku sakiti. Tetapi mengapa, rasanya lebih sakit dari sebelumnya? Bukankah harusnya aku membencimu? Mengapa masih ada secuil harapan untuk kita bersama? Ya tuhan. Setelah semua luka yang kau torehkan, kau dengan kejamnya masih membayangiku dengan senyummu.
Dengan penuh sesak, Maya menekan dadanya untuk menghalau sesak. Tangisnya kian menjadi, saat ingat percakapan dirinya dengan Fatma beberapa jam lalu.
##
"Jangan pernah kau ajak aku bicara, Maya. Biarkan aku dulu dan beri aku waktu untuk menenangkan hatiku," Fatma masih tersedu dengan tangis berderai penuh lara.
"Terserah Ibu. Maya hanya ingin menyampaikan, bahwa tak ada pilihan lain untuk Maya saat itu. Jika ibu berkeras hati menyesal dengan semua keputusan Maya, Maya tak keberatan menerima hukuman dari ibu. Semua demi Gavin," Maya merendah, kembali menapaki kehancuran dalam hatinya yang seolah tak tersisa lagi.
##
Dunia memang panggung sandiwara dan arena permainan yang penuh manipulasi. Semesta seolah menggelandang Maya untuk menjadi seorang pelacur, namun juga seisinya menghardik dan menghakimi apa yang Maya lakukan.
Percayalah, menjadi seorang ****** bukanlah sebuah keinginan, menjadi seorang wanita malam bukanlah sebuah pilihan. Satu yang Maya pikirkan, Gavin harus selamat, apapun yang tejadi.
__ADS_1
Aditya Darmadji, lelaki itu sungguh bajingan. Sekali lagi, biadab. Bahkan Maya tak akan puas hati lagi ikhlas dengan apa yang ditya lakukan.
Bencana demi bencana. Neraka demi neraka, bahkan Maya telah merenanginya.
Tragedi demi tragedi dalam hidup Maya, semua didalangi oleh Aditya Darmadji. Andai lelaki itu ada di hadapan Maya saat ini, mungkin Maya telah menusuknya dengan linggis, mencabik isi dadanya agar Maya puas sebagai penebusan kesalahan lelaki itu terhadapnya.
Mayasari Arsyad, betapa malangnya dirimu.
Bisik batin Maya dalam keheningan malam.
"Ibu?" suara Gavin berhasil membuat Maya terjaga dari tidurnya. Bocah yang berusia lebih dari delapan tahun itu perlahan duduk, menatap surganya yang tengah menghampiri dirinya.
"Ibu mengapa tidak tidur? Tidurlah, Bu. Ini sudah malam, kan?" tanya bocah lugu nan polos itu.
"Ibu hanya tidak bisa tidur. Maaf jika Gavin terusik. Ayo tidur, jangan pikirkan Ibu. Besok kita harus bangun pagi dan pergi pertama kali ke sekolah baru Gavin. Ayo tidur," ajak Maya seraya wanita itu merebahkan tubuhnya, di pembaringan sebelah putranya.
"Ya, ada apa, sayang?" tanya Maya. Mata yang tadinya terpejam, kini kembali terbuka lagi.
"Benarkah Ayah Gavin sudah meninggalkan Gavin dan Ibu?" tanya lirih si putra Maya.
Ada banyak luka yang kembali membalut hati Maya. Wanita itu seolah telah kehilangan kendali atas dirinya, kembali menangis karena hatinya terasa tersayat pilu oleh pertanyaan putranya.
"Ya," jawab Maya sembari menatap putranya dari samping. Maya memutuskan, tak akan menyembunyikan apapun lagi dari anak dan Ibunya, tentang Aditya, "Ayah memang meninggalkan Ibu saat Ibu mengandung dirimu," tambah Maya.
"Ya sudah, tak apa. Mungkin karena Tuhan memberi tahu Ibu dan Gavin, bahwa Ayah adalah orang yang tak baik untuk kita," ujar Gavin dengan tersenyum.
Refleks, tangan mungil tanpa dosa anak itu terulur meraih pipi ibunya, mengusap air mata Maya yang jatuh tanpa terasa.
__ADS_1
"Jangan bicarakan tentang ayah lagi ya, Gavin? Ayah sudah memiliki istri yang harus di bahagiakan. Tanpa ayah, Gavin harus percaya pada Ibu, bahwa kita bisa bahagia," Maya tersenyum dalam tangis. Sesekali, wanita itu mengusap pipinya sendiri.
"Gavin tak tahu apa yang terjadi pada kalian di masa lalu. Yang Gavin ingin, Ibu jangan menangis lagi kali ini. Jika Ibu sedih Gavin bertanya tentang ayah, maka Gavin berjanji, tak akan bertanya lagi tentang siapa dan dimana ayah Gavin," anak itu kembali membuat hati Maya terasayat.
"Terima kasih sudah mau mengerti, sayang. Ibu sangat menyayangi Gavin," ungkap Maya seraya memeluk putranya dengan penuh rasa sayang.
"Bu, Gavin sayang pada Ibu," kata Gavin, mencium kening Maya lembut, penuh kasih sayang.
"Ibu juga sayang pada Gavin. Terima kasih sudah menjadi penyemangat ibu, dan menjadi alasan Ibu bertahan untuk tetap hidup sampai saat ini," jawab Maya tenang.
"Ayo tidur," ajak anak itu seraya memejamkan matanya. Tak ayal, Maya hanya mengangguk dan tersenyum tipis, mengusap pipi Gavin pelan.
Lihatlah.
Bahkan anak sekecil Gavin, tahu jika Aditya bukan yang terbaik untuk Maya dan Gavin sendiri. Jika boleh meminta, Maya ingin sekali menunjukkan, betapa cerdasnya keturunan Darmadji itu. Sayangnya, Maya tak rela lagi ikhlas jika Aditya bertemu dengan malaikat kecilnya.
Lihatlah, Ditya. Putramu yang bahkan tak pernah bertemu denganmu, tahu bahwa kau bukan yang terbaik. Jadi jangan harap, kau bisa menemuinya.
Teriak Maya dalam hati.
Jika Maya menuntut tanya pada dunia, adilkah semesta ini pada Maya dan Gavin?
Ada berapa banyak anak yang memiliki orang tua lengkap dan kasih sayang yang mereka dapatkan setiap saat? Sesuatu itu yang tak dimiliki oleh Gavin. Bahkan Maya tak akan pernah keberatan jika harus menghidupi Gavin seorang diri. Hanya saja, Maya merasa sakit karena putranya lain dari yang lain.
Setelah ini, Maya berjanji pada dirinya sendiri, akan membahagiakan Gavin meski Gavin tak memiliki ayah. Maya hanya tak tahu saja, saat ini Aditya tengah memburu dirinya, dan juga putra mereka.
**
__ADS_1