
Malam telah larut, dengan banyak bintang bertaburan malam ini. Tak seperti malam lalu yang diselimuti kabut mendung sesekali, kali ini langit lebih terlihat cerah.
Bocah lelaki yang hadir dari tetes Ditya, duduk termenung di atas ranjang. Mata bocah lelaki itu menatap langit malam yang cerah, dan memandang nyalang langit yang menaungi bumi.
Selepas pertemuan dengan Aditya dan keluarganya, berakhir Gavin yang hanya diam tanpa bisa bereaksi apapun, membuat Gavin diliputi amarah, yang berbaur bersama rindu di hatinya. Ingin marah, namun ia juga rindu akan pelukan sosok ayah.
Maya sendiri juga masih syok akan kejadian satu jam lalu. Ibu Gavin itu memilih menetap di atas sofa usang miliknya di ruang tamu. Melepas kepergian Aditya, dengan beribu luka yang tak tertolong lagi. Beruntung, nalurinya masih berjalan dan tersisa.
"Gavin belum tidur? Tidurlah. Nenek akan menidurkan Gavin. Mau dibacakan dongeng?" tanya Fatma tiba-tiba, yang sedikit mengejutkan Gavin.
"Tidak, Nek. Gavin ingin sendiri," jawab Gavin, tanpa minat sama sekali.
"Memikirkan Ayah?" tanya Fatma kemudian, seraya duduk di tepi ranjang, menatap intens Gavin yang duduk di ujung ranjang yang menempel dengan jendela.
"Ya, dia dan keluarganya. Mulai sekarang, jangan sebut Ditya sebagai ayahku. Aku tak memiliki Ayah. Aku hanya punya Nenek dan Ibu," jawab Gavin dengan angkuhnya.
Fatma hanya bisa mengulas senyum.
Sejujurnya, hatinya juga dilanda nestapa. Berbagai cara ia coba untuk membujuk Gavin, agar tetap tersenyum dalam ceria seperti sedia kala.
"Jangan begitu, Nenek dan Ibu selalu mengajarkan hal baik. Sebesar apapu kau membencinya, dunia tak akan menyangkal bahwa Gavin adalah putra biologis Aditya," ujar Fatma, seraya menepuk pahanya, agar Gavin tidur di atas pangkuannya.
"Gavin bahagia bertemu dia, Nek. Gavin juga rindu sekali, ingin memeluk tuan Aditya. Tetapi tidak, dia sudah membuat Ibu menangis setiap malam. Gavin tak akan menganggap dia sebagai Ayah Gavin, karena dia sumber luka Ibu. Biarkan saja, Gavin ingin seperti ini saja," jawab Gavin.
__ADS_1
Tak lama, putra semata wayang Maya bersama Ditya itu merebahkan tubuhnya, dengan kepalanya yang menopang pada paha sang Nenek. Rasanya sejuk dan menenangkan.
"Tetapi tadi Ibu bilang, bahwa hanya kali ini saja kau dan Ayah bertemu. Bukankah itu bukan sesuatu yang sulit?" tanya Fatma dengan suara lembut.
"Aku tidak tahu, apa masalah kalian di masa lalu. Yang Gavin tahu, Gavin terlahir tanpa Gavin minta. Andai bisa Gavin meminta, Gavin hanya ingin terlahir dari orang tua lengkap meski sederhana," sahut anak itu.
Percayalah, tak ada yang lebih menyakitkan dari kalimat Gavin yang satu ini bagi Fatma.
"Sabar, sayang. Nenek akan senantiasa mengusahakan yang terbaik untuk kebahagiaanmu. Dengar Nenek, kali ini saja. Mulai sekarang, bolehkah andai Nenek meminta pada Gavin untuk memperlakukan tuan Aditya selayaknya tetangga? Jangan ada benci, jangan ada amarah. Nenek hanya ingin Gavin tenang. Jika Gavin masih merasa tak nyaman dengan situasi ini, lupakan jika tuan Ditya adalah Ayah Gavin. Bersikap biasa saja selayaknya Gavin menghadapi tetangga, jika ke depan Gavin bertemu dengan tuan Aditya," ujar Fatma panjang lebar.
Senyum Gavin, menjadi sebuah tanda persetujuan. Hanya saja, tak ada yang bisa mengerti luka hati anak itu.
"Sejujurnya, Gavin sangat menyayangi dan ingin merasakan pelukan hangat seorang Ayah, Nek. Seperti tadi. Hanya saja, sepertinya memang Gavin harus menahan keinginan Itu. Gavin tak mau menyakiti hati Ibu," ujar Gavin kemudian.
"Nenek mengerti. Sekarang tidurlah. Malam sudah larut. Nenek akan menemui Ibumu untuk bicara sesuatu," perintah Fatma pada Gavin.
Ada sesuatu yang membuat hati Gavin berdesir, saat ia mengingat wajah Ditya menjelang tidurnya kali ini. Gavin berharap, ia benar-benar bisa membahagiakan sang Ibu, meski ia sendiri demikian tersiksa sebab tak memiliki Ditya seutuhnya sebagai Ayah.
Langkah Fatma terayun, menuju ruang tamu dimana Maya masih duduk termenung. Secangkir kopi panas yang tadi Maya buat, telah tandas. Wanita itu juga tak ingin tidur, sebab banyak hal yang mengganggu pikirannya.
Harusnya Maya mengerti, bahwa menyiksa diri bukanlah ide bagus hanya karena Ditya yang tak pantas ia pikirkan. Tetapi apalah daya, hati dan pikiran Maya tak bisa beralih sedikitpun dari Ditya.
Getaran itu, rasa itu, bahkan cinta buta yang Maya rasakan untuk Ditya, cukup membuat Maya tersiksa hingga kini. Meski berakhir Maya tak lagi ingin hidup bersama Ditya seperti impiannya dulu, namun, Ditya tetap tak pergi dari pikirannya.
__ADS_1
"Memikirkan Ditya dan keluarganya?" tanya Fatma yang tiba-tiba muncul tanpa aba-aba.
Atensi Maya teralihkan. Wanita itu tersenyum, berpura tegar meski hatinya berdarah tanpa henti. Wajah wanita itu masih nampak pucat, dengan rambut yang masih berantakan.
"Iya. Menyanggah pun, Ibu tidak akan pernah percaya pada Maya," ujar Maya tersenyum keibuan.
"Kau yakin dengan keputusanmu memaafkan Ditya dan Nayah?" tanya Fatma seraya mendudukkan diri pada sofa, tepat di depan Maya. Nada bicara nenek Gavin itu ringan, layaknya ia tengah bercanda dengan Maya.
"Ya. Aku ingin berdamai dengan kenyataan, Bu. Marah yang tak sudah-sudah, membuatku lelah dan ingin menyerah. Meski aku merasa tak rela, tapi aku harus belajar untuk itu. Biarlah, yang terpenting aku tak menerima Ditya dan bersedia menjadi pengganti nyonya muda Darmadji. Aku melakukannya, semata agar Ditya tidak mendesakku demi sebuah kata maaf," jawab Maya.
"Jika kau ingin berdamai dengan masa lalu, takdir dan kenyataan, maka kau harus terima konsekuensinya. Ditya akan lebih dekat dengan Gavin, dan kau harus rela itu. Ibu tanya, apa kau sudah siap dengan risikonya di masa depan?" tanya Fatma kemudian.
Maya diam, nampak berpikir dengan mengulas senyum getir.
"Maya harus bagaimana menghadapinya, Bu?" tanya balik Maya, pada ibunya.
"Karena telah kau putuskan menerima kenyataan, maka kau harus menerima banyak hal dan juga perubahan. Hanya saja, tolong, tolong sekali Ibu minta tolong, Jangan terlalu kau ulur Gavin untuk menjalin kedekatan dengan Ditya. Nayah, kita mengenal betul bagaimana Nayah. Ibu khawatir ia merebut Gavin secara pelan dan cara halus," ungkap Fatma.
"Maka Ditya yang akan jadi tumbalnya, Bu. Percayalah, Maya tak akan memaafkan siapapun jika salah satu diantara mereka melakukan kesalahan yang fatal," jawab Maya.
"Maya, entah mengapa, Ibu tak yakin dengan permintaan maaf Nayah. Mungkin ibu terlalu terbawa perasaan Ibu atas trauma masa lalu," tambah Fatma lagi.
"Aku bahkan bisa lebih gila dari masa lalu, jika mereka berani mengambil Gavin dariku. Aku bersumpah!" seru Maya, seraya kembali mengingat bagaimana tangis Nayah beberapa jam lalu.
__ADS_1
Mendengar ucapan Ibunya, entah mengapa Maya mendadak terusik hatinya.
**