Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Sebuah emosi unik


__ADS_3

Suasana malam kali ini terasa lain, ketika Maya baru saja selesai membersihkan diri. Desau angin yang masuk melalui ventilasi jendela, cukup membuat Maya merasakan kian kedinginan. Terlebih rambut basah wanita itu usai keramas, menambah kesan dingin yang lumayan menyengat hingga ke tulang.


Selepas pulang dari pantai sore tadi, Maya pulang, tetap disambut dengan raut wajah datar Ibu. Maya sendiri lebih banyak bicara, dan berusaha mengurai perseteruan dan ketegangan yang tercipta. Maya tak akan serta merta menyerah begitu saja, untuk membuat sang Ibu kembali membuka hati untuknya.


"Bu, Ibu sedang apa?" tanya Maya, dengan sejumput harapan agar Ibunya menjawab seperti biasanya. Ia hanya tak mau, diam terus menerus hingga membuatnya dan sang Ibu, terlihat layaknya orang asing.


"Memasak makan malam," jawab Fatma kemudian, dengan singkat.


"Mari, biar aku bantu," tawar Maya yang lantas meraih pisau untuk memotong buncis.


Suasana dapur hening, Fatma yang tetap bungkam dan hanya menjawab sekadarnya jika putrinya bertanya, juga Maya yang diam seribu bahasa. Segudang kecewa masih Fatma rasakan, marahnya juga tak henti-henti.


Hingga makanan nyaris tersaji, suara ketukan pintu, membuat Maya berjalan pelan menuju ke arah pintu.


Sosok Reno muncul, dengan membawa parcel buah segar yang ia bawa. Lelaki itu berjalan kaki seorang diri dari rumahnya, menebar senyum menawan hati, layaknya Zeus yang menapak di bumi.


Sejenak Maya tercengang, lebih tepatnya terpesona pada tampilan segar lagi tampan Reno. Dalam diam dan mata berkaca Maya ingat, akan bayangan Aditya semasa remaja dulu, sangat diidamkan.


Sial. Bahkan dalam situasi seperti ini, mulut Maya yang berucap benci, nyatanya sang otak masih teringat juga akan Aditya.


"Hai, selamat malam, Maya," sapa Reno, membuat Maya tersadar dan salah tingkah sendiri.


"Malam, Reno. Kau datang sungguhan, rupanya? Mari masuk, maaf rumah ini kecil dan sederhana. Semoga kau betah bertandang kemari," ujar Maya seraya tersenyum ramah.


"Terima kasih," jawab Reno tersenyum senang. Mata lelaki itu memutar, menyisir isi ruangan yang tertata rapi nan bersih. Sungguh desain rumah yang cantik, secantik orangnya. Batin Reno.

__ADS_1


"Bu, Ibu, ada tetangga baru datang berkunjung," panggil Maya pada ibunya dengan intonasi sedang. Senyum Maya begitu hangat dan penuh ketulusan, jauh dari kata kepalsuan seperti yang sering Reno dapatkan dari seluruh teman wanita.


Fatma keluar, dengan langkah tergopoh. Wanita yang memang pernah melihat Reno beberapa kali tanpa sengaja itu, mengerjapkan matanya.


"Bu, kita pernah bertemu di depan, saya Reno, pemilik rumah bercat biru di sebelah," kata Reno memperkenalkan diri.


Fatma tersenyum lembut keibuan. Wanita itu menyambut baik kedatangan Reno sebagai tamu dan tetangganya. Tetapi, mengapa agaknya Reno seperti mengenal Maya?


"Panggil saya Bu Fatma, nak Reno. Mari, silakan duduk," ajak Fatma seraya tangannya menunjuk sofa yang tak begitu mewah, "sudah mengenal Maya?" tanya Fatma kemudian.


Mata tajam Fatma melirik putrinya yang terlihat menunduk.


Dalam hati Maya, pasti ibunya salah paham dan mengira Maya menggoda Reno. Dalam kondisi marah begini, masalah akan melebar kemanapun, dan Maya akan salah selalu meski Maya tak bergerak. Maya hapal betul bagaimana sifat dan karakter Ibunya. Jangankan bergerak, bahkan bernapas pun bisa salah di mata Fatma.


"Ya, sore tadi saat Maya dan putranya ke pantai," jawab Reno kemudian.


"Seorang diri. Papa dan Mama sudah tiada, Kakak juga sudah menikah dan ikut suaminya tinggal di ibukota. Maaf, saya kesepian di rumah jika pulang dari kantor, itulah sebabnya saya bermain kemari," jawab Reno dengan sopan.


"Baiklah, tak masalah. Ibu senang kau berkunjung. Tetapi maaf, rumahnya berantakan. Seringlah datang dan anggaplah disini keluargamu juga. Oh ya, mari makan malam bersama kami," ajak Fatma, wanita itu melirik pada Maya yang hanya diam, "Maya, panggil Gavin. Saatnya makan malam."


Begitulah suasana malam ini yang tercipta. Kehadiran tetangga baru bernama Reno itu, membuat Fatma mau tak mau berbicara lebih sering pada Maya. Ada sekilat tatapan penuh minat yang Reno tunjukkan, ketika dirinya menatap Maya.


Sebuah kekhawatiran, hinggap pada hati Fatma. Ia hanya khawatir, jika nanti Reno jatuh cinta pada Maya. Tidak, Fatma tak akan membiarkan.


Sebagai Ibu yang memiliki putri seorang pelacur, Fatma harusnya tahu diri, dan menampar kesadaran putrinya tentang betapa hinanya sebuah profesi mantan seorang pelacur.

__ADS_1


Hingga makan malam usai, Fatma mengajak Reno dan Maya untuk berbincang di ruang tamu. Sedang Gavin, anak itu berlalu ke kamar untuk belajar dan tidur.


Perbincangan hanya sebatas tentang lingkungan sekitar rumah mereka, dan tak jauh dari yang namanya menu masakan. Kali ini Maya pun cukup bernapas lega, ketika melihat Ibunya mulai membaik sikap padanya.


Setelah Jam menunjukkan pukul Delapan malam, Reno pamit pulang. Maya dan Fatma juga cukup senang, kerana mereka bertemu dengan orang sebaik Reno.


Setibanya di rumah, Reno tak segera beristirahat, melainkan lelaki itu tengah memikirkan banyak hal, tentang Maya yang menyebut dirinya, hamil di luar nikah.


Lelaki itu bahkan tak tahu lebih jauh, jika Maya adalah mantan seorang pelacur. Pelacur yang telah bertobat tepatnya.


"Kau cantik, Maya. Jika masa lalumu membuatmu merasa kau tak pantas berteman denganku, jangan khawatir, aku tak akan mempermasalahkan itu semua. Bolehkah aku dekat denganmu? Kau tak hanya serupa dengan mendiang kekasihku dulu, tapi kau memiliki sesuatu yang membuatku mampu kembali merasa bergetar saat menatap mata indahmu," lirih Reno kemudian.


Sulit di percaya. Kehilangan kekasih beberapa tahun silam, membuat Reno seolah mati rasa, terhadap lawan jenis secantik apapun. Untuk pertama kali, lelaki itu kembali merasakan sebuah emosi unik ketika menatap Maya, hanya menatap.


"Apakah tuhan menakdirkan dirimu sebagai pengganti Ayunda, Maya? Baru sore tadi, tetapi aku merasa telah mengenalmu lama, wanita baik," lirih Reno seraya mengusap layar ponselnya, yang memperlihatkan potret Maya sore tadi, potret yang ia ambil secara diam-diam.


"Mengapa aku jadi aneh begini?" gumam Reno lagi. Entah mengapa, ia mendadak jadi bodoh secara tiba-tiba.


Sebuah rasa, mungkin tak akan muncul jika Tuhan tak memiliki maksud di dalamnya. Ada sebuah harapan yang tiba-tiba bercokol dalam hati Reno.


Lelaki itu tengah berpikir, mungkin ini adalah jalan yang tuhan tunjukkan padanya, agar dirinya bahagia. Melalui Maya, Reno berharap luka sebab kehilangan, bisa Maya obati.


Reno bahkan tak akan pernah peduli sama sekali, tentang masa lalu kelam Maya. Yang Reno ingin, siapapun dan bagaimana pun masa lalu wanita yang telah menjeratnya, Reno harus mendapatkan hatinya.


Mari kita lihat ke masa esok dan seterusnya, masihkah Reno akan bersedia menerima Maya dengan luas hati, jika tahu bahwa Maya adalah mantan wanita lacur?

__ADS_1


**


__ADS_2