Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
44. Sesak menghantam ulu Hati.


__ADS_3

Keheningan tiba-tiba menyusupi ruang tamu rumah sederhana Fatma. Penghuni rumah juga memilih bungkam seribu bahasa. Tak ada yang berani mencoba untuk membujuk Maya lagi kali ini. Rasa manusiawi di hati wanita itu seolah sirna, seiring dengan luka yang kembali hadir menyayat hatinya.


Tetapi lihat, Seorang ibu berusia separuh baya itu tetap mengiba tanpa peduli, jika nanti Maya menolaknya mentah-mentah atas apa yang ia inginkan.


Nayah sudah siap, andai nanti Maya menolaknya secara tegas dan menyuruhnya pulang untuk yang ke sekian kalinya.


"Aku akan beri kalian izin. Hanya kali ini!" tegas Maya penuh dengan rasa sesak.


Maya kembali berbalik, mencapai pintu kamar yang terbuka sedikit.


"Gavin, ayo keluar. Ayah dan orang tua Ayah Gavin ada di luar, ingin bertemu dengan Gavin," ungkap Maya kemudian.


Bibir Maya sudah tampak seputih kapas, tak menampakan ketegaran sama sekali. Yang ada, bibir menawan penuh pesona iku gemetar, menahan segala gejolak amarah dan kebencian yang tersisa untuk Aditya.


Maya tak ingin memberi izin Ditya dan Nayah, tetapi ia sudah lelah dan memilih untuk mengalah kali ini saja. Seperti sesuatu yang telah kehabisan daya, Maya merasa dirinya tak mengapa bila harus memberi izin Nayah bertemu dengan Gavin.


"Tapi, mengapa Ibu memberi izin? Bukankah ibu tidak menyukai Ayah?" tanya Gavin.


"Ibunya Ayah tengah sakit dan kepikiran ingin bertemu Gavin. Tidak mengapa, ayo keluar. Temui mereka kali ini saja. Besok, Gavin bebas mau melakukan apa. Ayo," ajak Maya yang menggandeng tangan putranya, untuk membawa Gavin keluar.


Tak ada bantahan, tak ada penolakan. Gavin tak ingin mengecewakan siapapun lagi. Anak itu bertekad untuk nurut apapun yang sang Ibu inginkan.


Sepasang Ibu dan anak itu, keluar menuju ruang tamu. Langkah Maya meski terasa berat, namun ia tetap menguatkan raga dan hatinya. Tatapan Maya tertuju pada sang ibu, berharap didukung dan diberi kekuatan.


"Maya, kau baik-baik saja? Kau tampak pucat," Fatma berdiri, menyambut putrinya, "jika kau tak kuat, sebaiknya jangan dipaksakan. Jangan berusaha membahagiakan orang lain, yang telah melukaimu di masa lalu."


Kalimat Fatma, tepat menghantam hati Nayah, juga Aditya. Meski Gavin keluar dan menatap semua orang bergantian di ruang tamu, namun anak itu hanya diam seribu bahasa.


"Tak apa, Bu," jawab Maya dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Nayah hanya mematung ditempatnya, kala mendapati Ditya kecil, berdiri menatapnya tajam. Anak itu meski kecil, tetapi memiliki pesona yang bahkan lebih kuat dari Aditya.


Dosa dan rasa bersalah, kembali Nayah rasakan, demikian pula dengan Aditya. Lelaki itu terus menggumam kata maaf, yang bahkan terdengar oleh gabung juga Maya.


"Gavin, kemari, duduklah dengan Ibu," tunjuk Maya pada sofa yang sudah usang. Sempat Maya berpikir, untuk mengganti sofa ruang tamunya agar Gavin merasa nyaman dan betah.


Hening, tak ada yang bersuara. Nayah maupun Ditya yang tadinya ingin memeluk Gavin, hanya bisa mematung dan memucat. Demikian pula dengan Adi.


"Gavin? Kenapa terbengong?" tanya Maya kemudian, ketika Gavin sejak tadi hanya diam.


Anak itu menggeleng sebagai jawaban.


"Beri salam pada tuan Ditya dan nyonya Nayah, Ibunya. Yang duduk di ujung sana, dia adalah Ayah tuan Aditya, tuan Adi Darmadji," perintah Maya dengan suara lirih.


Gavin diam, menatap Ibunya seolah memberi penolakan. Bagus. Maya bahkan sudah memberi izin Ditya menemui Gavin, akan tetapi Gavin sendiri yang menolak secara halus, akan pertemuan ini.


Seketika ingatan Nayah kembali pada tragedi diusirnya dirinya dari kampung ini. Semua akibat ulah Nayah dan Ditya. Relakah hati Maya jika saat ini Nayah memeluk Gavin?


"Sepertinya Gavin tidak sedia," jawab Maya sebagai alasan. Hati Maya tak sekuat itu rupanya. Beruntung, Gavin hanya diam tanpa memberikan respon.


"Ini Ayah, nak. Maafkan Ayah," ujar Ditya seraya menggigit bibir bawahnya menahan tangis.


"Tidak. Kau tidak menyayangiku dan Ibuku. Demi apa aku harus memaafkanmu? Kau meninggalkan aku dan Ibu, adilkah bila aku harus menerimamu sebagai ayahku?" jawab Gavin dengan nada datar.


Ini adalah kalimat terpanjang milik Gavin, selama beberapa hari terakhir. Maya dan semua orang yang ada dalam ruang tamu, terkesiap mendengarnya. Ada rasa tak percaya, namun inilah kenyataannya. Fakta yang ada, bukanlah sesuatu yang bisa disangkal lagi.


Gavin adalah anak yang pemberani, sekalipun ia irit bicara. Tatapan matanya dingin menghunus Aditya, hingga membuat Ditya merasa sulit bernapas.


"Ada beberapa hal yang tidak bisa dimengerti anak seusiamu, sayang. Suatu saat kau akan mengerti semua masalah orang dewasa, kelak jika kau sudah dewasa," Maya mencoba untuk memberi pengertian putranya agar tak membuat kekacauan.

__ADS_1


"Tetapi beberapa bulan lalu, Ibu tak ingin aku menanyakan siapa dan dimana ayah Gavin. Maka sejak saat itu, aku rasa aku memang ditakdirkan selamanya tak akan memiliki Ayah," jawab Gavin gamblang.


Apa yang Gavin katakan, inilah kenyataannya yang ia rasakan. Semua murni dari isi hatinya. Anak itu sudah terlalu lama memendam lukanya seorang diri, hingga membuatnya seolah mati rasa akan sebuah keinginan memiliki keluarga utuh.


Bocah yang berusia nyaris sembilan tahun itu, menatap semua orang asing baginya, dalam ruang tamu. Tak luput sepasang mata pun, akan senantiasa Gavin ingat.


"Maaf, semua salah Ayah dari awal. Kau boleh menghukum ayah, kau juga boleh menghakimi Ayah sepuasmu," ujar Aditya. Sorot mata pria itu, demikian penuh harap. Ada kilat harapan yang begitu besar yang terpancar pada pendar matanya.


"Aku tidak mau memanggilmu Ayah. Kau bukan ayahku. Seorang Ayah tak akan membiarkan anaknya menderita bertahun-tahun lamanya," tolak Gavin dengan tegas.


Bak air panas yang menyiram seluruh raga Aditya. Lelaki itu bukan hanya tertampar akan kalimat putranya, melainkan juga terpukul luar biasa.


Sedang Adi dan Nayah, tercengang kala mendapati betapa keras kepala dan cerdasnya Gavin. Gavin adalah gambaran Aditya semasa kecil. Bukan hanya parasnya, melainkan juga sifat, watak dan pembawaan tegasnya, menurun dari Aditya.


"Gavin, Ibu tak pernah mengajarimu bicara begini," Maya berujar lirih.


"Gavin hanya bersikap sebagaimana mereka berlaku selama ini. Ibu sangat membenci Ayah, bukan? Lantas, mengapa kini Ibu lebih berpihak pada mereka? Aku memang ingin, bahkan sangat ingin memiliki Ayah. Tetapi sayangnya, bukan Ayah yang jahat pada kita. Maaf, gavin ingin belajar dan segera tidur," sahut Gavin, seraya menoleh sekilas pada Ditya.


Baru empat langkah Gavin hendak berlalu, tiba-tiba langkah Gavin terhenti dan sepasang tangan kokoh tengah melingkari tubuhnya dari belakang.


Tangis Aditya pecah, tak kuasa menahan perih sebab penolakan yang ia terima dari sang putra. Lengan kokohnya, melingkari tubuh putranya yang kurus. Siapapun yang menyaksikan, pasti tersayat hatinya.


"Maafkan Ayah. Tolong jangan begini. Ayah merasa berdosa tanpa maafmu. Tolong terimalah lelaki penuh dosa ini, Gavin. Ayah berjanji, akan menebus semuanya dengan mengembalikan senyum Gavin dan Ibu," pinta Ditya dengan suara serak.


Di detik berikutnya, ada hati yang tak kuat menyaksikan momen mengharukan ini. Terharu sekaligus sakit, tepatnya.


Maya kehilangan kesadaran, sebab sesak yang menghantam ulu hatinya.


**

__ADS_1


__ADS_2