
Kabur duka tengah menyelimuti kediaman keluarga Darmadji. Banyak para tetangga, melayat dengan khas busana yang didominasi warna hitam. Keranda baru saja diturunkan, dengan jenazah Sherly yang terbaring nyaman dalam pelukan perut bumi.
Isak tangis, begitu menyertai kepergian wanita cantik adik Aditya itu. Meski mulut tajam Sherly, dan juga disertai dengan umpatan kasar yang kerap kali ia lontarkan, namun Aditya tetaplah seorang kakak yang sangat menyayangi sang adik.
Si lidah tajam setajam parang itu, kini terbaring nyaman dalam ranjang keabadian. Tak akan ada lagi kecerewetan, dan sapa manja penuh ceria dari Sherly. Hanya ada Sherla, yang tersisa sebagai Adik yang Ditya miliki.
Maya juga hadir, meski Nayah tak begitu melihat jelas. Namun, ketika Maya datang untuk memberikan ucapan belasungkawa, Nayah segera bersujud di kaki Maya. Wanita itu memeluk erat kedua kaki Maya, sekalipun Maya tak ingin dan terkejut akan tindakan spontan wanita itu.
"Maafkanlah anakku, Maya. Maafkanlah Sherly yang pernah membuatmu menderita di masa lalu. Aku, aku telah kalah sebab tak bisa mendidik anakku," entah untuk yang ke berapa kali, bisikan maaf dari Nayah terus terucap. Hati Maya tersayat pilu, sekalipun dirinya juga tak memungkiri bahwa dia masih sakit hati atas perlakuan Sherly di masa lalu.
"Aku akan mencoba untuk ikhlas memaafkan, Nyonya," jawab Maya pelan.
Harusnya Maya tertawa. Namun, lihatlah kini. Wanita itu justru tak tega dan lebih kasihan pada Nayah. Bagaimana pun, Nayah adalah seorang ibu. Menyaksikan Nayah menerima hukuman menyakitkan, membuat Maya juga tak urung merasa iba.
"Aku yang salah. Aku yang berdosa dari awal. Mungkin memang ini hukuman yang pantas aku dan Sherly terima," ujar Nayah. Kedua tangan tuanya yang dihiasi keriput, meraih dan menggenggam tangan Maya erat.
"Aku maafkan, aku tetap akan memaafkan anda dan Sherly. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Hidup harus tetap berjalan, doakan saja agar Sherly bisa tidur dengan tenang dalam pangkuan Tuhan," jawab Maya mencoba untuk menguatkan.
Dan berikut, pelukan Maya untuk Nayah, membuat Nayah sedikit lega. Maya tak serendah yang Nayah pikir. Harusnya Nayah sadar itu sejak dulu.
"Jadilah menantuku, Maya. Dampingi hidup Ditya, aku berjanji akan membahagiakanmu, dan menjamin Ditya agar selamanya mencintaimu," bisik Nayah tiba-tiba.
Maya hanya bisa memejamkan matanya.
__ADS_1
"Duka masih menyelimuti keluarga anda, Nyonya Nayah. Tolong jangan bahas itu," jawab Nayah.
Spontan saja, Nayah meleraikan pelukannya seraya berkata, "jangan biarkan rasa bersalah dan dosa semakin membelenggu hati kami, Maya. Aku mohon. Perlukah aku bersujud di kakimu demi sebuah kesediaan dalam tulus menerima Ditya kembali?"
Maya tak tahu, ia harus menerima atau tidak. Tetapi anggukan dari Fatma, berhasil membuat Maya pasrah.
Terdengar hembusan napas panjang dari bibir Maya.
"Saya ingin bicara empat mata dengan Ditya, tentunya jika dia sudah tidak lagi berada dalam suasana berkabung," ujar Maya setelah memikirkan beberapa pertimbangan.
Dalam duka yang masih menyelimuti hati Ditya, ada sepercik bahagia yang mulai tampak, di masa depan.
**
Suasana malam terasa sunyi menghiasi. Kediaman Darmadji tampak lebih lengang, selepas acara tahlil sekitar dua jam lalu, kini Ditya dan Maya duduk berdua di halaman belakang. Duduk untuk bicara dari hati ke hati, adalah permintaan Maya.
Sudah nyaris setengah jam, namun, Maya tak juga bicara. Begitu pun dengan Ditya yang setia untuk diam seribu bahasa. Kiranya, apa yang akan Maya katakan, ia akan menunggu sekalipun seribu tahun lamanya. Diamnya Maya, laksana gelap malam di langit malam tanpa bintang.
Hingga cukup lama Ditya menunggu, Maya akhirnya membuka suara untuk pertama kali.
"Aku tak tahu seberapa besar rasa bersalahmu, Ditya. Yang aku tahu, kau menginginkan aku menerima pinanganmu, semata karena rasa bersalah belaka," ujar Maya pertama kali.
Tatapan wanita itu lurus ke depan, kosong dan tak berjiwa. Raganya mungkin berada di samping Ditya saat ini, namun, pikirannya bercabang berkelana di masa lalu, dan di lain tempat.
__ADS_1
"Aku mencintaimu sejak dulu," jawab Ditya kemudian.
"Dusta. Kau meninggalkan aku setelah semua bisa kau nikmati. Apa itu bisa disebut dengan cinta? Omong kosong!" seru Maya dengan tetap tenang. Air mukanya datar, namun sorot matanya menyimpan banyak riak emosi.
"Aku dipaksa Ibu untuk berangkat ke ibukota dengan tujuan melanjutkan sekolah, Maya. Kuliah beberapa tahun saja di luar negeri, dan berakhir bekerja menjadi dokter seperti yang Ibu inginkan. Katakanlah, aku tak lebih dari sekadar boneka Ibu. Tetapi aku melakukan itu semua, atas keinginan ibuku, bukan keinginanku murni. Menikahi Citra, juga atas perjodohan yang digelar oleh Ibu," jawab aditya dengan jujur.
"Benarkah saat itu, kau mencariku setelah kau tahu semuanya dari adikmu, Sherla?" tanya Maya kembali.
"Ya, aku minta maaf, bahkan meski maafku tak dapat kau terima. Tetapi sungguh, Maya. Aku tak pernah berhenti berharap atas maafmu. Demi Gavin," ujar Ditya seraya meraih dan menggenggam tangan Maya secara perlahan, "aku mohon demi Gavin, beri aku hukuman asal kau bisa menerimaku kembali setelahnya. Anak itu, bahkan melihat sorot matanya pun aku tak tega, ia terus berharap agar kita bisa bersama."
"Aku takut untuk menerimamu, Ditya. Selain miskin dan tak memiliki apapun yang berharga yang bisa aku banggakan, aku juga mantan seorang pelacur. Banyak pria yang telah mencicipi tubuhku hanya demi rupiah, apakah aku pantas bersanding dengan lelaki terhormat sepertimu?" tanya Maya dengan lirih. Nadanya terdengar perih.
"Lelaki terhormat tak akan menghamili gadis sebaik dirimu, dan meninggalkanmu setelahnya. Ketahuilah, aku bahkan terlihat lebih bobrok daripada dirimu. Kau berjuang untuk anak, aku tak pernah bisa menghakimi dirimu begitu saja. Mengenai saat itu, maaf atas kata-kataku yang tak sopan, lagi kasar untukmu, tapi percayalah, api cemburu tengah membakar akal sehatku hingga membuatku seperti hilang arah," sahut Ditya panjang lebar.
Maya memejamkan matanya, mengingat momen menyakitkan beberapa waktu lalu. Hatinya benar-benar digerogoti rasa benci, namun, hati kecilnya tersisa rasa cinta yang begitu tulus untuk Ditya.
Ya Tuhan, apakah menerima Ditya adalah keputusan tepat?
Batin Maya berteriak.
"Aku akan menerimamu kembali, Ditya, tentunya jika kau benar berubah dan memperbaiki semua yang telah kau rusak. Hanya saja aku memiliki permintaan padamu, agar kau tak pernah mengungkit masa laluku yang penuh dengan lumpur dosa dan kehinaan," putus Maya kemudian.
Dengan segenap keyakinan, Maya berusaha untuk berluas hati, untuk menerima Ditya. Semua itu agar Ditya bisa memperbaiki diri dan menebus dosanya.
__ADS_1
Awal dari kebahagiaan, adalah luas hati memberikan maaf dalam ketulusan.
**