Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
48. Cintamu hanya untukku!


__ADS_3

Tak ada yang lebih menyakitkan, saat menyaksikan Ibu tercinta harus terbaring tak berdaya di atas ranjang pesakitan.


Tak ada yang lebih hancur, bila dibanding dengan momen duka melihat orang terkasih terlelap dalam sakit.


Aditya terpaksa harus meninggalkan sang Ibu, sebab harus kembali ke ibukota untuk bekerja. Cutinya selama beberapa hari terakhir telah habis. Lelaki itu tidak mungkin mengambil cuti seenaknya saja.


"Aku titipkan Ibu padamu, Sherla. Jangan mencari lelaki bajingan yang bergelar kekasih Sherly. Aku akan mengurusnya nanti. Biarkan saja dia menghilang saat ini," ujar Aditya pada Sherla.


Adik Aditya yang masih gadis itu, mengangguk seraya sesekali menghapus sudut matanya yang berair. Rasanya perih.


Bagi Sherla, hamil sebelum menikah adalah sebuah aib besar. Dosanya tidak tanggung-tanggung. Tetapi saat ini, Maya yang dulu dihina dengan kata murahan tanpa harga, kini petaka itu justru datang menimpa Sherly.


"Jangan khawatir, Kak. Aku akan menjaga Ibu semampuku. Jangan terlalu lama, pulanglah di akhir pekan depan untuk menjenguk Ibu dan putramu," pinta Sherla.


Ditya bangga pada adiknya. Sherla sangat memikirkan orang lain sejak dulu, lebih mengedepankan perasaan orang lain meski dirinya terkesan cuek dan tak banyak bicara.


"Tadi aku sudah pamit pada Gavin dan Maya. Tapi Maya tak banyak bicara. Apa perlu aku pamit lagi?" tanya Ditya.


"Aku rasa tidak perlu, mengingat mba Maya bukan siapa-siapamu, Kak. Tapi aku rasa tidak ada salahnya juga kau mengunjungi Gavin setelah ini dalam perjalanan menuju kota. Hitung-hitung, kau mengambil hati mba Maya. Jangan pernah lupa, kau harus memperjuangkan seonggok hati yang dulu kau sakiti," ujar Sherla mengingatkan.


"Mungkin juga, lain waktu jika Ibu sudah sehat dan bisa ditinggal, aku yang akan datang mengunjungi mba Maya dan Gavin. Semoga saja putramu yang irit bicara itu, berkenan jika aku cepat datang mengunjunginya," sambung Sherla.


"Kau bahagia jika Gavin itu ponakanmu?" tanya Ditya tersenyum.


"Tentu saja bahagia. Justru aku ingin, kau segera menikahi mba Maya," jawab Sherla.


"Tentu saja jika ia menerimaku," ungkap Ditya dengan senyum simpulnya.


**


Perjuangan kali ini terasa sangat sulit. Ada rasa takut, namun juga tekat yang kuat untuk kembali dapat menggenggam hati yang dulu tersakiti. Entah mengapa, Aditya tak akan membiarkan Maya bisa lolos begitu saja.

__ADS_1


Putra sulung Darmadji itu memasukkan mobilnya ke halaman rumah sederhana yang kini tampak lebih bersih dari kemarin. Bukan halaman rumah Maya, melainkan halaman rumah tetangga Maya yang jaraknya beberapa meter dari rumah Maya.


Tak ada akses jalan untuk mobil, jika itu menuju rumah Maya.


Fatma kebetulan sedang berada di rumah seorang tetangga yang jaraknya agak jauh darinya. Kedatangan Fatma, sungguh sangat ditunggu oleh tetangga yang memiliki respect tinggi pada keluarganya sejak dulu.


Maya mengerutkan kening, ketika dirinya melihat mobil Aditya terparkir di rumah tetangganya. Yang lebih membuat Maya jengkel, Aditya turun dan berjalan kaki menuju ke arah rumahnya.


Mau apa dia kemari lagi? Memangnya tidak bisa jika tidak menemui aku? Tadi pagi pamit kembali ke kota, kenapa sekarang masih ada disini? Menjengkelkan!!


Batin Maya.


Aditya sendiri menyimpulkan senyum, kala Maya hanya duduk dan mengacuhkan kedatangannya. Lihat saja, penampilan Maya begitu menggemaskan sekali.


Daster katun dengan harga pasaran, rambut yang dicepol ke atas, dan wajah yang menggunakan masker berwarna kuning di wajahnya, tampak membuat Aditya gemas ingin menggigit bibir Maya. Bibir yang suka melontarkan kalimat kasar untuknya.


"Maya, dimana Gavin?" tanya Aditya dengan suara lembut. Dulu saat remaja, Aditya tak selembut ini pada Maya. Lama-lama Maya muak dibuatnya.


"Kata siapa? Kita tidak pernah selesai dan tidak akan pernah selesai," sahut Aditya enteng. Lelaki itu tanpa segan duduk tepat di samping Maya, dengan jarak yang begitu dekat dengan Maya.


"Pergi dari sini, Aditya, sebelum kesabaranku habis!" hardik Maya.


Maya tak menyangka, Aditya bisa seberani ini padanya. Padahal jelas, Maya masih sangat marah pada Ditya.


"Mengapa marahmu itu tidak sudah-sudah? Mengapa kau tak pernah lelah? Sudahi saja marahnya. Mari berbaikan dan menjalin hubungan baik demi Gavin, dan demi cinta kita," sahut Aditya dengan ringan.


Mual terasa datang menghampiri perut Maya tiba-tiba. Rasanya Maya ingin muntah seketika mendengar kalimat terakhir Ditya yang memuakkan.


"Rasanya aku mau muntah menyaksikan kepercayaan dirimu itu, Ditya. Mungkin menjadi seorang dokter, cukup membuatmu stress dan mengalami gangguan pada syaraf mu itu," ejek Maya.


Ditya semakin gregetan dibuatnya. Maya yang pemarah, dan Aditya yang semakin gencar menggoda dan mendekati Ibu satu anak itu.

__ADS_1


"Jangan begitu. Apa yang aku katakan lebih banyak benarnya. Memangnya, kau sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Aditya melirik Maya dari samping.


Posisi mereka begitu dekat. Beruntung suasana siang menjelang sore begini terasa sepi di desa.


"Tidak. Aku tidak mencintaimu. Jadi, jangan bermimpi yang tidak-tidak. Tidak ada cinta lagi untukmu. Semua cintaku padamu, telah aku siram bensin dan aku bakar sampai habis menyisakan arang!" jawab Maya mulai terpancing emosinya.


"Chh, kau jangan begitu, Maya. Aku tidak mau jika nanti aku yang mengemis cintamu. Jika aku yang mengemis cinta, aku pastikan kau benar-benar tak akan kabur karena aku adalah lelaki yang bisa menghalalkan segala cara," ungkap Aditya, "tetapi aku yakin dan sangat yakin, bahwa cintamu selamanya hanya untukku. Cinta kita punya memiliki sembilan nyawa yang tak akan pernah mati."


"Tidak peduli kau mau percaya atau tidak, Aditya. Yang jelas, aku tidak mencintaimu lagi. Titik!" seru Maya, seraya memalingkan wajahnya.


Masker wajah yang Maya gunakan, mulai telihat mengering.


"Oh ya? Mari kita buktikan, jika cintamu memang sudah tidak ada lagi untukku," ujar Ditya tenang. Kepalanya condong ke arah Maya, dan suara Ditya terdengar mengalun lembut, serupa dengan bisikan maut.


Maya terdiam tanpa terpengaruh. Padahal sejatinya, wanita itu tengah mengendalikan diri dan menepis getaran yang dulu sudah tercipta dalam hatinya untuk Aditya.


Tidak. Aku tidak boleh terpengaruh sedikitpun. Aditya tercipta bukan untukku! Camkan itu, Maya!


Batin Maya memperingatkan dirinya sendiri.


"Terserah kau mau percaya atau tidak, Ditya! Yang jelas, aku .... "


Baru saja Maya hendak menyelesaikan kalimatnya, sebuah kecupan lembut di bibirnya, mendarat tanpa tau aturan.


Maya terpaku di tempatnya, merasai darahnya yang mengalir deras, dengan sekujur otot yang terasa kaku akibat menegang. Wanita itu layaknya perempuan bodoh, yang hanya diam saat dirinya terlihat seperti tengah dilecehkan. Alih-alih marah, justru reaksi tak biasa pada tubuhnya, membuat rasa di hati Maya, kembali hidup.


"Aditya! Apa yang kau lakukan?" tanya Maya dengan nada penuh penekanan, setelah kesadaran wanita itu kembali.


"Kau tak bisa mengelak lagi. Cintamu hanya untukku!" ungkap Aditya, dengan tersenyum-senyum dan wajah menyebalkan bagi Maya.


**

__ADS_1


__ADS_2