Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Luka yang bertambah


__ADS_3

Langit nampak gelap, bermuram durja disertai arak-arakan mega yang siap menumpahkan air hujan. Sesekali, suara petir menyambar disertai kilat menakutkan dari langit. Angin kencang meniup area pedesaan kampung halaman Mayasari Arsyad dan Aditya Darmadji itu.


Adi Darmadji, adalah lelaki yang selama ini berdiam diri kala istrinya menginjak harga diri wanita yang ia cinta, Fatma. Ada banyak hal yang selama ini Adi simpan rapat-rapat, hanya agar istrinya tak tahu sebuah rasa yang hadir dalam dirinya.


Berapa lama lelaki itu mencari keberadaan Fatma dan putrinya? Sembilan tahun nyatanya cukup membuat Adi merasa tercekik hingga kehabisan napas. Janda satu anak itu, adalah cinta pertama Adi. Sialnya, putri Fatma itu juga adalah cinta pertama putra sulungnya.


Alam terkadang mengambil peran lucu dalam beberapa hal. Cinta yang seharusnya mampu menyejukkan, justru memberi gersang seumur hidup. Sudah tak dapat memiliki sepenuh hati, kini dihadapkan sebuah fakta yang menusuk seorang Adi Darmadji.


Hujan tiba-tiba turun, saat lelaki itu kembali menggenggam beberapa lembar foto yang menampakkan wanita yang ia cinta, bersama seorang anak lelaki yang demikian mirip dengan Ditya, putranya. Dialah cucu Adi juga, seharusnya.


"Bagaimana, juragan? Setelah juragan menemukan tempat tinggal Mbak Fatma dan Maya, apa yang akan juragan lakukan?" Tanya seorang lelaki yang selama ini menjadi kaki tangan tersembunyi Adi, Bonang namanya.


"Aku akan mendatanginya. Tapi pastikan Inayah dan anak-anak tak tahu," Jawab Adi kemudian.


Beberapa hal di masa lalu yang terasa bengkok, perlu Adi luruskan. Ia tak pernah menentang apapun yang orang tuanya katakan, hingga menerima perjodohan dengan seorang wanita yang memiliki sifat congkak lagi arogan.


Kisah menyakitkan Fatma dan Adi, harus terpisah dari orang yang mereka cintai. Beruntung kala itu, Ahmad, mendiang suami Fatma menikahi Fatma kala Fatma patah hati.


"Menginap, juragan?" tanya Bonang dengan serius.


"Ya. Kita cari hotel terdekat nanti. Jangan khawatir, semua biaya jika ada kekurangan, katakan saja. Aku lelah hanya menjadi boneka dan lap kaki oleh Inayah," jawab Adi dengan tatapan menerawang jauh, sambil berkata, "Ayah dan Ibuku telah tiada sekian lama, sudah saatnya aku memikirkan bahagiaku."


Senyum cerah terbit di bibir Adi, mengisyaratkan binar bahagia yang mungkin sebentar lagi akan ia raih dengan mudahnya.


**

__ADS_1


Pagi yang menjadi hari pertama Gavin memulai sekolah, adalah momen yang sangat di tunggu-tunggu oleh anak itu. Putra semata wayang Maya itu berjalan dengan penuh semangat, bersama sebuah payung yang bertengger diatas kepalanya, guna melindungi kepalanya dari lelehan air langit.


Maya juga demikian, berjalan tanpa payung dengan senyum, meski kantung matanya jelas tercetak di sana akibat tak merasakan lelap sama sekali. Agaknya, wanita itu letih, namun memaksakan tubuhnya untuk mengantar sang putra pertama kali, untuk pergi ke sekolah.


Sikap sang ibu Maya juga masih dingin, membuat Gavin tak nyaman kala anak itu masih sarapan. Tak hanya itu, Maya juga tak mendapat respon baik kala bertanya pada Fatma. Biarlah, mungkin memang inilah yang seharusnya Maya dapat.


"Ibu, aku akan sekolah sendiri, pulanglah dan Gavin harap, ibu tak terlambat menjemput Gavin sekolah nanti," ujar anak itu, agar ibunya bergegas pulang, "jangan lupa untuk istirahat. Jika masih mengantuk, tak apa, Gavin akan pulang sendiri. Toh dekat dengan rumah."


Maya berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan tinggi sang putra yang semakin tampan dari hari ke hari.


"Baiklah, Ibu akan pulang dulu," ujar Maya dengan senyum merekah.


Hingga lantas Gavin berlalu, Mata berbalik pergi. Baru beberapa langkah Maya berjalan, sebuah mobil mewah berwarna putih, berhenti tepat disamping Maya, membuat Maya sedikit minggir.


Sosok Aditya muncul dengan rambut acak-acakan, namun terkesan kian tampan dan macho. Seonggok daging dalam dada Maya terasa berdenyut seketika itu juga.


Bila sudah demikian, kemana lagi aku harus pergi? Batin Maya.


"Maya .... " sapa Ditya pertama kali, ketika lelaki itu telah berhadapan dengan Maya.


Tak bergeming, Maya memilih menghindari Ditya dan bersiap hendak pergi. Sayangnya, Ditya tak semudah itu dihindari. Lelaki berkepala batu dengan niat memburu Maya itu, tak akan melepaskan Maya.


"Maya, tunggu," kata Ditya pelan, seraya tangan tiba-tiba mencekal lengan Maya, "Maya tunggu, kita perlu bicara," tambahnya lagi.


"Lepas!" Hardik Maya dengan suara penuh penekanan. Wanita itu lantas menghempaskan tangan Aditya, dan menatap Ditya tajam seraya berkata, "jangan menemui aku lagi. Tidakkah kau mengerti dengan kosakata yang aku katakan? Pergilah Aditya. Aku tak butuh kau di sisiku. Aku berhenti dari dunia malam, semata karena Ibuku .... "

__ADS_1


"Dan Gavin Elano Darma? Begitukah maksudmu?" Timpal Ditya tanpa memberi kesempatan Maya untuk melanjutkan kalimatnya.


Maya melotot, tak menyangka jika Aditya akan tahu tentang Gavin. Baiklah, tak salah lagi jika ini semua pasti Jovita sebagai sumbernya. Wanita mata duitan nan ular itu, pasti memanfaatkan Ditya untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.


"Ya. Karena kau sudah tahu, tak ada gunanya aku mengelak. Sebaiknya kau pergi. Masalah diantara kita ... oh tidak, masalah diantara kau dan aku sudah selesai lama, Ditya. Jadi jangan ganggu aku!" Hardik Maya, masih dengan suara pelan dengan pandangan mata mengedar ke sekeliling, takut jika apa yang mereka perbincangkan, didengar oleh orang-orang sekitar.


Tak memberi kesempatan Ditya, Maya menghempas kasar tangan ayah dari putranya itu. Sayangnya, Ditya tetap bertahan dengan egonya kali ini.


"Tidak. Aku harus melalui banyak hal selama ini, Maya, untuk menemukan dirimu dan Gavin. Jadi, aku tak akan melepas dirimu begitu saja. Mari berbincang dan aku tak akan merah sebab kau tak jujur padaku mengenai Gavin," ajak Ditya dengan tatapan yang tajam.


Kini, baik Maya maupun Ditya sama-sama melempar tatap tajam.


"Tidak. Jangan harap ada celah sedikitpun untukmu bisa bertemu dan bicara padanya. Kau tak memiliki hak atas anakku!" seru Maya dengan suara tegas.


Air mata wanita itu itu nyaris tumpah, tetapi lihatlah, dengan baik wanita itu menahan dengan mata berkaca-kaca.


"Tetapi aku ayahnya. Aku memiliki hak untuk bertemu dengannya. Gavin juga berhak tahu aku ayahnya!" Ditya masih bertahan dengan statemen yang menurutnya benar.


"Persetan dengan semua itu. Aku tak peduli. Kau yang meninggalkan aku tergeletak begitu saja dalam gubuk nista, jika kau lupa itu," Maya nyaris kehabisan tenaga akibat digulung emosi.


"Jangan menghalangi aku bertemu dengan Gavin, Maya. Kau tak tahu bagaimana aku menjalani hari dengan luka yang tak bisa kau pahami. Aku mencintaimu .... "


"Juga mencintai Citra Lestari Darmadji, istrimu? Begitulah? Kau sudah membohongi banyak orang, kau juga tak akan mampu menebus barisan luka yang semakin Hari semakin bertambah, Aditya. Aku bukan hanya sekedar sakit, bukan sekedar terluka, tetapi aku lebih dari sekedar kecewa, bukan hanya pada dirimu, tetapi juga pada diriku sendiri!" Maya tak kuat. Hatinya terlalu rapuh.


Barisan luka yang selama ini Ditya berikan, selalu bertambah massa dari waktu ke waktu.

__ADS_1


**


__ADS_2