Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
42. Tangis tak berdaya.


__ADS_3

Dengan segumpal hati yang terasa perih menyertai, seorang wanita paruh baya berjalan seorang diri untuk keluar rumah meski wajahnya nampak pucat pasi. Dengan seonggok penyesalan tak berguna, Inayah berjalan seorang diri di pagi buta, hanya agar ia bisa berkunjung menemui Maya dan cucu pertamanya.


Inayah, wanita itu berjalan tertatih, dengan langkah pelan dan wajah yang tampak tidak baik-baik saja. Wanita itu juga dengan nekatnya, mengabaikan nasihat anak-anaknya untuk tetap menunggu di rumah hingga situasi bersama Maya, sedikit membaik.


Bodoh, Nayah tak akan menyangkal semua kebodohan yang melekat pada dirinya. Nayah sadar, dirinya memang harus segera meminta maaf meski ia sedang tidak baik-baik saja. Rumah tangganya bagaikan neraka, dan Nayah berusaha untuk memperbaiki semuanya secara pelan-pelan.


"Mau kemana, Bu?" Sherly tiba-tiba muncul pagi ini dengan wajah pucat. Tak seperti biasanya, Sherly bangun sepagi ini.


"Mau ke rumah Maya, Sherly. Ibu ingin meminta maaf padanya," jawab Nayah kemudian.


"Untuk apa, Bu. Putranya mirip dengan mas Ditya, bukan berarti itu anak mas Ditya. Bisa jadi dia jual diri dan mengandung anak lelaki secara random. Sudahlah, jangan memperumit masalah. Biarkan saja begini, toh dia tidak lagi menuntut tanggung jawab keluarga mas Ditya," sahut Sherly dengan ringannya.


Seperti belati yang menusuk tepat di jantung Nayah, lantas bagaimana jika Maya sendiri yang mendengar ujaran nyelekit dari putrinya itu?


Nayah tak menyangka, seraya berkata, "bisa-bisanya kau berkata begitu, Sherly. Kau ... tidakkah kau berpikir bahwa darah kakakmu mengalir pada tubuh putra Maya? Dia keponakanmu, Sherly, keponakanmu!" seru Nayah.


Kilat mata penuh amarah itu terpancar dari pendar mata Nayah. Hati wanita itu yang semula beku, kini seolah mengalir cair layaknya sungai. Berkata dalam murka, Nayah merasa bahwa jiwa iblis telah bertengger nyaman dalam hati putrinya.


"Terserah Ibu mau berkata apa, tetapi yang jelas, aku tidak mengizinkan ibu pergi kesana," tukas Sherly dengan mantap.


Putri Adi Darmadji yang angkuh, sombong lagi arogan itu maju, menarik tangan ibunya secara paksa, "ayo, Bu. Kita masuk saja. Lebih baik Ibu istirahat agar tidak sakit-sakitan," ujarnya tanpa perasaan.


"Betapa jahatnya dirimu, Sherly! Aku tidak menyangka kau akan seperti ini. Aku tidak mau! Aku tidak mau!" bantah Nayah seraya memberontak penuh murka.


"Lepaskan, Sherly, lepaskan aku!" seru Nayah lagi, yang tidak dihiraukan sama sekali oleh putrinya itu.


Seolah tuli, tuli telinga dan tuli hati, Sherly tetap menarik paksa Ibunya tanpa perasaan. Hati wanita itu seolah telah benar-benar dikuasai iblis jahanam.

__ADS_1


"Cukup, Sherly. Apa yang kau lakukan?" suara Citra tiba-tiba muncul, dengan lantang dan penuh penekanan.


Wanita yang kini telah dijatuhi talak semalam oleh Aditya itu, berlari cepat menghampiri Nayah yang menangis bercucur air mata. Citra merasa tak tega, tapi putri kandungnya sendiri justru bahkan lebih tega memperlakukan Nayah layaknya binatang.


"Mengapa kau perlakukan Ibu seperti ini? Mengapa kau tega begini, Sherly? Dia ini Ibumu!" hardik citra dengan berani.


Sherly menatap tajam Citra seraya berkata, "apa hakmu melarangku? Dia Ibuku, bukan Ibumu. Lagi pula kau hanya orang lain disini, bukan manusia yang memiliki ikatan darah dengan keluarga Darmadji. Kau juga bukan lagi menantu Ibu, jadi tak usah sok membela Ibu dengan dalih dia mertuamu!" hardik Sherly dengan berani.


"Aku ingin pergi sendiri ke rumah Maya, Citra. Aku ingin ke rumah Maya," pinta Nayah seraya bersembunyi di balik tubuh Citra untuk berlindung.


"Bu, kita akan kesana segera. Maaf, Ditya bicara padaku, dia yang akan mengantar Ibu dan Ayah untuk meminta maaf pada Maya. Citra yakin, Maya akan terbuka hatinya," jawab Citra seraya memeluk Nayah. Sherly berbalik pergi dengan wajah yang tampak menahan amarah.


Sebuah kelegaan, pada akhirnya kini kembali menyusupi hati seorang ibu, yang tengah didera rasa bersalah itu.


**


Apakah sebuah keinginan itu telah mati?


Atau mungkinkah hasrat untuk memiliki hingga ke urat nadi, telah terkubur dalam perut bumi? Nyatanya, Maya kini telah kehilangan banyak hal yang dulu pernah ia rasakan.


Wajah-wajah durjana yang dulu telah membuatnya menderita, duduk di ruang tamu, dengan banyak untai kata yang membuat Maya mual hingga pusing.


"Maya, Ibu sedang sakit dan ingin diantara kemari. Maaf jika telah mengganggu dirimu, dan juga maaf sebab telah membuatmu tak nyaman. Tetapi kedatangan kami kemari, semata karena ingin meminta maaf atas kesalahanku di masa lalu," Aditya membuka pembicaraan dengan tenang, setelah lama mereka hanya saling diam membisu, membiarkan hening menjalari suasana.


"Aku sedang mencoba untuk memaafkan, jadi tidak perlu datang kemari, dan jangan pernah lagi mengusik keluargaku," jawab Maya tenang, setenang permukaan air danau. Hanya saja, tak ada yang tahu jika hati Maya selayaknya dasar danau yang bergejolak.


"Maafkan aku, Nak," sumpah, Maya ingin muntah saat Nayah mengucap maaf pertama kali untuknya.

__ADS_1


"Kau berhak menghukum diriku atas salahku di masa lalu. Aku hanyalah seorang Ibu, yang menyesali semua salahku, dan ingin memperbaiki semuanya," sambung Nayah.


Maya tersenyum perih, tetapi tetap mempertahankan keangkuhannya yang membuatnya kuat hingga kini.


"Fatma, aku minta maaf," pinta Nayah seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada, "Maafkan salah dan khilafku padamu," sambungnya lagi.


Cuih, maafmu tak akan mengembalikan kebahagiaan putriku, Nayah. Maafmu pula tak akan bisa memutar waktu masa lalu dan mengembalikan Adi yang aku cintai. Karenamu, aku tak bisa lagi menggapai pria yang aku cintai.


Batin Fatma berteriak, tanpa sudi membalas apa yang Nayah katakan.


"Aku akan coba memaafkan semua orang yang bersalah padaku. Dan aku minta, pulanglah kalian, aku tidak mau membuat keributan yang tak perlu di rumahku yang sederhana ini," ujar Maya menimpali, ketika ia melirik ibunya yang hanya diam seribu bahasa, tanpa reaksi.


"Di mana Gavin?" tanya Ditya lirih, sedikit tak nyaman dan terlihat kikuk.


"Dia sedang tidur. Lagi pula kau tidak memiliki keterkaitan apapun dengan anakku, Ditya. Gavin anakku seorang diri, aku sendiri yang mengurusnya," jawab Maya masih dengan tenang, berusaha mengendalikan emosinya dengan baik.


"Kudengar tempo hari, putri kita, adik Gavin meninggal. Beri tahu aku, di mana pusaranya," ujar Ditya. Tatapan lelaki itu sendu.


Karenanya, darah dagingnya harus menyerah pada takdir yang demikian kejam.


"Jangan lagi membahas anakku yang telah tiada, Ditya. Karenamu, Gavin harus makan dari uang haram yang aku dapatkan. Karenamu pula, kembaran Gavin harus meninggalkan aku. Percayalah, aku dan Ibumu sama-sama seorang wanita. Kehilangan anak karena seseorang yang sangat dicinta, tidak membuatku gila saja adalah sebuah keberuntungan tersendiri untukku!" seru Maya, mulai kehilangan kontrol dirinya.


Nayah kembali syok dengan wajah pucat pasi, "jadi, jad ... jadi anak kalian ... kembar?" tanya Nayah yang terus dihantam badai fakta mengerikan di masa lalu.


Semua ini, salahnya. Nayah kembali memecahkan tangis tak berdaya.


**

__ADS_1


__ADS_2