Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Senyum manis tiada tanding


__ADS_3

Debur ombak kencang menabrak bongkahan karang di pinggir pantai, dengan angin yang meniup dedaunan yang ada di pesisir laut. Pasir air laut sore ini, cukup membuat Gavin dan Maya terhibur, kala wanita itu melepas penat dari padatnya aktivitas beberapa hari.


Membersamai Gavin, adalah cara terbaik untuknya melupakan sejenak bongkahan luka yang sudah menggunung. Anak itu berceloteh riang, menceritakan banyak hal yang beberapa hari ia lalui di sekolahnya.


Meski pagi tadi sikap Ibu Maya sudah tak sedingin hari kemarin-kemarin, namun Maya berpikir, luka dan kecewa ibunya masih tak sembuh. Maya sadar, dan tak akan putus meminta maaf pada Ibunya itu.


Sekilat rasa bersalah mulai bisa Maya kendalikan. Ia tak akan balik menghakimi ibunya, Hingga sebuah sapaan, berhasil membuat Maya bangkit dari lamunan yang menenggelamkan kesadarannya.


"Selamat sore, boleh bergabung?" Suara khas dan maskulin itu, berhasil menyapa telinga Maya, membuat pandangan mata Maya, tajam mengunci manik hitam di hadapannya yang berdiri dan menunduk menatapnya juga.


"Sore, tentu boleh, silahkan. Ini tempat umum," jawab Maya sekadarnya. Wanita itu berlaku biasa saja, tanpa berniat tebar pesona, maupun melempar tatapan genit menggoda meski sosok pria di dekatnya itu demikian tampan sempurna. Parasnya bahkan memiliki aura yang kuat berkharisma.


Gavin menoleh sekilas, sebelum ia kembali menekuri mainan di hadapannya. Nyatanya, membangun istana pasir yang baginya sulit itu, jauh lebih menyenangkan dibandingkan harus bertemu dengan orang baru.


"Kenalkan, aku Reno," lelaki yang mengaku bernama Reno itu, mengulurkan tangannya, menatap Maya dengan tatapan hangat menyenangkan.


Maya menatap Reno, dan menyambut tangan lelaki itu seraya berkata, "Aku Maya, dan ini Gavin, putraku."


Sorot terkejut tiba-tiba saja berkilat jelas pada netra lelaki itu, Maya bisa melihatnya dengan jelas, "Oh maaf, aku pikir dia adikmu."


"Tak masalah," jawab Maya seraya melempar senyum. Batin Maya, lumayan juga saat hatinya rapuh, ada orang asing yang coba membuatnya menepis luka hati yang sudah nyaris berkarat itu.


"Aku tak pernah melihatmu sebelumnya, apa kau baru pertama kali, kemari?" tanya Reno kemudian, duduk di atas pasir tanpa alas.


Sejak nyaris enam puluh menit lalu, Reno memperhatikan wanita yang memiliki pembawaan dan gesture mirip seperti mendiang kekasihnya, Maya tentunya. Rasa penasarannya melambung tinggi, dengan banyak tanya tentang wanita santun yang wajahnya nyaris serupa dengan mendiang kekasih, yang tenggelam di pantai beberapa tahun lalu.


"Aku baru pindah belum ada setengah bulan lalu. Dan hari ini memang kali pertama aku mengunjungi pantai ini," jawab Maya. Matanya sesekali melirik ke arah Reno sebagai lawan bicara, tidak lebih.


"Tinggal dimana?" demikianlah tanya Reno tanpa basa-basi, untuk mengobati rasa penasarannya.

__ADS_1


"Tak jauh dari sini. Kau sendiri?" Maya bertanya balik, melirik Reno.


"Tak jauh juga dari sini. Itu artinya, kita tetangga," jawab Reno. Lelaki itu merasa memiliki kesempatan untuk mendekati wanita itu.


Maya sendiri hanya membalas dengan senyum, tanpa menimpali kalimat Reno.


"Hai, Gavin," sapa Reno pada Gavin, tersenyum ramah. Sayangnya, Gavin hanya menoleh sekilas tanpa berniat menimpali, membuat Reno sedikit kecewa, "kau tampan sekali," ungkap Reno kemudian.


"Maaf, Reno. Putraku memang tak mudah dekat apalagi akrab dengan orang baru. Dia memang begitu. Tetapi percayalah, dia anak yang baik, akan akrab dan banyak bicara dengan orang yang dirasa tak asing baginya," kata Maya menimpali.


"Oh, tak masalah," jawab Reno menganggukkan kepala.


Hening kemudian, tak ada lanjutan percakapan dari dua insan dewasa itu. Keduanya fokus pada Gavin yang sangat berkonsentrasi membuat istana pasir seorang diri. Entah bagaimana caranya, baik Maya maupun Gavin, mencuri perhatian Reno, yang notabenenya sangat dingin pada semua orang di sekelilingnya.


Ada cerita, ada kisah, ada sejarah yang mungkin akan terukir mulai sekarang diantara dua insan dewasa itu.


"Dimana suamimu?" tanya Reno tiba-tiba, membuat Maya tersenyum maklum.


Maya ingat, tanya itu kerap kali maya terima, kala Maya dulu mengandung Gavin. Tak hanya itu, bahkan celaan, hinaan, dan juga makian sudah menjadi makanan Maya sehari-hari.


Bisa dipastikan, Reno pasti akan menjauhi Maya sebentar lagi, jika tahu bahwa Maya tak bersuami, dan mantan seorang pelacur.


"Aku tak bersuami. Putraku terlahir tanpa ayah, tanpa pernikahan," jawab Maya.


Suara debur ombak disertai dengan angin kencang khas lautan, mendominasi. Reno mengerjapkan matanya beberapa kali, sebagai tanda bahwa ia mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh lawan bicaranya.


Untuk zaman sekarang ini, **** bebas dan pergaulan tanpa batas sudah menjadi budaya dalam era modern. Tak heran bila kasus yang dialami oleh Maya, tak terjadi hanya pada satu atau dua orang.


"Jangan khawatir, Reno. Aku tak mungkin merayumu. Anak ini terlahir karena kesalahan masa lalu yang aku sesali. Hanya saja, sekarang aku lebih bisa menerima semua ini. Aku tak akan memaksa kau untuk tetap disini bicara denganku, kau boleh pergi jika kau tak nyaman bila harus dekat dengan wanita sepertiku," ujar Maya tenang.

__ADS_1


Suara wanita itu begitu lirih ketika topik tentang asal dirinya dan Gavin, diangkat ke permukaan. Ia hanya tak mau, sang putra mendengar percakapan yang tak seharusnya Gavin dengar.


"Oh, santai saja. Aku tak akan menghakimi masa lalu orang lain. Santai saja," ujar Reno menimpali, "Lalu, dimana lelaki masa lalumu? Maksudku, Ayah biologis putramu?"


"Dia sudah menikah," jawab Maya seraya tertawa renyah, "tentu saat ini dia sedang bersama istrinya, di rumahnya."


"Maya, bisakah kita berteman?" Reno bertanya.


"Tentu saja," jawab Maya.


"Rumahmu yang mana?" tanya Reno lagi.


"Rumah ujung sana, bercat putih dengan jendela coklat tua. Di depannya ada pohon kelengkeng yang masih kecil," jawab Maya.


"Rumahku berjarak tiga rumah dari rumahmu. Nanti malam mungkin aku akan berkunjung ke rumahmu sebagai tetangga dan kawan. Aku tinggal sendiri, jadi sering aku kesepian jika malam di rumahku," ungkap Reno, mencoba mendekati Maya lebih halus.


Ada penasaran tersendiri yang tiba-tiba meronta dalam hati Reno. Tentang sifat Maya yang lembut lagi santun, tentang masa lalu Maya, juga tentang ketenangan yang dimiliki wanita itu, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Reno.


"Baiklah jika begitu. Di rumah ada Ibu. Nanti biar aku kenalkan pada Ibuku," ungkap Maya.


"Terima kasih. Aku pulang dulu." ungkap Reno kemudian, menatap Maya dengan senyum menawan.


Maya melepas lelaki yang menjadi kenalan barunya itu, dengan tatapan aneh. Ia salah sangka, Reno tak menjauhinya seperti yang ia pikir.


Lelaki itu tampan, tetapi tak menghakimi Maya sama sekali, tentang masa lalu Maya. Selain itu, tak ada raut jijik sama sekali, yang Reno lemparkan pada Maya. Selain baik hatinya, Maya juga melihat jika Reno adalah lelaki yang rupawan, dengan garis wajah tegas maskulin, khas pria dewasa.


Sedang Reno, lelaki itu berlalu, tanpa melepas wajah Maya yang terpatri dalam ingatannya. Lihat saja, bahkan lelaki itu merasa aneh sendiri, kala mengingat senyum manis tiada tanding milik wanita beranak satu itu.


**

__ADS_1


__ADS_2