Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
55. Pernikahan (Tamat).


__ADS_3

Berdiri sepasang pengantin di atas pelaminan dengan anggunnya. Senyum manis nan menawan dari keduanya, begitu serasi hingga melahirkan decak takjub dari para tamu undangan.


Gaun berwarna putih gading yang dipadu dengan payet gold, melekat sempurna pada tubuh Maya yang sering melakukan perawatan. Begitu pula dengan tuxedo warna senada dengan gaun yang Maya kenakan, melekat sempurna membalut tubuh sixpack Ditya.


Bahagia kiranya tak akan pernah menjauh dari sepasang pengantin baru itu. Gemerlap lampu di sana-sini, serasa secerah suasana hati keduanya dalam pesta pernikahan ini.


Duduk Adi dan Nayah, serta Fatma dan Sherla di sisi pelaminan, dengan balutan busana putih yang indah. Mereka sama bahagianya dengan Ditya, meski ada seonggok hati yang mungkin akan merasakan nestapa.


Adi Darmadji, adalah lelaki malang yang selamanya tak akan pernah bisa menyentuh dan membersamai cintanya lagi. Seumur hidupnya, ia hanya akan melihat cintanya, berdiri sebagai besannya.


Kedengarannya memang lucu, tapi tidak bagi Adi. Ini adalah sebuah garis Tuhan yang tak adil baginya. Hanya saja, bila melihat kebahagiaan yang terpancar dari sorot mata Aditya, Adi demikian rela mengorbankan apapun.


"Terima kasih, Maya. Aku mencintaimu," bisik Ditya, yang entah berapa kali ia ucapkan. Rasanya Maya bosan, namun, gemas mendengarnya.


Bibir maya mengerut tak suka. Ia masih tak terima dengan bualan Ditya yang beribu kali mengatakan mencintainya, semenjak ia resmi menyandang gelar Nyonya muda Aditya Darmadji.


"Jangan hanya sekadar membual. Aku tak suka dengan omong kosong mu itu!" seru Maya seraya memutar bola matanya malas.


Di detik berikutnya, ada Gavin yang datang membawa ponsel mahal milik Ditya. Anak itu entah mengapa, selalu suka merecoki kedua orang tuanya. Banyak pasang mata, seolah menyaksikan suka cita mereka.


"Ayah, Ibu, bolehkah jika setelah ini, Gavin meminta adik pada Ayah dan Ibu?" Yahya anak itu dengan semangat, tentu saja Ditya tergelak kencang dibuatnya.


Dan ternyata, ameua itu adalah didikan Sherla.


"Boleh saja, asal nanti Gavin jangan nakal jika ingin segera menjadi kakak. Mengerti?" tanya Ditya, seraya mengerlingkan sebelah matanya pada sang istri.

__ADS_1


Di tatap demikian, Maya mendadak salah tingkah.


Tamu undangan yang baru saja datang, menghampiri mereka untuk berjabat tangan dan memberi selamat. Dan sesosok wanita yang datang diikuti seorang irai muda di hadapannya, membuat Maya menahan napasnya.


Jovita hadir meski Maya tidak memberi undangan. Entah apa maksud kedatangannya kali ini, yang jelas, Maya tak ingin berurusan dengan segala sesuatu yang menyangkut masa lalu.


"Hai, Sari," sapa Jovita, juga Nevan yang mengekor di belakang Jovita.


"Namaku Maya. Nama sari Donna telah mati sejak lama," jawab Maya, tersenyum menawan membalas senyum Jovita. Meski senyum manis tersungging di bibirnya yang luar biasa sensual, namun Jovita bisa merasakan betapa Maya menatapnya penuh peringatan.


Maya hanya tak mau, ada masa lalu yang hadir setelah ia memutuskan menerima Aditya. Luka, cela, hina dan tragedi di masa lalu, Maya sudah memutuskan untuk menutupnya.


"Oh, maaf," jawab Jovita seraya melirik Ditya yang menatapnya tajam, "aku kemari tak berniat untuk bersinggungan denganmu dan suamimu. Kedatanganku hanya sekadar untuk mengucapkan, selamat atas pernikahan kalian. Selamat, semoga bahagia dan selalu diberkahi banyak bahagia oleh Tuhan," ujarnya dengan tulus.


"Jangan terlalu memusuhi mami, Mayasari Arsyad. Biar bagaimana pun . . . " Nevan kali ini ikut menimpali, menatap Maya dengan tatapan dingin. Sayangnya, Maya segera menjegal ucapan Nevan dan menatap Nevan penuh ejekan.


Percayalah, Nevan seolah tak terima dengan takdir. Ia mencintai Maya, mengolok Maya ketika Maya disentuh banyak pria, namun menginginkan Maya dalam sisinya di waktu bersamaan. Ini tak adil. Apa yang Nevan inginkan, namun Nevan membentang jarak sejauh kutub Utara dan kutub Selatan.


"Aku harap di masa depan, kita masih bisa menjalin tali kekerabatan, Maya. Aku minta maaf atas salahku di masa lalu. Tetapi percayalah, aku menganggap dirimu sebagai anakku. Jangan sungkan mengunjungiku jika datang ke ibukota, dan aku akan melakukan hal serupa jika kau tidak melupakan aku," Jovita menepuk pundak Maya dengan lembut.


"Terima kasih. Jika niatmu baik, aku tentu menerimanya," jawab Maya.


Jovita mengangguk, bersiap hendak turun dari panggung pelaminan dengan kelegaan di hatinya.


"Jangan lupa untuk menikmati hidangan, Mami dan Nevan," ujar Maya sedikit lebih keras.

__ADS_1


Jovita hanya mengacungkan jempol pada Maya, menatap jenaka pada mantan anak asuhnya itu, "tentu saja, anakku. Terima kasih, aku akan menghabiskan semuanya."


Seruan Jovita, membuat Maya berubah lebih lembut. Ia pikir, Jovita akan menabuh genderang perang lagi dengannya. Nyatanya tidak, Jovita justru berhasil menebar kebaikan dengan seonggok ketulusan yang nilainya luar biasa berharga di mata Maya.


"Mas, lain kali, aku akan membawamu ke makam saudari Gavin," ucap Maya tiba-tiba.


Tentu Ditya terdiam, menganggap bahwa ini adalah tawaran Maya yang paling ia harapkan.


"Tentu saja, sayang. Aku ingin mengunjunginya. Kita ajak gabung ikut serta," sambut Ditya dengan senyum menawan penuh bahagia.


Pernikahan yang dulu terasa tabu bagi Maya, kini akhirnya terjalin juga. Sekelumit kisah penuh pilu dalam hidup Maya, berakhir pelaminan sebagai ganti air matanya.


Penolakan demi penolakan yang Maya berikan kada Ditya, adalah bayaran mahal yang Aditya terima. Umpatan, makian, dan juga pelampiasan amarah yang Ditya terima dari Maya, Ditya berpikir itu tidaklah seberapa bila di bandingkan dengan derita Maya.


Dari Kisha hidupnya Maya menyimpulkan, bahwa jika memang jodoh, Ditya pasti bisa meraih hatinya dan mengikatnya dalam janji suci pernikahan sekalipun Maya berkeras hati menolaknya.


Ketahuilah, Maya benar-benar bahagia di hari ini, setelah apa yang ia lewati.


Setiap duka, Tuhan tak akan membiarkan suka berlarut-larut selamanya, melainkan Tuhan pasti akan menggantinya dengan bahagia.


**Tamat!!


**


Jangan lupa singgah pada kisahku yang berikutnya🫰🤗**

__ADS_1



__ADS_2