Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Selaksa Dosa


__ADS_3

Tak ada pilihan lain bagi seorang wanita yang tengah merasakan kondisi terjepit situasi. Tak ada yang bisa Maya lakukan selain meredam sakit hatinya seorang diri kali ini. Meski batin meneriakkan protes akibat terlalu besar menanggung sakit, namun Maya mencoba untuk tegar.


Berapa kali Maya menerima pengkhianatan? Tak terhitung. Bahkan ia berkali-kali dilukai, di dusta, hingga akhirnya Maya mengalami krisis kepercayaan. Hanya pada dua sosok wanita dewasa saja yang Maya percaya.


Shela dan Ibu.


"Lantas bagaimana ini, Shela? Apa aku harus pergi ke desa dan memastikan bahwa tak ada apa-apa di sana? Aku khawatir Gavin ... maksudku, Ditya menemukan Gavin. Astaga, apa yang Mami Jovita pikirkan?" Tanya Maya begitu ia tiba di dalam bilik Shela.


"Aku mendengar Mami Jovita saat ini keluar, dan tengah ada janji temu dengan seseorang. Firasatku mengatakan, Mami akan pergi mengantar Ditya menemui Gavin," tambah Maya lagi.


Wanita yang diajak bicara, mengerjapkan matanya akibat kantuk. Tetapi kantuk itu hilang seketika, kala Maya menyebut nama Gavin, dan Aditya bergantian. Otak Shela berfluktuasi seketika.


Gavin Evano Darma.


Putra semata wayang Maya itu tinggal bersama Bu Fatma, di sebuah desa pinggiran perbukitan. Sengaja Maya mencari tempat yang jauh dari bising dan hiruk pikuk serta modernisasi, demi menjauhkan putranya dari dunia modern dan kemungkinan bertemu dengan keluarga Darmadji.


"Susul sekarang juga, Mayasari," titah Shela tegas. Namun lihat saja bagaimana reaksi Maya yang terlihat layaknya wanita bodoh.


"Ayo bersiap dan susul sekarang! Apa kau mau dengan mudahnya lelaki biadab itu mendapatkan Gavin dengan mudah?"


Hardikan suara Shela cukup membuat Maya kembali tersadar.


"Kau mau menemaniku?" tanya Maya kemudian, sesaat setelah dirinya bangkit dan mematung di tepi ranjang dalam bilik Shela.

__ADS_1


"Aku akan menemanimu dan mengantarmu kesana. Tetapi kau harus dengar dan lakukan ini, jangan mudah luluh dan memberi celah pada Ditya sedikitpun. Jika dia merayu dirimu, ingat satu hal, ingat saat-saat dimana kau hidup menderita karenanya," kata Shela, meracuni pikiran Maya perlahan.


"Kau juga harus tahu satu hal, Shel. Aditya telah beristri," ungkap Maya lirih. Niat yang tadinya hendak bersiap untuk menyusul dan memastikan Jovita tak bersekongkol dengan Ditya, kini urung tersebab ingatan Maya tentang istri si Aditya yang mengunjunginya baru saja, kembali terlintas.


Dengan lesu, Maya mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Apa? Apa-apaan lagi ini? Jadi, si bajingan itu telah beristri? Dan semalam dia menyewamu? Benar-benar bajingan sejati!" seru Shela yang kehilangan kantuk sepenuhnya. Padahal, semalam Shela begadang hingga semalam suntuk.


Wanita yang dipanggil sebagai Shela itu, menatap Maya yang menunduk. Ia tahu betul, sekecewa apa Maya terhadap masa lalunya. Dengan pelan, Shela berusaha untuk bicara lebih lembut, duduk tepat disamping Maya yang masih diam tanpa reaksi.


"Sebesar apa cintamu pada Aditya, Maya? Sebenarnya, apa yang membuatmu dulu begitu menggilai Dokter itu?" tanya Shela kemudian.


Tanpa menoleh ke arah Shela yang duduk tepat disampingnya, Maya menatap nyalang langit-langit salah satu bilik wisma pelacuran yang menjadi pusat bisnis Jovita. Sungguh perih, bila Maya harus menatap kembali pada masa sebelum sembilan tahun silam, dimana cinta untuk Aditya, sungguh berhasil membuatnya gila. Hingga efeknya berhasil memorakporandakan hidup Maya. Hancur berkeping, tanpa sisa.


"Hidup seolah mempermainkan aku. Hidup seolah membercandai aku. Kadang aku bertanya pada tuhan, bukan karena mengapa hidup ini terasa tak adil, melainkan bertanya, mengapa ia tak jadi milikku, sementara rasaku lebih besar bila ditanding dengan dunia? Kadang aku juga dibuat bertanya-tanya, Apakah surga dan neraka itu benar-benar ada?" tambah Maya.


Shela bingung harus menanggapi bagaimana.


"Kau tahu, Shel? Jika pelacur sudah pasti berdosa dan calon penghuninya neraka, apakah pintu surga tidak akan terbuka, untuk wanita yang menghidupi anak dan ibunya meski itu dengan jalan sesat penuh hina? Hina dina diriku ini, dengan selaksa dosa yang tak tahu harus kutebus dengan apa. Dan kau tahu siapa akar dari kenistaan ini? Aditya dan keluarganya lah penyebabnya," lirih Maya lagi.


"Sudah, sudah. Aku mengerti. Segeralah mandi dan aku juga akan mandi. Mari kita amankan Gavin. Jika nanti Mami dan Ditya belum menemukan anakmu, pindahkan saja ke tempat yang tak akan diketahui oleh Mami," ungkap Shela kemudian.


Bergegas dua wanita itu segera membersihkan diri. Tak ada sepatah kata lagi yang Maya ungkapkan. Namun, ada banyak kata yang Shela simpan, untuk ia lontarkan pada Maya nanti.

__ADS_1


Dalam pikiran seorang Maya, entah bagaimana caranya, ia harus kembali berurusan dengan Ditya.


**


Siang nyaris tiba, ketika mobil yang dikendarai Ditya dan Jovita serta satu anak buah jovita, memasuki sebuah pelataran rumah kuno yang sangat bersih. Tak hanya itu, ada sebuah sungai kecil yang mengalir di samping rumah itu, dengan sebuah pohon besar yang membuat rindang sekitaran rumah itu.


Seorang wanita paruh baya, tengah duduk seraya menyulam kain dengan benang. Satu-satunya kesibukan yang selama ini menjadi kebanggaan Fatma. Ya. Wanita itu adalah Fatma. Ibu Maya yang mengasuh Gavin dengan baik selama ini.


"Aku tak akan ikut turun. Tolong pancing anakku keluar dari rumah, dan jangan sampai Ibu Maya mengenali aku. Aku ingin melihat, bagaimana rupa putraku," kata Ditya tiba-tiba.


"Mengapa bisa begitu?" tanya Jovita kemudian.


"Bukankah kau ingin menemui putramu? Ini kesempatanmu untuk bisa melihat, mendekati, dan memeluk anakmu. Kau sendiri yang memintaku mengantarmu kemari?"


Tatapan mata Ditya terfokus pada Fatma yang masih asik menyulam kain. Hembusan napas kasar pria itu, beberapa kali terdengar di telinga Jovita.


"Aku belum siap. Mungkin lain waktu aku akan mengunjunginya sendirian. Lagipula, entahlah. Sepertinya mentalku tak sekuat tubuhku. Tolong, bawakan paper bag di bangku belakang, dan berikan pada Ibunya Maya," pinta Ditya, seraya menunjuk dua buah paper bag besar di sebelah posisi duduk anak buah Jovita tadi.


Hingga Jovita keluar dari mobil, seorang anak laki-laki keluar dari dalam rumah, seraya membawa buku dan pensil, menyambut Jovita dengan raut wajah datar. Anak lelaki itu, serupa dengan Aditya kecil. Wajahnya, pembawaannya, perawakannya, kilat matanya, hingga pesonanya, tak jauh berbeda dengan Aditya di masa kanak-kanak.


Jika sudah begini, bahkan awan di langit pun saling berarakan dan siapa menumpahkan air mata, jika Ditya tidak mengakui, lagi menyangkal bahwa anak itu adalah putranya.


**

__ADS_1


Jangan lupa kasih votenya manteman🄹


__ADS_2