Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Sebaris luka baru.


__ADS_3

"Sayangnya, aku berani bertaruh jika Maya tak lagi memiliki minat pada lelaki sepertimu," sahut Fatma tegas.


Dua orang keras kepala, tengah berdebat dan tak peduli pada Maya yang pergi dengan meremas dadanya akibat perih. Ia mendengar, dengan jelas, betapa perih hatinya saat kata pelacur di sematkan pada dirinya. Meski kenyataannya Maya memang pelacur, namun ada perih tersendiri yang tak sanggup Maya tekan.


"Jika kau sengaja menjual putrimu untuk tetap menjadi pelacur, aku yang akan menebusnya. Aku akan mengangkat dirinya menjadi istriku, dan memberinya kebahagiaan," ujar Ditya mantap, tak terpengaruh sama sekali akan penolakan Fatma.


Kala ingat sekilas akan wajah Gavin baru saja, cukup membuat Ditya tak tahan lagi. Keinginan untuk memiliki Maya dan Gavin begitu kuat meronta, mengalahkan akal sehatnya yang tak memikirkan Citra sebagai istri.


"Aku tak akan memberikan putriku, meski kau membelinya sekalipun. Uangmu, tak akan sanggup menebus luka hati putriku, juga tak akan sanggup membeli tubuh Maya sebanyak apapun nominalnya. Mari kita damai saja, putra juragan Adi. Meski sejatinya disini kau yang menjadi sumber penderitaan Maya, tetapi aku akan dengan senang hati melepasmu. Maka, jangan lagi mengusik kehidupan kami dan jangan mengganggu putriku lagi!" Seru Fatma dengan tegas.


Fatma adalah wanita yang keras kepala. Wanita itu bahkan tak akan goyah pendiriannya, sekalipun di imingi dengan dunia maupun kemewahan seluruh isinya. Sejak dulu, Fatma memang begitu dan Adi tahu itu.


Namun dibalik sifatnya yang keras kepala, Fatma tentunya memiliki pesona dan daya tarik tersendiri, hingga membuat Adi begitu menggilai janda mendiang Ahmad itu.


Ditya tak serta merta menyerah begitu saja, meski penolak demi penolakan Fatma layangkan. Lelaki bermata tajam dengan perawakan tegap nan gagah itu, menatap Fatma tajam seraya berkata, "Sayangnya, aku tetap tak akan menyerah begitu saja!"


"Pergilah Ditya, aku dan Maya sudah tak lagi memiliki urusan apapun denganmu. Pergi sebelum habis kesabaran ku. Aku sudah memberikan jalan baik padamu untuk tak memancing masalah, tetapi agaknya, kau ini sama keras kepalanya dengan Ayahmu," ujar Fatma, sudah mulai kehilangan kesabaran.


"Fatma, aku datang sebagai Ayah Aditya, memohon padamu untuk memikirkan kembali kedatangan Ditya dengan niat baik. Ngomong-ngomong masalah kesalahan di masa lalu, aku rasa semua itu memang salah Ditya. Tetapi bukankah setiap orang berhak berubah?" Tanya Adi kemudian.


"Ya, semua orang memang memiliki hak untuk berubah. Tetapi untuk kali ini, kesalahan putramu terlalu fatal. Aku tak bisa memberikan tolerir. Sudah sembilan tahun berlalu tragedi yang dia berikan untuk putriku, sembilan tahun pula aku tak pernah melupakan semua itu. Pergilah, lambat laun, aku dan Maya pasti akan memaafkan Aditya. Tetapi untuk saat ini, tolong jangan menekan kami!" tandas Fatma, membuat Ditya mendesah lelah.

__ADS_1


Tak ada pilihan lain bagi Aditya maupun ayahnya, selain pergi dari sana.


**


Dalam keseharian seorang Mayasari Arsyad selama sembilan tahun ini, terasa panjang dengan beragam jalan terjal berliku. Ada jutaan onak duri, dengan tombak yang kapan saja sanggup menikam Maya, tanpa Maya duga.


Pahit getir kehidupan, jauh lebih mendominasi. Tidak gila saja dalam menghadapi semua ini, adalah sebuah keajaiban bagi Maya. Andai Maya bisa memilih, ia lebih baik menjadi perawan tua saja, daripada harus hidup di dunia dengan rasa neraka.


Gavin diam, tak bertanya apapun karena tahu apa yang tengah terjadi pada orang tuanya. Bocah lelaki itu menyimpan banyak tanya dalam hatinya, terutama tentang lelaki yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Lelaki tegap yang wajahnya serupa dengan wajahnya.


Siapa lelaki itu? Gavin penasaran. Terbersit pemikiran, mungkin lelaki dewasa itu adalah ayah Gavin, meski sekilas tadi Gavin mendengar, percakapan orang dewasa yang tak begitu jelas baginya.


Desain angin sesekali terdengar, meniup rambut Maya yang terlihat ringan. Gavin diam seraya menatap Maya dengan banyak hal dalam hatinya. Ingin bertanya, namun Gavin sudah berjanji ia tak akan bertanya tentang siapa dan dimana sang Ayah.


"Gavin, maafkan Ibu," ungkap Maya tiba-tiba, dengan mengusap bersih air matanya. Tampak sekali bibir wanita itu memaksakan untuk tersenyum.


"Tak apa. Itu tadi, Ayah, bukan?" tanya Gavin hati-hati. Ia sudah berjanji tak akan bertanya tentang Ayah, tetapi tadi itu, Gavin berhak tahu siapa tamu yang datang ke rumah, sekalipun itu urusan pada orang dewasa.


"Gavin mau tahu?" tanya Maya kemudian.


"Ya, tentu saja. Gavin tak akan meminta Ayah untuk bersama kita, hanya sebatas ingin tahu saja. Tapi, jika Ibu tak keberatan memberitahu. Jika Ibu keberatan, Gavin tak akan memaksa," ungkap anak itu.

__ADS_1


Maya menganggukkan kepala beberapa kali, memahami betapa anak yang dilahirkannya ini, sangat istimewa dan pengertian.


"Pria yang terlihat masih muda duduk di dekat bufet mainan Gavin, itulah Ayah Gavin," ungkap Maya kemudian.


Gavin tersenyum ceria, seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Gavin senang?" tanya Maya.


"Ya, Gavin senang sekali, akhirnya tahu rupa Ayah bagaimana. Meski tak terlalu lama, tapi Gavin bisa mengingatnya," jawab Gavin.


"Apa Gavin tak merasa sedih? Atau, adakah keinginan untuk bersama Ayah?" tanya Maya lirih. Nadanya sangat-sangat hati-hati, disertai sebuah keingintahuan bagaimana reaksi anaknya.


"Sedih? Tidak ada sedih. Gavin sudah berjanji pada Ibu bahwa Gavin tak akan sedih lagi. Untuk sebuah keinginan, tentu ada ras angin bertemu dan tinggal dengan dua orang tua lengkap seperti teman-teman Gavin. Hanya saja, Ayah sudah punya keluarga, seperti yang Ibu katakan. Jadi Gavin tak ingin ayah lagi," jawab Gavin dengan bibir tersenyum, namun tatapan mata yang demikian sendu.


Ada sebaris luka yang kini bertambah lagi, Hati yang semula tangguh dan setegar karang, kini akhirnya harus retak menjalar, hanya karena deburan ombak yang berasal dari bibir mungil Gavin. Percayalah, luka Maya kembali terasa menyesakkan dada.


"Kita kuat, sayang. Ibu sudah berjanji sebelumnya, tanpa Ayah, Gavin bisa bahagia. Kita berdua, akan bangun dan ukir sendiri kebahagiaan kita. Ibu juga ingin berpesan pada Gavin, jangan pernah lagi berharap apapun pada Ayah. Jika suatu saat Ayah datang, jangan sekalipun Gavin menjauhinya, sambut dan bicara yang baik-baik padanya. Anggap saja, kedatangan Ayah untuk Gavin, semata hanya sebatas tamu," ungkap Maya kemudian.


"Tentu. Apapun yang ibu minta," Gavin mengangguk, seraya memeluk Maya dari samping.


Tahukah kau arti dari anugerah yang sesungguhnya? Ketika kau memiliki seorang anak yang mampu memerangi egonya, maka saat itulah kemenangan orang tua, nyata di depan mata.

__ADS_1


**


__ADS_2