Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Keputusan final menolak.


__ADS_3

Yang pernah terjadi antara Aditya dan Mayasari di masa lalu, jadi, inilah karma masa lalu. Cinta Adi pada Fatma, juga dirasakan oleh Aditya pada Maya. Sebuah hal yang cukup mengejutkan dan mengguncang emosi.


"Baiklah, jangan terlalu dipikirkan, Bu. Lebih baik Ibu istirahat. Banyak hal yang harus di lakukan esok hari. Jangan sampai ibu sakit dan tak bisa menemui Gavin setelah ini," sebuah janji tersirat yang terkandung pada kalimat Ditya, akhirnya mampu membuat Nayah sedikit lega.


"Tap, tapi ayahmu, Ditya. Dia tidak mencintaiku," jawab Nayah dengan nada menyedihkan dan mengandung makna penyesalan.


Faktanya, seberapapun sesal yang Nayah punya, tak akan sanggup mengembalikan situasi membalik. Alih-alih membaik, justru situasi makin rumit.


"Jangan lagi pedulikan cinta jika hati Ibu sudah terluka. Aku pun mengalaminya. Yang terpenting, Ibu harus buktikan dan lakukan hal yang bisa membuat orang yang Ibu cintai, bahagia dalam senyumnya," kali ini suara Citra menyahuti.


Sekuat apapun Citra menahan perih di hatinya, tetap saja citra tidak mampu menekan sakitnya. Ia dengan luas hati, mencoba untuk berkorban apapun, untuk prianya dan wanita masa lalunya bisa bersatu.


Mayasari dan Aditya, keduanya saling mencintai, dan juga saling melengkapi. Hanya saja saat ini, ego Maya terlampau tinggi.


"Untuk melihat seseorang yang kita cintai agar bahagia, terkadang kita memang perlu mengorbankan kebersamaan sebagai tumbalnya. Jangan khawatir, Tuhan tak akan menyulitkan manusia tanpa sebuah rencana besar. Bisa jadi, jodoh kita bukanlah pria yang paling dicinta," sambung Citra dengan bijaknya.


Senyum Citra begitu lepas, seolah tidak lagi merasakan perih seperti semula.


"Citra," panggil Ditya dengan suara lirih.


"Iya, mas. Aku sudah mulai bisa menerima takdir Tuhan. Yang terpenting, kejar Maya demi bahagiamu. Jangan sampai, pengorbananku ini sia-sia hanya sebab kau tak dapat membersamai Maya. Aku mendukungmu. Kejar Maya sampai ia benar-benar bisa kau genggam kembali hatinya. Besok, jangan tunda lagi untuk menceraikan aku," Citra menegaskan tanpa memberi kesempatan Ditya untuk bicara.


Tangis seorang Ibu yang menyesali keangkuhannya di masa lalu, kini kembali pecah. Apa yang saat ini menantu pilihannya itu rasakan, nyatanya juga ia rasakan.


Lantas, apakah dengan mudah Nayah akan melepaskan Adi Darmadji untuk Fatmawati?


Tentu saja tak akan semudah itu. Puluhan tahun menyandang gelar Nyonya besar Darmadji, membuat Nayah tetap akan mempertahankan pernikahannya dengan Adi.

__ADS_1


Mengapa?


Sebab antara Adi dan Fatma, tak memiliki anak sebagai pengikat mereka. Sedang Aditya dan Maya, ada Gavin diantara mereka.


Dengan sebuah penyesalan yang menggunung, Nayah berjanji pada diri sendiri, tak akan mengutus siapapun untuk datang ke rumah Maya. Dirinya akan datang seorang diri, menemui Maya, bertatap muka dan berusaha menawarkan perdamaian dengan Maya.


"Kalau itu menjadi keputusanmu, Ibu tak bisa mencegah, nak. Andai nanti kau tidak lagi menjadi istri Aditya, tapi kau tetap anakku. Jangan pernah berubah terhadapku, kau tetaplah putriku. Selamanya akan begitu," Nayah tersenyum dalam tangisnya.


**


Malam terus merangkak, memperlihatkan rembulan yang bersinar terang dan menyisakan pasukan awan yang sesekali menutupinya. Seperti hati Maya, yang di dera mendung, bahkan nyaris gerimis dan deras dalam heningnya malam.


Tak kuasa menahan luka di hatinya, Maya memangku kepala putranya, dalam diamnya malam dan melihat ke arah jendela. meski tertutup kaca, namun, dengan jelas Maya bisa melihat rembulan. Tak ada tempat lain yang bisa ia jadikan keluh kesah, selain pada Tuhan dan juga malam gelap pekat.


Ibunya?


Bahkan Maya seperti tidak percaya pada Fatma saat ini.


Tangan kanan wanita itu, mengusap pelan kepala Gavin dengan penuh sayang. Bayangan bulu matanya yang lentik, bergetar samar, seiring dengan air mata yang lirih, menetes tak tahu malu pada pipinya yang bersih tanpa noda.


"Maya, boleh Ibu bicara?" Fatma tiba-tiba muncul entah mulai kapan. Pintu kamar pun di tutup oleh Fatma, setelah Maya mengangguk mengizinkan.


Wanita paruh baya itu lantas duduk di tepi ranjang, mengangkat selimut hingga menutupi bahu Gavin.


"Maaf, Ibu minta maaf, Maya. Maaf sudah egois dan memilih jalan yang tak seharusnya. Sekarang Ibu lebih lega, Adi Darmadji, Ibu tak akan melanjutkan niat untuk bersama dengannya lagi," ungkap Fatma tanpa basa-basi.


Maya segera menatap Ibunya, dengan sorot mata lega.

__ADS_1


"Sudah seharusnya Ibu sadar, Bu. Tak seharusnya kita memiliki keterkaitan dengan keluarga Darmadji. Pulang ke kampung ini pun, awalnya menjadi kehendak Ibu, kan? Tapi ya sudahlah, tak masalah. Yang terpenting, Ibu sudah sadar," jawab Maya. Meski tidak menangis, namun, Maya tetap merasa sakit.


"Bagaimana dengan Ditya tadi? Samar Ibu mendengar, kau menolaknya," ujar Fatma.


"Ya, aku menolaknya dan menyuruh dia pergi dari rumah ini. Apakah itu salah? Tidak salah, kan?" tanya Maya balik.


Fatma hanya menggelengkan kepala seraya berkata, "tidak salah, Nak. Tetapi Ibu berpikir, Nayah tak akan tinggal diam sampai ia mendapatkan apa yang ia mau."


"Dan Maya tak akan tinggal diam, Bu. Mereka tak boleh menyentuh Gavin," jawab Maya cepat.


"Maafkan Ibu, harusnya ibu tak membawa kalian pulang ke kampung ini lagi. Ibu yang bersalah," Fatma kembali meminta maaf.


"Sudahlah, Bu. Semua sudah terjadi. Mari kita hadapi mereka bersama. Maya tetap tak akan membiarkan mereka bisa menyentuh Gavin seenaknya," ujar Maya kemudian.


"Baiklah. Ibu ingin bicara lagi padamu. Mungkin mulai lusa, Ibu akan membuka lapak di pasar. Bagaimana menurutmu? Ibu tak akan melanjutkan, jika kau tidak mengizinkan. Masalah Gavin, siang Ibu sudah pulang dan bisa membersamai cucu Ibu ini sampai malam," ungkap Fatma kemudian.


"Maya akan mendukung apapun yang menjadi keputusan Ibu," jawab Maya, mulai bisa tersenyum lega setelah gelap di hatinya melanda.


Fatma mengangguk penuh syukur, merasa bahagia dengan jawaban putrinya yang memuaskan.


Tepat ketika Maya baru saja menyelesaikan kalimatnya, pintu rumah di ketuk dari luar. Baik Maya maupun Fatma saling pandang, menebak-nebak siapa kiranya yang datang pada mereka di waktu yang telah larut seperti ini.


"Biar Ibu yang membuka pintu," ujar Fatma kemudian, seraya bangkit dari duduknya.


Langkah wanita itu segera menuju ke arah pintu utama, melihat siapa kiranya yang datang bertandang di waktu yang telah memasuki nyaris tengah malam.


"Adi Darmadji?" gumam Fatma, sedikit terkejut akan kehadiran sepasang mata yang menatapnya lembut.

__ADS_1


"Pergilah, Mas Adi. Aku sudah memutuskan untuk menyudahi semuanya!" tegas Fatma, membuat Adi menatap tak percaya pada wanita paruh baya itu.


**


__ADS_2