
Malam terus merambah. Dingin kian menusuk menembus kulit hingga ke tulang. Angin bertiup melalui kisi-kisi jendela, semakin menambah suasana mencekam di malam yang cerah.
Bulan yang menggantung indah dengan bentuk bulat sempurna, tengah menjadi saksi bagi sepasang dua insan yang memiliki kisah sejarah indah di masa lalu. Baik Fatma maupun Adi, kini sama-sama terjebak dalam nostalgia kisah lama yang terjalin diantara mereka.
Fatma saja nyaris lupa, dengan tujuan utamanya datang menemui Adi secara pribadi, secara sembunyi-sembunyi. Pesona Adi, masih sekuat dulu di mata Fatma. Kegagahan tubuhnya, masih bertahan meski rambutnya telah beruban.
Kejamnya masa lalu, nyatanya sanggup memisahkan keduanya yang saling mencintai.
"Jadi, ada apa kau tiba-tiba datang menemuiku, Fatma? Aku pikir kau tak akan berubah pikiran," ujar Adi, menaikkan sebelah alisnya tanda penuh tanya.
"Aku datang membawa sebuah kesempatan, mas Adi. Kesempatan yang jika kali ini kau siakan, kau tak akan pernah mendapatkannya kembali," jawab Fatma, dengan suara mendayu, khas Fatma sewaktu muda.
Hanya dari suara saja, Adi bahkan sanggup luluh. Mata yang nyaris renta dengan garis-garis di sekitar mata, menyiratkan kerinduan.
"Kau tahu, Fatma? Saat aku bertemu denganmu, hanya dengan menatap mataku saja, maka kau akan mengetahui betapa besar rinduku padamu," ungkap Adi, menggugah kembali rasa yang dulu pernah ada, "katakan padaku, apa itu yang kau maksud."
Fatma tak segera menjawab, melainkan memantapkan hatinya untuk mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Maka, ketika ujaran kebencian disertai dengan cacian Aditya kepada Maya kembali terngiang, maka Fatma tidak lagi berpikir dua kali.
"Aku bersedia kembali denganmu, menikah denganmu, dan menyudahi pertengkaran usang kita. Mari hidup berdua seperti apa yang dulu kita cita-citakan. Bukankah, sudah tak ada lagi penghalang diantara kita?" tanya Fatma kemudian.
Adi terkejut, tentu saja merasa tak percaya dengan apa yang diungkapkan oleh Fatma.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu pulang ke kampung halaman, serta berubah pikiran untuk menerimaku lagi? Bukankah sebelumnya, kau dengan keras menentang penawaranku?" tanya Adi, "dan lagi, pastilah kau datang meminta sesuatu padaku sebagai barternya, saat kau katakan kau bersedia bila kita kembali."
Usia Adi memang sudah tak lagi muda, namun lelaki itu masih sepeka dulu. Instingnya masih sekuat kala muda dulu. Jangan tanya bagaimana tebakan Adi, tentunya ia sangat tahu, bahwa pastilah ada sesuatu besar yang membawa langkah Fatma hingga datang menemuinya kemari.
"Aku datang selain untuk menerima tawaranmu, juga aku datang sebab aku ingin membabat habis penghinaan yang aku terima dari ... tak perlu aku sebutkan, kau pastilah akan tahu siapa sosoknya. Sudahlah, Mas Adi. Aku tak butuh banyak basa-basi, aku pun tak punya banyak waktu. Kau bersedia mewujudkan apa yang aku bicarakan ini, atau tidak. Jika tidak, aku akan pulang. Aku tak akan masalah dengan penolakan, andaipun penawaranmu sudah tidak lagi berlaku," jawab Fatma mantap.
Dan Adi tak lagi salah, jika tebakannya, adalah salah satu keluarganya yang telah membuat Fatma kembali padanya. Jika suatu saat nanti Adi tahu siapa orang yang telah membuat Fatma kembali, maka Adi akan mengucap terima kasih banyak pada orang itu.
"Baiklah. Aku akan mengurus semuanya. Apakah, ada lagi sesuatu yang kau ingin? Adakah poin perjanjian yang ingin kau ajukan padaku, sebelum kita menikah?" tanya Adi kemudian.
Tatapan mata Fatma mendadak bingung, tengah berpikir keras hendak bagaimana.
"Aku tidak ingin banyak kau atur, mas. Biarkan aku menetap di rumah lamaku bersama putri dan cucuku. Dan aku mohon, hargai privasi putriku, seburuk apapun masa lalunya," jawab Fatma dengan sorot mata yang sendu.
"Lantas, bagaimana dirimu? Adakah poin yang ingin kau ajukan padaku.?" tanya Fatma. Wanita itu menatap Aditya yang tersenyum cerah padanya.
Inilah yang Fatma takutkan. Fatma takut, bila nanti Adi menuntut banyak hal padanya. Semoga saja, apa yang Adi inginkan darinya, tidak begitu berat.
"Aku tak akan meminta apapun padamu, Fatma. Percayalah, aku hanya ingin hidup bersamamu, kau memaafkan aku atas kesalahanku di masa lalu yang menikah dengan Inayah, juga kau bisa menjadi istri yang baik serta dapat mengimbangi aku, itu saja. Selebihnya, semua bebas apapun yang kau inginkan dariku," jawab Adi.
Fatma melongo tak percaya. Pria dengan ego yang tinggi, pria dengan ambisi setinggi langit, tak menuntut apapun dari Fatma, ini sulit dipercaya.
__ADS_1
Sejak muda, Fatma kenal betul bagaimana Adi. Lelaki yang sulit takluk oleh banyak gadis pada masanya, mustahil tak meminta apapun darinya, atas permintaan yang ia ajukan.
"Aku tak percaya. Mustahil jika kau tak mau mengaturku dengan banyak hal. Mengapa kau bisa pasrah tanpa permintaan begini padaku?" tanya Fatma.
Senyum hangat serupa mentari pagi itu, kembali membuat perasaan Fatma luluh lantak. Pesonanya benar-benar sanggup membuat Fatma seolah berhenti bernapas.
"Kau tanya mengapa? Sebab aku mencintaimu tanpa syarat, Fatma. Andai ibuku tak mengatakan akan membuangku sebagai anaknya, dulu aku akan menerjang apapun badai yang menghalangi. Jujur, aku takut jika seorang Ibu sudah mengeluarkan sumpah serapahnya, keselamatan tak akan ada padaku. Sekarang, Ibu dan Ayah sudah tiada, tak ada lagi yang bisa menghalangiku untuk bisa kembali memilikimu lagi," jawab Adi panjang lebar.
Seonggok hati dalam dada Fatma begitu tersentuh. Haru menyelimuti hati wanita itu. Andai saja dulu takdir tak begitu kejam memisahkan dirinya dan Adi, mungkin tak ada kisah luka penghinaan seperti ini.
"Ada. Inayah tak akan tinggal diam, jika nanti kau sungguh menikahi aku," ungkap Fatma kemudian.
"Jika dia tak suka, aku tak keberatan andai dia ingin pergi dari hidupku. Tetapi jika dia masih ingin sedia menikmati hartaku, aku tak akan mengusirnya. Di masa tuaku, aku ingin hidup hanya dengan wanita yang aku cintai," ujar Adi.
"Sebesar apa cintamu padaku, hingga kau begitu, mas?" tanya Fatma.
"Bahkan di dalam badai yang sudah berlangsung lama, aku masih setia memelihara cinta ini, Fatma. Aku tak mampu membayangkan, sebesar apa itu cinta di sini untukmu," jawab Adi, seraya menepuk dadanya beberapa kali.
Fatma merasa bersalah sendiri. Ia datang hendak memanfaatkan pernikahan, untuk membalas Aditya, ibu dan adik-adiknya. Sungguh, apakah tindakan Fatma ini di benarkan?
"Aku harap, setelah kita menikah nanti, kau tidak hanya sekadar memiliki niat untuk mencapai sebuah tujuan. Apapun yang kau mau, kau bisa memintanya padaku, akan aku kabulkan semua. Hanya saja, setelahnya, berikan aku cintamu. Hanya cintamu," tambah Adi lagi.
__ADS_1
Fatma terdiam di tempatnya, seolah merasa hatinya bimbang.
**