Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
47. Sebuah tekad.


__ADS_3

Kilat bahagia jelas begitu terpancar, dari sorot netra Maya dan Gavin hari ini. Sepasang Ibu dan anak itu, keluar rumah bersama untuk pertama kali selama mereka tinggal di kampung halaman.


Pemandangan yang asri non polusi, membuat Gavin justru lebih suka berada di tempat ini. Hanya saja, mungkin ke depannya Gavin tak akan tenang, sebab harus berurusan dengan keluarga Adi Darmadji tanpa izin dari sang Ibu.


"Ibu, setelah ini cukuplah kita di desa ini saja. Jangan pindah-pindah sekolah lagi, Gavin lelah," ujar anak itu seraya memajukan bibirnya.


Maya tersenyum gemas dibuatnya.


"Iya, sayang. Jangan khawatir. Jika nanti di sekolah Gavin diledek tidak punya ayah, Gavin tidak lupa, kan, bagaimana menjawabnya?" tanya Maya menggenggam tangan putranya dengan erat.


"Tentu tidak lupa. Aku akan menjawab, tetapi dengan jawaban yang berbeda dengan yang Ibu ajarkan," jawab Gavin ringan.


Tentu saja Maya mengerutkan keningnya. Langkahnya yang baru beberapa meter dari rumah, terhenti seketika.


"Memangnya Gavin punya jawaban lain?" tanya Maya keheranan.


"Ya, aku sudah merangkai kata yang tepat untuk mematahkan ledekan tak punya Ayah," jawab Gavin tertawa lebar. Langkah bocah itu tetap berlangsung.


Anak itu, entah mengapa begitu merasakan hatinya gembira hari ini. Kejadian semalam yang membuatnya tak nyaman, kini seolah sirna tanpa bekas.


"Apa jawabnya?" tanya Maya lagi, mendesak putranya agar menjawab dirinya.


"Aku bukan tak punya Ayah. Lihat saja wajahku yang tampan ini. Aku mirip dengan Aditya Darmadji dokter terkenal itu, karena aku anaknya. Hanya saja, nasibku tak seberuntung kalian bisa bersama dengan sang Ayah," bagai disentak seketika hati Maya, mendengar penuturan sang putra yang dinilai begitu berani.


Apa kata Nayah dan anak-anaknya jika mendengar ucapan Gavin? Maya khawatir apa yang Gavin katakan, mereka kira Maya lah yang mengajarkan.

__ADS_1


Mendadak Maya merasakan darahnya berdesir dengan degup jantung yang terasa kencang seketika. Maya tak mau, jika ia dituduh menjadikan Gavin sebagai alat untuk mendapat Aditya.


Dalam pikiran Maya, Maya sudah berusaha membunuh mati harapannya untuk bersuamikan Aditya. Tidak. Maya tak mau lagi.


"Jangan macam-macam, Gavin. Jangan berulah dengan mengatakan hal yang tidak perlu. Jangan katakan apapun tentang Ayah Gavin. Ibu tidak mau, jika nanti Gavin mendapatkan masalah dan membuat Ibu menjadi bulan-bulanan keluarga Ayah. Gavin tahu sendiri, bukan, jika kita tak sederajat dengan keluarga Ayah?" tanya Maya, sedikit memberi pengertian.


Sayangnya, Gavin tetaplah Gavin yang keras kepala dan mewarisi sifat ayahnya.


"Tetapi sejauh yang aku dengar, keluarga Ayah sangat suka dengan Gavin, tapi mereka tak bisa dekat dengan Gavin karena Ibu melarangnya," telak Gavin berkata memojokkan Maya.


Demi langit dan bumi yang kini menaungi Maya, Maya demikian sangat tak tahan dengan kepintaran putranya yang seperti melewati batas.


"Sudah, jangan bahas apapun terkait dengan keluarga Ayah. Intinya hanya itu," Maya menyerah, mulai tidak suka membahas tentang Ditya dengan Gavin.


Gavin tersenyum penuh kemenangan. Keduanya lantas berjalan berdampingan menuju sebuah bangunan sekolah dasar. Ada beberapa siswa-siswi yang berjalan juga seperti Gavin. Tak hanya itu, Maya juga melihat mereka memandang pada Gavin.


"Maya, Gavin. Kalian mau ke sekolah?" tanya Aditya, kala lelaki itu turun dari mobil dan menghampiri Maya.


Gavin hanya mengangguk. Anak itu memang irit bicara jika tidak bertemu setiap hari dengan seseorang itu. Hanya pada Maya dan Fatma, Gavin bicara banyak dan lebih terbuka atas banyak hal.


"Baiklah, hari ini Ayah pamit untuk kembali ke kota setelah mengantar nenek ke klinik milik teman Ayah. Jika Gavin punya waktu luang dan Ibu mengizinkan, mainlah ke rumah Nenek," pamit Ditya pada Gavin.


Kembali mengangguk, sedikitpun Aditya tak diberi kesempatan untuk bicara dengan Gavin.


"Maya, aku pamit. Maaf, sudah membuatmu terluka di masa lalu," ungkap Aditya, tanpa jawaban apapun dari Maya.

__ADS_1


Tak akan pernah ada kata bosan.


Tak akan pernah ada kata jemu.


Tak pernah ada kata henti untuk sebuah maaf dari Maya. Berkali-kali pun Aditya mengucapkan, Ditya tak akan merasa lelah.


Di dalam mobil, Sherla tidak kuasa kembali menahan tangisnya. Ibunya pingsan sejak tadi akibat mendengar kabar kehamilan Sherly. Karma ini begitu kejam membalas keluarganya mereka.


Beginikah keadilan di dunia?


"Ayah pamit, Gavin. Setiap akhir pekan, Ayah akan datang berkunjung dan kita akan habiskan waktu bersama. Jangan lupa rajin belajar dan jaga diri baik-baik. Jaga ibu dan Nenek juga," sambung Ditya lagi.


Secara spontan, Aditya mengecup puncak kepala Gavin tanpa aba-aba.


Taukah apa yang terjadi? Gavin yang semula suka menolak orang asing dalam hidupnya, kini tak lagi menolak. Rasanya mengalir kehangatan dalam hati anak itu.


"Lihat, Bu. Ayah menyayangi Gavin. Ini bukan katanya, tapi Gavin bisa merasakannya," ujar anak itu, selepas Aditya berlalu pergi, membawa mobilnya menuju klinik kampung di sana.


"Ibu tidak suka jika nanti kau dekat-dekat dengan mereka, Gavin. Lebih baik begini saja daripada berujung sakit hati," ujar Maya lagi.


"Ibu pernah bilang, serupa orang yang pernah melakukan kesalahan, berhak mendapatkan kesempatan kedua dan maaf. Banyak teman Gavin yang bersalah, tapi Ibu selalu mengajarkan Gavin untuk memaafkan. La ni tas, kenapa Ayah tidak boleh di maafkan?


Dengan jengkel, Maya menghempas tangan Gavin dan meninggalkan anak itu berbalik badan untuk pulang ke rumah.


"Sudah aku bilang, anak itu benar-benar tak beda jauh dengan Aditya!" seru Maya dengan hati tak menentu.

__ADS_1


Gavin sendiri hanya diam, seraya melanjutkan langkahnya menuju sekolah. Dalam hati Gavin berjanji, Gavin bertekad untuk bisa memiliki keluarga utuh. Tak peduli apapun yang terjadi pada keluarganya di masa lalu, Gavin hanya ingin memberi kesempatan Ayahnya buang bersungguh-sungguh meminta maaf menyesali semuanya.


**


__ADS_2