Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
50. Tamu tak diundang.


__ADS_3

Bagi sebagian orang, ditinggal cucu terlalu lama untuk bermain, adalah hal yang lumrah. Namun, hal itu tidak bagi Fatma. Wanita itu cukup cemas menunggu kehadiran cucu yang ia rawat sejak bayi, sebab pergi bermain sedari hari menjelang sore tadi hingga senja nyaris tiba.


Katanya hanya bermain di rumah anak tetangga, yang biasa Fatma kunjungi. Namun hingga hari nyaris petang, Gavin tak jua kunjung pulang.


"Dimana Gavin, Maya? Kenapa dia belum juga pulang dari bermainnya? Apa dia menemukan teman yang cocok untuknya, sampai lupa pulang?" Fatma berjalan mondar-mandir di dalam ruang tamu, menunggu Gavin dengan cemas berlebihan.


"Maya juga tidak tahu, Bu. Tunggu saja disini, Maya akan mencoba mencarinya," jawab Maya, seraya bangkit berdiri.


Langit sore semakin jelas kentara, ketika Maya keluar dari rumah. Langit kampung terbalut warna biru muda dengan berpadu bersama warna jingga, yang nampak di sekitar perbukitan kampung. Maya tak sabar, untuk membawa Gavin pulang sebelum cerah berganti petang.


"Gavin, ayo pulang. Nenek sudah menunggumu pulang," ajak Maya pada Gavin, ketika mendapati putranya tengah makan semangkuk bakso seorang diri, di pos ronda bertemankan Abang penjual bakso.


Maya menghampiri Gavin, bertanya pada sang penjual bakso keliling, untuk membayar bakso yang sudah Gavin makan.


"Berapa semuanya, pak?" tanya Maya.


"Sudah dibayar semuanya, Bu. Malah kembaliannya sudah dikantongi," jawab si penjual bakso dengan senyum. Maya mengerutkan kening, merasa ia tak memberi Gavin uang sebelum berangkat bermain tadi.


"Ayah yang memberiku uang tadi, Bu, sebelum berangkat ke kota," ujar Gavin seraya meletakkan mangkok bakso di meja depan Abang penjual bakso.


"Baiklah, sudah selesai, kan? Ayo pulang," ajak Maya seraya mengulas senyum pada Abang penjual bakso.


Gavin mengangguk dan menghampiri Maya. Anak itu tersenyum senang, merasa bahwa Ibunya tak marah kali ini.


Gavin hanya tak tahu saja, sekalipun tak terlihat marah, namun, Maya menyimpan rasa tak nyamannya seorang diri. Gavin, jangan sampai putranya itu tahu.


"Ibu tidak marah?" tanya Gavin pelan, dengan nada hati-hati.


"Marah. Ibu sangat marah. Tapi mau semarah apapun, uangnya sudah kau makan, jadi percuma," jawab Maya dengan nada sedikit meninggi.

__ADS_1


"Baiklah, Gavin minta maaf. Kalau dibuang atau ditolak, juga percuma, Bu. Uangnya sayang kalau ditolak. Kata Ibu, menolak rejeki sama artinya dengan menghina Tuhan," jawab Gavin, mengingat akan nasihat Ibunya saat keduanya masih tinggal di ibukota.


"Katakan pada Ibu, berapa uang yang Ayah berikan untukmu membeli semangkuk bakso?" tanya Maya, seraya menuntun Gavin dan meneruskan langkahnya. Wanita itu menatap lurus ke depan, tanpa melepas genggaman tangannya pada Gavin.


"Lima lembar uang merah. Untuk pertama kalinya, Ayah memberi uang pada Gavin," jawab Gavin tertawa renyah.


Maya tak habis. Ini sama sekali bukanlah lelucon, namun, Gavin tertawa-tawa bahagia hingga membuat Maya menahan kesalnya seorang diri. Bagus, Maya masih bisa menahan emosinya. Gavin benar-benar pandai menguji kesabaran ibu satu anak itu.


"Dan Gavin senang menerimanya?" tanya Maya seraya menghentikan langkah, hingga membuat Gavin juga menghentikan langkahnya.


"Senang, sangat senang," jawab Gavin seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.


Sekali lagi, Maya menghembuskan napasnya kasar. Maya lelah dan tidak tahu, bagaimana ia harus menyadarkan Gavin kali ini.


"Gavin pernah ingat, tidak, bahwa Ibu pernah mengatakan, jika Gavin jangan terlalu dekat dengan Ayah. Keluarga Ayah tidak sederajat dengan kita. Kita bukanlah apa-apa bagi mereka, Gavin. Ibu tidak mau kau banyak bicara dengan Ayah, apalagi keluarganya," Maya mengingatkan.


Langit senja kian terlihat kemerahan. Gelap perlahan menyapa, ketika kini Maya nyaris tiba di depan rumahnya. Wanita itu tak mau kedahuluan gelap menyapa mereka. Lantas, Maya kembali melanjutkan langkah usai menasihati putranya itu.


Anak seusia Gavin, harusnya tidak mencampuri urusan orang dewasa sejauh ini. Tetapi lihatlah anak dari hasil benih Aditya ini, terlalu cerdas dan seringkali memojokkan Maya dengan dalih 'kata Ibu dulu'.


"Terserah padamu lah, Gavin. Ibu lelah bila harus mendebatmu. Kau selalu benar dan Ibu yang salah," timpal Maya.


Keduanya tiba di rumah, dan Fatma menyambut mereka dalam balutan cemas. Entah mengapa, Gavin dan Maya beberapa hari terakhir ini, saling berseberangan.


"Gavin, kau dari mana saja, sesore ini baru pulang?" tanya Fatma pada cucunya itu.


Baru saja Gavin hendak membuka mulut untuk menjawab, sang Ibu menyela lebih dulu dengan berkata, "lihatlah cucumu itu, Bu. Dia baru pulang membeli bakso dari yang yang Ditya berikan. Anak itu benar-benar tidak mendengar nasihatku," jawab Maya dengan sedikit emosi.


Fatma mengerutkan kening kala mendengar ujaran kekesalan Maya.

__ADS_1


"Benarkah? Gavin, harusnya kau tak menerima apapun yang diberikan dokter Aditya, nak. Itu tidak baik. Kau dan Ibumu, bukan tanggungan dokter Aditya," jelas Fatma seraya menuntun Gavin untuk duduk di sofa ruang tamu. Suara wanita itu lembut menasihati Gavin.


"Tapi Gavin tidak memintanya, Nek. Ayah yang memberikan sendiri pada Gavin," jawab anak itu membantah.


"Lain kali, jangan terima apapun dari dokter Aditya, tanpa seizin Ibumu, kau mengerti?" tanya Fatma sekaligus menasihati cucunya yang agak bandel itu, belakangan ini.


"Katanya jika menolak rejeki, sama artinya dengan menghina Tuhan. Ibu yang mengatakannya beberapa saat lalu," jawab anak itu, masih membantah apa yang orang tua katakan.


"Lihatlah, Bu. aku tak habis pikir. Mengapa keras kepala ayahnya, diturunkan pada putraku. Semoga aku tak mengalami pening berkepanjangan di masa depan," ungkap Maya, sebelum kemudian menatap Gavin dengan tatapan yang sadis mengerikan bagi Gavin, "karena kau sudah pulang selambat ini, cepat mandi, bersihkan diri dan belajar. Ibu tidak mau kau malas belajar dan bodoh seperti Aditya si kepala batu itu!" seru Maya .


Wanita itu lantas masuk ke dalam kamar. Namun, langkahnya terpaksa harus berhenti sebab Gavin menimpali kalimatnya, hingga membuat Maya kian berang.


"Ibu yang benar saja. Aku anak dari seorang dokter. Mana mungkin orang berotak bodoh bisa menjadi dokter seperti Ayah?" suara Gavin, seolah sanggup membuat Maya nyaris darah tinggi saat ini.


"Astaga, Tuhan. Kuatkan aku," lirih Maya menyerah.


Langkah wanita itu terhenti, ketika suara ketukan pintu, terdengar oleh rungunya.


"Nenek akan buka pintu. Sekarang, Gavin cepat mandi sebelum Ibu marah besar padamu," perintah Fatma pada Gavin.


Gavin mengangguk dan berlalu menuju kamar.


Langkah Fatma terayun menuju pintu, membukanya dan melihat seseorang, berdiri dengan penampilan menyedihkan di depan pintu.


"Sherla? Ada apa kemari?" tanya Fatma kemudian.


Alih-alih menjawab, sherla justru mengatupkan kedua tangannya, dan mengemis untuk bisa bertemu serta bicara dengan Maya.


"Tolong Sherla, Bu Fatma. Tolong Sherla untuk bisa bertemu dan bicara dengan mbak Maya, hanya kali ini saja. Tolong," pinta Sherla dengan mengiba dan suara serak.

__ADS_1


Tamu tak diundang itu, entah mengapa membuat Fatma curiga.


**


__ADS_2