Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Cerita Sembilan tahun silam


__ADS_3

Petaka di tengah malam ....


Nyatanya tak seburuk kisah hidup seorang Mayasari. Wanita yang berprofesi sebagai LC sekaligus pelacur itu, menatap nyalang pada sosok yang telah menorehkan segentong luka pada Maya.


Maya murka, ketika dengan pongahnya Aditya justru menahan tubuhnya, saat Maya menangis meraung dan minta dilepaskan.


Kini, tubuh yang pernah berjuang melawan kejamnya kehidupan itu, tak lagi memberontak, tak lagi memaki seorang Ditya. Sebisa mungkin Maya mengendalikan dirinya, dan menahan segala murkanya.


"Mari duduk dan ceritakan semuanya, Maya. Aku ingin mendengar kejelasan dari kesalahpahaman di masa lalu," ajak Ditya, seraya menuntun Maya untuk duduk di atas sofa.


"Cukupkan dulu marahmu, Maya. Aku ingin kita bicara dengan kepala dingin. Aku tahu, segalanya tak lagi sama semenjak sembilan tahun silam kau kusakiti," ucap Aditya.


Maya sendiri hanya diam, tak menyahut dan menatap kosong layar besar yang terpampang di tembok sebelah pintu.


"Katakan padaku, Maya, katakan apa yang terjadi selepas kepergianku malam itu," pinta Ditya lagi.


"Sumpah demi langit yang memayungi dan bumi yang menopangku, hei putra Darmadji, aku bersumpah aku tak ingin mengingat malam kelam itu hingga seterusnya. Aku pernah dinilai rendah dan pernah hidup dalam kondisi paling hina di matamu. Maka aku tak salah ketika aku memutuskan menjadi wanita penghibur, karena nyatanya keluargamu yang menuduhku telah merayumu agar tergoda. Pergilah, jangan membuatku mengatakan tiga kali, sebelum aku menepati janjiku untuk menghabisimu!" Seru Maya yang masih menatap kosong tembok di hadapannya.


"Tidak. Ceritakan padaku apa yang keluargaku lakukan padamu," pinta Ditya.


Lelaki keturunan Darmadji itu berniat meraih dan mengusap lembut telapak tangan Maya, namun Maya menepisnya dengan kasar sambil berkata, "sumpah demi tuhan Aditya, jangan pernah menyentuh wanita kotor sepertiku," tegas Maya kemudian.


"Sebenci itukah kau hingga kau tak ingin kusentuh? Baiklah. Aku tak akan memaksa. Yang terpenting, beritahu aku, sekejam apa keluargaku padamu sembilan tahun silam," pinta Ditya lirih. Lelaki itu bahkan telah turun dari kursi dan berjongkok di harapan Maya.


Maya hanya bisa menatap Aditya dengan sorot mata terluka. Impian dan banyak harapan yang telah musnah, kini seolah kembali bangkit lagi sekembalinya Ditya dalam pandangannya.

__ADS_1


"Kau yakin kau ingin mendengarnya?" tanya Maya, masih dengan sorot terluka bercampur amarah. Suaranya bergetar pilu, menampakkan kerisauan di dalam hatinya.


"Ya, ceritakan dan keluarkan segalanya. Jangan kau pendam lagi. Kini, aku telah kembali dan ada di hadapanmu. Kau bebas meluapkan dan melampiaskan amarahmu padaku, Maya," jawab Ditya kemudian.


Maya meraup oksigen dalam-dalam, berusaha meredam emosi yang seolah nyaris meledak lagi saat ini.


Awal tragedi sembilan tahun silam ....


Malam penuh tragedi itu, dimana Maya yang melakukan penyatuan raga dan jiwa bersama Ditya, disusul oleh pagi penuh petaka. Maya berjalan terseok seorang diri di pagi buta, diantara pematang sawah milik ayah Ditya kala itu. Bahkan di saat pekerja belum ada yang pergi ke sawah.


Maya ditinggal seorang diri di dalam bilik bambu beratapkan daun rumbia, oleh Aditya. Begitu sepasang mata sembab itu terbuka, tangan Maya meraba dipan bambu kokoh beralaskan kasur lantai yang biasa digunakan oleh pekerja untuk istirahat, di tengah letihnya menggarap ladang.


Dada Maya seolah tersentak oleh keadaan ini. Usai menggumuli dirinya penuh napsu, Ditya telah pergi, meninggalkan dirinya dengan sebaris luka.


Baru sebaris, namun nyatanya luka itu Ditya biarkan begitu saja tanpa berniat untuk mengobatinya. Bila ditanya tentang sesal, Maya demikian sangat menyesalinya. Tetapi biarlah, nanti Maya akan menemui Aditya dan menanyakan keseriusan Ditya yang Ditya janjikan pada Maya.


Kondisi tubuh yang kurus karena kurang gizi, disertai dengan kehamilan yang belum Maya sadari, Maya memberanikan diri untuk memeriksakan kondisi tubuhnya ke puskesmas terdekat. Selain keterlambatan tamu bulanan, tak ada yang Maya risaukan kala itu.


Betapa petir telah menghantam hati dan kepala Maya, ketika seorang bidan di puskesmas, memberinya keterangan bahwa Maya tengah mengandung. Maya risau, tatkala membayangkan, ibunya tahu kondisi Maya saat itu.


Pemilik rambut bergelombang itu memutuskan untuk pergi menemui Ditya di rumahnya. Hanya itu satu-satunya cara, yang menurut Maya adalah solusinya.


Sayang seribu sayang, Maya harus mendapat perlakuan tak manusiawi dari keluarga Aditya.


"Apa yang kau maksud, Maya? Ulangi lagi kalimatmu. Apa katamu tadi!" Seru Inayah saat itu.

__ADS_1


"Sa ... saya, saya hamil benih Tuan Aditya, Nyonya Nayah," lirih Maya kemudian.


Sekujur tubuh Maya gemetar, seolah dihajar oleh ribuan fakta pahit ini. Tentunya, keluarga kaya raya nan terhormat seperti Darmadji, tak akan pernah sudi menerima keberadaan Maya itu.


"****** sepertimu mengaku telah mengandung anak kakakku? Jangankan menghamilimu, bahkan untuk menyentuhmu saja, aku tak percaya kakakku berani melakukannya. Dasar wanita kampung yang murahan. Pergilah sebelum kami melenyapkanmu. Membungkam dirimu, bukanlah hal yang sulit kami lakukan!" Seru Sherly, adik Ditya yang paling angkuh, sombong dan congkak itu.


Berbeda dengan Sherla yang memilih diam memperhatikan. Ada sejumput rasa iba yang Sherla rasakan. Namun tak bisa gadis itu membantu teman masa kecilnya itu, untuk membela.


"Aku berusaha demi Tuhan. Lebih dari dua bulan lalu, Ditya melakukannya padaku. Aku ingin menagih janjinya yang katanya akan bertanggung jawab bila aku mengandung anaknya," sahut Maya yang mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Tak berkata lagi, Nayah menghampiri dan menarik rambut Maya secara spontan. Wanita itu menyeret paksa Maya, dengan emosi yang meledak-ledak disertai giginya yang saling bersinggungan rapat.


"Berani-beraninya kau memfitnah putraku yang berharga. Pergi kau dari sini. Jangan pernah bermimpi untuk bisa menduduki tahta selir pewaris keluarga Darmadji!" Seru Inayah dengan marah.


Apa yang bisa dilakukan wanita malang yang belakangan sakit-sakitan itu? Maya hanya mendesis pasrah menahan sakit, tanpa mampu melakukan perlawanan. Hatinya sakit menahan perlakuan tak manusiawi, namun tetap berusaha mengokohkan pertahanannya yang sekokoh karang.


"Saya, saya benar-benar berkata jujur, nyonya. Tidak ada kebohongan. Saya, saya tak pandai mengarang cerita," Maya masih bertahan dengan kejujurannya.


Kemeja lusuh berwarna merah jambu, disertai dengan rok hitam yang mulai pudar warnanya, membuat Inayah jijik melihatnya. Terlebih, kulit Maya kala itu, tak jauh berbeda dengan buruh panen padi di sawah miliknya.


"Bedebah, keluar saja dari sini. Sherly!" seru Nayah pada Sherly yang juga sama arogannya dengan sang ibu, "Panggil seluruh orang kampung. Katakan pada semua orang jika wanita itu mendusta telah dihamili Kakakmu. Katakan ia telah melakukan dosa dengan lelaki lain, dan mengatasnamakan Ditya. Dia harus pergi dari kampung ini. Dia dan ibunya, harus lenyap dari pandangan kita!" Seru Nayah, sebelum tragedi berdarah itu terjadi.


Tragedi berdarah ....


**

__ADS_1


Coba tebak, tragedi berdarah yang bagaimana, ya?


__ADS_2